Menuju konten

Dialog Presiden Republik Indonesia Dengan Nasabah Mekaar Binaan PT Permodalan Nasional Madani

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir pada siang hari ini, Bapak Menteri BUMN Pak Erick Thohir, kalau ada yang belum kenal, Pak Menteri silakan berdiri, Pak, masih sangat muda;
Kemudian dr. Terawan, Pak Menteri Kesehatan;
Hadir juga, Pak Menteri UKM, Pak Teten Masduki, ini nanti juga bertanggung jawab menaikkan kelas ibu-ibu untuk naik lagi, urusannya Pak Teten nanti;
Kemudian Bapak Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal Moeldoko;
Yang saya hormati, Bapak Gubernur Provinsi Banten dan Ibu Wali Kota yang hadir bersama kita;
Serta yang sehari-hari mengurusi ibu-ibu semuanya, Pak Dirut PNM (Permodalan Nasional Madani) Mekaar, Pak Arief beserta seluruh jajaran direksi.

Ibu-ibu yang saya hormati,
Ibu-ibu ini adalah masuk ke dalam 5,9 juta nasabah Mekaar yang ada di seluruh Tanah Air Indonesia, ya jadi saya ulang, nasabah Mekaar sudah jumlahnya 5,9 juta, jumlahnya. Apa yang ingin saya katakan? Ibu-ibu adalah orang-orang yang dipercaya, hati-hati karena mendapatkan bantuan pinjaman tanpa agunan. Ada yang diminta agunan? Tunjuk jari. Tunjuk jari, ada yang diminta agunan? Kalau ada silakan maju, saya beri sepeda. Enggak ada? Nah, enggak ada. Artinya apa? Kenapa ibu ada yang Rp2 juta, ada yang diberi Rp8 juta, ada yang diberi Rp6 juta, karena ibu-ibu dipercaya. Kalau diberi Rp2 juta bisa dipercaya, tahun depan naik level diberi Rp4 juta, kalau Rp4 juta dipercaya, disiplin, diberi Rp8 juta atau Rp6 juta, naik terus. Sekali lagi, artinya ibu-ibu dipercaya. Saya ingat dulu, waktu saya muda, saya punya usaha kecil-kecilan, saya mau pinjam Rp10 juta saja, saya harus agunannya lebih dari itu, padahal saya enggak punya agunan. Tanah enggak punya, sertifikat enggak punya, apa yang saya miliki? Enggak ada. Oleh sebab itu, saya pinjam sertifikatnya orang tua saya, untuk pinjam di bank.

Lha, ini ibu-ibu dipercaya. Saya titip, kalau sudah dipercaya itu justru lebih hati-hati, setuju? (Setuju!) Hati-hati, jangan sampai kita dipercaya, kita belak-belok, hati-hati. Kalau orang sudah tidak dipercaya, untuk mengembalikan kepercayaan itu sulit sekali. Nggih, betul? (Betul!)  Sehingga betul-betul yang pertama, disiplin dalam mengangsur, setuju? (Setuju!) Misalnya, mengangsurnya hari Senin, ya, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu itu sudah mulai menyisihkan untuk ditabung. Sehingga ininya terus bergulir, disiplin. Kalau bilang Senin, Senin juga harus ada, ini penting sekali. Kalau harus dikumpulkan Jumat, ya Jumat kumpulkan, ada. Jangan sampai misalnya, dapat Rp2 juta, dapat Rp2 juta, pulang, tengok-tengok ada mal, nah Rp2 juta di sini, belok ke mal. Lihat, kok ada baju bagus, nah ini sudah namanya mulai tidak disiplin. Coba-coba, “Waduh, kok tambah cantik”, sudah, beli. Nah, Rp100 ribu beli. Keluar dari tempat itu, mencoba baju, jalan mau ke kasir, nengok lagi, “Waduh, kok ada ini, ada lipstik bagus ini”, tambah lagi. Ditawari sama yang jual, “Bu, ada ini Bu, yang bagus, Bu”, tambah lagi, akhirnya Rp200 ribu keluar. Apa yang terjadi, kalau sudah seperti itu? Itu akan memperberat nanti dalam kita mengangsur, percaya saya.

