Menuju konten

Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om swastiastu,
Namo budaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati,
Pak Menko beserta seluruh menteri yang hadir. Hadir di sini, Pak Menteri PU, Pak Menteri Hukum dan HAM, Pak Menteri BPN, tadi Pak Menko tadi lupa, Pak Menteri Perhubungan, Pak Menteri Sekretaris Kabinet, menterinya saya bawa semuanya ke Manado.

Yang saya hormati,
Pak Gubernur beserta Ibu, Bapak Wali Kota beserta Ibu, Pak Wagub beserta Ibu, serta seluruh pimpinan dewan yang hadir.

Yang saya hormati,
Seluruh tokoh masyarakat, tokoh agama, Bapak Pendeta selamat sore, serta Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati, seluruh keluarga besar warga Sulawesi Utara yang sore hari ini menerima sertipikat.

Saya senang tadi disampaikan Pak Gub, biaya administrasi yang sebetulnya juga kecil 200-300 ribu ditanggung oleh Gubernur. Karena urusan sertipikatnya sudah ditanggung semuanya oleh pemerintah pusat, jadi administrasi yang kecil-kecil masa semuanya (ditanggung) pusat.

Yang sudah terima sertifikat, bisa diangkat! Nah, udah semua, kelihatan, kelihatan. Bentar… saya hitung dari sana, angkat terus, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 2.000. Udah, 2000.

Angkat semuanya, jangan…enggak gini lho, dulu-dulu itu kalau ngasih sertifikat itu simbolis, di depan dikasih ternyata yang di situ enggak dikasih. Sekarang ngangkat semuanya, kelihatan. Nah, gini kan kelihatan, kelihatan, udah cukup. Supaya kita tahu semuanya, di seluruh Indonesia ini harusnya 126 juta sertipikat itu dibagikan kepada masyarakat, 126 juta sertipikat untuk 126 juta bidang. Tapi baru di 2015 itu baru 46 juta, jadi masih ada 80 juta yang belum, tanah-tanah bersertifikat, 80 juta bidang.

Setahun dulu, sertipikat ini keluarnya, produksinya hanya 500 ribu. Artinya apa? Bapak Ibu harus nunggu 160 tahun untuk dapat sertipikat. 80 juta, setahun hanya 500 ribu. 160 tahun, mau? Mau? Nunggu 160 tahun, mau? Yang mau silakan maju, saya beri sepeda. Sini, siapa yang mau tunjuk jari, saya beri sepeda, 160 tahun. Ini enggak logis, enggak bisa kalau saya, enggak bisa hal-hal yang seperti ini diterus-teruskan, ndaklah, ya kan? Masa nunggu sertipikat bertahun-tahun ini apa? Ini ditunggu masyarakat, lho. Ditunggu masyarakat. Ini adalah hak atas tanah yang kita miliki, tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Kalau enggak pegang sertipikat, ada orang klaim sertipikat kita apa tanah kita waduh, apa ini? Di pengadilan kalah enggak pegang ini, hati-hati. Tapi begitu pegang ini, nah, ada orang ngeklaim ini tanah saya, bukan… tanah saya. Ini ada di sini namanya ada, di desa mana ada, di sini luasnya ada semua, sudah rampung. Ini yang namanya tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki yang namanya sertipikat.

Nah, sekarang semua sudah pegang semuanya, tolong diberi plastik. Ada semua ya, plastik. Nanti kalau disimpan di rumah, gentengnya bocor itu enggak rusak. Itu aja. Tapi tolong yang kedua, kalau sudah pegang sertipikat, difotokopi, ya. Yang satu taruh lemari satu, yang asli taruh lemari dua. Kalau hilang yang asli masih punya fotokopi, kalau hilang yang fotokopi masih punya asli, gitu lho. Jadi ngurusnya mudah ke kantor BPN.

