Menuju konten

Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Kerja, Pak Wamen, Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati Manggarai Barat;
Yang saya hormati, Kepala Basarnas yang juga hadir pada pagi hari ini, seluruh jajaran provinsi dan kabupaten;

Bapak/Ibu sekalian seluruh penerima sertifikat,
Selamat pagi! Senang semuanya? Coba sertifikatnya yang sudah diterima, diangkat. Jangan diturunkan dulu, mau saya hitung. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24,…2.500, betul! Nanti jangan-jangan yang diterima hanya yang di depan saja tadi, harus semuanya sudah pegang ya. Hati-hati kalau sudah pegang sertifikat, ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki.

Dulu 2015, setiap saya ke desa, setiap saya ke kampung, setiap saya ke daerah, apa yang saya dengar? Sengketa tanah, sengketa tanah, konflik tanah, konflik lahan, sengketa lahan, di mana-mana di seluruh Indonesia, di seluruh Indonesia. Apa penyebabnya? Masyarakat kita memiliki lahan, memiliki tanah tapi belum pegang sertifikat. Ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. 2015 saya ingat, dari 126 juta bidang tanah yang harusnya semuanya pegang sertifikat, baru 46 juta yang rampung, dari 126 juta ini di seluruh Indonesia. (Dari) 126 juta, baru 46 juta, yang belum 80 juta sertifikat yang harusnya dipegang. Artinya, punya tanah tapi enggak pegang sertifikat kemudian tumpang tindih, akhirnya sengketa di mana-mana.

Kalau yang namanya sengketa tanah ini bahaya. Bahaya, sengketa tanah. Kalau hanya berantem saja enggak apa-apa, urusan tanah sangat berbahaya sekali. Oleh sebab itu, saat itu saya tanya kepada Menteri ATR/BPN. “Setahun berapa sih, produksi di seluruh Indonesia untuk sertifikat?”, “500 ribu sampai 600 ribu (sertifikat),” 500 ribu. Artinya, Bapak/Ibu harus menunggu 160 tahun untuk dapat sertfikat. Karena 80 juta kurangnya, setahun hanya 500 ribu, 160 tahun menunggu (sampai) pegang sertifikat. Bapak mau? Ibu mau? Siapa yang mau maju ke sini? Saya beri sepeda. Menunggu 160 tahun tapi, siapa yang mau? Maju ke sini, 160 tahun.

Saya mikir, “Aduh ini kalau diterus-teruskan, pusing semua kita.” Sengketa lahan, sengketa tanah di mana-mana, enggak di Sumatera, enggak di Jawa, enggak di Kalimantan, enggak di NTT, enggak di Papua, di Maluku, semuanya, saya dengar langsung ke telinga saya. Hingga saat itu saya perintahkan pada Menteri ATR/BPN, “Pak Menteri, siapkan 2017 saya minta 5 juta (sertifikat) harus keluar dari Kantor ATR/BPN. Bukan 500 ribu lagi (tapi) 5 juta.” Caranya seperti apa? Pak Menteri yang cari agar 5 juta itu keluar. 2018, 7 juta minta keluar, sertifikat. 2019, 9 juta (sertifikat) harus keluar. Dari 500 ribu, mungkin ini Kantor ATR/BPN enggak tidur semua. Enggak apa-apa, yang jelas rakyat harus dilayani, sertifikat harus dipegang oleh rakyat, setuju? Kalau ndak, terus-terus sengketa lahan, sengketa lahan terjadi, seperti yang disampaikan Pak Wamen tadi, Pak Wakil Menteri tadi. Tapi nyatanya? Selesai sampai 5 juta, 2017? Rampung 5,4 (juta sertifikat). 2018, 7 juta sertifikat? Rampung juga, malah melebihi, 9 juta. 2019? 9 juta (sertifikat) rampung. Lo, lo, kenapa enggak dari dulu-dulu? Sehingga sekarang sudah selesai semuanya, begitu lo. Ini yang kita kerjakan.

