Menuju konten

Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia seusai Meresmikan Pembukaan Konstruksi Indonesia 2019, Indonesia Infrastructure Week Dan Indonesia Infrastructure Development Financing 2019

Wartawan:
Pak, perkembangan sebenarnya pembangunan ibu kota baru ini sudah sampai mana sih, Pak?

Presiden RI:
Ini sekarang masih pada proses lomba untuk gagasan desain yang ini diikuti oleh 755 peserta. Nanti pada akhir bulan ini akan ketemu/ditemukan tiga gagasan besarnya. Setelah itu akan diolah lagi, akan lebih didetailkan dalam bentuk yang lebih… Karena ini makro, gagasan makro, akan dikecilkan menjadi gagasan mikronya.

Tetapi yang paling penting, tadi sudah saya sampaikan, kita ini tidak hanya pindah tempat atau pindah lokasi. Yang paling penting adalah pindah pola pikir, pindah mindset, kemudian pindah sistem. Artinya di situ sistem harus ter-install dengan baik sehingga nanti orang yang masuk, birokrasi kita masuk, install sistemnya sudah siap. Sehingga yang ketiga juga ada pindah budaya kerja. Harus diubah ini.

Oleh sebab itu, tadi saya sampaikan bahwa yang di sana itu bukan hanya dibangun pemerintahan. Ada klaster pemerintahan tapi juga ada klaster untuk pelayanan kesehatan, yang kelasnya memang akan kita buat kelas semuanya berkelas dunia semuanya. Juga layanan pendidikan juga sama, akan kita buat kelas dunia. Termasuk juga klaster untuk teknologi dan inovasi.

Yang paling penting ibu kota itu memang kita harapkan talenta-talenta teknologi inovasi itu betul-betul terasa ya, bahwa ini memang kota masa depan. Sehingga kita harapkan talenta-talenta serupa juga mau hadir dan datang di situ untuk berkolaborasi dengan talenta-talenta kita. Saya kira gagasannya itu.

Wartawan:
Mengenai Dewan pengawas KPK, Pak? Sudah sampai sejauh mana Pak?

Presiden RI:
Nanti, masih bulan Desember. Masih digodok dalam tim internal. Nanti kalau sudah kita sampaikan.

Wartawan:
Kriterianya, Pak? Langsung dilantik ya Pak dengan Komisioner?

Presiden RI:
Iya.

Wartawan:
Pak, nama Pak Antasari masuk, Pak, dalam radar?

Presiden RI:
Masih dalam penggodokan, tetapi kita harapkan nanti yang ada di situ adalah orang-orang yang memiliki integritas.

Wartawan:
Pak, dana desa siluman, Pak? Dari Menteri Keuangan, Pak?

Presiden RI:
Negara kita ini kan memang negara yang besar, negara yang besar, 514 kabupaten/kota ini gede. 74.800 desa ini juga banyak. Manajemen mengelola desa sebanyak itu tidak mudah. Tetapi kalau informasi benar, ada desa siluman itu, mungkin hanya desanya hanya dipakai plang saja tapi desanya enggak ada, bisa saja terjadi. Karena sekali lagi, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote adalah sebuah pengelolaan yang tidak mudah. Tapi tetap kita kejar agar yang namanya desa-desa yang tadi diperkirakan/diduga itu fiktif ketemu, tangkap. Ya.