Menuju konten

Menerima Para Tokoh Papua

Assalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,
Selamat siang,
Selamat sejahtera bagi kita semuanya,

Yang saya hormati para Menteri, Kepala BIN.

Yang saya hormati ketua rombongan Bapak Abisai Rollo beserta seluruh tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, mahasiswa dari Tanah Papua yang siang hari ini hadir di Istana.

Saya berbicara apa adanya, tadi yang disampaikan terakhir oleh Pak Abisai Rollo tadi betul-betul sangat menyentuh hati saya. Saya kira menyentuh hati kita semua.

Dan juga perlu saya ulang-ulang di mana-mana bahwa negara kita ini negara besar, betul-betul negara besar. Dengan 714 suku yang kita miliki, yang berbeda-beda, semuanya berbeda-beda. 714 suku yang berbeda-beda dengan 1.100 lebih bahasa daerah yang juga berbeda-beda. Inilah negara kita Indonesia dan itu sudah menjadi hukum dari Tuhan. Hukum dari Allah. Kalau orang Islam namanya sunatullah. Sudah menjadi hukumnya Tuhan bahwa kita memang berbeda-beda seperti ini.

Dan saya dalam 5 tahun ini sudah 12 kali ke Tanah Papua baik di Papua Barat maupun di Papua. Tapi saya enggak ngomong ke provinsi lain karena provinsi lain mungkin hanya 2 kali atau 3 kali maksimal. Dua kali atau tiga kali. Ini ke Papua sudah 12 kali.

Saya juga pernah mencoba sebetulnya negara ini sebesar apa sih. Saya terbang langsung dari Aceh ke Wamena. Itu memakan waktu naik pesawat itu 9 jam 15 menit. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris itu sampai Istanbul di Turki itu kira-kira melewati 6 atau 7 negara. Artinya apa? Negara ini memang negara yang sangat besar sekali dan perbedaan-perbedaan yang beraneka ragam kita ini. Ini memang sudah menjadi garis dari Yang di Atas.

Jadi, bayangkan naik pesawat saja 9 jam 15 menit dari Aceh sampai Papua. Bayangkan kalau kita jalan kaki. Enggak tahu berapa tahun akan sampai.

Saya ke Wamena, seingat saya kalau enggak 3 – 4 kali. Kemudian ke Nduga saya sudah 2 kali. Mungkin yang di Papua saja belum pernah ke Nduga. Benar? Nah, banyak yang belum. Pak Abisai Rollo juga belum. Saya sudah 2 kali ke Nduga.

Pertama kali saya ke Wamena saat itu, saya malam-malam keluar dari hotel. Saya tanya ke warung-warung mengenai harga. Saya tanya juga ke yang jualan bensin juga, ke yang jual BBM saya tanya, “Harga bensin di sini berapa?” Saya betul-betul kaget saat itu karena enggak… sebelumnya enggak ada informasi mengenai itu. Mereka menyampaikan, “Pak, ini harganya satu liter Rp60 ribu. Tapi Pak kalau pas hujan, Pak, pas cuaca enggak baik, bisa sampai Rp100 ribu Pak.” “Itu per liter?”, “Iya Pak per liter.” Saya ulang-ulang, saya kan masih ragu. “Ini per liter?” Jangan-jangan per jerigen. “Per liter Pak.” Saya kaget betul.

Padahal harga di sini Rp6.450. Berarti sepuluh kali lipat. Itu 2015 saya ke sana. Oleh sebab itu, saat itu juga saya perintahkan pada menteri, “Saya tidak mau tahu caranya, tetapi saya minta agar harga BBM, harga bensin di sini dan di Tanah Papua ini sama dengan di daerah-daerah lain, di provinsi lain.” Tapi baru kira-kira dua tahun baru kesampaian keinginan kita itu. Meskipun saya tahu di lapangan juga masih kadang-kadang masih ada yang mencoba-coba untuk bermain dengan harga yang ada.