Terus, saya titip kalau sudah pegang sertifikat, semuanya sudah ada di plastik, ya? Masukkan plastik, kemudian sampai di rumah, tolong difotokopi, jangan lupa. (Sertifikatnya) Yang asli ditaruh di lemari 1, yang fotokopi ditaruh di lemari yang 2. Kalau yang asli hilang, masih ada fotokopinya, begitu lo. Mengurusnya mudah ke Kantor ATR/BPN karena ada fotokopinya, itu penting.

Yang kedua, ini biasanya kalau sudah pegang sertifikat, ini (saya) tanya di semua provinsi sama, akan disekolahkan. Tahu? Penginnya disekolahkan, dipakai jaminan, dipakai agunan ke bank. Benar? Ada yang mau ini disekolahkan? Coba, tunjuk jari. Enggak usah malu, enggak apa-apa, ini (sertifikat) dijaminkan ke bank sebagai agunan, enggak apa-apa, sebagai jaminan. Enggak apa-apa, memang ini barang yang sangat berharga tapi hati-hati saya titip kalau mau pinjam uang ke bank, hati-hati. Dihitung, dikalkulasi dulu, jangan sampai sertifikat jadi, pinjam ke bank, ya kan enggak bisa mengembalikan, sertifikatnya hilang. Nah, hati-hati. Jadi kalau pinjam ke bank, hati-hati. Tanahnya luas, pinjam, dapat Rp300 juta, “Wah dapat duit gede banget, Rp300 juta karena tangannya gede.” Bawa pulang…pinjam ke bank, duitnya Rp300 juta bawa pulang. Malamnya mimpi pengin mobil. Besoknya pergi ke dealer, kasih uang muka, ini mulai malapetaka di sini. Hati-hati, uang pinjaman tidak boleh dipakai untuk itu. Beli sepeda motor, beli mobil, tidak. Itu barang kenikmatan.

Kalau Bapak/Ibu, dan saudara-saudara semuanya dapat Rp300 juta, gunakan semuanya untuk modal usaha, untuk modal kerja. Kalau pinjam, dapat Rp50 juta, gunakan semuanya untuk modal kerja, untuk modal usaha, jangan pakai lain-lain. Pakai mobil ya kan, dapat Rp300 juta. Separuh untuk beli mobil masih nyicil, dapat Rp50 juta, Rp20 juta untuk beli sepeda motor, hati-hati. Atau mengambil Rp5 juta masih nyicil, hati-hati. Menyetir mobilnya hanya 6 bulan. Gagah, ganteng, muter-muter kampung, wah pakai mobil, 6 bulan. Setelah itu, enggak bisa nyicil ke bank, ya kan, enggak bisa nyicil ke dealer, mobilnya diambil, sertifikatnya hilang. Gagahnya hanya 6 bulan, hati-hati, saya titip ini. Banyak kejadian, enggak ngehitung saking senangnya, 6 bulan, 6 bulan.

Siapa yang mau 6 bulan? Maju ke depan, saya beri sepeda. Tunjuk jari coba, yang ingin memakai ini untuk agunan coba, tunjuk jari. Enggak usah malu. Oh, banyak, banyak, banyak, banyak, oke. Tunjuk jari lagi sebentar, saya mau…ya, coba maju ke depan, Bapak. Ini yang belakang, yang belakang, tadi semangat, ya, ya Bapak yang menengok ini, ini kan sudah ada, ini, ini, ini. Nah, ini tadi sudah lihat, tunjuknya semangat, kok. Yang sertifikatnya disimpan, tidak dipakai untuk jaminan, tunjuk jari. Enggak ada? Berarti dipakai pinjam semua ini. Ada? Yang sertifikatnya hanya disimpan, tidak dipakai untuk pinjaman ke bank, ada? Tunjuk jari. Ada? Mana? Mana? Ya, coba maju. Yang pegang sertifikat, maju sini. Yang belum tahu, sertifikatnya ini, saya pakai apa, belum tahu. Coba, tunjuk jari. Oh, belum tahu, belum tahu, ya ayo maju, nggih maju. Sudah, mau saya tanya satu-satu ini. Nggih maju, Pak sini. Sudah, sini. Satu lagi, ya, maju. 