Oleh sebab itu, kalau dapat Rp2 juta, gunakan seluruhnya untuk modal usaha, untuk modal kerja, setuju? (Setuju!) Kalau dapat Rp4 juta, gunakan seluruhnya untuk modal usaha dan modal kerja, setuju? (Setuju!) Kalau dapat keuntungan, sehari untung Rp80 ribu, untung Rp100 ribu, yang dipakai untuk mengangsur misalnya Rp50 ribu, tabung Rp50 ribu berarti sisanya juga disisihkan, ditabung, sendiri, disendirikan ini. Menabung itu penting karena kita punya anak-anak kita yang perlu sekolah. Suami kerja, iya tapi kalau ada tambahan dari kita, dari ibu-ibu, itu akan lebih memperkuat ketahanan ekonomi keluarga kita.

Ini yang dapat paling banyak, tunjuk jari. Dapat berapa? Berapa, Bu? Rp4 juta, enggak ada yang Rp8 juta? Rp8 juta ada? 8? Yang 8 siapa? Rp8 juta, Rp8 juta, Rp8 juta. Rp8 juta? Rp8 juta, maju satu. Nah, ibu, ibu. Suruh maju kok enggak mau. Sini lah. Kok berdua, bersatu saja. Kita hanya minta satu, kok mau berdua, enggak diapa-apain, Bu. Sudah, enggak saya apa-apain, percaya. Ada yang dapat Rp2 juta? Banyak. Mana yang Rp2 juta? Rp2 juta, Rp2 juta, mana ibu tadi yang Rp2 juta, ya coba maju Rp2 juta yang pakai topi, maju. Ada yang dapat Rp4 juta? Oh, yang banyak Rp4 juta. Rp4 juta, Rp4 juta, Rp4 juta, Rp4 juta siapa lagi? Rp4 juta, coba ibu Rp4 juta, ya yang merah jambu, maju. Itu tasnya kok berat sekali itu isinya duit? Bukan? Oh, kok kelihatannya tasnya diginiin terus sih, apa ada isinya uang? Nggih, silakan Bu, dikenalkan namanya.  

Ibu Sandaria:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden RI:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Sandaria:
Nama saya Ibu Sandaria.

Presiden RI:
Bu Sandaria? Sandaria, panggilannya Bu?

Ibu Sandaria:
Sanda.

Presiden RI:
Bu Sanda, oke. Bu Sandaria, memanggilnya Bu Sanda. Bu Sanda dapat Rp8 juta, dipakai untuk usaha apa?

Ibu Sandaria:
Usaha jual nasi.

Presiden RI:
Jual nasi, nasi apa?

Ibu Sandaria:
Nasi warteg (warung tegal).

Presiden RI:
Nasi warteg, terus? Plus?

Ibu Sandaria:
Plus warung kopi.

Presiden RI:
Warung kopi. Rp8 juta untuk warteg sama warung kopi. Sehari bisa jual berapa rupiah atau untungnya berapa? Atau omzetnya berapa? Untungnya berapa? Untungnya saja lah.

Ibu Sandaria:
Keuntungannya saja?

Presiden RI:
He’eh, keuntungannya.

Ibu Sandaria:
Per hari?

Presiden RI:
Iya.

Ibu Sandaria:
Kurang lebih, Rp500 (ribu).

Presiden RI:
Oh, banyak sekali. Rp500 (ribu) kalau dikalikan 30 (hari), Rp15 juta. 1 bulan dilunasi, rampung.

Ibu Sandaria:
Cuma keuntungannya kan (dibagi) ke mana-mana.

Presiden RI:
Ya bagus, alhamdulillah. Tapi sekali lagi, jangan dipakai untuk aneh-aneh, ditabung, ditabung, ditabung. Nanti kalau tabungan cukup, lihat ada kios, “Murah, ndak ini?” Bisa dibeli atau bisa dicicil lewat keuntungan itu. Beri uang muka sehingga mempunyai tempat usaha tetap, entah itu di pasar, entah itu di dekat mal, terserah tapi harus punya mimpi itu, ibu-ibu harus punya mimpi seperti itu, untungnya gede banget Rp500 ribu.