Yang ketiga, yang ketiga, ini biasanya kalau sudah pegang sertipikat, biasanya, saya enggak tahu di Sulawesi Utara tapi biasanya sama saja, pengin disekolahkan. Benar? Pengin dipakai untuk agunan, pengin dipakai untuk jaminan ke bank, betul? (Betul) Banyak yang mau dipakai untuk jaminan ke bank? Coba tunjuk jari. Enggak usah malu, enggak apa-apa. Sertifikat ini bisa dipakai untuk agunan ke bank, jaminan ke bank. Tapi tolong saya titip, kalau mau pinjam ke bank itu dihitung, dikalkulasi, bisa mengembalikan tidak, bisa ngangsur enggak, bisa mencicil bulanannya ndak. Kalau dihitung enggak bisa, jangan. Sudah jadi sertifikat malah hilang kesita bank, hati-hati. Boleh pinjam ke bank tapi dihitung, dikalkulasi. Oh bisa, silakan pergi ke bank.

Kalau pergi ke bank, cek dulu yang rendah bunganya, yang paling rendah mana, cek. Pergi ke bank, tanahnya luas, taruh ini di bank dapat 300 juta, nah. Senang kan dapat 300 juta? Senang tapi hati-hati, itu pinjaman lho ya, pinjaman. Sampai rumah, 300 juta trek, besoknya pergi ke dealer mobil, punya duit iya kan? Uang muka trek. Nah ini, mulai kesalahan ada di sini, hati-hati. Jangan sampai yang namanya uang pokok pinjaman ini dipakai untuk hal-hal yang berkaitan dengan kenikmatan. Pakai semuanya untuk modal investasi, pakai semuanya untuk modal usaha, pakai semuanya untuk modal kerja. Jangan ke mana-mana dulu lah, mau beli sepeda motor, mau beli mobil, lupakan dulu. Kalau kita sudah usaha, untung. Untung 5 juta, tabung alhamdulillah. Untung 3 juta, tabung lagi. Ya itu silakan berarti sudah cukup mau beli mobil silakan tapi jangan pakai uang pokoknya. Uang pokok pinjaman jangan dipakai, saya titip itu aja. Karena kalau sudah pakai uang bank untuk beli mobil, ya memang ganteng nyetir mobil wah dilihat tetangganya, waduh, muter-muter kampung, dilihat lagi waduh. Enam bulan. Begitu enggak bisa nyicil ke bank, enggak bisa nyicil ke dealer, ya sudah, enam bulan. Itu hitung-hitungan saya biasanya enam bulan, sudah mulai gini. Mobilnya diambil dealer, sertifikatnya diambil (bank). Nah, hati-hati, saya titip hati-hati, udah itu aja titipan saya.

Tadi siang, saya dengan Pak Gubernur dengan para menteri pergi ke tempat-tempat wisata di sini. Tadi pergi ke Minahasa Utara, ke Likupang. Besok mau pergi ke Bitung dan beberapa pantai. Untuk apa? Kita ingin mengembangkan wisata di Sulawesi Utara. Karena kita melihat ekonomi di sini tumbuh karena wisata dan akan tumbuh lebih baik juga karena wisata. Untungnya Pak Gub ini feeling-nya ke situ bagus sekali. Beruntung Bapak Ibu punya gubernur. Yang…Pak Olly…jadi kita ingin, pemerintah pusat memberikan dukungan. Misalnya kayak jalan, jalannya sempit, ya gedein. Pantainya belum ada plaza untuk melihat pantai yang bagus, nanti tahun ini akan kita siapin, tahun depan akan selesai. Bandaranya, bandaranya tadi kita lihat, waduh terminalnya kurang gede ini. Sekarang ini baru bisa nampung penumpang 2 juta, nanti Agustus 2020 akan selesai terminalnya digedein menjadi 6 juta penumpang bisa masuk. Ya tadi diputusin di lapangan, lihat-lihat, ya langsung kerjakan September mulai, Agustus 2020 selesai. Kerja siang malam. Runway-nya…Pak, runway-nya kurang panjang, dilihat…oh iya kurang panjang, panjangin aja tambah supaya pesawat badan besar bisa turun di Manado, werererettt bisa, tuh.

