Menuju konten

Pencanangan Gerakan Maju Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis (TBC)

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat siang, 
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati Gubernur Jawa Barat, Wali Kota Cimahi, para bupati yang hadir;
Yang saya hormati Ketua Dewan Pembina Organisasi Stop TB Partnership Indonesia, Bapak Arifin Panigoro sekaligus beliau adalah Dewan Pertimbangan Presiden yang hampir tiap hari dengan saya;
Yang saya hormati para pegiat Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC Tahun 2030;
Bapak ibu hadirin undangan yang berbahagia,

TOSS!
TOSS TBC!

Apa tadi? Temukan, Obati, Sampai Sembuh. Diulang, TOSS TBC! Temukan, Obati, Sampai Sembuh.

Saya baru tahu waktu duduk tadi. Ternyata ada TOSS TBC, TOSS TBC, TOSS TBC. Apa TOSS itu? Apa? Saya lihat-lihat, untung disini ada tadi, hingga saya catat. Temukan, Obati, Sampai Sembuh. Ini harus diulang-ulang terus biar semuanya menangkap apa yang ingin kita kerjakan. Saya datang kesini, bisa datang kesini karena saya sehat. Bapak/ibu juga bisa hadir disini juga karena Bapak/Ibu semuanya sehat. Dan kita harapkan juga seluruh masyarakat kita, masyarakat Indonesia dalam rangka pembangunan SDM (sumber daya manusia) yang baik ke depan, SDM unggul sebagai prioritas utama kita dalam lima tahun ke depan. Itu juga harus sehat semuanya.

Untuk itu, saya ingin mendukung, mendukung keras kegiatan ini. Kegiatan ‘Bersama Menuju Eliminasi TBC Di 2030’. Karena percuma kalau masyarakat kita enggak sehat, merembetnya bisa kemana-mana, bisa ke pendidikan, bisa keberlanjutan dia dalam nanti bekerja ke mana-mana. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai baik puskesmas, baik yayasan, baik kader-kader yang bergerak di dalam pengurangan, dalam eliminasi TBC ke tahun 2030. Dan fokusnya bukan hanya pengobatan, saya setuju ini, fokusnya memang bukan pengobatan, tapi pencegahan penyakit ini lebih diperlukan sekali, sehingga yang namanya pengembangan perkotaan, pedesaan, membangun rumah-rumah yang sehat itu menjadi kunci.

Infrastruktur fisik harus menjamin, harus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik itu drainase yang lancar, drainase yang tidak mampet, drainase yang bersih dan lancar, itu menjadi juga hal yang penting. Pengelolaan sampah itu menjadi hal yang sangat penting. Penyediaan air bersih itu juga menjadi hal yang sangat penting. Pembangunan rumah yang sinarnya masuk, udaranya di rumah baik, itu juga sangat penting. Tadi Menteri PU ikut kita, tapi ternyata tidak ikut masuk ke ruangan ini. Sebenarnya mau saya mau perintah, rumah-rumah yang masih belum sehat agar segera dikerjakan, terutama di Provinsi Jawa Barat. Tadi Pak Gubernur sudah meminta juga mengenai itu.

Oleh sebab itu, menjamin kesehatan masyarakat itu bukan hanya urusan dokter, bukan hanya urusannya Menteri Kesehatan, bukan hanya urusannya Kepala Dinas Kesehatan. Tapi juga urusannya tadi, Menteri PUPR, Menteri PU, Dinas PU, itu harus melihat hal-hal yang kita kerjakan di lapangan, bukan hanya mengurusi jalan, bukan. Bukan hanya mengurusi jalan tol, bukan. Hal-hal yang tadi saya sampaikan, drainase, sampah, rumah yang sehat itu sangat penting.

