Menuju konten

Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia Seusai Menyaksikan Pentas #PrestasiTanpaKorupsi

Wartawan:
Pak, bagaimana tadi kesannya Pak melihat penampilan dari Pentas #PrestasiTanpaKorupsi?

Presiden RI:
Ya, jadi begini, kita ingin memberikan sebuah kesadaran besar mengenai antikorupsi, kesadaran antikorupsi ini penting dan harus dilakukan secara besar-besaran dan masif. Kenapa di sekolah? Kita tahu, saya kira di Pak Mendikbud, memiliki sekolah itu 300 ribuan sekolah, ada siswanya 50 juta murid atau pelajar. Inilah yang harus menjadi target, karena apa pun demografi kita ke depan, anak-anak inilah yang akan mengisi negara ini, di titik-titik jabatan apa pun. Oleh sebab itu, kesadaran mengenai antikorupsi harus diberikan sejak dini, sejak awal sehingga semuanya sadar bahwa korupsi itu tidak betul, korupsi itu tidak benar, korupsi itu tidak boleh dilakukan oleh siapa pun. Jadi, penekanan itu yang ingin kita berikan. Plus, jadi sekolah tadi masih plus guru, lo. 50 juta siswa plus 3,5 juta guru.

Wartawan:
Pak, tadi ada pertanyaan soal hukuman mati untuk koruptor, Pak, tapi kan memang di UU-nya belum ada, tadi Bapak jawab. apakah nanti akan diatur Pak, direvisi (dari) UU yang ada, Ya pak, jadi koruptor (dikenakan) hukuman mati begitu, Pak?

Presiden RI:
Itu,… Yang pertama, kehendak masyarakat. Kalau masyarakat memang berkehendak seperti itu, ya dalam RUU Pidana Tipikor, itu dimasukkan. Tapi sekali lagi, juga tergantung kepada yang ada di legislatif.

Wartawan:
Ini bakal jadi inisiatif pemerintah Pak, kalau seperti itu?

Presiden RI:
Ya bisa saja kalau memang itu kehendak dari masyarakat.

Wartawan:
Pak, hari ini KPK menggelar Acara Hari Anti Korupsi Sedunia, kan tahun lalu Bapak hadir ketika acara serupa, tahun ini kenapa enggak hadir?

Presiden RI:
Enggak, setiap tahun saya hadir. Setiap tahun saya hadir, hanya ini kan, ini kan Pak Ma’ruf kan belum pernah ke sana, ya bagi-bagi lah. Masak setiap tahun saya terus. Ini Pak Ma’ruf belum pernah ke sana, silakan Pak Ma’ruf. Saya (ke) tempat lain.

Wartawan:
Pimpinan KPK kan menunggu Bapak datang ke sana, Pak.

Presiden RI:
Ya enggak apa-apa menunggu tapi kan yang hadir Pak Ma’ruf kan.

Wartawan:
Pak Jokowi, Pimpinan KPK masih berharap ada Perppu dikeluarkan oleh Bapak untuk….

Presiden RI:
Apanya?

Wartawan:
Pimpinan KPK berharap untuk Pak Jokowi mengeluarkan Perppu KPK, Pak.

Presiden RI:
Sampai detik ini, kita masih melihat, mempertimbangkan. Tetapi kan UU-nya sendiri belum berjalan. Kalau nanti sudah komplet, sudah ada Dewas (dewan pengawas), sudah (ada) Pimpinan KPK yang baru, nanti kita evaluasi lah, saya kira kita ini perlu mengevaluasi ya, seluruh program yang hampir 20 tahun ini berjalan.

Yang pertama, penindakan itu perlu tapi menurut saya kita harus: Pertama, pembangunan sistem itu menjadi hal yang sangat penting dalam rangka memberikan pagar-pagar agar penyelewengan korupsi itu tidak terjadi. Pembangunan sistem.

Yang kedua, menurut saya ini hal yang juga sangat penting, rekrutmen politik. Proses rekrutmen politik, proses rekrutmen politik ini penting sekali. Jangan sampai proses rekrutmen politik ini membutuhkan biaya yang besar sehingga nanti orang akan tengak-tengok untuk bagaimana pengembaliannya, ini berbahaya sekali.