Silakan dikenalkan Pak, namanya, dari mana.

Bapak Alexander Suhandi:
Terima kasih, Bapak Presiden.

Presiden RI:
Sini, agak dekat saya enggak apa-apa kok.

Bapak Alexander Suhandi:
Nama saya Alexander Suhandi.

Presiden RI:
Panggilannya Pak Alex?

Bapak Alexander Suhandi:
Panggilannya Pak Alex.

Presiden RI:
Pak Alex, ya.

Bapak Alexander Suhandi:
Saya berasal dari Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.

Presiden RI:
Desa Nggorang?

Bapak Alexander Suhandi:
Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.

Presiden RI:
Dari sini berapa menit, berapa jam?

Bapak Alexander Suhandi:
15 menit saja.

Presiden RI:
Oh, 15 menit, dekat, ya, oke. Sertifikatnya berapa meter persegi?

Bapak Alexander Suhandi:
Sertifikatnya….

Presiden RI:
Tanahnya berapa meter persegi?

Bapak Alexander Suhandi:
8.000…eh, 800 sekian lebih.

Presiden RI:
Saya ingatkan ya, kalau memiliki lahan, kalau memiliki sertifikat, harus hafal ditanya. Oh, ini barang mahal, ini barang mahal ini. Ya, coba saya lihat. Ini di sini, nama pemilik itu ada di sini, Pak Alexander Suhandi, betul? Ya. Desanya di Desa Nggorang, nah ini pada menengok itu enggak tahu semua tadi itu. Ya, meter perseginya di sini 813 meter persegi. Harus ingat semuanya. Tanahku berapa, milikku berapa, harus hafal. 813 meter persegi, Pak Alex, ya. Ya, ini mau dipakai untuk apa? Tadi katanya mau dipakai jaminan ke bank? Iya mau dipakai jaminan ke bank?

Bapak Alexander Suhandi:
Iya….

Presiden RI:
Mau pinjam berapa?

Bapak Alexander Suhandi:
Mau pinjam sesuai dengan kebutuhan.

Presiden RI:
Kok sesuai dengan kebutuhan gimana? Kalau ditanya mau pinjam berapa, mau pinjam Rp50 juta, “Pak, mau saya pakai untuk beli ini, ini, ini,” sudah direncanakan, jangan disesuaikan itu aduh, jadi mobil nanti ini. Harus tahu, ya. Kalau sudah pegang sertifikat, “Oh, saya mau pakai jaminan ke bank, mau saya pakai untuk apa?”, “Oh, untuk buka toko, buka toko itu butuhnya apa?” dirinci, direncanakan, “Oh, toko itu harus beli ini, ini, ini, ini, untuk modal ini, ini, ini, ini’ “Oh, ternyata butuhnya tidak Rp50 juta tapi Rp30 juta cukup.” Jangan Rp50 juta cukup, pinjamnya Rp100 juta, jadi mobil nanti itu. Hati-hati, jadi Pak Alex mau pinjam berapa? Sudah ngehitung?

Bapak Alexander Suhandi:
Kira-kira Rp25 juta, Pak.

Presiden RI:
Kira-kira Rp25 juta. Kalau bisa enggak usah pakai ‘kira-kira’ jadi “Rp25 juta, Pak.” Rp25 juta dipakai untuk usaha apa?

Bapak Alexander Suhandi:
Usaha warung.

Presiden RI:
Warung.

Bapak Alexander Suhandi:
Karena di rumah saya, di depan rumah saya ramai orang.