Ini kader penggerak pengurangan TBC ada di sini? Mana? Ada? Kader-kader semuanya? Coba angkat yang tinggi. Termasuk Bu Arifin juga, ikut gini tadi. Coba lagi. Ya. Maju, Bu. Tadi, tadi semangat gini-gini, kok lo, iya maju. Kan semangat tadi. Tadi semangat banget kok. Ayo, sayang sudah gini-gini. TOSS, TOSS dulu, TOSS. TOSS apa Bu tadi? TOSS: Temukan, Obati, Sampai Sembuh.

TOSS apa Bu tadi? TOSS. Temukan, Obati, Sampai Sembuh. Oke sebentar. TOSS, TOSS lagi Bu, ke sana saja. Ya, ya sebentar kok sudah? kok sepeda ini?  belum-belum sudah sepeda. Bentar, urusannya ini TBC dulu, Tuberkulosa dulu. Iya dikenalkan dulu namanya.

Ibu Bintarti:
Nama saya Bintarti Suwondo.

Presiden RI:
Panggilannya Ibu?

Ibu Bintarti:
Panggilannya Ibu Ati, dari PPTI Pusat Jakarta 

Presiden RI:
PPTI Pusat Jakarta 

Ibu Bintarti:
Perkumpulan Pemberantasan TBC Indonesia

Presiden RI:
Perkumpulan? Pemberantasan?

Ibu Bintarti:
TBC…

Presiden RI:
TBC…

Ibu Bintarti:
Indonesia.

Presiden RI:
Indonesia. Oke, ya.
Ini mumpung ada Pak Gubernur, tadi saya liat-liat juga ada Pak Gubernur banyak banget. Ini tolong betul-betul saya titip, nanti di daerah juga sama. Percuma pertumbuhan ekonominya baik tapi di provinsi Bapak TBC-nya juga tinggi, enggak ada, enggak ada artinya.  Karena apa pun SDM adalah nomor satu.

Bu Ati, apa yang sudah dilakukan oleh PPTI yang konkret dilapangan?

Ibu Bintarti: 
Pada awalnya memang kita berkerja sama dengan pemerintah Pak, untuk membantu pemberantasan TBC.

Presiden RI:
Pemerintah itu pusat atau daerah?

Ibu Bintarti:
Pusat dan daerah.

Presiden RI: 
Oke, apa yang dilakukan?

Ibu Bintarti:
Pertama mengadakan pengenalan kepada kader mengenai apakah itu TBC.

Presiden RI: 
Yang dikumpulin kader dulu ?

Ibu Bintarti:
Betul Pak.

Presiden RI: 
Oke, kader dikumpulin, diberitahu apa?

Ibu Bintarti: 
Mengenai apa itu tentang TBC, supaya mereka lebih tahu. TBC itu bukan hanya sekedar batuk, tetapi itu adalah penyakit yang sebetulnya mematikan, tetapi bisa disembuhkan.

Presiden RI: 
Penyakit yang mematikan tetapi bisa di sembuhkan, oke ya.
Saya juga baru tahu ternyata pahlawan besar kita, Jenderal Sudirman itu beliau meninggal karena TBC, saya kaget tadi baru saja di bawah saya baru diberitahu, benar Bu ya, tahu Bu Ati? Ya, terus.

Ibu Bintarti:
Dan kemudian kami mengadakan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan juga, Pak, untuk bekerja sama dengan puskesmas untuk mencari para penderita dan kemudian akan dilaporkan bahwa kita memberitahukan bahwa TBC itu obatnya gratis.

Presiden RI:
Oke. TBC itu obatnya gratis, tapi bagaimana menemukan?

Ibu Bintarti:
Dengan pantauan daripada para kader, Pak, mereka mengadakan kerja sama dengan dasawisma itu, yang satu orang itu mencari minimal 10 orang yang batuk (terlebih) dulu.

Presiden RI:
Orang yang batuk? Menemukan orang yang batuk dulu.

Ibu Bintarti: 
Batuk selama satu bulan dan tidak bisa disembuhkan dengan obat batuk biasa.

Presiden RI: 
Oke, batuk terus dan enggak berhenti-berhenti, begitu ya.

Ibu Bintarti: 
Selama satu bulan.