Saya hitung-hitung sampai sore ini kok, kebanyakan ini untuk Sulut. Jalan digedein, runway dipanjangin, terminal bandara digedein, plaza untuk apa…pantai juga diperbaiki, akan mulai diperbaiki. Enggak tahu nanti malam muter lagi kita ketemu apa lagi di…ya memang harus seperti itu bekerja. Orang datang ke sini, kemudian melihat cantik, indah, bagus, ya akan kembali lagi. Jangan kalah dengan Bali, suatu saat nanti. Sekarang boleh kalah, nah suatu saat. Tapi perlu keramahan penduduknya, perlu sampah itu jangan dibuang di mana-mana. Ini kita harus mulai hal-hal seperti itu. Restoran-restoran, warung-warung yang bersih, toiletnya yang bersih. Harus seperti itu untuk mulai membudayakan. Kalau ndak, berat mengembangkan wisata di Sulawesi Utara, di Manado, di Bunaken, di Likupang, di mana lagi? Yang pulau itu mana? Pulau Lembeh yang katanya cantik, saya belum ke sana, besok mau ke sana saya. Kurang apa? Lihat, kurang apa? Katanya perlu jembatan, ya udah kasih jembatan.

Tapi tadi saya bisik-bisik ke Pak Menteri PU, Pak tapi ini mahal lho, Pak. Ah, untuk Sulut enggak apa-apa mahal. Tapi kan nanti ada income-nya yang masuk dari para wisatawan gitu lho, ada devisa masuk dari wisatawan, ada dolar masuk dari wisatawan. Kita juga punya hitung-hitungan. Mengeluarkan tapi punya hitung-hitungan, kembalinya ke negara apa, bukan awur-awuran, bukan mengeluarkan, mengeluarkan, mengeluarkan aja, yang benar aja, ndak.

Tadi kembali ke sertipikat, siapa yang mau pinjam ke bank tunjuk jari! Enggak usah malu. Ada? Coba. Ada? Oh, banyak juga ya. Boleh, boleh, maju satu sini. Bentar, yang itu, yang itu, ya. Tadi, dari tadi, tunjuk jari terus itu, mana tadi? Ya satu orang aja, satu, satu aja, satu aja, tadi mana tadi? Yang nunjuk jari yang cepet tadi, ya sebentar, sebentar satu orang aja, ini, ini, ini, ini, ini sebentar, sebentar. Ibu apa? Mau pinjam bank juga? Iya? Masuk sini sekalian. Yang di atas ada yang mau pinjam bank, satu? Ya boleh, yang di atas satu itu, ya. Ya, turun, naik? Yang dari atas, satu, ya maju yang satu tadi yang saya tunjuk tadi, ya sini. Ya, cepet. Mana tadi? Yang dari atas tadi? Oh, sedang turun? Ya, boleh. Ya, sebentar. Coba, dikenalkan dulu Bu, namanya. Enggak, kenalkan ke sana namanya siapa, dari kabupaten atau kota mana.

Ibu Dahlia Bongai:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera atas kita semua. Nama saya Dahlia Bongai, dari….

Presiden RI:
Bu Dahlia.

Ibu Dahlia Bongai:
…dari Kota Manado, Kecamatan SIngkil, Lingkungan Singkil II, Lingkungan Satu, itulah yang saya dapat perkenalkan diri saya.

Presiden RI:
Singkil itu mana itu, ya? Daerah mana itu SIngkil itu?

Ibu Dahlia Bongai:
Sulawesi Utara.

Presiden RI:
Iya Sulawesi Utara, di mana? Kalau dari sini ke mana? Kota Manado? Sebelah timur, barat, utara? Utara…saya diberitahu juga enggak tahu di sebelah mana juga…oke, oke. Ibu…sekarang kerja apa?

Ibu Dahlia Bongai:
Usaha kecil.

Presiden RI:
Usahanya apa?

Ibu Dahlia Bongai:
Buah.

Presiden RI:
Buah. Sekarang mau pinjam ke bank berapa?