Yang ketiga, menurut saya, fokus. Kita ini fokusnya di apa dulu? Jangan semuanya dikerjakan, enggak akan menyelesaikan masalah. Evaluasi-evaluasi seperti ini lah yang harus kita mulai koreksi. Mulai evaluasi sehingga betul-betul setiap tindakan itu ada hasilnya yang konkret, bisa diukur.

Dan yang keempat, menurut saya OTT (operasi tangkap tangan) penindakan itu perlu, kemudian setelah OTT, setelah penindakan, harus ada perbaikan sistem masuk ke sebuah instansi itu. Misalnya sebuah provinsi, gubernurnya ditangkap, ya kan? Setelah ditangkap, mestinya sistem perbaikan itu masuk ke sana, sistemnya masuk.

Oleh sebab itu, saya nanti akan segera bertemu dengan KPK untuk menyiapkan hal-hal yang tadi saya sampaikan. Baik mengenai pembangunan sistem, perbaikan sistem, baik mengenai hal yang berkaitan dengan rekrutmen sistem di politik, sistem rekrutmen di politik, yang ketiga mengenai fokus, fokusnya di apa, apakah kita ingin fokus perbaikan, misalnya di sisi eksekutif daerah atau di sisi pemerintah pusat atau di sisi kepolisian atau di sisi kejaksaan? Harus ditentukan fokusnya sehingga tidak sporadis dan evaluasi itu sangat penting.

Wartawan:
Pak Jokowi, soal rekrutmen politik yang murah, Pak?  

Presiden RI:
Ya itu harus dibicarakan dengan partai-partai politik, sistem rekrutmen politik yang paling murah, ini yang perlu dibicarakan.

Wartawan:
Pak Jokowi, ada masukan dari Pak Saut Situmorang Pak, “Lebih baik untuk memperbaiki fasilitas kesehatan (untuk di lembaga pemasyarakatan/lapas) itu akan lebih elegan dibandingkan dengan memberikan grasi”, Pak?

Presiden RI:
Sekali lagi saya sampaikan, kita harus fokus, tidak sporadis seperti itu, semuanya dikerjakan, enggak mungkin menyelesaikan masalah, percaya saya. Kita akan mulai dari mana? Akan mulai, misalnya harus kita tentukan. Sistem rekrutmen politik, ya mulai di situ. Kita bersama-sama, kita kerjakan. Atau kita mau pembangunan sistem, di mana? Pemerintah pusat? Ayo, bareng-bareng, kita kerjakan bersama-sama.

Wartawan:
Pak, terkait sistem elektronik, bisa banyak membantu transparansi Pak, di kita sudah ada e-procurement dan sebagainya tapi masih perlu diperkuat, Pak?

Presiden RI:
Ya oleh sebab itu, perlu diperbaiki terus sehingga yang namanya membangun sistem itu menjadi hal yang sangat penting untuk kita lakukan. Kita sudah memiliki kayak e-procurement sudah ada, e-tendering sudah ada, e-purchasing sudah ada, tapi kenapa masih terjadi seperti ini? Artinya perlu perbaikan sistem itu.

Wartawan:
Pak Presiden, dari ketiga Menteri tadi, kembali ke pertunjukan tadi, yang banyak dinikmati, Pak? Akting yang paling bagus yang mana, Pak?

Presiden RI:
Akting yang paling…kalau pakaian yang paling bagus dikenakan pasnya di Pak Nadiem Makarim. Mas Menteri Nadiem Makarim karena masih kelihatan kayak anak SMA.

Wartawan:
Kalau tukang baksonya itu, Pak?

Presiden RI:
Kalau tukang bakso, saya lihat, ini handuknya baru, pakaiannya baru, kelihatan masih baru, gerobak baksonya juga baru.

Wartawan:
Pak, katanya hari Senin ini mau memanggil Kapolri, jadi enggak, Pak?

Presiden RI:
Apanya? Oh, sore nanti, sore nanti, sore nanti akan saya (panggil).

Wartawan:
Terima kasih, Pak.