Menuju konten

Perayaan Imlek Nasional 2020

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swasiastu, 
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Ini yang datang kok banyak sekali, sampai di ujung belakang semuanya penuh. Tapi wajahnya enggak kelihatan yang di belakang, enggak apa-apa.

Yang saya hormati Wakil Presiden Indonesia yang ke-6 Bapak Jenderal (Purn) Try Sutrisno;
Yang saya hormati Ibu Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid;
Yang saya hormati para ketua dan pimpinan lembaga negara yang hadir, Ketua DPD RI, Pak Ketua BPK, beserta para pimpinan DPR, MPR yang hadir;
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, Gubernur Banten, Ibu Wali Kota, Bapak Bupati yang hadir;
Yang saya hormati para Duta Besar negara-negara sahabat;
Yang saya hormati para Raja dan Sultan yang hadir dari seluruh nusantara, Bapak/Ibu semuanya seluruh hadirin dan undangan yang berbahagia, yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Selamat pagi!

Pagi hari ini saya sangat bergembira sekali, sangat senang sekali. Pertama-tama tentu saya ingin mengucapkan selamat merayakan Hari Imlek di tahun 2020 ini, Gong Xi Fa Cai. Selamat memasuki tahun tikus logam di 2020. Shio saya kerbau, katanya tahun ini saya harus kerja keras, padahal 5 tahun kemarin saya sudah super kerja keras. Sekali lagi  selamat memasuki tikus logam, di 2020. Semoga kesehatan, semoga rezeki, semoga keberhasilan selalu dilimpahkan kepada kita semuanya yang hadir disini, dan juga seluruh rakyat Indonesia.

Selain berdoa, kita tentu harus selalu bekerja keras, harus kerja cepat sebab kondisi ekonomi dunia sekarang ini sedang melamban, jadi kalau kita kerja biasa-biasa akan sangat berbahaya bagi ekonomi kita, karena ekonomi dunia sekarang pada posisi yang memang menurun dan pada posisi yang tidak pasti.

Kita patut bersyukur bahwa pada pagi hari ini kita bisa berkumpul disini dari berbagai ragam, marga dari keturunan Tionghoa. Saya tahu disini ada marga Tan, ada.? Marga Oey, ada? Marga Gan, ada? Marga Pang, ada? Marga Lim, ada? dan marga-marga yang lainnya yang tidak bisa Saya sebut satu persatu, karena saya tahu marga di keturunan Tionghoa ini banyak sekali, sama dengan negara kita yang sangat beragam, yang bermacam-macam suku, agama, etnis yang hidup dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Saya senang pagi hari ini saya bisa memakai baju ini, Ketua Panitianya pakai baju tradisional Jawa, ini kan dibalik-balik. Menteri-menteri juga, silakan Pak Menteri, coba, Pak Mensesneg, Pak Menko PMK, ini. Pakai baju adat Tionghoa, Pak Menteri PMK, tapi pakai peci, coba, enggak ada, selain di Indonesia ini enggak ada. Ya kita ini memang beragam, bayangkan 714 suku yang kita miliki dengan bahasa daerah yang berbeda-beda, 1.100 lebih bahasa daerah kita. Enggak ada negara yang seberagam Indonesia, enggak ada. Ini yang patut kita syukuri, patut kita syukuri, bahwa meskipun kita beraneka ragam tetapi kita tetap satu sebagai saudara sebangsa, seTanah Air yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti tadi yang digambarkan dalam opera tadi, saya dengar yang di orkestra ada Nia ya? Ada Nia? Nia ini putrinya Pak Ahok dan Ibu Vero, mana Nia? Oh iya. Teman baik Saya Pak Ahok, tapi saya tanya tadi enggak datang. Setelah jadi Komisaris Utama Pertamina kok enggak datang.

Coba ada yang mau maju? Sebentar jangan maju dulu. Saya ingin yang maju satu dulu, yaitu Mbak Susi Susanti dulu. Tadi Saya liat ada kok, sama mas Alan, tapi ini yang maju Mbak Susi saja, Mas Alan enggak.

Ada yang ingin maju lagi? Sebentar, sebentar sebentar. Ini pengin maju, pasti pengin sepeda ini. Sebentar, sebentar. Sebentar. Ini yang semangat kok ibu-ibu to? Sebentar. Ya coba ini yang laki-laki ini, ini, ini. Ya, ya itu iya maju. Ya, ho’oh, ya laki-laki. Iya, iya laki-laki. Iya, iya, enggak-enggak yang merah, merah, yang bajunya merah. Iya, betul ini lo, iya. Yang dari sana maju tadi ini, ya betul, maju. Betul, sudah. Ya, ini kok mirip Pak Ahok?