Ibu Dahlia Bongai:
Tidak banyak, Pak.

Presiden RI:
Sertipikatnya ini berapa m2 dulu?

Ibu Dahlia Bongai:
Ya…10×15, 150.

Presiden RI:
Bener? Coba saya cek. Ini semua yang pegang sertipikat harus tahu ya, kalau ditanya, m2-nya berapa harus tahu, sini di…ini di bawah ini, 150 m2, betul. Pintar, Bu Dahlia. Oke, mau pinjam berapa?

Ibu Dahlia Bongai:
Yah, karena usaha saya cuma kecil-kecilan maka keberanian saya hanya berkisar 20 juta rupiah.

Presiden RI:
20 juta gede itu, gimana sih. Wah, 20 juta kaget saya, tak pikir 2 juta, 20 juta. 20 juta oke, 20 juta. Pinjamnya di bank mana?

Ibu Dahlia Bongai:
Ya, mana saja, yang bisa dipercayakan kepada saya.

Presiden RI:
Nah, ini, ini, ini, enggak boleh. Mana saja itu enggak boleh. Harus cek bank. Cek dulu, misalnya di BRI berapa, di BNI berapa, di bank swasta berapa, dicek. Pilih yang bunganya rendah, gitu. 20 juta, dipakai untuk apa, Bu?

Ibu Dahlia Bongai:
Menambah usaha saya.

Presiden RI:
Ya tahu, tadi udah ngomong menambah usaha, untuk beli apa 20 juta itu, beli apa saja?

Ibu Dahlia Bongai:
Karena saya bertempat usaha kan dua.

Presiden RI:
Dua….

Ibu Dahlia Bongai:
Ya, jadi saya usahakan dua-duanya bisa terisi. Karena dalam keadaan sekarang ini, saya kurang modal. Bukan kurang juga, tapi tidak ada modal. Makanya uang tersebut saya akan pergunakan untuk modal usaha saya.

Presiden RI:
Oke, sebentar. 20 juta tadi dipakai untuk beli apa saja?

Ibu Dahlia Bongai:
Buah.

Presiden RI:
Buah, buah…buah masa 20 juta dapat, dapat berapa truk itu? Saya bekas pengusaha lho, jadi harus…gini lho, pinjam saya ingatkan, pinjam 20 juta itu harus tahu. Oh, mau saya pakai untuk, apa? Sewa warung, pakai untuk beli buah, misalnya buah jeruknya 500 ribu, berarti masih sisa gede banget. Untuk beli apanya…pisangnya, 500 ratus…apa 1 juta, pisang 1 juta ya kan gede banget kan, gitu lho. Masa 20 juta buanyak banget.

Ibu Dahlia Bongai:
Rencana saya, saya akan menyewa tempat….

Presiden RI:
Oh, menyewa tempat.

Ibu Dahlia Bongai:
1 warung kemudian kalau saya ambil buah itu kan, berkisar dalam 1 kali saya muat sampai 2 ton setengah, harganya semangka sekarang ini Rp 3.800.

Presiden RI:
Berarti berapa itu?

Ibu Dahlia Bongai:
2 ton, Rp 7.600.000.

Presiden RI:
Rp 7.600.000, he-eh.

Ibu Dahlia Bongai:
Kalau melon sekarangnya harga Rp 6.000 kalau 1 ton, dia berkisar Rp 6.000.000.

Presiden RI:
Rp 6.000.000, oh pintar, pintar, ini pintar. Nah, gitu harus bisa menjelaskan gitu, enggak, pintar udah, udah, nah harus bisa menjelaskan seperti itu. Rp 7.000.000 tambah Rp 6.000.000 berarti Rp 13.000.000 masih sisa Rp 7.000.000 untuk apa saja, harus bisa menjelaskan gitu. Tapi masa sih, kalau beli buah itu enggak bisa, harus bayar cash kan, enggak kan?

Ibu Dahlia Bongai:
Harus, Pak.

Presiden RI:
Harus cash ya?

Ibu Dahlia Bongai:
Harus.