Itu kalau saya tidak lepas malam-malam tanya, ya mungkin tidak ada yang tahu sampai saat ini, saya maksudnya. Enggak ada yang tahu harga sampai begitu jauhnya dengan… meskipun juga tidak hanya di Papua. Setelah saya cek lagi di tempat lain di Kalimantan Utara juga masih harganya meskipun tidak Rp60 ribu, tapi juga Rp20 sampai Rp30 ribu. Di Maluku Utara juga sama.

Artinya apa? Negara ini besar sekali. Bapak dan Ibu bisa bayangkan 17 ribu pulau yang kita miliki. Negara mana yang punya pulau sebanyak kita? Enggak ada. Mengelolanya juga tidak mudah. Itu baru berkaitan dengan harga. Saya tanya lagi semen juga sama. “Pak, ini Rp800 ribu, tapi pada keadaan tertentu kadang-kadang bisa mencapai Rp1,5 juta sampai Rp2 juta.” Di Papua, di Lani, di Nduga, di Puncak, semuanya.

Dan sekarang juga semen meskipun belum sama dengan di sini tapi paling tidak sudah saya cek, kemarin terakhir harganya antara Rp400 sampai Rp500 (ribu). Ya sudah turun separuh. Kita akan berusaha terus sehingga harga itu bisa sama.

Yang kedua juga kenapa perbatasan dengan Papua Nugini, yang namanya Skouw. Mungkin enggak tahu, mahasiswa ada yang pernah ke Skouw enggak? Ada yang belum pernah? Oh, kalau Pak Abisai Rollo di Skouw. Di Skouw sebelumnya saya lihat kemudian saya perintahkan untuk diperbaiki sebaik-baiknya. Tapi yang terakhir setelah pasarnya jadi saya belum pernah ke sana. Jadi, sudah jadi atau belum? Sudah jadi ya. Kalau itu Skouw jadi, betul-betul menjadi sebuah kebanggaan tidak hanya masyarakat Papua, tapi masyarakat Indonesia karena perbatasan-perbatasan seperti itu sangat penting bagi kebanggaan kita terhadap negara lain.

Kemudian juga, ini 2014 saya ingat, waktu bertemu dengan mama-mama di Pasar Mama-Mama Papua, di Jayapura. Itu juga sama. Di Pasar Sentani juga sama. “Pak, kami minta pasar kami menjadi pasar yang bersih, pasar yang modern sehingga kami bisa berjualan dengan rapi, dengan bersih, dengan manajemen yang baik.” Itupun juga bertahun-tahun tidak bisa kita kerjakan karena masalah tanah yang ada di situ masih sengketa, masih problem baik dengan BUMN maupun dengan masyarakat yang ada. Tapi ya juga kita patut bersyukur setelah 3 tahun itu bisa kita selesaikan sehingga terakhir waktu saya ke sana juga saya lihat mama-mama di pasar itu juga sudah bisa berjualan dengan sebuah manajemen yang lebih baik.

Tapi memang kita harus berbicara apa adanya bahwa di provinsi yang lain juga masih banyak yang harus kita kerjakan. Karena memang proses sebuah kemakmuran, proses sebuah kesejahteraan di negara manapun itu ada prosesnya, ada tahapan-tahapannya. Oleh sebab itu setelah infrastruktur ini kita benahi, kita ingin masuk kepada tadi yang disampaikan oleh Pak Abisai Rollo tadi mengenai pembangunan SDM. Itu betul.

Sangat diperlukan yang namanya pembangunan SDM. Karena muter-muter kayak apapun SDM ini menjadi kunci. Tapi saya juga bangga, waktu saya ke California di Amerika. Saya bertemu mungkin dengan 12 mahasiswa kita yang dari Papua yang saat itu nemuin saya.

Bukan pintar-pintar, sangat pintar-pintar. Waktu saya ke New Zealand juga ketemu dengan lebih dari 10 mahasiswa dari Tanah Papua. Saya lihat juga pintar-pintar semuanya. Di Australia ketemu juga dengan mahasiswa. Artinya apa? Mahasiswa yang ada di luar, yang baik menempuh S1, S2, atau S3 itu bukan sedikit, tapi banyak.

Tapi memang kita memerlukan lebih banyak dari itu. Banyak kemudian yang bertanya, “Pak ini saya kalau sudah lulus, saya mau ke mana?”, “Ya kembali ke Tanah Papua,” “Terus saya kerja apa?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang memang tidak hanya oleh anak-anak muda di Papua tapi juga anak muda di provinsi yang lain.