Presiden RI:
Ramai orang. Jadi mau buka warung? Warung apa?

Bapak Alexander Suhandi:
Bubur kacang dengan pisang goreng.

Presiden Ri:
Bubur kacang sama pisang goreng? Rp25 juta bubur kacang sama pisang goreng?

Bapak Alexander Suhandi:
Sekaligus untuk tempat usahanya, Pak.

Presiden RI:
Sekaligus…bikin tempat usaha? Oh, bisa. Kalau berjualan pisang goreng, Rp25 juta berapa truk? Oke, harus dihitung Pak, harus dihitung. Oh, saya bikin bangunan butuh sekian. Oh, untuk modal usaha, pisangnya butuh Rp2 juta. Oh, untuk berjualan apa itu tadi, satu lagi? Bubur?

Bapak Alexander Suhandi:
Bubur kacang.

Presiden RI:
Bubur kacang…”Oh, Rp3 juta.” “Oh, berarti tidak usah Rp25 juta, Rp15 juta cukup.” Nah, dihitung betul, direncanakan betul. Kita ini sering tidak merencanakan sehingga waktu mengambil Rp25 juta, “Lo, kok ternyata Rp15 juta cukup. Kok sisa Rp10 juta?” Lha, ini mulai. Hati-hati, kalau kita ingin mengerjakan sesuatu, tidak direncanakan, hati-hati. Ya tadi Pak Alex sudah betul, Rp25 juta…untuk bikin bangunan, berapa juta itu bangunannya kira-kira?

Bapak Alexander Suhandi:
Kira-kira Rp10 juta.

Presiden RI:
Rp10 juta, masih Rp15 juta untuk pisang goreng dan bubur.

Bapak Alexander Suhandi:
Kebetulan lahan saya juga ada sedikit ini…nanti tambah dengan beli porang, beli porang yang sekarang lagi….

Presiden RI:
Oh, menanam porang?

Bapak Alexander Suhandi:
Iya.

Presiden RI:
Oke, ya, betul. Boleh. Semuanya harus direncanakan. Jangan nanti mau berjualan pisang sama bubur plus porang. Karena duitnya nanti banyak. Ya, silakan Pak Alex ke sini. Ya, sudah.

Ini, ini, silakan. Ya, sudah, kenalkan nama. Dekat, dekat sini, dekat, dekat. Kok jauh, jauh semuanya dari saya. Yaaa….

Bapak Yos:
Nama saya biasanya dipanggil Yos.

Presiden RI:
Yos…Pak Yos? Ya.

Bapak Yos:
Saya merasa ini kaget sebenarnya, saya bisa bergabung (ke depan) untuk…saya bisa ditarik ke depan, tetapi biar Presiden bisa panggil saya, saya pura-pura bilang….(tidak mengajukan pinjaman ke bank)

Presiden RI:
Ini berarti Pak Yos mau pinjam ke bank juga?

Bapak Yos:
Iya, Pak Presiden.

Presiden RI:
Mau pinjam ke bank?

Bapak Yos:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Mengaku saja, enggak apa-apa.

Bapak Yos:
Karena kalau saya mengatakan oh saya mau pinjam ke bank, terlalu banyak orang, saya punya peluang yang sedikit.

Presiden RI:
Enggak apa-apa, oke. Mau pinjam ke bank, tanahnya berapa meter persegi?

Bapak Yos:
Tanahnya 935 meter persegi.

Presiden RI:
935 meter persegi. Oh, luas-luas. Tadi 813 meter persegi, 935 meter persegi. Oke, mau pinjam ke bank, mau pinjam berapa?

Bapak Yos:
Mau pinjam Rp30 juta, Bapak Presiden.

Presiden RI:
Rp30 juta, dipakai untuk apa?

Bapak Yos:
Untuk usaha beras.

Presiden RI:
Usaha beras? Rp30 juta. Beras per kilogram itu Rp10 ribu, berarti…

Bapak Yos:
Sekarang Rp10.500,00.

