Menuju konten

Penyerahan Sertifikat Tanah Untuk Rakyat

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat sore semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir di sini, Bapak Menteri BPN, Berdiri Pak biar kenal semuanya. Pak Menteri BPN ini yang ngurus sertifikat-sertifikat yang sudah dibagikan kepada Bapak/Ibu semuanya. Kemudian Bapak Menteri Sekretaris Kabinet, Bapak Mendagri, kemudian ini yang masih muda banget, Pak Menteri BUMN. Kenapa kok Pak Erick berdiri, tepuk tangannya kencang banget, kenapa?

Yang saya hormati anggota DPD RI yang hadir dari dapil Kaltara, yang saya hormati Bapak Gubernur, beserta wali kota, bupati yang hadir;

Bapak/Ibu seluruh penerima sertifikat yang saya hormati,
Pak Gub, saya ke Kaltara ini sudah berapa kali ya? Empat kali ya? Sudah empat kali. Tapi kurang, cukup enggak? Sudah cukup enggak empat kali, ya? Soalnya belum nengok-nengok ke tempat-tempat, misalnya di apa…, sungai apa? Sungai Kayan yang besok, kemudian yang belum? Simanggaris, Sungai Ular. Masih banyak yang belum. Pak Gub ini kalau ketemu saya, “Pak, Bapak belum ke sini, belum ke sini.” Indonesia itu 17.000 pulau, kalau dikunjungi semuanya 10 tahun enggak akan cukup.

Tapi saya sudah kunjungi semuanya 34 provinsi, sudah. Kemudian kira-kira 400 kabupaten – kota sudah dari 514, 400 sudah. Sudah, sampai kurus kayak gini.

Jadi alhamdulillah Bapak/Ibu sekalian, sampai saat ini sertifikat yang telah dibagikan kepada seluruh masyarakat, di seluruh Tanah Air semakin hari semakin banyak setiap tahunnya. Dulu di 2017, 5 juta bisa rampung setahun. Saya naikkan lagi 2018, 7 juta, rampung 7 juta. Tahun ini 9 juta, rampung 9 juta di seluruh Indonesia lo ya. Padahal dulu setiap tahunnya hanya 500 ribu di seluruh Indonesia. Coba naiknya sampai 15 kali lipat, Bapak/Ibu bisa bayangkan.

Di seluruh Tanah Air harusnya bidang tanah yang bersertifikat itu 126 juta totalnya, 126 juta sertifikat harusnya yang dipegang oleh masyarakat. Tetapi di 2015, baru 46 juta yang bersertifikat. Artinya kurang 80 juta yang belum pegang ini. Bapak/Ibu harus bersyukur karena sudah pegang ini, sertifikat. Delapan puluh juta di 2015 itu belum pegang sertifikat. Kalau setahun bikin sertifikatnya hanya 500 ribu, seluruh Indonesia, sebelumnya kan 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu. Berarti Bapak/Ibu nunggu 160 tahun untuk pegang sertifikat ini. Benar enggak? Kurangnya 80 juta, setahun hanya 500 ribu, artinya nunggu 160 tahun Bapak/Ibu baru bisa dapat sertifikat. Mau ndak? Mau ndak? Nunggu 160 tahun mau? Mau? Yang mau silakan maju, saya beri sepeda. Nunggunya 160 tahun. Tunjuk jari, maju, saya beri sepeda.

Oleh sebab itu, semuanya sekarang kita percepat, semuanya dipercepat. Karena apa? Sertifikat ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Sertifikat adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Saya itu hampir tiap hari kan pergi ke desa, masuk ke kampung, pergi ke daerah. Apa yang saya dengar dari rakyat? Sengketa tanah, sengketa lahan, konflik tanah, konflik lahan. Setiap hari saya masuk ke desa, pasti suara itu yang saya dengar. Sehingga ini menjadi kunci. Kalau Bapak/Ibu sudah pegang yang namanya sertifikat tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki, enak semuanya.

