Menuju konten

Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia Mengenai Demonstrasi Dan Gempa Bumi Ambon

Wartawan:
Pak, selamat siang. Soal terkait unjuk rasa mahasiswa membawa korban Pak, apakah sudah ada laporan dari kepolisian sebenarnya pelakunya siapa? Penyidikannya sudah ada belum dan seperti apa laporannya?

Presiden RI:
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya atas nama pemerintah menyampaikan dukacita yang mendalam dan berbelasungkawa yang mendalam atas meninggalnya ananda Randi dan ananda Yusuf Kardawi. Keduanya adalah mahasiswa Universitas Halu Oleo di Kendari.

Saya sudah mendapatkan laporan dari Kapolri bahwa memang keduanya ikut berdemonstrasi menyampaikan aspirasi di DPRD di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dan ananda Randi memang meninggal karena luka tembak saat berlangsungnya demonstrasi dan ananda Yusuf Kardawi meninggal setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Yang pertama, untuk kedua orang tua ananda Yusuf Kardawi maupun ananda Randi, semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan atas meninggalnya ananda berdua ini. Dan semoga apa yang diperjuangkan oleh ananda Randi dan ananda Yusuf Kardawi ini menjadi kebaikan bagi bangsa ini dan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi-Nya.

Saya juga sudah, sejak awal, kemarin saya ulangi lagi juga, kepada Kapolri agar jajarannya tidak bertindak represif. Dan saya sudah perintahkan juga untuk menginvestigasi dan memeriksa seluruh jajarannya karena ini disampaikan oleh Kapolri kepada saya tidak ada perintah apapun dalam rangka demo ini membawa senjata. Jadi, ini akan ada investigasi lebih lanjut.

Dan yang kedua, ini juga perlu saya sampaikan mengenai gempa yang ada di Ambon. Kemarin, saya mencoba untuk bertelepon kepada Gubernur, sudah dua kali tidak sambung. Tetapi kemarin sore saya sudah mendapatkan data dari Kepala BNPB Jenderal Doni Monardo bahwa gempa di Ambon menewaskan 23 orang, dan ratusan yang luka, dan ribuan yang mengungsi.

Saya juga ingin menyampaikan atas nama pribadi dan pemerintah mengucapkan dukacita yang mendalam atas musibah gempa yang terjadi di Ambon, yang menimpa saudara-saudara kita yang di Ambon. Dan kemarin sudah saya perintahkan kepada Kepala BNPB, ini Pak Jenderal Doni di sana, juga kepada TNI-Polri, kemudian kepada Menteri Sosial untuk bergerak ke lapangan di tempat terjadinya gempa untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Ambon. Dan bantuan juga sudah saya perintahkan untuk segera dikirimkan.

Dan kepada korban yang meninggal tadi juga saya sampaikan kepada Menteri Sosial untuk memberikan santunan dan untuk yang luka-luka perawatannya akan ditanggung oleh pemerintah. Dan terkait kerusakan fisik akibat gempa ini masih dilakukan pendataan secara detail. Tapi kemarin terakhir saya mendapatkan laporan kira-kira seratusan lebih sedikit rumah yang rusak.

Wartawan:
Terkait yang tewas di Kendari ini apakah akan mengevaluasi Kapolri, Pak Jokowi?

Presiden RI:
Sekali lagi tadi sudah saya sampaikan bahwa dalam menangani demo tidak represif. Karena ini kan berdemonstrasi ini menyampaikan pendapat dan itu dijamin oleh konstitusi.

Wartawan:
Tapi itu kan perintah Bapak, tapi tidak dipatuhi kan Pak, ini terus berulang Pak?

Presiden RI:
Ya ini kan menyangkut ribuan personel, ribuan personel yang ada di seluruh Tanah Air. Dan ini juga sampai sekarang juga tidak, bahkan belum, yang menembak ini siapa kan juga belum. Jadi jangan ditebak-tebak terlebih dahulu sebelum investigasinya selesai.

Ya. Terima kasih.

Wartawan:
Pertemuan dengan BEM Pak, soal pertemuan Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
Belum.

Wartawan:
Kenapa Pak, karena BEM-nya menolak ya Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
Enggak, belum ada jadwalnya ini. Nanti ada beberapa pertemuan sore ini tapi dengan BEM kelihatannya belum.

Wartawan:
Kan kata Presiden kemarin hari ini?

Menteri Sekretaris Negara:
Namanya merencanakan kan bisa saja tertunda.

Wartawan:
Bukan karena penolakan, Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
Belum, belum terjadwalkan. Belum terjadwalkan.

Wartawan:
Kan mahasiswa sebenarnya bersedia bertemu kalau pertemuannya berlangsung terbuka, apa Presiden yang tidak bersedia kalau pertemuannya terbuka?

Menteri Sekretaris Negara:
Oh, enggak, enggak. Belum ada begitu. Jadi sore ini memang ada beberapa pertemuan dilakukan, Presiden juga ada beberapa tamu, jadi jadwalnya belum ditetapkan.

Wartawan:
Ketemu siapa saja Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
(tidak menjawab)

Wartawan:
Kalau untuk Perppu gimana Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
Statement Bapak Presiden kan kemarin ya, pokoknya kita antisipasi lah keputusan Pak Presiden dalam beberapa waktu hari ini, ke depan ini.

Wartawan:
Sampai kapan? Kabarnya malam ini Pak Jokowi akan mengambil keputusan?

Menteri Sekretaris Negara:
Malam ini kan malam Minggu ya. Oh, bukan ya. Oke ya?

Wartawan:
Jadi drafnya sudah siap Pak ya, Perppu KPK?

Menteri Sekretaris Negara:
Pokoknya tugasnya staf itu adalah menyiapkan segala sesuatu yang akan diputuskan oleh pimpinan. Jadi siap.

Wartawan:
Pak, kemarin kan komitmen Presiden bilang jangan ragukan komitmennya mengenai demokrasi tapi setelah itu ada dua aktivis yang ditangkap dan kemarin juga mahasiswa yang demo sampai sekarang masih ada yang belum dibebaskan, ini gimana Pak? Bertolak belakang gitu Pak?

Menteri Sekretaris Negara:
Ya saya akan komunikasikan lah dengan Kapolri. Ya. Oke. Terima kasih.