Presiden RI:
Selama satu bulan, oke, sebentar. Ini yang di lapangan ada ndak kader yang di lapangan, ayo maju. Lapangan, lapangan, yang di lapangan. Ya, oke.

Gabungan, ini memang ini urusan bersama, bukan urusan PPTI Pusat tapi yang di daerah, yang di desa, yang di kampung itu juga memegang peranan penting. Sebentar, ya teruskan, Bu, bagaimana tadi?

Ibu Bintarti: 
Setelah kami mendapat laporan dari para kader yang sudah bekerja-sama itu, Pak, mereka melaporkan kepada puskesmas untuk dilaporkan. Nah, setelah itu mereka akan dicatat dan akan dipantau mengenai pengobatanya dan itu harus didampingi dengan keluarga agar selama pengobatan itu cukup lama, Pak, enam bulan.

Presiden RI:
Enam bulan diobati terus?

Ibu Bintarti: 
Ya.

Presiden RI:
Tapi kalau konsisten selama enam bulan diobati terus, itu akan sembuh?

Ibu Bintarti:
Betul, Pak.

Presiden RI: 
Insyaallah sembuh ya kalau enam bulan terus begitu ya?

Ibu Bintarti:
Betul, pak. Kecuali kalau dia mangkir, nanti dia akan menjadi penderita yang lebih berat lagi obatnya, tidak bisa dengan obat lagi, Pak.

Presiden RI: 
Oke, oke, oke, oke. Oke, sudah nangkep.
Sekarang yang,  kenalkan Bu, yang langsung terjun di lapangan, nama?

Ibu Kartini: 
Nama Kartini, dari Cibabat.

Presiden RI: 
Ibu Kartini dari?

Ibu Kartini: 
Cibabat, Kota Cimahi.

Presiden RI:
Cibabat?

Ibu Kartini:
Cimahi Utara

Presiden RI: 
Jauh ndak dari sini Cibabat itu?

Ibu Kartini: 
Lumayan pak

Presiden RI:
Berapa Kilo? berapa menit ?

Ibu Kartini: 
Kalau Setiap pertemuan ke sini ada, kalau itu enggak macet setengah jam sampai.

Presiden RI:
Setengah jam dari sini oke. Apa yang dilakukan ibu Kartini ke bawah  untuk menemukan siapa sih, yang menderita TBC?

Ibu Kartini:
Saya sebagai kader, Pak, melakukan pelacakan jaringan untuk menemukan indeks kasus, dimana dari indeks kasus tersebut kami melebarkan lagi untuk investigasi kontak 

Presiden RI:
Caranya gimana? menemukan itu caranya gimana ?

Ibu Kartini: 
Kami membuat screening Pak, ada screening, di situ ada screening apa…

Presiden RI: 
Ibu pergi ke RT atau RW, ke kampung…

Ibu Kartini:
Ya. Saya ke wilayah-wilayah itu masuk di pertemuan-pertemuan, pak, karena di situ banyak  masyarakat yang ada di pertemuan, kami juga ber…

Presiden RI:
Masuk ke pertemuan…

Ibu Kartini:
Ke pertemuan…

Presiden RI:
Misalnya masuk ke pertemuan seperti ini, terus gimana diceknya? Nyarinya gimana ini?

Ibu Kartini:
Masuk di pertemuan, posyandu memberikan penyuluhan, Pak. Awalnya memberikan penyuluhan. 

Presiden RI:
Oh, penyuluhan.

Ibu Kartini:
Nah, sesudah itu kami karena mitra dengan puskesmas juga. Ada indeks kasus, kami jemput bola. Nah, di situ juga saya pengalaman, Pak. Sesudah ada pasien ternyata di sampingnya itu…

Presiden RI:
Sebentar-sebentar, tadi kan belum menemukan ini, ini ada pertemuan kayak gini, ya kan? Menemukannya gimana? Mana yang TBC gimana? Gimana cara menemukannya, gimana?

Ibu Kartini:
Di pertemuan saya menemukannya, Pak. Karena dilihat ada yang batuk-batuk, Pak.

