Menuju konten

Peluncuran Bersama Bank Wakaf Mikro “Apik Kaliwungu Dan Al Fadllu Kendal”

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati Pengasuh Pondok Pesantren Apik Kaliwungu, yang terhormat Bapak K. H. Sholahuddin Humaidulloh Irfan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al Fadllu 2 Bapak K. H. Alamuddin Dimyati Rois;
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir. Hadir di sini Bapak Menteri Agama. Berdiri Pak Menteri, biar kenal dengan para ulama dan santri. Hadir di sini Bapak Menteri Pariwisata. Berdiri Pak, masih muda;
Yang saya hormati, Pak Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara), Prof. Pratikno. Saya ngajak tiga menteri hari ini;
Yang saya hormati Ketua Dewan Komisioner OJK, Bapak Wimboh;
Yang saya hormati Gubernur Jawa Tengah. Tidak usah saya kenalkan, sudah kenal semua.  Nggih? Tapi enggak apa-apa, biar kenal Pak Gub berdiri lagi, dan Pak Wagub, Pak Wakil Gubernur, nggih. Komplet, menterinya tiga, Gubernur, Wakil Gubernur cobi, plus Pak Pangdam, Pak Kapolda juga rawuh. Berdiri, Pak. Dan Ibu Bupati Kendal. Dikenalkan, ndak? Berdiri, Bu;
Yang saya hormati para Ulama, Bapak/Ibu sekalian para nasabah Bank Wakaf Mikro, serta tidak lupa, tadi yang belum saya kenalkan karena pendirian Bank Wakaf Mikro ini adalah kerja sama antara OJK dan pengusaha-pengusaha besar. Dan tadi yang sudah menjadi donatur yaitu Sinarmas Group.  Terima kasih, Pak Sulis.

Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia,
Sampai hari ini, telah kita bangun alhamdulillah 56 Bank Wakaf Mikro di pondok-pondok pesantren yang ada di Tanah Air. Dan hari ini secara resmi dilakukan di dua pondok pesantren, yaitu di Pondok Pesantren Apik Kaliwungu dan Pondok Pesantren Al Fadllu 2 di Kendal.

Apa yang ingin saya sampaikan, bahwa dari 56 Bank Wakaf Mikro, itu telah menjangkau 25.000 usaha mikro, usaha kecil. 25.000 nasabah Bank Wakaf Mikro, jumlah yang tidak kecil. Dana yang disalurkan, bantuan pinjaman yang disalurkan Rp34 miliar. Itu tidak sedikit lo. Itu kalau dijutakan berarti Rp34 ribu juta. Rp34 ribu juta, Rp34 miliar, berarti gede banget uang yang beredar di pondok-pondok pesantren, plus di sekitar pondok. Dan nanti tadi Pak Ketua OJK juga sudah menyampaikan, sudah disiapkan lagi kurang lebih lima puluh Bank Wakaf Mikro yang akan dibuka,  dibuka, dibuka, dibuka lagi. Ini patut kita syukuri, alhamdulillah.

Apa yang kita inginkan, pemerintah ingin agar dari pondok pesantren dan lingkungan pondok pesantren, apabila ada keinginan-keinginan untuk membesarkan usaha-usaha yang ada di situ, ada banknya yaitu Bank Wakaf Mikro. Jangan sampai pinjamnya ke rentenir. Hati-hati, hati-hati, nggih. Setop. Sekarang sudah ada Bank Wakaf Mikro.

Yang kedua, Bank Wakaf Mikro ini tidak memakai agunan, tidak memakai jaminan, nggih mboten? Siapa yang pinjam pakai agunan? Tunjuk jari. Ada? Siapa yang pinjam Bank Wakaf Mikro tapi pakai agunan, tunjuk jari! Saya beri sepeda. Wonten? Tidak ada jaminan. Artinya, Bapak/Ibu yang mendapatkan bantuan pinjaman itu adalah dipercaya, karena pinjam Rp1 juta, Rp2 juta, ada yang Rp3 juta, ada yang Rp4 juta, ada yang Rp5 juta. Di sini mungkin baru Rp1 juta, tadi saya cek, tapi sudah ada yang Rp4 juta. Yang sudah mulainya 3 tahun yang lalu sudah sampai Rp4 juta. Karena apa? Dipercaya dan tidak pakai agunan.