Ada yang ngaku-ngaku ini tanah saya, “Bukan, tanah saya. Ini buktinya,” Meter perseginya ada di dalam di sini, nama pemegang hak ada di sini, luasnya ada di bawah, di sini. Mau apa kalau sudah pegang ini mau apa? Enggak bisa apa-apa, balik dia. Ngaku-ngaku ini, balik, ini ada. Ini pentingnya bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki yang namanya sertifikat.

Kalau sudah pegang sertifikat, saya minta nyimpennya di dalam plastik seperti ini, disimpan, taruh di almari. Tapi sebelumnya tolong difotokopi, taruh di tempat almari yang berbeda. Asli yang di sini, fotokopi yang di sini. Nanti kalo ada hilang yang asli hilang, masih megang fotokopi.

Yang kedua, saya titip, ini kalo udah pegang sertifikat biasanya pengin disekolahkan. Tahu? Pengin disekolahkan untuk jaminan di bank atau untuk anggunan di bank, enggak apa-apa. Memang ini bisa dipakai untuk itu Tetapi hati-hati, meminjam uang di bank itu, saya titip, hati-hati betul. Harus dikalkulasi, harus dihitung betul-betul. Pinjam berapa, ngangsurnya setiap bulan berapa, harus dihitung betul, jangan keliru hitung.

Misalnya sertifikatnya gede, luas lahannya gede, masukkan di bank dapat Rp300 juta. Hati-hati, itu uang pinjaman. 300 juta bawa pulang, iya kan? Malamnya mimpi. Mimpi naik mobil. Nah ini, besok pergi ke dealer, diberi uang muka Rp100 juta. Nah ini mulai masalah, hati-hati, hati-hati. Pulangnya senang naik mobil, nyetir mobil, senang. Muter-muter di kampung, muter-muter di desa senang, gagah. Tapi hanya 6 bulan, lihat saja, mau nyoba silakan, Enam bulan. Begitu 6 bulan sudah enggak bisa nyicil mobil, sudah enggak bisa ngangsur pinjaman di bank. Sertifikatnya hilang, mobilnya juga ditarik oleh dealer, hati-hati, hati-hati.

Kalau dapat pinjaman misalnya Rp300 juta, gunakan semuanya untuk modal usaha, gunakan semuanya untuk modal kerja, gunakan semuanya untuk modal investasi. Jangan belok-belok ke barang kenikmatan seperti itu. Kalau sudah digunakan, belanjakan semuanya untuk yang produktif. Kemudian untung Rp5 juta alhamdulillah, ditabung. Untung bulan depan lagi Rp10 juta, tabung. Untung lagi Rp15 juta, tabung. Untung lagi Rp5 juta, tabung. Lha kalau sudah cukup, silakan mau beli mobil, tapi dari keuntungan, bukan dari uang pokok pinjaman.

Saya titip itu saja, ada yang mau pengin memakai ini untuk agunan? Tunjuk jari! Malu. Ada yang pengin memakai sertifikatnya untuk agunan? Oh, berarti enggak ada, enggak ada? Ibu, benar? Sini maju, sertifikatnya dibawa. Ya, belakang maju, ya yang itu, ya sudah dua orang saja.

Ada yang sertifikatnya hanya disimpan saja? Ada? Ada? Enggak ada? Ada, ya boleh Ibu maju. Iya maju, Ibu, sudah tiga orang saja. Iya sudah. Ya maju, silakan maju. Apa kok balik lagi?

Silakan bu dikenalkan.

Ibu Samsinar:
Assalamualaikum, nama saya Samsinar dari Karangreja

Presiden RI:
Ibu siapa?

Ibu Samsinar:
Samsinar, dari Karangreja.

Presiden RI:
Ibu Samsinar?

Ibu Samsinar:
Iya pak.

Presiden RI:
Panggilannya Bu Samsi?

Ibu Samsinar:
Ibu Sinar.

