Menuju konten

Dialog Presiden Republik Indonesia Dengan Nasabah Mekaar Binaan PT Permodalan Nasional Madani

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang saya hormati, para Menteri, Pak Dirut PNM, Direksi BRI, Ibu-Ibu semuanya, apa kabar? (Baik!) Benar baik? (Benar!)

Siang hari ini saya sangat berbahagia sekali bisa bertemu dengan ibu-ibu semuanya. Ibu-ibu ini adalah orang-orang terpilih yang dipercaya, benar? Kenapa dipercaya? Karena diberi bantuan pinjaman tanpa agunan. Coba, cari di mana dipinjami ada yang Rp4 juta, ada yang Rp8 juta, ada yang Rp6 juta tanpa agunan, benar ndak? Enggak ada yang diminta agunan, kan? (Enggak!) Siapa yang mau meminjami, enggak ada agunan? Siapa yang mau? Hanya Mekaar PNM karena ibu-ibu dipercaya, hati-hati. Orang dipercaya itu sulit, lo. Begitu dipercaya, belok, enggak akan nanti dipercaya lagi. Cari ke mana pun ibu, yang namanya bantuan pinjaman, pasti orang akan bilang tidak, enggak mau meminjami, enggak mau memberikan bantuan, benar ndak?

Oleh sebab itu, dijaga kepercayaan itu. Kalau dapat pinjaman Rp4 juta, gunakan seluruhnya untuk modal kerja, gunakan semuanya untuk modal usaha. Jangan sampai, “Waduh, ini ada baju bagus hanya Rp200 ribu.” Beli, nah ini mulai. Dimulai beli baju Rp200 ribu atau Rp100 ribu, begitu itu sudah beli, belinya dari uangnya Mekaar pasti akan ke mana-mana. Yang dibeli pasti bukan hanya baju saja, minggu berikut pergi ke mal, lirik-lirik lagi, ada ini, ya kan? Beli lagi. Ini hati-hati, jangan sampai bantuan pinjaman dari PNM Mekaar dipakai untuk hal-hal yang di luar usaha. Setuju? (Setuju!) Hati-hati, hati-hati. Kalau ada keuntungan, pinjaman Rp4 juta bisa mengangsur mingguan, masih ada sisa, gunakan, saya titip. Kalau enggak, ditabung. Tabung, tabung, tabung, tabung. Kalau anak-anak mulai sekolah, bisa sedikit dipakai untuk sekolah anak, begitu lo. Sekali lagi, jangan dipakai untuk beli ini dulu, jangan dipakai untuk beli ini sama ini, ya. Setuju? Setuju, nggih.

Yang kedua, kalau ngangsur harus tepat? (Waktu!) Harus tepat waktu. Supaya kita belajar disiplin. Oh, kalau waktunya sudah ngangsur, misalnya hari Senin, harus siap. Oleh sebab itu, setiap hari itu sisihkan. Ada keuntungan sisihkan, sisihkan. Tiba hari Senin misalnya, kumpul, nih! Ini mengajarkan kita untuk apa? Untuk disiplin, tepat waktu mengangsur. Saya itu juga mengalami. Kelihatan kan ya? Belok sini, enggak apa-apa, sudah, biarkan saja. Nanti belok ke sana, gantian.

Jadi begini, saya cerita, saya sendiri ya, cerita. Kecilan saya, saya itu dari kampung kumuh, di pinggir kali rumah saya. Orang tua saya juga seperti ibu-ibu ini yang ada di hadapan saya. Tapi sekali lagi, karena disiplin menabung, ini penting banget, dari juga usaha kecil-kecilan orang tua saya, jualan bambu dan kayu. Bung, nabung, nabung, nabung, terus disiplin menabung, penting sekali. Dan tabungan itu untuk betul-betul menyekolahkan anak, penting, pendidikan itu penting sekali. Jadi, insyaallah nanti yang hadir di sini nih, bisa saja nanti kalau ibunya disiplin, dia bisa jadi menteri atau jadi presiden. Ini juga harus punya mimpi dan cita-cita besar. Ya, tahu nih. Jadi jangan sampai anak-anak kita ada yang tidak bersekolah. Usaha ini adalah untuk anak-anak kita. Setuju, Bu? (Setuju!) Ya.