Panjenengan tindak ke bank pasti akan ditanyakan, “Agunannya apa, Bu? Jaminannya apa, Bu?” Lha ini tidak, ini kepercayaan. Ini lah pemerintah berusaha untuk membuka sebanyak-banyaknya Bank Wakaf Mikro agar ada akses keuangan, gampang mencari modal dari usaha-usaha mikro kita untuk lingkungan pondok pesantren. Karena memang Bank Wakaf Mikro ini memang dikhususkan untuk segmen usaha-usaha kecil dan usaha-usaha mikro.

Tadi saya tanya di depan, ada yang jualan peyek saya tanya, “Dapat bantuan pinjaman berapa, Bu? “Setunggal yuto, Pak.” Rp1 juta. Ada yang jualan tadi apa tadi, bandeng, saya tanya, “Dapat pinjaman berapa, Bu?” “Baru Pak, kami baru Rp1 juta.” Alhamdulillah, bisa ngembangkan. Peyek kalau Rp1 juta itu peyeknya berapa banyak coba? Jualan peyek kok pinjamnya juga Rp1 juta? Peyeknya, tadi saya beli empat aja sudah kelihatan banyak banget, lha ini Rp1 juta. Empat, tadi satu kemasan plastik harganya berapa tadi? Rp8 ribu. Saya beli empat berarti Rp32 ribu. Empat aja mbawanya kesulitan tadi, lha kalau Rp1 juta banyak banget.

Tapi saya titip, ini hati-hati, kalau dapat bantuan pinjaman dari Bank Wakaf Mikro agar disiplin mengangsurnya, nggih. Kalau disiplin mengangsur, nanti akan bisa ditambah lagi menjadi Rp2 juta, menjadi Rp3 juta, sehingga usahanya berkembang. Tapi saya titip, jangan sampai dapat bantuan pinjaman Rp1 juta, ya ini, jalan-jalan ke mal. Tengok sana, tengok sini, ada tas baru. Nah, bantuan pinjaman dipakai untuk beli tas. Boleh? Boleh? Siapa yang bilang boleh maju ke depan saya beri sepeda. Tidak boleh!

Jadi bantuan pinjaman ini hanya dipakai untuk modal usaha, untuk modal kerja semuanya. Kalau mendapatkan untung, silakan. Alhamdulillah, dapat untung misalnya Rp100 ribu, untung Rp50 ribu disyukuri. Sebagian ditabung sebagian untuk mengangsur. Itu yang kita harapkan. Jangan sampai nanti dapat Rp2 juta, jalan-jalan ke mal lagi, kok ada baju baru, nah ingin beli Rp300 ribu. Jalan-jalan lagi, aduh kok ada ini, sama ini, beli lagi, Rp200 ribu, Rp500 ribu. Apa yang terjadi? Suatu titik pasti akan kesulitan dalam mengangsur atau menyicil bantuan pinjaman itu. Karena ada sebagian yang diperuntukkan untuk barang-barang yang bukan modal kerja atau modal usaha.  Ampun, jangan. Hati-hati. Ini menyangkut nama, karena Bapak/Ibu itu diberi pinjaman, bantuan pinjaman itu karena dipercaya. Hati-hati.

Ini yang sudah dapat bantuan pinjaman ada di sini? Mana? Mana? Mana? Baik, maju sini. Satu maju. Sebentar. Ada yang dapat…, sini Bu. Ada yang dapat Rp2 juta? Enggak ada? Ada? Oh, semua Rp1 juta. Berarti baru semua nggih? Nggih. Siapa yang dapat Rp1 juta? Oke, nggih, itu maju.

Siapa yang belum dapat tapi ingin dapat? Belum dapat tapi ingin dapat? Nggih maju. Oh, nggih, sampun. Belum dapat tapi ingin dapat? Ya enggak apa-apa, saya mau tanya kok. Sini Bu, silakan.

