Menuju konten

Perayaan Natal Nasional Tahun 2019

Shalom, 
Selamat malam,
Salam sejahtera buat kita semuanya,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, yang kita kasihi bersama, Presiden ke-5 Republik Indonesia Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri;
Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga Negara yang hadir, para Menteri Kabinet Kerja, para Duta Besar negara-negara sahabat;
Yang saya hormati Ketua dan seluruh Pimpinan KWI dan PGI yang hadir;
Yang saya hormati Bapak Kardinal, para Romo, Bapak/Ibu Pendeta yang hadir;
Serta yang saya hormati Gubernur/Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ibu Bupati Kabupaten Bogor;
Yang saya hormati, yang saya kasihi seluruh umat Kristiani yang malam hari ini hadir.

Saya tadi sore deg-degan ketika Ketua Panitia, Bapak Menteri Sosial menyampaikan kepada saya bahwa acara diselenggarakan di Sentul. Saya berpikir, apakah gedungnya tidak kegedean, kalau kosong nanti seperti apa? Masa Perayaan Natal kok lengang dan tidak penuh. Tapi begitu saya tadi masuk, ternyata penuh dan banyak sekali yang hadir. Malah kebalik, kelihatannya gedungnya kurang besar.

Ini betul-betul sebuah Natal yang sangat menggembirakan bagi kita semuanya karena, sekali lagi, hadir Ketua KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Bapak Kardinal, para Uskup, Romo, Pastor, Bapak/Ibu Pendeta, Pimpinan Sinode dan Tokoh-tokoh Gereja, dan tentu saja hadirin dan undangan yang berbahagia yang malam hari ini hadir. Dan di setiap saya hadir di Perayaan Natal Nasional seperti saat ini, saya merasakan bukan hanya suasana sukacita, suasana kegembiraan, suasana keriangan tapi saya juga merasakan suasana kerukunan, suasana persahabatan, suasana persaudaraan, juga cinta kasih sebagai saudara sebangsa dan setanah air di antara kita. Karena itu, saya sangat setuju dengan pesan Natal Nasional tahun ini, yaitu “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang.”

Natal adalah momentum yang sangat indah bagi kita semuanya untuk merayakan persahabatan, momen yang sangat berharga bagi kita semuanya untuk merajut persaudaraan, kerukunan antaranak-anak bangsa, dan juga momen bagi kita bangsa Indonesia untuk mensyukuri indahnya keberagaman, indahnya kemajemukan yang menyatukan kita semuanya sebagai sebuah bangsa besar, bangsa Indonesia.

Melalui pesan Natal ini umat Kristiani diajak untuk bersama-sama merawat persaudaraan, merawat kerukunan, merawat harmoni kehidupan, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak persahabatan, yang merusak persaudaraan di antara kita, seperti ujaran kebencian, jangan. Menebar fitnah, jangan. Menebar hoaks, jangan. Dan juga sikap-sikap intoleransi, jangan. Kita tidak ingin tali silaturahmi, jembatan persahabatan, jembatan persaudaraan yang telah terjalin dengan sangat baik antarsesama anak bangsa sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu justru dirusak oleh provokasi-provokasi yang memecah-belah kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Hadirin sekalian seluruh umat Kristiani yang saya kasihi,
Sebagai negara yang dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa keberagaman, kemajemukan, baik itu suku, agama, dan bahasa daerah, kita selalu belajar untuk hidup dalam kebersamaan sebagai saudara, sebagai satu sahabat. Sehingga nilai-nilai persaudaraan ini telah menjadi watak asli bangsa Indonesia, bisa disebut sebagai DNA-nya rakyat Indonesia. Dan DNA itu telah hidup ratusan tahun menjadi budaya dalam masyarakat kita. Kemanapun kita pergi, ke seluruh penjuru tanah air kita akan diterima seperti sahabat, seperti saudara. Inilah budaya kita Indonesia, inilah kepribadian kita, kepribadian bangsa Indonesia.