Sekarang saya mau bertanya, ada yang sudah mendapatkan Rp8 juta, yang hadir di sini? (Belum!) Enggak ada? (Enggak ada!) Ada yang sudah mendapatkan Rp6 juta? (Belum!) Rp4 juta? (Ada!) Ada? Rp5 juta? (Ada!) Mana yang dapat Rp5 juta? Oh, sudah banyak, sudah banyak, sudah banyak. Mana? Mana? Rp4 juta? Rp5 juta? Rp5 juta banyak, Rp4 juta juga banyak, lo. Tadi ada yang usaha cilok, dapat Rp8 juta, gede banget itu Rp8 juta. Coba, jadikan cilok semuanya, jadi berapa.

Ya coba yang dapat Rp5 juta tadi mana? Rp5 juta, Rp5 juta, Rp5 juta, Rp5 juta, Rp5 juta coba sini. Maju, dapat Rp5 juta sini. Anaknya diajak enggak apa-apa daripada menangis. Ndak? Ya sudah, sini. Ada yang dapat pertama kali? Berapa sih pertama kali dapat to? Rp2 juta? Ada yang dapat Rp2 juta? Mana yang Rp2 juta? Yang pertama kali dapat, baru saja, Rp2 juta. Yang dapat Rp2 juta, Rp2 juta, Bu, Rp2 juta. Ibu berapa? Rp2 juta? Rp2 juta? Rp2 juta? Ya, sini Rp2 juta maju. Ya, sini, sudah. Dapat Rp2 juta, dapat Rp5 juta. Coba dikenalkan dulu Bu, nama dan dari mana.

Ibu Nunung:
Dari Tanah Merah, Pak.

Presiden RI:
Dari Tanah Merah. Namanya, Bu?

Ibu Nunung:
Bu Nunung.

Presiden RI:
Bu Nunung, dari Tanah Merah. Tanah Merah itu mana sih?

Ibu Nunung:
Simpang.

Presiden RI:
Itu di mana? Sintang itu ya mana? Saya juga enggak tahu Sintang. Dari sini berapa kilo?

Ibu Nunung:
Simpang, bukan Sintang.  

Presiden RI:
Dusun Sintang?

Ibu Nunung:
Tanah Merah.

Presiden RI:
Tanah Merah. Tanah Merah itu apa itu? Kecamatan? Kampung? Kampung Tanah Merah, dusunnya Sintang?

Ibu Nunung:
Simpang.

Presiden RI:
Simpang? Oh, kecamatan?

Ibu Nunung:
Tanah Merah.

Presiden RI:
Tanah Merah? Duh, sudahlah, sudah, sudah, sudah, sudah. Saya juga enggak tahu saja, sudah. Bu Nunung, Bu Nunung, dapat berapa juta?

Ibu Nunung:
Lima.

Presiden RI:
Rp5 juta untuk usaha apa?

Ibu Nunung:
Usaha ngebun pari, Pak.

Presiden RI:
Apa?

Ibu Nunung:
Ngebun pari, padi. Padi.

Presiden RI:
Oh, apa? Beli? Beli? Beli padi? Beli padi terus dijual lagi?

Ibu Nunung:
Dijual lagi.

Presiden RI:
Beli padi terus dijual lagi. Belinya dari mana? Petani?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI: 
Dari petani?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Dijualnya ke siapa?

Ibu Nunung:
Ya, ke bakul, Pak.

Presiden RI:
Ke bakul, untungnya berapa?

Ibu Nunung:
Untungnya? Dapatnya, ta?

Presiden RI:
Beli berapa, misalnya 1 kg, beli berapa?