Silakan dikenalkan Bu, namanya.

Nuraini:
Nama saya Nuraini. Saya dari nasabah Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren Apik Kaliwungu.

Presiden RI:
Oh, nggih. Bu siapa tadi? Bu siapa?

Nuraini:
Nuraini, Pak.

Presiden RI:
Panggilannya, Bu?

Nuraini:
Bu Eni.

Presiden RI:
Bu Eni?

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Bu Nuraini panggilannya Bu?

Nuraini:
Bu Eni.

Presiden RI:
Eni. Bu Nuraini, panggilannya?

Nuraini:
Bu Eni.

Presiden RI:
Bu Eni. Nggih mpun. Saya pikir tadi Bu Nur atau Bu Aini. Oh, Bu Eni. Bu Nuraini, Bu Eni, nggih. Ibu sudah mendapatkan berapa?

Nuraini:
Rp1 juta.

Presiden RI:
Rp1 juta. Sudah berapa hari dapatnya?

Nuraini:
Bantuannya, Pak?

Presiden RI:
Iya.

Nuraini:
Sudah berjalan kira-kira tiga bulan-empat bulan.

Presiden RI:
Sudah tiga bulan-empat bulan.

Nuraini:
Iya.

Presiden RI:
Nyicilnya lancar?

Nuraini:
Lancar, alhamdulillah.

Presiden RI:
Nggih. Baik, alhamdulillah. Rp1 juta dipakai untuk apa?

Nuraini:
Untuk Modal.

Presiden RI:
Modal untuk beli apa? Untuk usaha apa?

Nuraini:
Untuk usaha dagang di sekolah.

Presiden RI:
Dagang di sekolah?

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Apa yang dijual?

Nuraini:
Yang dijual mi godok.

Presiden RI:
Mi godok.

Nuraini:
Mi goreng, burger.

Presiden RI:
Sebentar, sebentar. Mi godok?

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Mi goreng?

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Burger?

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Terus?

Nuraini:
Sama jajanan snack-snack kecil.

Presiden RI:
Jajanan snack-snack kecil.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Terus modal kerja Rp1 juta untuk bakmi itu banyaknya seberapa itu?

Nuraini:
Oh, banyak sekali, Pak.

Presiden RI:
Banyak?

Nuraini:
Iya.

Presiden RI:
Habis tapi dijual?

Nuraini:
Ya ndak.

Presiden RI:
Ya ndak? Sebentar, kok ya ndak, gimana sih?

Nuraini:
Maksudnya gimana, Pak?

Presiden RI:
Enggak, itu kan Rp1 juta dibelikan untuk modal kerja semua.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Kan dibelikan apa, mi?

Nuraini:
Mi.

Presiden RI:
Mi mentah, terus? Terus?

Nuraini:
Terus buat songkro.

Presiden RI:
Beli songkro?

Nuraini:
Enggak, buat sendiri.

Presiden RI:
Buat songkro?

Nuraini:
Iya.

Presiden RI:
Songkro itu gerobak tho nggih?

Nuraini:
Iya. Didorong sampai sekolah.

Presiden RI:
Oh, nggih.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Untuk beli mi-nya berapa?

Nuraini:
Mi-nya dua kardus.

Presiden RI:
Kardus itu berapa nilainya? Berapa, pinten ewu? Pinten yuto? Pinten? Kok tanya sana.

Nuraini:
Enggak, maksudnya kan liburan kan kalau harga naik kan enggak tahu, Pak. Rp100 ribu.

Presiden RI:
Rp100 ribu, berarti masih Rp900 ribu.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Untuk apa lagi?

Nuraini:
Lha untuk itu, buat beli, buat songkro.

Presiden RI:
Songkro berapa itu kira-kira?

Nuraini:
Enggak tahu, Pak. Yang buat kan suami.

Presiden RI:
Ngeten lo nggih, nggih, kalau kita dapat bantuan Rp1 juta itu harus sudah punya perencanaan di sini. Syukur ditulis, oh Rp100 ribu saya beli untuk bahan baku mi. Dua, beli Rp100 ribu lagi untuk bumbu-bumbunya, misalnya. Oh, Rp100 ribu atau Rp50 ribu lagi untuk beli bungkusnya. Harus ada terhitung, tertulis. Mulai kayak gitu, ditulis. Jangan ditanya enggak tahu.