Presiden RI:
Ada yang batuk.

Ibu Kartini:
Ada yang batuk. Terus disitu kami ada wawancara juga, Pak.

Presiden RI:
Kalau enggak ada yang batuk kayak gini?

Ibu Kartini:
Ada wawancara juga Pak di situ. Eh apa, ada sesak nafas, mungkin ada penyakit yang masuk screening. Kami dirujuk Pak.

Presiden RI:
Saya, Saya belum bisa bayangkan gimana cara mencarinya gitu lo? Gimana cara mencarinya? Ini enggak ada misalnya sekarang Saya enggak ada yang batuk gimana itu mencarinya?

Ibu Kartini:
Kami… eh, di sini untuk merujuk, Pak, ke Puskesmas yang masuk di screening yang saya tadi sebutkan, Pak, untuk apa pemeriksaan dahak, Pak.

Presiden RI:
Oh pemeriksaan dahak? Langsung pemeriksaan dahak?

Ibu Kartini:
Pemeriksaan dahak.

Presiden RI:
Enggak, karena Saya ingin membuktikan T yang pertama itu lo. Temukan.

Ibu Kartini:
Ditemukan dulu Pak.

Presiden RI:
Gimana, cara menemukannya gimana? Temukan. Ini belum masuk ke yang O lo ya, baru yang T-nya, Temukan, gimana cara menemukan?

Ibu Kartini:
Kami cara menemukannya lihat yang tadi saya sebutkan Pak. Masuk, karena di situ kan dilihat dari ini, kalau tidak ada yang batuk di situ masuk screening juga, Pak. Kami ke lapangan membawa alat-alat juga Pak, untuk membuktikan apakah dia masuk ke sebagai apa, pantaskah dia dirujuk ke puskesmas untuk selanjutnya untuk bisa medis yang menentukan.

Presiden RI:
Terkena TBC atau tidak?

Ibu Kartini:
Iya.

Presiden RI:
Jadi,  temukan. Saya ketemu satu, ketemu, terus dirujuk dibawa ke puskesmas gitu?

Ibu Kartini:
Kalau sudah ketemu kami, Saya beri penyuluhan, terus saya rujuk, malah saya yang mendampingi langsung ke puskesmas Pak.

Presiden RI:
Ke Puskesmas? Terus di puskesmas dicek, “Oh benar terkena TBC,” Terus kalau sudah pasti?

Ibu Kartini:
Diobati.

Presiden RI:
Siapa yang ngobati?

Ibu Kartini:
Puskesmas, medis.

Presiden RI:
Puskesmas? Dokter di puskesmas itu?

Ibu Kartini:
Iya betul. Dokter yang menangani masalah itu.

Presiden RI:
Oke, setelah diobati, terus?

Ibu Kartini:
Setelah diobati kami ada kunjungan Pak, ke rumah. Memantau terus. Ketika dia tidak rutin meminum obatnya.

Presiden RI:
Dia memastikan bahwa pasien rutin meminum obatnya? Selama berapa hari?

Ibu Kartini:
Itu selama setiap hari Pak. Pengobatan di 6 bulan itu setiap hari dalam..

Presiden RI:
Jadi setiap hari selama 6 bulan?

Ibu Kartini:
Iya. 3 bulan setiap hari. Untuk 3 bulan kedepannya itu seminggu 3 kali.

Presiden RI:
Oh oke. Selama yang 3 bulan pertama setiap hari. Tiap 3 bulan yang kedua seminggu?

Ibu Kartini:
3 kali.

Presiden RI:
Berarti setiap 2 hari? Oke. Ketemu. Terus memastikan dia sembuh bagaimana?

Ibu Kartini:
Untuk memastikannya. Jadi misalkan pasien tesebut ada berobat 6 bulan, memastikannya kita diperiksa lagi rontgen sama orang medis.

Presiden RI:
Oh di rontgen? Oke.