Presiden RI:
Rp10.500,00 berarti Rp30 juta dapat berapa ton? Banyak banget lo, hati-hati lo. Dapat berapa truk? Hati-hati, apakah perlu Rp30 juta?

Bapak Yos:
Enggak Pak, 3 ton pas.

Presiden RI:
Ya kan, nanti kamu ke bank juga ditanya itu. “Bapak mau pinjam berapa?”, “Rp30 juta”, “Untuk beli apa?” ini saya tes dulu, begitu lo, harus bisa menyampaikan. “Oh, saya mau beli ini, ini Pak” Ke bank sana, mesti “Oh ya, oke”, diberi. Kalau enggak logis juga bank juga enggak akan memberikan, biasanya seperti itu. Rp30 juta, untuk berjualan beras semuanya Rp30 juta?

Bapak Yos:
Iya Pak, kios.

Presiden RI:
Untuk kios?

Bapak Yos:
Iya.

Presiden RI:
Untuk kios. Tapi kan perlu juga beli sepeda motor atau mobil begitu?

Bapak Yos:
Sepeda motornya kebetulan ada.

Presiden RI:
Oh, sepeda motornya ada. Tapi kan, untuk Pak Yos saja, mungkin istri kan belum. Ndak?

Bapak Yos:
Untuk sementara istrinya ikut ke kita dulu.

Presiden RI:
Saya tes ini, oke lulus, kelihatannya lulus.

Bapak Yos:
Bapak Presiden, ini mau saya sampaikan bahwa….

Presiden RI:
Ya.

Bapak Yos:
Beberapa bulan lalu, kami melihat di televisi….

Presiden RI:
Ya.

Bapak Yos:
Di depan orang banyak, ada orang NTT yang membentak-bentak Presiden. Saat ini, kami orang NTT tidak akan lagi membentak Presiden. Mudah-mudahan nanti kami diberi kuis, kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami sampaikan kepada Presiden tanpa membentak-bentak Presiden, baik, terima kasih banyak.

Presiden RI:
Enggak membentak, siapa yang membentak? Waktu Natalan (Perayaan Natal Nasional 2019) itu, kan?

Bapak Yos:
Iya.

Presiden RI:
Enggak, enggak membentak. Ya memang setiap, setiap wilayah, setiap provinsi, itu mempunyai logat sendiri-sendiri. Ada yang halus, ada yang setengah membentak, ada yang membentak tapi tetap orangnya baik, begitu lo. Iya, jadi saya enggak punya perasaan apa-apa. Kita ini memiliki budaya yang sangat beragam di Indonesia ini. 714 suku, 714 suku yang bahasanya berbeda-beda, budayanya berbeda-beda, logatnya berbeda-beda. Kita kalau ke Batak, Horas! kalau enggak biasa kaget, tapi memang, memang itu budaya Batak. Saya enggak merasa kemarin dibentak, enggak. 

Ya, terima kasih Pak Yos. 

Silakan ke sini. Ya. Nggih, kenalkan.

Bapak Ambrosius Darson:
Baik, nama saya Ambrosius Darson. Biasa dipanggil Soni.

Presiden RI:
Soni?

Bapak Ambrosius Darson:
Siap.

Presiden RI:
Siapa namanya? Pak?

Bapak Ambrosius Darson:
Ambrosius Darson.

Presiden RI:
Pak Ambrosius….

Bapak Ambrosius Darson:
Darson.

Presiden RI:
Darson. Kok panggilannya Soni?

Bapak Ambrosius Darson:
Siap.

Presiden RI:
Ambrosius Darson, oh kena belakangnya, ‘…Son’, ‘Darson’, oke. ’…Son’, ‘Darsoni’, oke.

Bapak Ambrosius Darson:
(audio tidak terdengar jelas).

Presiden RI:
Di mana itu?