Nuraini:
Kan sudah lama, Pak, lupa.

Presiden RI:
Alasannya lupa.

Nuraini:
Enggak, benar.

Presiden RI:
Betul?

Nuraini:
Betul.

Presiden RI:
Nggih pun, manut. Nggih, nggih. Oke, jadi sudah dapat Rp1 juta untuk beli gerobaknya, untuk beli, modal mi-nya.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Nggih, nggih. Terus, itu sehari bisa untung berapa kalau boleh tahu?

Nuraini:
Kalau ramai itu Rp100 ribu.

Presiden RI:
Rp100 ribu, kalau ramai.

Nuraini:
Ya.

Presiden RI:
Kalau ndak ramai?

Nuraini:
Kalau sepi ya untungnya Rp50 (ribu).

Presiden RI:
Rp 50 (ribu), berarti rata-rata Rp75 (ribu). Rp75 (ribu) dikali tiga puluh, ya sudah Rp2,1 juta, ya gede seperti itu. Nggih, kalau gitu bisa nyicil, gampang niku. Nggih, mpun.

Nuraini:
Alhamdulillah, Pak. Bisa, Pak.

Presiden RI:
Nggih, saget.

Cobi Bu, dikenalin.

Nila Mayasari:
Nama saya Nila Mayasari. Saya dari Helmi Pungkuran Ceria. Saya dapat pinjaman Rp1 juta untuk usaha kecil.

Presiden RI:
Nggih. Panggilannya Bu siapa ya?

Nila Mayasari:
Bu Sari.

Presiden RI:
Bu Sari.

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Bu Sari, usahanya nopo?

Nila Mayasari:
Jualan es teh.

Presiden RI:
Jualan es teh.

Nila Mayasari:
Sosis bakar.

Presiden RI:
Jualan es teh kok Rp1 juta? Dapat berapa? Banyak banget es tehnya itu.

Nila Mayasari:
Tapi kan ada makanan kecil, Pak.

Presiden RI:
Ada makanan kecil. Nopo mawon?

Nila Mayasari:
Mi pedas, kadang jualan…

Presiden RI:
Apa?

Nila Mayasari:
Makaroni pedas.

Presiden RI:
Makaroni pedas.

Nila Mayasari:
Cilok pedas. Kadang online-an mi rebus, mi goreng.

Presiden RI:
Online? Online mi rebus?

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Sebentar, sebentar. Online?

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Waduh, waduh. Ceritakan mengenai online mi rebus.

Nila Mayasari:
Oh, gitu. Kalau jualan online itu lewat…

Presiden RI:
Nggih, pripun? Berarti pripun?

Nila Mayasari:
Lewatnya itu status, Pak.

Presiden RI:
Lewatnya status?

Nila Mayasari:
Iya.

Presiden RI:
Status niku pripun nggih? Yang lain biar belajar.

Nila Mayasari:
Oh, iya.

Presiden RI:
Pripun? Jadi membuat status di Facebook?

Nila Mayasari:
Oh, iya. Ndak.

Presiden RI:
Facebook? Twitter?

Nila Mayasari:
Saya enggak bisa Facebook.

Presiden RI:
Online lewat apa?

Nila Mayasari:
WA (WhatsApp).

Presiden RI:
Oh lewat WA, wah. Jadi di WA apa?

Nila Mayasari:
Nanti temannya kalau buka…

Presiden RI:
Gambar di…

Nila Mayasari:
Ya gitu,

Presiden RI:
Gambar di WA.

Nila Mayasari:
Ada tela-tela, misalke ada tela-tela, “Ya, saya satu.Pesan.” Tak anter, gitu.

Presiden RI:
Oh, ngoten.

Nila Mayasari:
Rasa jagung manis, rasa balado, rasa apa…

Presiden RI:
Anter.

Nila Mayasari:
Dianter.

Presiden RI:
Anter. Mbayar ini?

Nila Mayasari:
Mbayar, Pak.