Bapak Ang Joko:
Memang KW-nya, Pak, saya, Pak.

Presiden RI:
Memang, di tengah ekonomi dunia yang sulit, saya lihat banyak bisnis dari Bapak/Ibu sekalian tetap tumbuh dengan baik. Memang tidak mudah mengalahkan urusan bisnis ini, mengalahkan warga keturunan Tionghoa memang sulit. Dan memang harus diakui rata-rata memang jago di dagang, jago di bisnis baik itu di industri manufaktur, di industri jasa dan lain-lainnya karena memang kita harus mengakui keturunan Tionghoa dalam bekerja keras itu bisa kita lihat. Kalau sudah bekerja, pagi sampai tengah malam itu dijalani, jadi kalau sukses ya kita maklum.

Mbak Susi, silakan dikenalkan dulu. Kalau ada yang belum kenal mungkin perkenalkan Mbak Susi.

Ibu Susi Susanti:
Siap Pak, iya. Selamat pagi semuanya, Bapak Presiden, Bapak/Ibu sekalian. Nama Saya Susi Susanti, dulu…, terima kasih.

Presiden RI:
Tepuk tangan dulu untuk Mbak Susi Susanti. Saya mau tanya Mbak Susi.

Ibu Susi Susanti:
Ya. Siap Pak.

Presiden RI:
Dulu saat pertama meraih emas di olimpiade, ya. Apa sih sebetulnya yang disiapkan? Kerja keras apa? Kemudian waktu dapat emas, menang, itu perasaannya seperti apa?

Ibu Susi Susanti:
Siap Pak. Yah yang pasti untuk menjadi juara tidak mudah saya…

Presiden RI:
Ya, kita tahu semua, untuk jadi juara enggak mudah, pasti.

Ibu Susi Susanti:
Saya berlatih mungkin bukan 1 atau 2 jam, tapi bisa sampai 8-9 jam.

Presiden RI:
Apanya itu?

Ibu Susi Susanti:
Latihan-latihannya Pak.

Presiden RI:
Dari jam berapa sampai jam berapa itu?

Ibu Susi Susanti:
Pagi dari jam 6 sampai jam 10. Lalu siang biasa…

Presiden RI:
Pagi dari jam 6 sampai 10? Biasa hanya berapa jam gitu aja. Terus?

Ibu Susi Susanti:
Siangnya…

Presiden RI:
Siang.

Ibu Susi Susanti:
Siangnya, betul, dari jam 2 sampai jam 4.

Presiden RI:
Jam 2 sampai jam 4, ya hanya dua jam, biasa.

Ibu Susi Susanti:
Dua jam, betul Pak. Sorenya biasa ada tambahan lagi, Pak.

Presiden RI:
Sorenya?

Ibu Susi Susanti:
Iya dari jam 6 sampai jam 8.

Presiden RI:
Jam 6 sampai jam 8. Hanya dua jam.

Ibu Susi Susanti:
Ya, Pak, memang seperti minum obat Pak, 3 kali sehari tapi karena memang kesadaran dan juga keinginan dari saya dan juga tentunya dukungan, waktu itu Bapak Pak Try Sutrisno sebagai Ketua Umum PBSI kami.

Presiden RI:
Oh iya, dulu Pak Try Sutrisno waktu Ketua Umumnya Pak Try Sutrisno.

Ibu Susi Susanti:
Betul iya. Dan waktu itu Bapak mengatakan, ini kesempatan yang luar biasa bahwa bulu tangkis pertama kali masuk olimpiade dan kita punya kesempatan untuk bisa meraih medali emas pertama untuk Indonesia lewat bulu tangkis.

Presiden RI:
Jadi waktu itu, saat itu melawan siapa ya?

Ibu Susi Susanti:
Waktu final saya bertemu Bang Soo Hyun, Pak, dari Korea.

Presiden RI:
Oh, dari Korea?

Ibu Susi Susanti:
Betul, salah satu musuh bebuyutan saya juga.

Presiden RI:
Musuh bebuyutan?

Ibu Susi Susanti:
Betul.

Presiden RI:
Menang? Perasaan seperti apa saat itu, waktu tep dan dapat? Itu di olimpiade lo ya, kita cerita ini olimpiade ya. Terus dapat emas, perasaan yang dibayangkan saat itu apa sih?