Inilah saya kira pekerjaan besar kita, tetapi saya siang hari ini saya mau buka, ini untuk BUMN dan perusahaan swasta besar, yang akan saya paksa. Karena kalau lewat prosedur sudah nanti kelamaan lah, sudah. Jadi kewenangan saya, saya gunakan untuk bisa menerima yang baru lulus, mahasiswa dari Tanah Papua.

Sementara siang hari ini saya menyampaikan 1.000 dulu lah, 1.000. Nanti juga akan saya atur lagi, mengenai masalah PNS tadi, supaya juga ada penempatan di provinsi-provinsi yang lain, termasuk mulai kita atur di eselon 1, eselon 2, dan eselon 3 akan kita atur. Karena kalau tidak lewat proses percepatan afirmasi seperti itu memang, ya apa ya, kita ini kompetisinya memang ketat sekali. Hampir semua provinsi, ketat sekali. Dan keluhan seperti ini hampir disampaikan kepada saya di provinsi-provinsi lain utamanya dari luar Jawa dan itu saya dengar. Nanti saya minta segera ini disampaikan kepada saya list-nya.

Yang kedua mengenai yang berkaitan dengan pemekaran. Jangan banyak-banyak dulu. Tadi Bapak menyampaikan tambahannya berapa tadi? Lima ini total atau tambahan? Iya, saya iya tetapi mungkin sementara tidak lima dulu. Mungkin kalau enggak dua – tiga. Kalau tidak dua – tiga. Ini kan perlu ada kajian kan. Kajian karena undang-undangnya kelihatannya sudah mendukung ke sana dan saya memang ingin ada dari bawah usulan itu. Bukan dari kita, bukan dari keinginan kita, tetapi dari keinginan di bawah untuk pemekaran itu.

Kemudian tadi mengenai asrama Nusantara, saya setuju. Mengenai Palapa Ring ini akan selesai akhir tahun ini. Akan selesai semuanya nanti. Di semuanya Tanah Papua nanti 4G semuanya. Sudah.

Kemudian lembaga adat untuk anak dan perempuan Papua. Saya kira silakan dibentuk. Saya kira juga bagus untuk memberikan akselerasi untuk perlindungan anak dan perempuan di Papua. Saya kira silakan, akan saya dukung.

Kemudian yang terakhir mengenai Istana Presiden. Ini yang di sana itu yang sulit kan tanahnya. Ini tanahnya tadi sudah disediakan? Benar? 10 hektare gratis? Gratis? 10 hektare? Benar? Itu sudah ada? Punya Pak Abisai Rollo? Oke, oke. Tadi kalau disampaikan hari ini de facto sudah diserahkan.

Enggak, ini saya bisik-bisik dulu dengan para menteri supaya keputusannya tidak keliru. Nanti saya sudah ngomong ya, duitnya enggak ada. Ya, jadi mulai tahun depan istana ini akan dibangun. Sudah. Dicatat.

Dan tadi mengenai Badan Nasional untuk Urusan Papua, akan kita coba jajaki apakah memungkinkan atau tidak. Nanti akan saya jawab setelah lewat kajian-kajian. Saya kira usulan-usulan tadi sangat bagus sekali dan akan segera kita lakukan kajian.

Mungkin itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, sekali lagi saya sangat menghargai pertemuan pada siang hari ini. Dan saya ini masih mengatur waktu untuk bisa segera ke Papua lagi tapi juga belum, mungkin kalau saya akan berusaha bulan ini. Tapi kalau meleset ya di Oktober lah. Karena saya ingin meresmikan jembatan Holtekamp secepatnya dan juga jalan-jalan trans Papua yang sudah diselesaikan oleh Kementerian PU. Saya akan cek dan juga segera kita resmikan untuk segera bisa digunakan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu sekalian, Pak Ketua dan seluruh Tetua dan pimpinan adat, tokoh masyarakat, tokoh agama yang hadir, para mahasiswa.

Saya tutup.
Terima Kasih.

Wassalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,
Shalom.