Presiden RI:
Mbayar, nggih. Nggih, jadi nyerahke, mbayar, ngoten nggih?

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Oh. Waduh. Elok, elok niki, elok. Ada yang pakai WA ada? Yang jualan sama? Ada?

Nila Mayasari:
Ada, teman saya.

Presiden RI:
Oh, ada juga. Oh, sudah mulai banyak.

Nila Mayasari:
Yang gendut itu, Pak. Namanya Maria Tempok. Suruh maju, Pak.

Presiden RI:
Nggih, nggih. Bagus. Nah, model-model seperti ini yang harus mulai dikembangkan. Jualan sekarang itu bisa jualan langsung, di darat langsung, tapi bisa jualan lewat WA, lewat Facebook, dipakai itu. Gambar mi-nya difoto, cekrek, masukkan, diberi harga berapa, pedas berapa, enggak pedas berapa. Nggih tho?

Nila Mayasari:
Iya.

Presiden RI:
Nggih, memang gitu, kira-kira. Nggih?

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Terus apa, keuntungan sehari berapa?

Nila Mayasari:
Kadang tela-tela kalau hujan itu ramai, kalau panas enggak.

Presiden RI:
Lo kalau hujan ramai malah?

Nila Mayasari:
Kan singkong goreng.

Presiden RI:
Jualan es teh, hujan malah ramai?

Nila Mayasari:
Es teh sama singkong goreng, namanya tela-tela.

Presiden RI:
Tela-tela.

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Oh…

Nila Mayasari:
Kalau hujan ramai, kalau panas ndak ramai, Pak.

Presiden RI:
Kalau hujan…

Nila Mayasari:
Ramai.

Presiden RI:
Ramai.

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Kalau enggak hujan?

Nila Mayasari:
Ndak ramai.

Presiden RI:
Enggak ramai, oh. Kalau ramai untungnya berapa?

Nila Mayasari:
Ya, kalau yo ramai paling kalau tela-tela Rp25 (ribu).

Presiden RI:
Dua puluh lima apa?

Nila Mayasari:
Ribu. Kan sisa, tak sisain nanti minyak goreng, nanti beli bumbu, beli apa, beli apa. Pokoke sisa bersih tak pegang dulu, gitu.

Presiden RI:
Rp25 (ribu) itu bersih?

Nila Mayasari:
Ya, bersih.

Presiden RI:
Waduh, gede ini. Nggih.

Nila Mayasari:
Ya, alhamdulillah, Pak.

Presiden RI:
Nggih. Terus kalau…

Nila Mayasari:
Es teh, paling es teh enggak bisa dihitung, soalnya anak saya banyak, jadi minum es.

Presiden RI:
Sebentar, sebentar, gimana sih? Kok enggak bisa dihitung karena anaknya banyak?

Nila Mayasari:
Ya.

Presiden RI:
Apa hubungannya es teh sama anak?

Nila Mayasari:
Lha kadang kan, “Mama es teh satu, es teh satu,” gitu.

Presiden RI:
Jadi diminum anaknya?

Nila Mayasari:
Iya.

Presiden RI:
Waduh. Sebentar, sebentar, sebentar,  saya titip nggih, saya titip, yang namanya usaha, yang namanya usaha, yang namanya bisnis, itu dipisahkan ya antara keluarga dan usaha. Antara keluarga dan bisnis dipisah, ampun campur-campur. Jualan es teh yang minum anaknya. Hati-hati, ini campur namanya. Nggih? Enggak apa-apa anak dibuatkan es teh tapi tidak di situ, (tapi) di rumah.

Nila Mayasari:
Ndak mau, Pak.

Presiden RI:
Waduh, niki… Jadi maunya di?

Nila Mayasari:
Di (tempat) jualan.

Presiden RI:
Di tempat jualan?

Nila Mayasari:
Saya jualan di ibu saya, rumah saya Pungkuran Selatan, Ibu saya Pungkuran Barat, gitu.

Presiden RI:
Nggih. Gimana ini cara memberitahunya? Nggih, mpun.

Kenalkan Bu, nama.