Presiden RI:
Enggak bisa?

Ibu Dahlia Bongai:
Warungnya tempatnya jauh Pak.

Presiden RI:
Enggak bisa bayarnya sebulan atau dua bulan?

Ibu Dahlia Bongai:
Enggak bisa Pak, enggak bisa.

Presiden RI:
Enggak bisa, oke, ya udah, oke, makasih Bu Dahlia. Sekarang Pancasila. Pancasila…masa enggak bisa Bu Dahlia. Pancasila, satu….

Ibu Dahlia Bongai:
Ketuhanan Yang Maha Esa….

Presiden RI:
Eh, sebentar, sini, sini, sini. Sebentar dulu, sebentar. Pancasila…ayo, Pancasila saya, saya…kalau enggak bisa, saya bimbing lah. Pancasila….

Ibu Dahlia Bongai:
Satu….

Presiden RI:
Enggak, enggak. Ulangi, dari Pancasila, dari awal.

Ibu Dahlia Bongai:
Pancasila. Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Ya udah, pintar banget itu Ibu. Waaa gitu, tadi kok, katanya enggak bisa, enggak bisa, udah makasih. Ya udah, mana? Ada sepeda, ndak? Ada, bawa? Sekarang boleh ngasih sepeda, saya kasih sepeda. Kalau ada, kalau enggak ada ya udah. Ada? Oh, silakan Bu diambil sepedanya. Udah, taruh sini aja enggak apa-apa.

Ya, silakan Pak, kenalkan namanya.

Hamzah Papeo:
Terima kasih, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Hamzah Papeo, berasal dari….

Presiden RI:
Pak Hamzah?

Hamzah Papeo:
Iya.

Presiden RI:
Iya, dari?

Hamzah Papeo:
Berasal dari Kelurahan Singkil….

Presiden RI:
Lho, kok sama?

Hamzah Papeo:
Iya, sama.

Presiden RI:
Okeee, ya, ya.

Hamzah Papeo:
Kelurahan Singkil 2, Kecamatan SIngkil.

Presiden RI:
Iya, saya juga enggak milih-milih lho tadi lho, yang paling cepet aja saya tunjuk. Ya, Pak Hamzah, ini tanah berapa m2?

Hamzah Papeo:
Luas 307….

Presiden RI:
307.

Hamzah Papeo:
Ya, persegi.

Presiden RI:
Persegi, ya meter persegi. Mau dipakai pinjam ke bank?

Hamzah Papeo:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Pinjam berapa?

Hamzah Papeo:
15 juta.

Presiden RI:
15 juta, tadi 20 juta. 15 juta. Dipakai untuk apa?

Hamzah Papeo:
Untuk buka usaha, Pak.

Presiden RI:
Buka usaha, ini sekarang sudah ada usaha?

Hamzah Papeo:
Belum ada.

Presiden RI:
Belum?

Hamzah Papeo:
Belum ada.

Presiden RI:
Ah, hati-hati.

Hamzah Papeo:
Ya.

Presiden RI:
15 juta itu untuk usaha apa?

Hamzah Papeo:
Jual beras, Pak.

Presiden RI:
Jual beras?

Hamzah Papeo:
Iya.

Presiden RI:
Oke. Yang mau dijual, berasnya apa? Mau jualan beras harus tahu, lho. Enggak tahu masalah beras nanti, hati-hati. Mau jual beras, beras apa?

Hamzah Papeo:
Eee…beras yang anu, Pak.

Presiden RI:
Yang anu, apa?

Hamzah Papeo:
Yang laku di pasaran, Pak.

Presiden RI:
Yang laku di pasaran, yang laku di pasaran, beras apa?

Hamzah Papeo:
Iya, Merpati Dua….

Presiden RI:
Merpati Dua.

Hamzah Papeo:
Iya, beras Temo….

Presiden RI:
Beras?

Hamzah Papeo:
Temo.

Presiden RI:
Temo? Apa itu? Ada?

Hamzah Papeo:
Ada.

