Menuju konten

Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia Seusai Meresmikan Implementasi Program Biodiesel 30 Persen (B30)

Presiden RI:
Ya saya kira tadi sudah jelas semuanya, saya sampaikan bahwa Program B30 ini bisa maju, tidak ke tahun 2020 tetapi akhir (tahun) 2019 sudah dimulai, karena ini percobaannya sudah dimulai dari bulan November kemarin, sudah berjalan. Sehingga hari ini kita sampaikan bahwa B30 telah kita luncurkan dan ini bisa menghemat, yang saya paling senang, ini bisa menghemat devisa Rp63 triliun, ya.

Wartawan:
Pak, strategi untuk mencapai B100 apa sih yang bisa dilakukan?

Presiden RI:
Nantinya kita harapkan, ini kita step-by-step ya. Tahun depan nanti masuk ke B40, 2021 masuk ke B50. Targetnya kira-kira itu. Enggak usah terlalu jauh ke B100. B40, B50 itu sudah…, saya kira step-step ini bisa kita raih, saya kira devisa akan semakin besar kita peroleh.

Wartawan:
(Audio tidak terdengar)

Presiden RI:
Iya memang. Ruwetnya kan…, kilangnya kan tersebar. Untuk membawa yang namanya CPO (crude palm oil) masuk ke kilang kan perlu transportasi logistik, itu untuk menuju ke kilang di mana barang ini diproduksi, itu saja. Tapi alhamdulillah kilang Pertamina juga mencukupi sehingga kita tidak harus membangun kilang baru dalam rangka B30, B40, dan nanti B50.

Wartawan:
(Audio tidak terdengar)

Presiden RI:
Ya, tadi artinya kalau nanti Rp63 triliun bisa kita hemat, kalau di-dolar-kan berapa coba, dihitung, 4,8 miliar USD bisa kita hemat. Nanti lari ke B50 akan beda lagi. Inilah yang sering saya sampaikan, memperbaiki current account deficit dengan memperbanyak substitusi impor, produk-produk substitusi impor. Bukan hanya ini saja, nanti kalau petrokimianya juga bisa selesai, TPPI (PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama) itu juga akan menghemat banyak sekali karena kita impor petrokimia juga sangat tinggi.

Wartawan:
Ini nanti di semua sektor, Pak?

Presiden RI:
Iya semuanya, di semua sektor.

Wartawan:
(Audio tidak terdengar)

Presiden RI:
Justru ini menjadikan kita lebih mandiri, tidak tergantung pada pasar-pasar ekspor, tidak tergantung pada negara-negara lain yang ingin beli CPO kita. Kamu enggak beli enggak apa-apa, saya pakai sendiri. Kamu enggak beli, kamu tidak beli enggak apa-apa, saya konsumsi sendiri di dalam negeri, inilah daya tawar kita menjadi lebih kuat. Ngapain kita tergantung kepada negara lain kalau konsumsi di dalam negeri bisa memakai, apalagi ini energi bersih.

Wartawan:
Tapi Pak, kita masih ekspor CPO, untuk percepatan…

Presiden RI:
Iya inilah nanti proses. Kita kan sudah moratorium untuk lahan sawit. Artinya apa? Per hektare-nya harus dilipatkan. Kalau sekarang 1 hektare hampir 4 ton, ya kan? Gimana cara mencapai ke 7 atau ke 8 ton per hektare, bisa lipat 2 kali. Negara lain bisa kok mencapai 7 (ton) sampai 8 (ton), kenapa kita tidak? Karena penggunaan bibit-bibit sawit yang memiliki kualitas yang baik. Ini proses yang nanti akan di…, yang sudah kita kerjakan dalam 2 tahun ini kan, meremajakan kebun-kebun sawit rakyat. Ini akan kita teruskan karena dana sawit kita ini juga gede sekarang. Terakhir berapa?

Wartawan:
Terakhir Rp20 triliun, Pak.

Presiden RI:
Rp20-an triliun yang itu kita akan pakai untuk tree planting, peremajaan kebun-kebun sawit yang ada di kebun sawit milik petani, target kita 500 ribu. Target kita 500 ribu hektare dalam 3 tahun ke depan, untuk peremajaan sawit, ya.