Siti:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Siti:
Nama saya Siti Falisda Hakimah, dari…

Presiden RI:
Panggilannya Bu? Bu Siti?

Siti:
Bu Siti, Pak.

Presiden RI:
Bu Siti, nggih. Dari?

Siti:
Saya dari Fatayat NU Kendal.

Presiden RI:
Nggih. Terus tadi kan saya tanya, “Ada yang semangat ingin bantuan pinjaman Bank Wakaf Mikro?” Ibu Siti ingin?

Siti:
Nggih, Pak.

Presiden RI:
Tapi sekarang kok belum? Karena belum daftar atau gimana?

Siti:
Belum.

Presiden RI:
Pengin dapat bantuan pinjaman berapa?

Siti:
Ingkang katah (yang banyak), Pak.

Presiden RI:
Kok ingkang katah? Bank Wakaf Mikro pertama itu hanya dapat Rp1 juta, semua di seluruh Indonesia, Rp1 juta pertama. Kalau disiplin mengangsurnya, dapat tambah lagi bisa Rp2 atau Rp3 juta langsung. Ibu mau pinjam berapa?

Siti:
Untuk pertama Rp2 juta, Pak.

Presiden RI:
Tadi sudah diberitahu pinjaman pertama itu Rp1 juta. Nggih, Rp1 juta nggih? Mau dipakai apa?

Siti:
Karena kami, nyuwun sewu, usaha jilbab Pak.

Presiden RI:
Nggih?

Siti:
Kalau Rp1 juta itu…

Presiden RI:
Kurang?

Siti:
Kurang, Pak. Iya.

Presiden RI:
Oh, ngoten.

Siti:
Enggih.

Presiden RI:
Oke, oke. Nggih pun. Ya nanti ngendiko Bank Wakaf Mikro dengan Bank Wakaf Mikro Apik atau Bank Wakaf Mikro Al Fadllu untuk bisa mendapatkan bantuan pinjamannya. Nggih.

Siti:
Iya.

Presiden RI:
Ini untuk membesarkan, usahanya sudah ada kan?

Siti:
Sampun.

Presiden RI:
Oh, nggih. Berarti bisa pinjam dari sana.

Tetapi Bapak/Ibu, kalau sudah besar dan ingin mendapatkan pinjaman yang lebih gede, Bapak/Ibu bisa ke bank pemerintah: BRI, BNI, Bank Mandiri. Itu juga ada yang namanya KUR (Kredit Usaha Rakyat), bisa sampai Rp25 juta, Rp50 juta, bahkan Rp500 juta. Tapi hati-hati, semuanya harus dihitung, semuanya harus dikalkulasi. Jangan salah hitung, jangan salah kalkulasi. Disiplin, harus disiplin, tepat waktu mengangsur, kejujuran itu menjadi hal yang sangat penting dalam hal mengelola bantuan pinjaman. Jangan, sekali lagi, seperti tadi yang saya ceritakan, pinjaman dari Bank Wakaf dipakai beli ini-ini, enggak boleh. Nggih?

Silakan, Bu. Terima kasih.

Siti:
Terima kasih.

Presiden RI:
Nggih. Terima kasih.

Oh, sebentar, sebentar, ini saya…, sebentar, ini, oh ini. Ibu, monggo. Coba dicek. Monggo. Ya, nggih. Ini tadi berdiri kan baru lima menit, fotonya sudah jadi. Ini. Saya hanya ingin menunjukkan ini yang namanya kerja cepat. Jadi Ibu juga kalau dapat bantuan pinjaman itu ngangsurnya yang cepat sehingga nanti dapat dipercaya lagi membesarkan  usaha. Nggih? Silakan, Bu. Terima kasih. Oh, ini selain foto, dapat tambahan lagi sepeda, sudah. Meniko sepedane. sudah. Langsung diambil saja, sepedanya ambil satu-satu. Pun, langsung pendhet, nggih.

Pak Kiai, Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Maka dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya resmikan Bank Wakaf Mikro Apik Kaliwungu dan Bank Wakaf Mikro Al Fadllu, Kendal, Jawa Tengah.

Terima kasih.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.