Presiden RI:
Ya, oke. Saya enggak tahu ini mesti nama lokal, nama Manado ini. Terus tiga, beras apa lagi?

Hamzah Papeo:
Superwin, Pak.

Presiden RI:
Superwin?

Hamzah Papeo:
Iya.

Presiden RI:
Iya, pertanyaan saya, 15 juta untuk beras dapat berapa ton itu? Hmm? Kalau 1 kilo beras, sekarang 1 kilo berapa?

Hamzah Papeo:
12….

Presiden RI:
12 ribu, ya, 12 ribu. Berarti, dapat berapa ton itu? Buanyak lho, 15 juta. Berapa?

Hamzah Papeo:
10…kurang lebih 2 ton, Pak.

Presiden RI:
Kurang lebih, ya…1 ton lebih dikit lah, 1 ton lebih dikit. Oke, nggih. Terus sudah dihitung, nyicilnya per bulan berapa kalau 15 juta itu? Mau pinjamnya ke bank siapa, bank apa?

Hamzah Papeo:
BRI.

Presiden RI:
BRI, ya. Minta yang namanya KUR, itu bunganya 7 persen, paling murah, ya. Minta, kalau mau ke BRI, ya, sekarang udah, Pancasila.

Hamzah Papeo:
Pancasila. Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan….

Presiden RI:
Dalam….

Hamzah Papeo:
…dalam Permusyawaratan….

Presiden RI:
Perwakilan.

Hamzah Papeo:
Peradilan.

Presiden RI:
Ya? Diulang, yang keempat diulang. Empat, Kerakyatan….

Hamzah Papeo:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan….

Presiden RI:
…dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Hamzah Papeo:
…dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Presiden RI:
Lima.

Hamzah Papeo:
Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Ya, oke. Bapak Ibu sekalian, kalau Pancasila pas duduk, mudah. Tapi begitu maju di dekat saya, hilang semuanya ini. Benar ya, Pak ya? Nah, benar kan. Ya udah, makasih. Ini udah dapat sepeda, kasih foto lagi. Ini, Bu. Ini kasih foto. Sebentar, Pak Hamzah sini, ini dulu. Ya, tambah foto. Ini, Pak Hamzah fotonya. Sepedanya diambil udah, nggih makasih, nggih. Ini fotonya juga mahal lho, ya. Fotonya ini di belakangnya ada tulisan, album ini, apa…Istana Presiden Republik Indonesia, ini.

Itu, silakan Pak, ini terakhir. Silakan dikenalkan.

Soni Boyo:
Selamat sore.

Presiden RI:
Selamat sore.

Soni Boyo:
Shalom, salam sejahtera bagi kita semua. Nama saya Soni Boyo, berasal dari Minahasa Tenggara.

Presiden RI:
Minahasa Tenggara, Pak Soni, ya sana tadi.

Soni Boyo:
Dari Desa Tombatu Tiga Selatan. Bupati saya, Bapak James Sumendap.

Presiden RI:
Pak Bupati, ada? Oh, itu Pak Bupati. Oh tadi, Pak Bupati ada semua. Pak Bu Bupati ada semua, oke.

Soni Boyo:
Mau tanya apa, Pak?

Presiden RI:
Pak Soni….

Soni Boyo:
Iya.

Presiden RI:
Ini m2-nya berapa?

Soni Boyo:
Ini luas tanah saya, luas tanah rumah….

Presiden RI:
Ini sertipikatnya kok banyak banget, sih?

Soni Boyo:
Kebetulan yang satu dititip karena berhalangan, Pak.

Presiden RI:
Oh gitu, nggih.

Soni Boyo:
393 m2.

Presiden RI:
393, ini mau dipakai untuk pinjam ke bank?

Soni Boyo:
Ya, betul Pak.

Presiden RI:
Ya, untuk usaha apa?

Soni Boyo:
Sebenarnya usaha ini, kebetulan kebun kami itu adalah perkebunan tanaman cengkeh….

Presiden RI:
Oh, cengkeh. Terus?