Presiden RI:
Ibu Sinar. Oh, Ibu Samsinar, panggilannya Bu Sinar. Bu sinar tanahnya berapa meter persegi?

Ibu Samsinar:
Semuanya 79 meter(persegi) luasnya Pak.

Presiden RI:
Luasnya, iya berapa?

Ibu Samsinar:
Tujuh puluh sembilan.

Presiden RI:
Tujuh puluh sembilan? Coba saya cek, 79. Ini benar 79 meter persegi, mau pinjam ke bank?

Ibu Samsinar:
Iya Pak.

Presiden RI:
Berapa banyak pinjamnya?

Ibu Samsinar:
Belum tahu juga Pak, baru rencana.

Presiden RI:
Belum tahu, baru rencana? Kalau mau pinjam ke bank itu betul-betul direncanakan, dihitung, dikalkulasi, yang paling penting itu. Mau dipakai untuk apa?

Ibu Samsinar:
Saya jual bibit.

Presiden RI:
Jual?

Ibu Samsinar:
Jual bibit untuk ditambak.

Presiden RI:
Bibit apa?

Ibu Samsinar:
Bibit udang.

Presiden RI:
Oh, jual bibit udang?

Ibu Samsinar:
Iya.

Presiden RI:
Oke, jualnya ke siapa?

Ibu Samsinar:
Ke petambak Pak.

Presiden RI:
Oh, jualnya ke Petambak. Oke. Belum punya hitung-hitungan mau pinjam berapa, belum bu?

Ibu Samsinar:
Belum, Pak.

Presiden RI:
Belum. Iya, saya titip saja kalau nanti pinjam itu dihitung betul, dihitung bisa ngangsur enggak per bulannya, ada resiko-resiko. Ini namanya jualan benih udang kan, iya?

Ibu Samsinar:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Jualan bibit udang itu ada resikonya. Setiap saat yang namanya benih udang itu bisa mati semuanya karena penyakit, benar?

Ibu Samsinar:
Iya Pak.

Presiden RI:
Nah kalau udangnya mati semuanya, itu nyicilnya pakai apa. Nah, itu dihitung, itu resiko namanya. Harus dihitung resiko itu.

Ya baik, berarti mau pinjam tapi belum tahu mau pinjam berapa?

Ibu Samsinar:
Iya Pak, cuma rencana.

Presiden RI:
Cuma rencana, oke.
Silakan kenalkan.

Bapak Muhammad Ramli:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Perkenalkan, nama saya Muhammad Ramli, Pak. Pekerjaan….

Presiden RI:
Pak Muhammad Ramli?

Bapak Muhammad Ramli:
Iya.

Presiden RI:
Panggilannya?

Bapak Muhammad Ramli:
Ramli, Pak.

Presiden RI:
Pak Ramli, oke.

Bapak Muhammad Ramli:
Pekerjaan portir pelabuhan, Pak.

Presiden RI:
Portir pelabuhan, terus, sudah terima sertifikat?

Bapak Muhammad Ramli:
Alhamdulillah sudah, Pak.

Presiden RI:
Luasnya berapa?

Bapak Muhammad Ramli:
Kurang lebih 900 meter persegi.

Presiden RI:
Sembilan ratus meter persegi, mau dipakai untuk agunan atau pinjaman ke bank?

Bapak Muhammad Ramli:
Rencananya Pak.

Presiden RI:
Rencananya mau pinjam berapa?

Bapak Muhammad Ramli:
Tergantung banknya nanti bisanya mengeluarkan berapa, Pak.

Presiden RI:
Kok tergantung bank? Enggak bisa. Mau pinjam ke bank itu kita harus ngerti, “Oh, saya mau yakin, saya mau pinjem misalnya 50 juta.”

Bapak Muhammad Ramli:
Kalau bisa Rp100 (juta).