Ibu Sandaria:
Belum dibagi ke mana-mana, Pak.

Presiden RI:
Belum dibagi ke mana-mana, maksudnya?

Ibu Sandaria:
Buat anak sekolah.

Presiden RI:
Buat anak sekolah. Anak sekolah kan bapaknya, urusan bapaknya.

Ibu Sandaria:
Kan usahanya bareng, Pak.

Presiden RI:
Oh, usahanya bareng bapaknya, oke, oke, berarti masih dikurangi untuk anak-anak sekolah tapi, ya. Masih, kalau Rp500 (ribu)….

Ibu Sandaria:
Ada anak kuliah.

Presiden Ri:
Oh, ada anak kuliah. Ya tapi kan kalau Rp15 juta masih sisa lah. Saya bisa ngitung, berapa, berapa, berapa, bisa ngitung. Terus ibu, pesan apa sama yang lain, ibu-ibu yang lain? Mau pesan apa, silakan. Pesan apa ke ibu-ibu? Pesan apa?

Ibu Sandaria:
Pesan apa….

Presiden RI:
Ya, apa, terserah, “Bu, kalau pegang uang, hati-hati” ya itu, pesan. Pesannya apa?

Ibu Sandaria:
….

Presiden RI:
Apa, ibu kan pengalaman tadi, jualan bisa Rp500 ribu, setiap hari keuntungannya, itu bagus. Apa pesannya? Enggak bisa pesan?

Ibu Sandaria:
Sudah paling itu, Pak.

Presiden RI:
Kalau cari keuntungan, pintar. Disuruh (memberikan) pesan saja enggak bisa. Ya sudah, oke. 

Silakan, kenalkan Bu, nama.

Ibu Herlia:
Nama saya, Ibu Herlia.

Presiden RI:
Bu Melia, panggilannya?

Ibu Herlia:
Bu Her.

Presiden RI:
Bu?

Ibu Herlia:
Bu Her. Ibu Her.

Presiden RI:
Bu Her? Namanya Bu?

Ibu Herlia:
Herlia.

Presiden RI:
Bu Herlia? Bu Herlia.

Ibu Herlia:
Iya.

Presiden RI:
Panggilannya, Bu?

Ibu Herlia:
Her.

Presiden RI:
Her. Bu Her, iya. Bu Lia atau Bu…Bu Herlia, panggilannya Bu Her, oke, nggih. Dapat berapa Bu tadi?

Ibu Herlia:
Rp2 juta.

Presiden RI:
Bantuan pinjaman, Rp2 juta. Dipakai untuk apa, Bu?

Ibu Herlia:
Untuk usaha jual parfum, jual baju.

Presiden RI:
Jual?

Ibu Herlia:
Parfum.

Presiden RI:
Jual parfum, jual?

Ibu Herlia:
Baju.

Presiden RI:
Baju. Terus?

Ibu Herlia:
Jual…ya untuk kebutuhan ibu-ibu.

Presiden RI:
Untuk (kebutuhan) ibu-ibu, ya. Keuntungan berapa itu sehari, kira-kira, atau seminggu, atau sebulan, berapa?

Ibu Herlia:
Ya, keuntungan sebulan, kalau saya perhitungkan per minggunya ya dapat Rp100 (ribu), dapat Rp200 (ribu), enggak tentu lo, Pak. Kan beda-beda harga.

Presiden RI:
Enggak, totalan-nya berapa?

Ibu Herlia:
Totalan-nya?

Presiden RI:
Totalnya.

Ibu Herlia:
Satu bulan?

Presiden RI:
He’eh, bisa untung berapa itu?

Ibu Herlia:
Satu bulan saya bisa dapat keuntungan sekitar Rp600 (ribu)….

Presiden RI:
Rp600 (ribu), oh, ya.

Ibu Herlia:
Kan masih omzet kecil.

