Menuju konten

Pengarahan Kepada Peserta Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2019

Bismillahirahmanirrahiim,

Assalamualaikum warahmatulah wabarakatuh,

Yang saya hormati para Menko, para Menteri yang hadir,

Yang saya hormati para gubernur, bupati dan wali kota,

Yang saya hormati Panglima TNI beserta seluruh Pangdam dan seluruh jajaran yang hadir,

Yang saya hormati Kapolri beserta seluruh Kapolda, Kapolres dan seluruh jajaran yang hadir,

Yang saya hormati Kepala BNPB, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) yang ini sangat berhubungan sekali dengan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Kita ingat 2015 dan tahun-tahun sebelumnya kebakaran hutan dan lahan selalu terjadi hampir di semua provinsi. Saya ingat kerugian saat itu mencapai Rp.221 triliun di 2015 dengan lahan yang terbakar kurang lebih seingat saya 2,6 juta hektare, dengan kerugian Rp.221 triliun.

Oleh sebab itu, peristiwa itu jangan sampai terjadi lagi. Dibandingkan 2015, tahun ini memang turun 81 persen, kalau dibandingkan dengan 2015. Tetapi kalau dibandingkan dengan 2018, tahun ini naik lagi. Ini yang tidak boleh. Harusnya tiap tahun turun, turun, turun, turun, turun, turun. Menghilangkan total memang sulit, tapi harus ditekan turun, dan yang paling penting pencegahan. Jangan sampai api sudah membesar baru kita bingung, menanggulangi, kalau sudah gede apalagi di hutan gambut sangat-sangat sulit sekali padamnya. Meskipun saya belum mendapat laporan terakhir dari Kepala BRG apakah kanal-kanal untuk lahan gambut masih terus atau sudah berhenti. Tapi ini dalam jangka panjang akan sangat berguna sekali dalam mengelola hutan dan lahan kita.

Saya minta gubernur, Pangdam, Kapolda, kerja berkolaborasi, bekerja sama, dibantu dari pemerintah pusat, Panglima TNI, Kapolri, BNPB, BRG, usahakan jangan sampai kejadian baru kita bergerak. Api sekecil apapun segera padamkan. Kerugian gede sekali kalau kita hitung, dan aturan main kita tetap masih sama. Saya ingatkan kepada Pangdam, Danrem, Kapolda, Kapolres, aturan main yang saya sampaikan 2015 masih berlaku.

Saya kemarin sudah telepon ke Panglima TNI, saya minta dicopot yang tidak bisa mengatasi. Saya telepon lagi, mungkin 3 atau 4 hari lalu, kepada Kapolri dengan perintah yang sama, dicopot kalau enggak bisa mengatasi yang namanya kebakaran hutan dan lahan. Tolong pemda, gubernur, bupati, dan wali kota dibackup. Karena kerugian ekonomi ini besar sekali.

Jadi Pak Panglima, Pak Kapolri, saya ingatkan lagi masih berlaku aturan main kita. Aturannya simpel saja kan. Karena saya enggak bisa nyopot gubernur, enggak bisa nyopot bupati, atau wali kota.

Jangan sampai ada yang namanya status siaga darurat. Jangan sampai. Udah lah, Ada api sekecil apapun segera selesaikan, sudah. Kita ini kan punya infrastruktur organisasi sampai ke bawah. Desa ada Babinkamtibmas, Babinsa, ada semuanya kok, ada semuanya. Mestinya begitu muncul kecil sudah ketahuan dulu.

Jadi aturan main itu kenapa perlu saya sampaikan lagi, karena mungkin ada Kapolda baru yang belum tahu aturan mainnya. Ada Pangdam baru yang belum tahu aturan mainnya. Ada Danrem atau Kapolres yang belum tahu aturan mainnya. Aturan mainnya tetap.

Jangan meremehkan adanya hotspot. Jika api muncul, langsung padamkan jangan tunggu sampai membesar. Saya kira enggak perlu bicara banyak-banyak karena semua sudah tahu lah cara menanganinya seperti apa, cara pencegahannya seperti apa. Enggak perlu kita ulang-ulang.

Jadi sekali lagi yang pertama prioritaskan pencegahan melalui patroli terpadu, deteksi dini, sehingga kondisi harian di lapangan selalu termonitor, selalu terpantau.

Kedua, mungkin ini bagiannya BRG, penataan ekosistem gambut dalam kawasan hidrologi gambut, betul-betul, kalau musimnya panas dicek benar dan harus dilakukan secara konsisten. Tinggi permukaan air tanah agar gambut tetap basah dijaga terus terutama di musim kering.

Kemudian yang ketiga, sesegera mungkin pemadaman api kalau memang ada api. Jangan biarkan api itu membesar. Langkah-langkah water bombing yang kalau sudah terlanjur gede itu juga tidak mudah. Tapi memang harus dilakukan kalau api sudah besar.

Terakhir, saya minta langkah-langkah penegakan hukum. Saya lihat ini sudah berjalan cukup baik. Saya pantau, saya monitor di lapangan dilakukan tanpa kompromi, udah.

Saya kadang-kadang malu, Ini minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura, tapi saya tahu minggu kemarin sudah menjadi headline. Jadi HL, jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa, ternyata asap. Hati-hati, malu kita kalau tidak bisa menyelesaikan ini.

Mereka sudah senang empat tahun enggak pernah ada jerebu. Tahun ini meskipun tidak dalam skala yang seperti 2015 tapi mulai ada lagi, sehingga Bapak/Ibu dan saudara-saudara semua saya kumpulkan untuk mengingatkan lagi pentingnya mengatasi kebakaran hutan dan kebakaran lahan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, selamat bekerja. Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semauanya.

Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatulah wabarakatuh.