Ibu Kartini:
Kalau dia sudah pasti, kalau (hasil tes) BTA (bakteri/basil tahan asam) positif, sudah pasti dia sembuh, dia dikatakan sembuh. Tapi kalau BTA-nya…

Presiden RI:
Jadi sembuh itu setelah di rontgen?

Ibu Kartini:
Di rontgen, di cek lagi kembali, Pak.

Presiden RI:
Oke ya sudah, Bu Ati benar ini?

Ibu Bintarti:
Betul Pak.

Presiden RI:
Bu Kartini betul gitu, betul?

Ibu Kartini:
Betul Pak, ya.

Presiden RI:
Sesuai dengan PPTI tadi betul?

Ibu Bintarti:
Sesuai Pak. Kan kita sudah memberi pengarahan sebelumnya Pak.

Presiden RI:
Benar? Kok yang saya dengar ada yang salah itu loh. Benar ya?

Ibu Bintarti:
Kan saya diajari juga, Pak, sama pimpinan saya.

Presiden RI:
Oh jadi rontgen sama periksa darah?

Ibu Kartini:
Periksa dahak, Pak.

Presiden RI:
Oh periksa dahak? Lha wong saya dengarnya darah itu. Periksa dahak, ya oke nggih.

Benar Bu ya? Rontgen, periksa dahak ya, benar ya? Biar semuanya, kita punya bahasa yang sama. Ini kita memerangi TBC ini bukan sesuatu yang gampang. Tetapi kalau semuanya bergerak bersama-sama, dan kita sadar ini menjadi urusan bersama-sama, saya kira penyelesaiannya akan lebih mudah.

Ibu Bintarti dan Ibu Kartini:
Insyaallah Pak. Amin. Amin.

Presiden RI:
Ya, terimakasih Bu.
TOSS dulu.

Presiden RI, Ibu Bintarti dan Ibu Kartini (bersama-sama):
TOSS TBC!
Temukan, Obati, Sampai sembuh.

Presiden RI:
Oke terima kasih. Sebentar-sebentar Bu, ini ada. Yang maju saya beri foto. Ini kerja cepat, jadi 5 menit di sini fotonya sudah jadi.

Ini yang mahal bukan fotonya, fotonya juga mahal tapi yang mahal ini lo, Istana Presiden Republik Indonesia. Kalau album biasa di took banyak, tapi yang ini enggak ada.

Ibu Bintarti dan Ibu Kartini:
Terimakasih, Pak.

Presiden RI:
Sama-sama. Oh, ada sepeda itu. Nah, sepedanya sekarang diambil. Bu, nanti kalau muter ke kampung enggak usah pakai mobil atau pakai sepeda motor, pakai sepeda ini lebih sehat.

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,
Sekali lagi, bahwa melakukan pencegahan merupakan sesuatu hal yang sangat penting melalui lingkungan yang baik, melalui kesadaran masyarakat yang tinggi, dan perlu saya tegaskan bahwa kita semuanya memang harus mengutamakan pencegahan.

Puskesmas itu Pusat Kesehatan Masyarakat, bukan Pusat Pengobatan Masyarakat, ini banyak yang sering keliru. Puskesmas itu menyehatkan masyarakat, Pusat Kesehatan Masyarakat, bukan Pusat Pengobatan Masyarakat. Artinya puskesmas itu memang dirancang untuk mencegah penyakit. Jangan ada puskesmas karena income-nya banyak. Keliru itu, “Pak Saya bisa nyetor PAD sekian,” Lo, keliru lo ini, keliru, pendapat seperti ini jangan dibenarkan lo, ini keliru. Puskesmas itu dirancang untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Sekali lagi mencegah lebih baik dari ada mengobati, lebih baik kita gunakan waktu, tenaga, pikiran, dan anggaran itu untuk mencegah, sudah. Kita harus mempercayai ini, dengan tetap siaga dan waspada sebelum masuk ke pengobatan, tapi kalau sudah terkena ya tadi, urusannya adalah TOSS.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, dan dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, Gerakan Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis pada hari ini saya nyatakan dimulai.