Presiden RI:
Iya, ngerti. Memang kita ini kecil semua sehingga kita ikut Mekaar ini, kita punya mimpi bersama agar bisa naik kelas menjadi yang tengah, menjadi yang besar, jangan dipikir saya enggak mengalami kayak ibu-ibu, saya mengalami, saya mengalami. Jadi jangan ada yang berpikir bahwa misalnya anak-anak ibu-ibu nanti tidak ada yang jadi menteri, bisa jadi menteri! (amiin!), bisa jadi menteri! (amiin!), bisa jadi presiden! (amiin!). Kenapa tidak? Bisa! Tapi anak-anak ini harus disekolahkan, harus sekolah, harus pintar. Itu tugasnya ibu-ibu untuk memberikan pendidikan pada anak-anak. Oke, untung Rp600 ribu per bulan, dipakai nyicil berapa itu, seminggu? Seminggu nyicil-nya berapa? Mengangsurnya?

Ibu Herlia:
Seminggu, mengangsurnya Rp90 (ribu).

Presiden RI:
Seminggu, angsurannya Rp90 (ribu), berarti dikalikan 4 (minggu), Rp360 (ribu), berarti masih sisa, oke. Berarti sehat. Ini yang namanya bisnisnya sehat, nyicilnya Rp360 (ribu), untungnya Rp600 (ribu), berarti sehat. Kalau nyicil-nya Rp360 ribu ya kan, keuntungannya Rp100 ribu, itu namanya tekor. Hati-hati, hati-hati ya, yang namanya usaha itu, di bisnis itu, bisa untung, bisa rugi. Buat agar ini semuanya bisa untung, begitu. Jadi jualnya ke mana? Tetangga atau ke kampung atau di pasar?

Ibu Herlia:
Ke tetangga.

Presiden RI:
Ke tetangga…

Ibu Herlia:
…ke saudara.

Presiden RI:
Ke saudara.

Ibu Herlia:
…(saudara) yang agak jauh begitu, Pak.

Presiden RI:
Yang agak jauh.  

Ibu Herlia:
Iya.

Presiden RI:
Terus?

Ibu Herlia:
Terus, tapi kan enggak cash bayarnya.

Presiden RI:
Bayarnya enggak cash.

Ibu Herlia:
Enggak, sih.

Presiden RI:
Enggak, enggak apa-apa, asal masih untung.

Ibu Herlia:
Kan promosi, Pak.

Presiden RI:
Yang penting untung, iya, yang penting untung.

Ibu Herlia:
Iya.

Presiden RI:
Jualan itu enggak apa-apa. Asal untung dan asal bisa menagih.

Ibu Herlia:
Bisa.

Presiden RI:
Jangan jualan, sudah bajunya habis, enggak ada yang membayar, lha itu yang bahaya.

Ibu Herlia:
Bayar.

Presiden RI:
Bayar?

Ibu Herlia:
Bayar semua.

Presiden RI:
Bayar semua, bagus. Terus?

Ibu Herlia:
Bayar, Pak.

Presiden RI:
Kalau enggak membayar?

Ibu Herlia:
Saya bujuk biar bayar.

Presiden RI
Saya bujuk…?

Ibu Herlia:
Biar bayar.

Presiden RI:
Biar bayar. Bagus, pintar. Ini jawaban bagus. Oke. 
Ganti. Ibu, kenalkan nama.

Ibu Anija:
Perkenalkan, nama saya Ibu Anija.

Presiden RI:
Bu?

Ibu Anija:
Ibu Anija.

Presiden RI:
Bu Anida, panggilannya Bu?

Ibu Anija:
Anija.

Presiden RI:
Bu? Ha?

Ibu Anija:
Anija.

Presiden RI:
Bu?

Ibu Anija:
Ibu Anija.

Presiden RI:
Bu Anija, panggilannya Bu?

Ibu Anija:
Anija.

Presiden RI:
Bu Anija juga, oke. Saya kira Bu Ani. Kan Bu Anija, panggilannya Bu Ani atau Bu Ija. Bu Anija, ya, oke. Bu Anija, dapat bantuan pinjaman berapa?

Ibu Anija:
Rp4 juta.

Presiden RI:
Rp4 juta, dipakai untuk apa?  

Ibu Anija:
Untuk jualan kerupuk miskin. Jualan kerupuk miskin.