Ibu Nunung:
1 kuintal Pak, Rp500 ribu

Presiden RI:
1 kuintal Rp500 ribu?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Rp500 ribu?

Ibu Nunung:
He’em.

Presiden RI:
Terus dijual berapa?

Ibu Nunung:
Rp600 ribu

Presiden RI:
Rp600 ribu? Untung Rp100 ribu.

Ibu Nunung:
He’eh.

Presiden RI:
He’eh, he’eh. Untung Rp100 ribu, ya gede juga ya, gede itu, gede. Terus untung Rp100 ribu?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Ditabung?

Ibu Nunung:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Ditabung, terus?

Ibu Nunung:
Saya-nya bekerja, Pak.

Presiden RI:
Ha?

Ibu Nunung:
Saya yang bekerja, bekerja saya-nya.

Presiden RI:
Saya-nya bekerja?

Ibu Nunung:
He’eh.

Presiden RI:
Lo iya, lha wong yang dapat pinjaman kan ibu, gimana sih?

Ibu Nunung:
Suami saya.

Presiden RI:
Hmm?

Ibu Nunung:
Suami saya yang jualan.

Presiden RI:
…yang?

Ibu Nunung:
Yang pas jualan pari itu suami saya.

Presiden RI:
Oh, yang jualan padi, yang jualan pari itu suaminya. Ibu di rumah?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Yang memegang uangnya siapa?

Ibu Nunung:
Saya.

Presiden RI:
Nah, oke. Jadi yang pegang uang, ibu?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Yang kerja, suami?

Ibu Nunung:
Iya.

Presiden RI:
Terus? Kalau yang bayar siapa? Dapat 1 kuintal yang bayar?

Ibu Nunung:
Suami saya.

Presiden RI:
Bapaknya?

Ibu Nunung:
He’eh.

Presiden RI:
Suami bayar, oke. Kalau pas enggak ada padi, uangnya ke mana? Hmm? Disimpan?

Ibu Nunung:
Disimpan Pak, iya. Kan panen lagi.

Presiden RI:
Ya panennya kan setahun hanya 3 kali, kan?

Ibu Nunung:
He’eh, iya.

Presiden RI:
Lha iya, pas tidak panen, uangnya ditaruh di mana?

Ibu Nunung:
Di bank.

Presiden RI:
Di bank? Enggak hilang?

Ibu Nunung:
Enggak.

Presiden RI:
Benar?

Ibu Nunung:
Benar.

Presiden RI:
Bisa nyicil? Tetap bisa nyicil setiap minggu?  

Ibu Nunung:
Bisa Pak.

Presiden RI:
Bisa? Benar?

Ibu Nunung:
Sudah 4 tahun.

Presiden RI:
Oh, sudah 4 tahun. Oke, berarti disiplin, sudah pengalaman 4 tahun, oke. Apa pesan ibu kepada rekan-rekan semuanya ini? Apa, pesannya apa? Ibu kalau mau pesan, apa, pesan apa?

Ibu Nunung:
Pesan apa, ya?

Presiden RI:
Enggak? Enggak ada?

Ibu Nunung:
Enggak ada.

Presiden RI:
Enggak ada? Oke, enggak ada. Ibu mau sepeda?

Ibu Nunung:
Mau, Pak.

Presiden RI:
Enggak mau? Oh, mau? Ya sudah, sudah. Tadi katanya enggak mau, gimana sih? Enggak mau.

Ya sudah, kenalin Bu.

Ibu Enu:
Nama saya Bu Enu dari Gardumukti.

Presiden RI:
Bu?

Ibu Enu:
Bu Enu.

Presiden RI:
Bu Nu?

Ibu Enu:
Ya, N….

Presiden RI:
N?

Ibu Enu:
U.. 

Presiden RI:
U.

Ibu Enu:
Nu, Enu.

Presiden RI:
Oh, Bu Nu?

Ibu Enu:
Eh, E-N-U, Enu.