Bapak Ambrosius Darson:
Dari desa…. (audio tidak terdengar jelas).

Presiden RI:
Berapa jam dari sini?

Bapak Ambrosius Darson:
Dari sini ke tempat desa itu 8 jam, kurang lebih.

Presiden RI:
8 jam?

Bapak Ambrosius Darson:
8 jam.

Presiden RI:
Wah, jauh banget. Berarti berangkatnya kemarin?

Bapak Ambrosius Darson:
Iya, kemarin.

Presiden RI
Oh, terus di sini menginap?

Bapak Ambrosius Darson:
Iya, menginap.

Presiden RI:
Menginap?

Bapak Ambrosius Darson:
Menginap Pak, menginap.

Presiden RI:
Ini sertifikat mau dipakai apa?

Bapak Ambrosius Darson:
Tadi Pak Presiden tanya, sertifikat yang tidak mau ada di (pakai agunan ke) bank, disimpan saja.

Presiden RI:
Terus?

Bapak Ambrosius Darson:
Saya punya prinsip begini, ini saya punya tanah ini warisan dari leluhur.

Presiden RI:
Oh, warisan dari leluhur.

Bapak Ambrosius Darson: 
Kami ini petani, Pak Presiden. Bisa juga laku walau hanya beberapa, kalau semua jual, siapa yang mau beli lagi? Beli apa-apa yang dijual. Kami ini petani, ya kami percayakan tanah ini untuk tanam cengkeh atau apa yang lain.

Presiden RI:
Oh, mau tanam cengkeh?

Bapak Ambrosius Darson:
Siap.

Presiden RI:
Apa tanah tempat asalnya dingin?

Bapak Ambrosius Darson:
Ya, dingin.

Presiden RI:
Oh, untuk tanam cengkeh, oke. Ya bagus. Berarti ini sertifikat disimpan?

Bapak Ambrosius Darson:
Ya, disimpan.

Presiden RI:
Menyimpannya di mana?

Bapak Ambrosius Darson:
Ya, disimpannya di rumah. Di lemari.

Presiden RI:
Di lemari. Ya menyimpan kan bisa di mana-mana. Di lemari, oke.  Ya, oke. Ya ada yang dipakai untuk jaminan, ada yang disimpan di lemari, enggak apa-apa. Kenapa enggak dipakai untuk jaminan ke bank? Ya pinjam ke bank, itu nanti untuk beli bibit cengkeh, begitu.

Bapak Ambrosius Darson:
Ya, kalau pribadi saya Pak Presiden, kalau kita usaha kayak gitu, petani itu, sama sih kayak kita usaha ya yang seperti itu (lainnya), semua hasilnya sama.

Presiden RI:
Oh, semuanya hasilnya sama. Oke, oke. Oke, ya ini keyakinan enggak apa-apa. “Saya yakin nanti pinjam ke bank bisa ini, ini” Tapi ada yang punya keyakinan berbeda, “Oh, saya pengin tani, menanam cengkeh, hasilnya juga sama kok.” Enggak apa-apa.

Bapak Ambrosius Darson:
Ya, intinya sertifikat ini Bapak Presiden, kami sangat berterima kasih. Intinya, (sertifikat ini) bukti kepemilikan yang sah.

Presiden RI:
Iya, betul.

Bapak Ambrosius Darson:
Bukti hukumnya.

Presiden RI:
Iya, ini tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Ya, terima kasih Pak Soni, terima kasih. Ya, sebentar, terima kasih semuanya. Nah, ini ya, saya ingin menunjukkan yang namanya kerja cepat. Sertifikat juga sama. Dulu 500 ribu (sertifikat) sekarang bisa 9 juta (sertifikat) per tahun seluruh Tanah Air. Ini juga kerja cepat. Ini Bapak, ini tadi kan baru saja berdiri di sini, belum ada 5 menit. Nih, fotonya jadi. Ini foto ini mahal karena di belakangnya ada tulisan Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Oke, Pak Soni, ya. Ini, Pak Yos, ya. Sama-sama. Sudah, silakan. 