Soni Boyo:
…dan kebetulan tempatnya itu punya view yang bagus untuk tempat pariwisata.

Presiden RI:
Terus?

Soni Boyo:
…di Minahasa Tenggara, khususnya di Desa Tombatu.

Presiden RI:
He-eh.

Soni Boyo:
Rencana kami mau kembangkan usaha untuk di samping perkebunan cengkeh juga untuk pariwisata alam.

Presiden RI:
Apa itu?

Soni Boyo:
Pariwisata pegunungan, Pak.

Presiden RI:
Oh, pariwisata pegunungan. Wah, berarti pinjamnya banyak ini pasti.

Soni Boyo:
Kalau disetujuin, Pak.

Presiden RI:
Oke, nangkep. Ya, baik. Mau pinjam berapa itu, kalau boleh tahu?

Soni Boyo:
Mungkin untuk pengembangan pertama, Pak. Untuk fasilitas yang ada di pekarangan perkebunan itu, fasilitas semacam pondokan-pondokan begitu, Pak.

Presiden RI:
Oh, pondokan-pondokan.

Soni Boyo:
Tapi jalannya, Pak masih kurang ba…layak Pak, untuk naik ke atas.

Presiden RI:
Nah, itu Pak Bupati kan ada. Pak Bupati kalau enggak mampu, ngomong langsung ke Pak Menteri PU, ini ada. Ya oke, nggih, udah, nangkep. Pinjamnya berapa tadi?

Soni Boyo:
Awalnya mungkin Pak, 100 juta, Pak.

Presiden RI:
100 juta. 100 juta itu bunganya per bulan banyak, lho.

Soni Boyo:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Iya, enggak? Gede lho, itu bunganya. Udah dihitung bisa ngangsurnya, udah?

Soni Boyo:
Bisa, Pak.

Presiden RI:
Bisa, ya udah kalau kelihatannya yakin sekali, Pak Soni, nggih, Pancasila.

Soni Boyo:
Pancasila. Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan. Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Ya, tadi kebanyakan ‘dan’ tapi enggak apa-apa. Udah, makasih.

Soni Boyo:
Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Ini, fotonya. Ya, makasih Pak Soni. Sepedanya itu diambil juga.

Yang terakhir, Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudara sekalian,

Saya titip. Saya titip, ini pilpres kan sudah selesai ya, setelah keputusan Mahkamah Konstitusi, pilpresnya kan selesai. Jangan sampai ada lagi yang namanya, di antara kita ini misalnya ada yang tidak saling sapa antartetangga karena dulu beda pilihan, tidak saling omong antarteman gara-gara dulu beda pilihan, enggak. Kita harus bisa saling menghargai dalam pilihan politik, enggak apa-apa. Berbeda itu enggak apa-apa dalam politik, ini demokrasi. Tapi jangan sampai tadi, enggak saling sapa antarsaudara, enggak saling sapa antarteman, enggak saling sapa antartetangga gara-gara beda pilihan politik, ndaklah. Pilpres sudah selesai, marilah kita berangkulan kembali, bersatu kembali, sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Apapun sukunya, apapun agamanya, kita ini adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jangan sampai perbedaan-perbedaan karena pilihan politik tadi diterus-teruskan sampai saling membenci, saling mendengki, ndaklah. Saya ingatkan kembali lagi, saya ingatkan kembali, kita ini adalah saudara sebangsa dan setanah air. Tantangan yang dihadapi bangsa kita, bangsa ini adalah bangsa besar. Tantangan yang kita hadapi juga tantangan-tantangan besar. Kalau kita tidak berangkulan, kita tidak bersatu bersama-sama membangun negara ini, ditinggal kita oleh negara-negara lain. Negara lain sudah lari jauh membangun infrastrukturnya, kita masih urusan saling membenci, saling mendengki, saling tidak sapa antartetangga, semakin ketinggal kita nanti. Saya ingatkan kepada kita semuanya, kita berangkulan, bersatu kembali, bersama-sama membangun negara ini, memajukan negara ini.

Saya tutup. Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.