Presiden RI:
Oh, Bu Enu.

Ibu Enu:
He’eh..

Presiden RI:
Bu Enu. Bu Enu, jualan apa?

Ibu Enu:
Jualan “ikan” nasi, Pak.

Presiden RI:
Apa?

Ibu Enu:
Lawuhan.

Presiden RI:
Lawuhan itu apa?

Ibu Nunung:
Makanan, makanan yang buat makan.

Presiden RI:
Makanan yang buat makan, ya makanan pasti buat makan. Ya, oke, makanan buat makan. Dapat Rp2 juta, sudah berapa tahun dapat Rp2 juta?

Ibu Enu:
Setahun sudah naik Rp4 juta Pak, alhamdulillah.

Presiden RI:
Ha? Sudah naik sekarang Rp4 juta? Sudah berapa tahun?

Ibu Enu:
4 tahun.

Presiden RI:
4 tahun dapat Rp4 juta, 4 tahun dapat Rp4 juta. Apa sih, jualannya di warung?

Ibu Enu:
Enggak, ngider, kirim-kirim sama di warung-warung.

Presiden RI:
Oh, kirim-kirim ke warung-warung sama ngider.

Ibu Enu:
Sambil jualan baju.

Presiden RI:
Sebentar, ini jualan makanan, jualan baju.

Ibu Enu:
Kalau sore, Pak.

Presiden RI:
Ini yang pagi nasi, muter. Sorenya baju?

Ibu Enu:
Iya.

Presiden RI:
Hmm….

Ibu Enu:
Iya kan, benar.

Presiden RI:
Iya, tahu, tahu. Untungnya jualan nasi sama jualan baju?

Ibu Enu:
Kalau baju per minggu Pak.

Presiden RI:
Ha?

Ibu Enu:
Per minggu, di-minggu-in, ditagihnya Minggu.

Presiden RI:
Oh, diberikan, dikreditkan, Minggu ditagih. Untungnya gede mana, baju sama jualan lawuhan?

Ibu Enu:
Ya untung baju, Pak.

Presiden RI:
Oh, untung baju.

Ibu Enu:
Kalau lawuhan mah, alhamdulillah ya (untungnya) Rp100 ribu sehari.

Presiden RI:
Jual bajunya ke ibu-ibu ini semua?

Ibu Enu:
Ya, enggak.

Presiden RI:
Ndak, oh….

Ibu Enu:
Di kampung sendiri saja, Pak.

Presiden RI:
Oh, di kampung sendiri, oke. Nyicil-nya disiplin? Baik?

Ibu Enu:
Baik.

Presiden RI:
Teman-temannya juga baik? Disiplin?

Ibu Enu:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Nyicil baik? Oke. Terus apa? Sekarang untungnya dapat pinjaman dari Mekaar ini apa? Menurut Bu Enu.

Ibu Enu:
Ya, sisanya, untungnya dibeliin motor atau buat kendaraan.

Presiden RI:
Nah, nah….

Ibu Enu:
Terusnya ditabung ke BNI.

Presiden RI:
Beli motor…hati-hati ya.

Ibu Enu:
Iya.

Presiden RI:
Hati-hati ya, dibelikan motor boleh tapi itu motor untuk bekerja, muter tadi, muter untuk dagang, boleh. Tapi kalau motor untuk gagah-gagahan, tidak boleh, hati-hati, ya.

Hati-hati, jangan sampai dapat pinjaman, dipakai untuk uang muka beli motor, nyicil-nya ke Mekaar enggak bisa, nyicil-nya ke dealer enggak bisa, semuanya di…(ambil!). Hati-hati, saya ingatkan di mana-mana saya ingatkan ini, iya. Terus, berarti, kembali jualan lawuhan nasi tadi, untung sehari berapa?

Ibu Enu:
Rp80 ribu sampai Rp100 ribu.

Presiden RI:
Rp80 ribu, Rp100 ribu, berarti…ya gede juga.

