Menuju konten

Keterangan Pers seusai Peresmian Gedung Sekretariat ASEAN

Wartawan:
Soal gedung yang baru diresmikan Pak, tanggapannya bagaimana?

Presiden RI:
Ya, ini kan memang sudah direncanakan lama dan problem awal dulu memang masalah lahan tanah yang belum ada. Tapi DKI Jakarta menyerahkan ini kepada kita dan setelah itu langsung bisa dibangun. Ini gedung yang sangat besar sekali, luas, dan tinggi, 16 lantai. Kita harapkan nanti bisa dijadikan aktivitas, seluruh kegiatan-kegiatan ASEAN di sini.

Wartawan:
Perpres mobil listrik sudah Pak?

Presiden RI:
Oh sudah, sudah, sudah. Sudah saya tanda tangani hari Senin pagi. Sudah.

Wartawan:
Dengan Perpres itu harapannya apa Pak?

Presiden RI:
Ya kita ingin mendorong agar industri otomotif mau segera merancang, mempersiapkan untuk membangun industri mobil listrik di Indonesia. Kita tahu, 60 persen dari mobil listrik itu kuncinya ada di baterainya. Dan bahan untuk membuat baterai entah kobalt, mangan, dan lain-lainnya ada di negara kita sehingga strategi bisnis negara ini bisa kita rancang agar kita nanti bisa mendahului membangun industri mobil listrik yang murah, yang kompetitif, karena bahan-bahan ada di sini.

Wartawan:
Mobil listrik ini nantinya mayoritas untuk ekspor atau pasar domestik?

Presiden RI:
Ini kan masih lama lah. Masih lama. Jadi membangun sebuah industri seperti ini tidak mungkin memakan waktu setahun, 2 tahun, 3 tahun. Pasti akan juga melihat pasar, melihat pembeli. Membuatnya bisa, yang beli ada? Karena mobil listrik sekarang ini hampir 40 persen harganya lebih mahal dari yang biasa. Mau beli? Mau beli?

Kita harapkan nanti dengan ketemunya bahan-bahan baterai yang ada di Indonesia mungkin harganya bisa ditekan lebih murah, syukur bisa sama. Itu baru kita akan mobil-mobil listrik berseliweran di seluruh kota di Indonesia.

Wartawan:
Rencana jangka panjang itu untuk mengganti, menjadi mengantisipasi polusi?

Presiden RI:
Ya. Mengganti boleh. Keinginan kita itu. Tetapi mendorong konsumen untuk membeli kalau harganya terlalu mahal siapa yang mau juga, sehingga kita mendorong, terutama Pak Gubernur DKI yang APBD nya gede bisa memberi insentif. Saya kira sudah dimulai, ganjil-genap bebas untuk mobil listrik. Itu sudah memberi insentif.

Mungkin bisa saja nanti parkirnya digratisin, bisa saja nanti misalnya beli mobil listrik balik namanya digratisin. Bisa saja insentif-insentif yang untuk kota-kota yang memiliki APBD besar. Atau ditambah subsidi. Ada negara yang memberi subsidi sekian dolar apabila beli mobil listrik.

Dan dimulai dari Jakarta saya kira bisa dimulai dengan busnya, transportasi umum. Bisa dimulai mendorong taksi-taksinya. Saya kemarin sudah sampaikan ke Menteri Perhubungan agar mulai didorong seperti itu. Bisa saja misalnya sepeda motor listrik yang sudah diproduksi oleh kita sendiri didorong untuk digunakan di DKI dulu. Dibelikan oleh Pak Gubernur bisa saja, kenapa tidak?

Wartawan:
Jadi target untuk mobil murah ya Pak, bukan mobil mahal? Mobil listrik itu untuk mobil murah?

Presiden RI:
Bukan murah dan mahal. Ya mobilnya itu bisa dibeli oleh konsumen. Mesti seperti itu. Enggak mungkin buat mobilnya bisa tapi yang beli enggak ada. Untuk apa, coba? Atau bisa membuat mobilnya murah tapi rusak terus, ya untuk apa?

Wartawan:
Rencana kunjungan ke Malaysia nanti sore Pak?

Presiden RI:
Banyak. Banyak hal yang perlu kita bicarakan dengan Tun Dr. Mahathir Mohamad, terutama yang berkaitan dengan perbatasan, dengan TKI kita, dengan banyak. Ya. Termasuk mengenai diskriminasi minyak kelapa sawit kita. Itu yang utama.

Wartawan:
Terima kasih Pak.