Ibu Susi Susanti:
Ya, tentunya kerja keras bisa terbayar dengan satu keberhasilan, Pak. Tentunya pada saat Indonesia Raya berkumandang dan merah putih berkibar di olimpiade. Ada satu keharuan, kebanggaan, dan kebahagiaan yang luar biasa sekali. Sebagai anak bangsa saya bisa memberikan sesuatu yang terbaik, dan untuk pertama kalinya Indonesia Raya itu menjadi satu momen yang luar biasa sekali, Pak. Karena, biasanya mungkin lagu kebangsaan negara lain, bendera-bendera mungkin dari negara lain yang berkibar, Pak. Tapi di situ pertama kali merah putih berkibar, itu satu mungkin kebanggaan dan keharuan sebagai anak bangsa yang betul-betul tidak bisa dilukiskan, Pak.

Presiden RI:
Ya tepuk tangan untuk Mbak Susi Susanti. Baik terimakasih, bisa kembali. Silakan.

Ibu Susi Susanti:
Enggak dapat sepeda, Pak?

Presiden RI:
Masih mau sepeda?

Ibu Susi Susanti:
Ditambah juga boleh, Pak.

Presiden RI:
Enggak tahu bawa sepeda ndak, saya…

Ibu Susi Susanti:
Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Oh ya, keluarkan sepeda untuk Mbak Susi.

Ibu Susi Susanti:
Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Oh, bawa sepeda.
Ya, kita tahu di dunia olahraga kita memiliki Susi Susanti, Alan Budikusuma, ada Kevin, ada Markus, ada Candra Wijaya, ada Butet, Jojo. Jojo ada ndak? Ndak ada? Dan masih banyak lagi. Dari tinju kita tahu ada Daud Jordan, di wushu ada Lindswell Kwok, hadir? Ndak ada?

Ya, silakan dikenalkan.

Bapak Ang Joko:
Selamat pagi Pak Presiden, nama Saya Ang Joko.

Presiden RI:
Siapa?

Bapak Ang Joko:
Ang Joko, Pak.

Presiden RI:
Panggilannya?

Bapak Ang Joko:
Joko. Joko Pak, asli Pak.

Presiden RI:
Mana coba KTP-nya mana?

Bapak Ang Joko:
Betul Pak.

Presiden RI:
Enggak percaya.

Bapak Ang Joko:
Asli. Memang muka mirip Ahok, Pak.

Presiden RI:
Ini kok mukanya mirip Pak Ahok, Namanya Ang Joko. Aduh.

Bapak Ang Joko:
Bukan bohong ini, Pak.

Presiden RI:
Iya iya, Saya mau, anu saja, ngecek saja benar ini namanya Ang Joko?

Bapak Ang Joko:
Saya Ang, Pak.

Presiden RI:
Ang Joko.

Bapak Ang Joko:
Iya.

Presiden RI:
Ya, terima kasih.

Bapak Ang Joko:
Ini campuran Jawa sama Chinese.

Presiden RI:
Campuran Jawa? Namanya kan?

Bapak Ang Joko:
Iya, namanya doang.

Presiden RI:
Ya, namanya doang.

Bapak Ang Joko:
Mukanya mirip Ahok, Pak.

Presiden RI:
Ya, dari mana?

Bapak Ang Joko:
Saya kebetulan tinggalnya di Gading Serpong.

Presiden RI:
Oh, di Gading Serpong.

Bapak Ang Joko:
Iya dekat dari sini, Pak.

Presiden RI:
Ya.

Bapak Ang Joko:
Saya usaha sendiri, ya kecil-kecilan lah, Pak.

Presiden RI:
Iya. Pertanyannya bukan itu.

Bapak Ang Joko:
Oh iya? Saya kira udah nanya.

Presiden RI:
Negara kita, ini tadi saya sudah menyampaikan, negara kita ini negara yang besar. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Saya pernah naik pesawat langsung dari Aceh menuju ke Wamena, dari ujung barat sampai ujung timur, memakan waktu 9 jam 15 menit. Bayangkan, itu kalau terbang itu dari London di Inggris sampai Istanbul di Turki melewati mungkin 6 atau 7 negara. Artinya, negara kita ini negara yang sangat besar. Dengan keberagaman, perbedaan yang bermacam-macam. Sukunya bermacam-macam, pulaunya 17.000 pulau. Nah, sekarang pertanyaannya…

Bapak Ang Joko:
Waduh.

Presiden RI:
Sebutkan, enggak usah banyak-banyak, 7 suku yang kita miliki. Pak Ang, coba sebutkan 7 suku yang kita miliki di Indonesia, dari 714 suku.

Nah, bingung sekarang.

Bapak Ang Joko:
Sunda, Jawa…

Presiden RI:
Sebentar, pelan-pelan, satu suku?