Ibu Enu:
Iya, alhamdulillah Pak.

Presiden RI:
Gede, bagus. Jualan bajunya?

Ibu Enu:
Jualan bajunya, kalau semua setor, sisanya ada Rp200 ribu-Rp300 ribu.

Presiden RI:
Oh, ya gede juga.

Ibu Enu:
Ya, makanya beli motor Pak.

Presiden RI:
Kaya dong, ini Bu Enu kaya ini kalau untungnya segitu, kaya dong.

Ibu Enu:
Ya, enggaklah.

Presiden RI:
Ya disyukuri.

Ibu Enu:
Alhamdulillah, Pak.

Presiden RI:
Disyukuri, kalau dapat untung Rp80 ribu alhamdulillah.

Ibu Enu:
Ketemu sama Bapak juga untung saya, alhamdulillah.

Ya titip ini saja Pak, saya benar-benar kangen sama Pak Jokowi. Iya, ibu-ibu semua kangen ya sama Pak Jokowi, ya? (Iya!) Iya, maunya dekat saja, apalagi sepupu saya. Nyanyinya saja Pak Jokowi terus. Sampai benci Pak, terus terang sama Prabowo ya makanya, saya mah….

Presiden RI:
Sebentar, ini sudah enggak kampanye lo, hati-hati, hati-hati, ya.

Ibu Enu:
Ya.

Presiden RI:
Hati-hati.

Ibu Enu:
Ya, ya, ya.

Presiden RI:
Jadi ini urusan Mekaar.

Ibu Enu:
Ya, Mekaar.

Presiden RI:
Apa? Bu Enu titip apa? Pesan untuk ibu-ibu yang lain apa?

Ibu Enu:
Ya, titip pesan, pokoknya kita setoran harus disiplin, wajib tepat waktu, ya kumpul-kumpul begitulah. Hadir tepat waktu. Usaha dan kerja keras untuk membayar angsuran.

Presiden RI:
Oke, deh.

Ibu Enu:
Ya, jangan enggak ada, tanggung renteng mah enggak boleh. Ya jangan sampailah kita ditanggung renteng, begitu. Kalau bisa menyisihkan, kalau mau setor, hari Selasa atau hari Senin sudah uangnya, begitu saja, setiap hari begitu, nanti enggak selesai lah. Kalau kita kan enteng, Rp100 ribu setornya.

Presiden RI:
Ya jangan sampai, saya titip yang terakhir ibu-ibu ya, jangan sampai ada yang masuk ke yang namanya, disampaikan ke tetangga-tetangganya juga, jangan sampai masuk ke yang namanya rentenir, hati-hati. Ada yang pinjam ke rentenir? Hati-hati, jangan, jangan, jangan, oke.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya kira, oh ini, ini ada foto. Ini baru saja di sini lima menit, sudah dapat foto nih.

Ibu Nunung dan Ibu Enu:
Makasih, Pak.

Presiden RI:
Tadi ibu-ibu enggak ada yang mau maju, sih. Siapa yang mau maju? (Saya!) Itu, ngacung semua. Tadi enggak ada. Nggih, terima kasih. Bu Enu, terima kasih, makasihmakasih.

Ya, juga saya perlu ingatkan, nantinya dari ibu-ibu ini kalau sudah naik kelas, naik kelas, naik kelas, akan nanti ditransfer, dibelokkan ke KUR BRI yang jumlahnya lebih besar. Kalau sudah belajar, mengelola uang, Rp2 juta bisa, Rp4 juta bisa, Rp5 juta bisa, Rp8 juta bisa, langsung naik ke yang ini berapa? Dapat Rp20 juta. Naik kelas.

Tapi memang harus, kalau terbiasa disiplin, berapa pun itu juga sama saja sebetulnya. Sekali lagi, asal kita disiplin, tepat waktu dalam mengangsur.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Ada yang ingin bertanya? Enggak ada? Saya tutup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.