Presiden RI:
Jualan kerupuk miskin? Aduh…gimana sih, namanya kerupuk miskin. Kayak, barangnya kayak apa sih? Dibawa, ndak?

Ibu Anija:
DIbawa.

Presiden RI:
Oh, saya pikir ini tadi dipakai untuk menyimpan uang. Ternyata kerupuk miskin, ini.

Ibu Anija:
Dikasih ke warung-warung.

Presiden RI:
Ini dititipkan ke warung-warung?

Ibu Anija:
Jualan ke sekolahan, keliling.

Presiden RI:

Jualan ke sekolah. Ini kerupuk dicampur apa sih, yang coklat-coklat ini apa ini?

Ibu Anija:
Bawang goreng.

Presiden RI:
Bawang goreng?

Ibu Anija:
Iya.

Presiden RI:
Ini dijual berapa?

Ibu Anija:
Seribu.

Presiden RI:
Seribu? Mahal banget, Bu. Seribu? Tapi laku, ya?

Ibu Anija:
Laku, alhamdulillah.

Presiden RI:
Laku….

Ibu Anija:
Banyak yang memesan.

Presiden RI:
Banyak yang memesan? Di tasnya masih ada berapa itu? Hanya 3 ini?

Ibu Anija:
Masih satu.

Presiden RI:
Ada, masih satu? Sini…ampun, ampun, ini namanya kerupuk miskin. Oke, tapi bisa menyejahterakan Bu Anija, ini saya beli. Ini, ini. 
Sudah, sekarang kalau satu gini seribu, untungnya berapa?

Ibu Anija:
Untungnya….

Presiden RI:
Satu biji, untungnya berapa?

Ibu Anija:
Ya kan membungkusnya kan sekilo.

Presiden RI:
Iya. Terus?

Ibu Anija:
Sekilo, kan yang sekilo, kalau menjual enggak dibawangin Rp25 ribu, kalau dibawangin Rp40 ribu, terus dibungkus jadi Rp60 ribu, yang sekilo itu.

Presiden RI:
Berarti dapatnya (keuntungan) Rp20 ribu, benar ya?

Ibu Anija:
Iya.

Presiden RI:
Setiap Rp60 ribu, dapatnya (keuntungan) Rp20 ribu kan, berarti?

Ibu Anija:
Iya.

Presiden RI:
Iya, wah ya gede juga, berarti, untungnya…Untungnya 30 persen, bagus. Ibu tadi dapat bantuan pinjaman berapa?

Ibu Anija:
Rp4 juta.

Presiden RI:
Rp4 juta, nyicil-nya setiap minggu berapa?

Ibu Anija:
Rp100 ribu.

Presiden RI:
Rp100 ribu, oh, ya kecil lah, bisa. Bisa nyicil….

Ibu Anija:
Bisa.

Presiden RI:
Disiplin Bu, ya?

Ibu Anija:
Iya, alhamdulillah.

Presiden RI:
Nggih, alhamdulillah bagus. Terus keuntungannya, sisanya untuk apa Ibu?

Ibu Anija:
Ya untuk ditabung.

Presiden RI:

Untuk ditabung, oke, bagus. Terus nanti kalau sudah ditabung, sudah banyak, untuk apa?

Ibu Anija:
Ya untuk modal lagi.

Presiden RI:
Untuk modal lagi, bagus ini. Ya, kerupuk? (miskin!) ya, oke, bawa. Saya pakai untuk lauk nanti malam, ini. Sudah. Ibu mau pesan apa ke ibu-ibu yang lain? Mau pesan apa, silakan.

Ibu Anija:
Bu, apa…mau itu, mau ikut jualan kerupuk miskin? Datang saja ke tempat saya ya, di dekat Ramayana.

Presiden RI:
Oh, ibu-ibu yang mau jualan kerupuk miskin, datang saja ke Bu Anija.

Ibu Anija:
Iya, sudah disediakan.