Bapak Ang Joko:
Sunda.

Presiden RI:
Sunda, dua?

Bapak Ang Joko:
Jawa.

Presiden RI:
Suku Jawa, tiga?

Bapak Ang Joko:
Suku Anak Dalam.

Presiden RI:
Suku Anak Dalam, boleh. Empat?

Bapak Ang Joko:
Suku Papua. Baduy.

Presiden RI:
Suku Baduy, boleh, di sini. Boleh. Lima?

Bapak Ang Joko:
Suku Dayak.

Presiden RI:
Suku Dayak, betul, enam?

Bapak Ang Joko:
Suku Chinese, Pak. Kan Chinese suku juga, Pak. Terus…

Presiden RI:
Enam, tujuh?

Bapak Ang Joko:
Batak, suku Batak.

Presiden RI:
Suku Batak, betul, ya sudah.

Bapak Ang Joko:
Sepeda ya, Pak?

Presiden RI:
Sebentar, belum rampung.

Bapak Ang Joko:
Sudah, 7 tadi.

Presiden RI:
Ya sudah, sudah.

Bapak Ang Joko:
Oh sudah, Pak?

Presiden RI:
Sepedanya sudah diberikan kepada Pak Ang. Oh iya, ini sebelum saya beri sepeda, ini saya beri foto. Ini tadi baru berdiri disini belum ada 5 menit, tapi fotonya sudah jadi.

Bapak Ang Joko:
Keren, Pak.

Presiden RI:
Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kerja cepat itu diperlukan sekarang ini, karena negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Bukan negara yang besar mengalahkan negara yang kecil, bukan negara kaya mengalahkan negara miskin. Tetapi negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Dan kita ingin menjadi negara yang cepat. Ini contohnya, ini enggak murah, ini mahal. Karena di belakangnya ada tulisan ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, ini yang mahal itu.

Bapak Ang Joko:
Betul, Pak.

Presiden RI:
Ya, sudah. Sepedanya enggak usah ya?

Bapak Ang Joko:
Enggak dong, kasih dong, itu.

Presiden RI:
Wah, sepedanya sudah terlanjur dikeluarkan.

Bapak Ang Joko:
Ya, siap, pak.

Presiden RI:
Ya sudah, sepedanya juga diambil. Oh, ini Mbak Susi Susanti tadi. Diantar saja fotonya. Itu terus mau pulang, itu mau kemana itu Pak Ang? Lo, lo, lo langsung pulang.

Baiklah, Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,
Perlu Saya sampaikan,… Ya nanti, setelah ini. Anaknya mau ketemu saya. Setelah ini nanti, Bu, nanti ketemu.

Bapak ibu sekalian yang saya hormati,
Saya kira kita semuanya tahu bahwa kita sudah memutuskan untuk memindah ibu kota. Sekarang ini dalam proses mendetailkan lagi perencanaannya dan membuat undang-undangnya. Dalam proses semuanya, kita harapkan nanti bulan Juni sudah selesai. Dan perlu saya sampaikan bahwa, kita itu tidak ingin memindahkan hanya lokasinya saja, bukan itu, juga bukan memindahkan gedungnya, gedung istana atau gedung kementerian ke Kalimantan itu, juga bukan itu. Yang ingin kita pindahkan adalah sebuah budaya baru, budaya kerja yang baru, budaya cepat yang tadi saya sampaikan, kultur kerja yang cepat yang tadi saya sampaikan. Membangun sistem yang baru, sehingga sebelum orang-orang pindah kesana, sudah di-install sebuah sistem, sehingga kecepatan itu kita miliki, sehingga kita bisa memenangkan persaingan, bisa memenangkan kompetisi dengan negara-negara yang lain.

Inilah keinginan kita, dan di ibu kota baru nanti, juga perlu saya sampaikan, memang kita ingin masuk ke sebuah ibu kota yang pro pada lingkungan, ramah lingkungan. Akan banyak nanti orang berjalan kaki, akan banyak nanti di sana orang naik sepeda. Kendaraan pun sudah kita rancang agar di sana nanti yang mobil yang ada atau sepeda motor yang ada adalah kendaraan listrik, dan kendaraan yang autonomous tanpa sopir, tanpa awak. Untuk itu, sedikit ini saya ingin sampaikan gambarannya. Silakan (diputarkan) videonya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih. Sekali lagi, selamat tahun baru 2020, dan selamat merayakan Hari Imlek, semoga keberhasilan selalu menyertai kita semuanya, menyertai bangsa kita Indonesia yang kita cintai.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Gong Xi Fa Cai.