Menuju konten

Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia Seusai Meresmikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah – Manggar

Wartawan:
Yang diharapkan dari TPA ini apa, Pak?

Presiden RI:
Ini adalah, menurut yang saya lihat, di kota-kota lain saya kira ini adalah pemrosesan akhir sampah yang paling baik di Indonesia, hijau, tidak bau, bersih, dan pembangunan yang dilakukan saya lihat juga tidak memakan biaya yang begitu banyak. Ini berapa kemarin? Rp160 miliar.

Kalau tempat-tempat lain mungkin ada yang ingin melakukan pemrosesan pembakaran, incinerator, dan dibelokkan jadi listrik, bagus juga. Tapi saya lihat sampai sekarang belum ada yang selesai dan dalam kondisi yang baik. Saya kira urusan sampah bukan urusan yang sepele, tapi saya kira Balikpapan sudah memiliki TPA Akhir di Manggar ini sangat bagus. Dan bagusnya di Balikpapan ini pemrosesan dimulai dari rumah, tidak semuanya  dibuang di TPA Manggar ini, tapi dikurangi, kurang lebih berapa persen Pak Wali?

Wali Kota Balikpapan:
Dua puluh persen, Pak.

Presiden RI:
Dua puluhan persen sudah dicegat dulu di rumah. Ini mengurangi juga, banyak.

Wartawan:
Kira-kira ada daerah lain yang harus jadi prioritas?

Presiden RI:
Kita memberikan prioritas kepada 10 kota, kemarin, dalam menyelesaikan persoalan sampah, 10 kota. Dan rata-rata memang semuanya menjanjikan sampah menjadi listrik. Tapi sampai sekarang belum ada yang selesai, jadi saya belum bisa bercerita banyak. Tapi mungkin akhir tahun depan sudah ada yang selesai, moga-moga.

Wartawan:
Berapa banyak, Pak, yang Bapak targetkan akan selesai?

Presiden RI:
Sepuluh dulu ini untuk contoh. Tapi yang proses landfill, ini saya kira yang terbaik.

Wartawan:
Stimulus untuk 10 kota itu agar segera terealisasi, apa Pak? Stimulus agar 10 tadi bisa segera terealisasi jadi listrik?

Presiden RI:
Ndak. itu kerja sama antara pemerintah daerah dengan swasta. Kita kemarin hanya menyiapkan regulasinya.

Wartawan:
Ada insentif untuk swasta, Pak? Untuk swasta yang masuk mengolah sampah jadi listrik?

Presiden RI:
Enggak ada, nanti itu.

Wartawan:
Apa bentuk TPA seperti ini juga akan diterapkan di ibu kota baru?

Presiden RI:
Ya, saya kira beda-beda. Ada yang bisa landfill, ada yang dengan incinerator, banyak cara pemrosesannya yang beda-beda.

Wartawan:
Pak, mau menanyakan yang lain boleh, Pak? Soal pemilihan direksi BUMN ini kan melalui TPA ya Pak, ya?

Presiden RI:
Tempat pemrosesan akhir, sama-sama TPA.

Wartawan:
Pak, kalau untuk direksi, untuk direksi Garuda (Indonesia) dan PLN ini sudah ada nama-nama yang diajukan Pak Erick (Menteri BUMN) belum sih Pak?

Presiden RI:
Belum .

Wartawan:
Pak Rudiantara enggak jadi, Pak? Kalau nasib Pak Rudiantara, itu enggak jadi ya Pak?

Presiden RI:
Belum. Ditanyakan (saja) ke Menteri BUMN.

Wartawan:
Pak, soal Bulog yang menjual rugi beras turun mutu, ini apakah pemerintah menanggung kerugiannya Pak?

Presiden RI:
Ditanyakan ke Ka.Bulog, jangan hal yang teknis semuanya ditanyakan ke saya.

Ya, tadi juga yang kita telah selesaikan adalah bendungan dan instalasi air, teritip. Ini sudah,  dulu kita kerjakan berapa tahun yang lalu ya? 3 tahun yang lalu, juga sudah selesai. Itu juga akan menjadi sumber air baku bagi Kota Balikpapan, ini juga sebuah, apa…, habis berapa miliar itu Pak? Rp262 miliar.  Bendungan itu dekat dari sini, kira-kira 7-8 kilometer dari sini, ya.

Wartawan:
Badan otorita kapan Pak, Perpres badan otorita untuk IKN?

Presiden RI:
Tadi sudah saya jawab sebetulnya, maksimal nanti Januari. Kalau bisa saya pengin akhir Desember, tapi melesetnya di Januari.