Presiden RI:
Berapa? Rp100 juta, ya. Mau pinjam Rp100 juta, punya hitung-hitungan. Ini mau dipakai ini, Rp100 juta itu untuk modal usaha sekian, untuk modal investasi sekian, dirinci untuk apa saja, beli apa saja dirinci. Tunjukkan ke bank saya butuh Rp100 juta, agunannya ini. Nih. Itu namanya ada plan bisnisnya jelas. Nih, bank menawar, “Enggak Pak, ini hanya Rp50 juta.” “Enggak mau, saya butuhnya Rp100 juta karena hitungannya jelas ini,” meyakinkan gitu lo. Bank pasti juga, “Wah, ini yakin nih Pak Ramli. Sudah beri Rp100 (juta) saja.” Pasti gitu.

Tapi kalau enggak yakin, usahanya tidak meyakinkan, kemudian di…, apa itu…., rencana bisnisnya juga tidak jelas, ya bisa saja hanya diberi Rp25 (juta), hati-hati jangan mau. Diberi Rp25 (juta) lalu mau, mau buat nasi jadinya bubur, Itu juga bahaya.

Iya, jadi Rp100(juta)?

Bapak Muhammad Ramli:
Rp100 (juta) Pak.

Presiden RI:
Mau dipakai apa?

Bapak Muhammad Ramli:
Berdagang Pak, jualan.

Presiden RI:
Jualan apa?

Bapak Muhammad Ramli:
Sembako, Pak.

Presiden RI:
Sembako, sembako itu apa? Beras, apa aja?

Bapak Muhammad Ramli:
Iya, barang campuran, Pak.

Presiden RI:
Campuran, banyak banget Rp100 juta kok untuk sembako?

Bapak Muhammad Ramli:
Tarakan mahal, Pak.

Presiden RI:
Tarakan mahal? Oke, tapi tolong dihitung ya.

Bapak Muhammad Ramli:
Siap

Presiden RI:
Dihitung, Rp100 juta itu untuk sembako itu apa saja. Jangan sampai ada sisa, semuanya belikan untuk sembako. Jangan nanti disisain Rp25 juta. “Waduh, ini kelihatannya ada TV baru yang gede ini layarnya,” Beli. Hati-hati jangan tergoda untuk itu. Semuanya belikan, belanjakan untuk modal usaha, untuk modal kerja. Ya terima kasih.

Silakan.

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Perkenalkan nama saya Zaenal Abidin Syahriza, pekerjaan saya buruh kasar.

Presiden RI:
Namanya Pak?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Zaenal Abidin Syahriza.

Presiden RI:
Panggilannya Pak?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Pak Zaenal.

Presiden RI:
Pak Zaenal, oke Pak Zaenal ini mau dipakai untuk agunan ke bank?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Sementara ini enggak, karena masih punya orang tua. Masih banyak saudara takut enggak ada yang ganti, enggak sanggup bayar, mampus kita dipukul sama saudara-saudara.

Presiden RI:
Nanti mau disimpan saja?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Iya.

Presiden RI:
Mau disimpan?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Iya, tapi kalau orang tua perlu, baru saya berani. Tapi kalau misalnya tidak ada perintah dari orang tua, ya saya tidak berani. Nanti saya gadai, enggak sanggup bayar, rumah ditarik, mampus saya dipukul sama saudara.

Presiden RI:
Ya lebih baik disimpan saja lah, sudah benar itu. Ini tanahnya berapa meter persegi sih?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Dua ratus enam puluh enam (meter persegi).

Presiden RI:
Dua ratus enam puluh enam? 266 gimana? 166 itu, dua ratus kebanyakan.

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Ya lebih satu juga.

Presiden RI:
Seratus itu banyak Pak. Oh, jadi 166 meter persegi, jadi sertifikat tidak dipakai untuk agunan, tapi disimpan. Ya.

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Iya, nanti ada amanah dari orang tua bila perlu ya baru saya…., tapi itu pun ya tanya dulu sama saudara kan supaya tidak ada ini nanti. Gara-gara ini jadi masalah nanti pula kita.