Presiden RI:
Itu saja pesannya? Itu bukan pesan, bukan pesan ini, bukan mengajak, itu namanya marketing, itu pemasaran itu namanya, sudah. 
Ini sepedanya ambil. Ya, terima kasih Bu, silakan ini diambil sepedanya satu-satu. Ini jangan dijual ya, ini kalau dijual mahal sekali, benar. Ini bukan sepeda biasa. Karena itu, di sininya ada capnya itu, ‘Hadiah Presiden Jokowi’, yang mahal itu. Sudah, diambil. Ambil satu-satu. Diambil, silakan. Enggak mau? Ya, sama-sama, terima kasih, ya, sudah. Sudah, ya, sama. Oh, ini, masih diberi ini lagi, sebentar, Bu. Diberi foto lagi ini, sudah difoto ini Bu, dulu. Ini Bu, ini. Ini, sini, ini, ini dulu Ibu. Ini, Ibu. Sudah, sudah dapat foto, dapat sepeda. 

Silakan diambil, sudah diambil, sama-sama. Ya, sama. Tadi disuruh maju saja tadi enggak mau ibu tadi. Dapat sepeda, kan. Sudah, silakan diambil. Bu, Bu Anija, ini (sepedanya) nanti bisa (dipakai) untuk muter, promosi kerupuk.

Ya, saya rasa apa? Dari pinjaman itu, kembali lagi, pinjaman itu harus menetas dan menjadi besar, besar, besar, kalau ibu-ibu nanti sudah mentok di PNM Mekaar, mentok, ini paling banyak berapa sih Pak, nanti? Kalau mentok sudah di Rp10 juta, mentok, sudah enggak bisa menambah lagi, ibu akan dipindah nanti ke BRI, nih diarahkan ke BRI sehingga bisa naik ke Rp25 juta, ke Rp50 juta, sampai ke Rp500 juta. Enggak apa-apa, asal bisa mengelola. Uang berapa pun, asal bisa mengelola itu enggak apa-apa. Artinya ibu kalau sudah naik kelas, naik kelas, itu artinya apa? Ibu bisa mengelola uang, ibu bisa mengelola usaha, itu artinya. Kalau Rp2 juta saja enggak bisa mengelola, ya jangan pengin naik level, jangan pengin naik kelas ke Rp4 juta, bahaya. Sehingga dimulai dari kecil, manajemen keuangannya seperti apa, manajemen memasarkan barang-barang, produk-produk ibu-ibu itu seperti apa.

Ibu-ibu harus kerja keras, kita ini harus kerja keras. Dulu orang tua saya sangat miskin, juga bisa menyekolahkan anak karena kerja keras. Jualan bambu, jualan kayu, dari betul-betul di bawah, enggak bisa kita ini. Ibu-ibu enggak bisa naik kelas kalau tanpa kerja keras, enggak bisa. Ya, hidup itu harus kerja keras. Saya ingat betul, orang tua saya bangun subuh, bapak saya pergi untuk jadi sopir. Ibu saya pergi untuk jualan bambu dan kayu, itu kerja keras. Nanti malam baru datang, ya seperti itu, memang harus seperti itu. Enggak bisa kita, apalagi diberi kesempatan oleh PNM Mekaar, ibu diberi kepercayaan bantuan pinjaman tanpa agunan, itu sangat sulit sekali. Sama nanti dibimbing dari Kementerian UMKM, tadi saya juga minta ke Staf Khusus Presiden untuk nanti membimbing, kita bagaimana memperbaiki kemasan, memberi nama pada produk-produk yang kita jual. Misalnya tadi, kayak Bu Anija, namanya kerupuk miskin. Misalnya diganti kerupuk kaya, begitu, semangat begitu lo. Jualan kerupuk miskin. Ini cara memberikan nama itu harus… ini penting. Kemudian packing-nya, packaging-nya, kemasannya enggak kayak begitu tadi. Biar kelihatan higienis, kelihatan sehat, orang yang beli, siapa pun mau beli barang itu karena kelihatan bersih, kelihatan sehat, dimakan enak betul. Ini nanti yang akan satu per satu akan kita berikan kawalannya agar sekali lagi, usaha ibu-ibu semuanya bisa naik kelas, selain memang didampingi dari Mekaar.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Ada yang ingin bertanya? Ada yang ingin bertanya? Enggak ada?…ada? Tanya apa? Boleh, tanya, silakan.

Ibu Partini:
Mau cerita sih, Pak.