Hah? Sepeda? Sudah diberi foto mau diberi sepeda? Pak, Pak, ini ada sepeda lagi tambahan. Enggak mau, yang enggak mau, biarkan. Mau sepeda? Ini, ini, sepeda diambil, sepeda diambil. Ini sepedanya diambil. Sepeda ini, diambil. Dapat foto, dapat sepeda, dapat sertifikat. Bawa ke mana itu? Bawa ke tempat duduk saja, kok malah mau pulang. Bawa saja ke tempat duduk. 

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,
Ini saya dengan para Menteri ke NTT ini untuk apa? Memang kita ingin membangun Labuan Bajo. Airport-nya mulai tahun ini, nanti sebentar lagi, airport-nya, landasannya akan diperpanjang. Terminal tunggunya juga akan diperbesar dan diperbaiki. Untuk apa? agar turis-turis dari mancanegara yang datang ke sini bisa menikmati suasana budaya di Labuan Bajo. 

Bukan hanya airport-nya saja, sebentar lagi jalan-jalan di sini, trotoarnya juga akan diperbaiki, kemudian untuk air, air baku juga akan ada bendungan yang kita harapkan segera selesai, pengolahan sampah juga akan kita bangun di sini. Dan, ya nanti dilihat akhir tahun ini, perubahan di Labuan Bajo akan dilihat, akan kita lihat. Karena untuk airport-nya saja, itu habis kurang lebih, berapa Pak Menhub? Satu? Airport itu habis berapa kira-kira? Satu koma? Rp1,2 triliun untuk airport-nya saja. Kemudian untuk pembenahan Labuan Bajo, habis berapa Pak Menteri PU? Rp970 miliar, kita benahi semuanya, nanti kita lihat akhir tahun ini. Ada yang berubah, ndak? Coba dilihat. 

Kita lihat sekarang seperti apa, nanti setahun lagi kita lihat lagi seperti apa. Saya enggak akan banyak omong, kita lihat bersama-sama, akan ada perubahan total di sini dan kita harapkan nanti memiliki dampak ekonomi kepada masyarakat. Kalau turis semakin banyak ke sini, belanja banyak di sini, seperti tadi disampaikan oleh Pak Bupati, pendapatan asli daerah saja akan meningkat sampai 1.000%, 10 kali lipat Pak dan nanti setelah selesai itu, enggak tahu meloncatnya akan berapa kali lipat lagi, saya enggak mengerti. 

Tetapi saya minta, terutama yang berada di sekitar Labuan Bajo, semuanya kita harus siap, ramah terhadap wisatawan, tidak buang sampah sembarangan, ini penting sekali. Baik di laut maupun di darat. Harus kita mulai ini. Murah senyum tapi kalau di sini murah senyum semuanya. Sudah, jadi kesiapan ini yang harus mulai kita hadirkan di Labuan Bajo ini. Nanti kalau hotel-hotel besar juga sudah berdiri di sini, nanti semakin banyak hotel nanti, dia akan butuh untuk makan pagi turis, berarti butuh sayur, ya kan? Butuh buah. Mengambilnya dari sekitar sini, jadi petani dengan gampang menjual barang-barangnya, semuanya. 

Dampak ekonominya akan kelihatan setelah Labuan Bajo betul-betul jadi dan menjadi tempat para wisatawan menikmati keindahan alam yang ada di sini. Jadi hati-hati, marilah kita jaga bersama-sama dan juga akan saya siapkan mungkin setiap tahun, 5 juta bibit pohon yang nanti kita tanam bersama-sama, agar ini semuanya menjadi hijau. Tanamannya apa, nanti, sebentar lagi akan segera akan kita bangun di sini tempat persemaian, nursery, yang nanti untuk pembibitan dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih. Saya tutup.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.