Presiden RI:
Ya, jadi hati-hati kalau sertifikat ini statusnya, misalnya orang tua. Ini anaknya kan banyak, jangan sampai sekali lagi dalam satu keluarga berkelahi, berantem gara-gara rebutan atau konflik lahan, atau sengketa lahan, atau sengketa tanah, jangan. Mau disampaikan apa lagi?

Bapak Zaenal Abidin Syahriza:
Itu saja Pak.

Presiden RI:
Itu aja, ya. Terima kasih.
Ya sudah kenalin Bu.

Ibu Isra Suryaningsih:
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalam.

Ibu Isra Suryaningsih:
Perkenalkan nama saya Isra Suryaningsih dari Selumit Pantai. Pekerjaan saya mengurus rumah tangga.

Presiden RI:
Pekerjaan mengurus rumah tangga. Sertifikatnya mau dipakai apa Bu?

Ibu Isra Suryaningsih:
Insyaallah, kalau bisa buka usaha.

Presiden RI:
Buka usaha.

Ibu Isra Suryaningsih:
Iya, kecil-kecilan di rumah saja.

Presiden RI:
Kecil-kecilan, berarti mau dipakai untuk agunan. Mau pinjam berapa ke bank?

Ibu Isra Suryaningsih:
Rp20 juta saja lah.

Presiden RI:
Kok “Rp20 juta saja lah?”. Ini…,

Ibu Isra Suryaningsih:
Nanti kalau kebanyakan enggak bisa bayar.

Presiden RI:
Tadi kan saya sudah menyampaikan, tolong dihitung dulu, tolong dikalkulasi dulu. Ya kalau memang kalau butuhnya Rp30 (juta) enggak apa-apa. Sampaikan ke bank, “Butuh saya Rp30 (juta).” Jangan mau ke bank mikirnya takut enggak bisa bayar, entar enggak bisa bayar benar nanti.

Ini dihitung betul, “Oh, saya pakai usaha ini, sebulan bisa kira-kira untung sekian. Sehingga saya bisa nyicil rutin, bisa mengangsur, terus tinggal nanti bisa lunas,” Gitu bu.

Jadi berapa mau pinjam, Bu? Berapa? Rp20 (juta).

Ibu Isra Suryaningsih:
Iya, Rp20 (juta) sudah mantap. Buka usaha kecil-kecilan di rumah.

Presiden RI:
Apa itu buka usahanya?

Ibu Isra Suryaningsih:
Anu, sembako.

Presiden RI:
Sembako tadi Rp100 juta. Ini Rp20 juta.

Ibu Isra Suryaningsih:
Rp20 juta saja sudah cukup.

Presiden RI:
Cukup, berarti Pak Ramli tadi kebanyakan ya Rp100 juta. Iya, oke. Betul-betul sudah dihitung Bu ya. Tolong saya titip dihitung kalau pinjam ke bank itu saja.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih, silakan kembali. Oh, ini sebentar. Sepeda-sepeda apa? Nih, ini yang namanya kerja cepat. Tadi baru di sini 5 menit saja fotonya sudah jadi. Ini Pak Ramli, ini lagi. Oh, ini enggak, ini Ibu. Oh, ini jelas. Ini Bu gantian. Ya itu gantian. Oh, ini juga, ini gimana ini. Tapi kelihatan semua ini, dibagi ini sudah. Ini. Ya. Ini ada, kelihatan semua sudah, sudah kasih.

Ya, boleh mau salaman sama Pak Menteri boleh, sama Pak Gubernur jangan lupa, salami semuanya.

Baiklah Bapak/Ibu sekalian, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Tadi saya lupa ini bener-bener seribu tadi sudah dibagi betul belum? Tolong diangkat semuanya ke atas, semuanya sertifikat diangkat. Oh, ya berarti betul-betul sudah dibagi. Semuanya diangkat, jangan diturunkan dulu sebentar. Satu, dua, tiga, ;empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh, 11, 12, 13, 13, 14, 14, 15,16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 1000, iya betul. Sudah.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan, terima kasih.
Saya tutup.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.