Presiden RI:
Kok mau cerita. Tanya, kok cerita. Sudah, sini maju.

Ibu Partini:
Pak, saya usaha…eh, nama saya Partini dari Jawa.

Presiden RI:
Bu Partini, ya. Terus?

Ibu Partini:
Saya ke sini tahun 2006 akhir….

Presiden RI:
2006, terus?

Ibu Partini:
Iya, awal saya jadi pembantu di kompleks.

Presiden RI:
Jadi pembantu di kompleks, terus?

Ibu Partini:
Terus jadi tukang pijat.

Presiden RI:
Terus jadi tukang pijat. Terus?

Ibu Partini:
Alhamdulillah, saya ikut Mekaar itu sudah 3 tahun.

Presiden RI:
Sudah 3 tahun ikut Mekaar, terus?

Ibu Partini:
Kemarin terakhir dapat Rp4 juta.

Presiden RI:
Dapat Rp4 juta. Terus untuk apa itu?

Ibu Partini:
Saya cita-cita…sekarang kan mengurutnya keliling.

Presiden RI:
Mengurut keliling?

Ibu Partini:
Iya.

Presiden RI:
Lha, mengurut kenapa butuh Rp4 juta?

Ibu Partini:
Enggaksaya pengin punya tempat Pak, kan saya enggak muda terus.

Presiden RI:
Oh, oke benar, benar. Terus?

Ibu Partini:
Iya, kemarin saya dapat sudah (memberikan) DP (down payment) ruko.

Presiden RI:
Ruko, terus?

Ibu Partini:
Iya, insyaallah penginnya mau bulan depan, mau….

Presiden RI:
Jualan?

Ibu Partini:
Enggak Pak, mau menempati ruko itu, jualan pulsa sama pijatnya.

Presiden RI:
Jualan pulsa sama pijat?

Ibu Partini:
Sama pijat.

Presiden RI:
Oh, gabung? Jualan pulsa sama jual pijat.

Ibu Partini:
Gabung Pak, sebelahan.

Presiden RI:
Ya, oke, oke, terus?

Ibu Partini:
Terus alhamdulillah, anak saya sudah selesai kuliah dan masuk CPNS.

Presiden RI:
Ya, terus? 
Ya, bagus. Masih tes, kan?

Ibu Partini:
Iya, amin.

Presiden RI:
Ya, terus?

Ibu Partini:
Saya pengin mengajak ibu-ibu juga mencontoh saya biar anaknya maju, biar Indonesia juga maju, punya anak-anak pintar.

Presiden RI:
Ya, ya, ya, ya, terus?

Ibu Partini:
Iya, saya tukang pijat, alhamdulillah anak saya guru Agama.

Presiden RI:
Guru Agama, terus?

Ibu Partini:
Iya, (guru Agama) di Tasik, alhamdulillah.  

Presiden RI:
Di Tasik, terus?

Ibu Partini:
Mudah-mudahan saya dapat modal lagi Pak, buat buka ruko itu.

Presiden RI:
Lo, kalau Ibu mengangsurnya disiplin, nyicilnya disiplin, enggak usah ngomong (ke) saya, pasti diberi sama Mekaar.

Ibu Partini:
Alhamdulillah, sudah.

Presiden RI:
Sudah?

Ibu Partini:
Iya.

Presiden RI:
Ya sudah, sini, beri sepeda juga, sudah.

Ibu Partini:
Alhamdulillah, amin yaa rabbal ‘alamin.

Presiden RI:
Jangan ada yang maju lagi, sudah, setop. Sudah, diambil.

Ibu Partini:
Minta fotonya, Pak.

Presiden RI:
Sudah dapat sepeda, masih minta foto, sudah, sudah, sudah. Sudah, sudah, sepedanya diambil. Sudah.

Saya rasa itu ibu-ibu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya ingin memantau terus, bagaimana Mekaar ini bisa berkembang. Ibu-ibu bisa naik kelas dan kita harapkan, keluarga kita semuanya sejahtera, anak-anak kita bisa sekolah, berpendidikan tinggi, dan menaikkan derajat kita sebagai orang tua.

Saya tutup. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.