Persahabatan sejati sudah lama menjadi roh bangsa Indonesia selama ratusan tahun nenek moyang kita hidup bersama, damai, harmonis dalam persahabatan, dalam persaudaraan yang tulus, yang sejati tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan ras. Nilai-nilai persaudaraan inilah yang mengikat ke-Indonesia-an kita di masa lalu, di saat ini, maupun di masa yang akan datang. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, kita akan sigap mengulurkan tangan jika saudara-saudara kita dalam kesusahan. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita selalu mudah menyodorkan solidaritas ketika saudara kita memerlukan bantuan. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita tidak ragu untuk saling mengingatkan. Dengan hidup sebagai satu saudara dan satu sahabat, juga tidak pernah sulit kita semuanya untuk bergandengan tangan, bergotong-royong, berkolaborasi untuk mencapai tujuan besar bangsa kita, Indonesia.

Umat Kristiani, hadirin sekalian yang saya hormati,
Tokoh-tokoh bangsa telah memberikan banyak keteladanan kepada kita tentang indahnya, tentang berharganya persahabatan dan persaudaraan. Kita tahu pendiri Masyumi, tokoh Islam terkemuka, Mohammad Natsir bersahabat kental dengan Bapak Ignatius Joseph Kasimo sebagai seorang tokoh Katolik. Ketika Hari Raya Natal, Bapak Natsir selalu berkunjung ke rumah Bapak I. J. Kasimo. Sebaliknya, pada saat Idulfitri, Bapak I. J. Kasimo juga datang berkunjung ke rumah Bapak Natsir. Sekali lagi, inilah teladan indahnya persahabatan di antara dua tokoh bangsa.

Cerita keakraban Gus Dur dengan Romo Mangun juga bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya, bagaimana Pancasila diwujudkan dalam persahabatan yang nyata. Mereka tidak mempersoalkan perbedaan. Mereka berbeda agama tetapi tetap bersahabat seperti bersaudara.

Namun saya juga ingatkan, bahwa dalam perjalanan sejarah kita juga sering diuji apakah kita mampu menjaga kebersamaan di antara kita? Apakah kita mampu merawat persaudaraan dan persahabatan di antara kita? Dan pada momen-momen tertentu ada saja yang coba-coba mengganggu kedamaian hubungan antarsuku, antaragama, menggoyang-goyang keharmonisan hubungan kita semuanya, atau bahkan menebar kebencian dan intoleransi dalam kebersamaan kita. Tapi saya yakin, saya meyakini dengan semangat persaudaraan dan persahabatan yang sangat kuat, kita akan selalu mampu menghadapi semuanya. Saya memiliki keyakinan itu. Dan saya tegaskan, bahwa di negeri Pancasila, negara menjamin, sekali lagi, negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing.

Saya tegaskan di sini sekali lagi, negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Di negeri Pancasila ini kita harus saling menghormati, harus saling menghargai perbedaan dan keberagaman kita di antara sesama anak-anak bangsa dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di negeri Pancasila kita harus bersatu untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini ada yang pengin sepeda? Enggak ada? Kalau yang pengin sepeda tunjuk jari! Ada yang jauh dari Ambon, ada? Ada yang jauh dari Nias, ada? Ada yang dari Papua. ada? Dari Manado? Dari NTT? Coba, ada yang dari Ambon ndak? Ada? Mana yang dari Ambon? Dari Ambon maju satu, sini! Oke. Ada yang dari Nias? Sebentar, sebentar. Ya sudah, semangat banget, sini, sini, sini. Ada yang dari NTT? Yang putih, ya itu yang lari putih tadi. Iya, yang putih tadi, atasnya putih. Tadi kok enggak pakai sepatu ini gimana? Larinya biar kencang. Apa? Dari mana itu? Nias? Nias sudah ada gitu kok. Sudah, nanti saja. Ini dikenalkan dulu Bu, dikenalkan dulu. Kenalkan, nama. Benar dari Ambon?

Anna Sitaniapessy:
Perkenalkan, saya Ibu Anna Sitaniapessy, dari Ambon.

Presiden RI:
Bu Anna? Siapa tadi? Bu Anna?

Anna Sitaniapessy:
Sitaniapessy, Pak.

Presiden RI:
Bu Anna Sita…?

Anna Sitaniapessy:
 …niapessy.

Presiden RI:
…niapessy, dari Ambon. Kota Ambon?

Anna Sitaniapessy:
Ya, Pak.

Presiden RI:
Ya. Ditanya apa ini (dari) Ambon. Kalau ditanya ikan pasti tahu kalau (dari) Ambon. Sudah, dikenalkan dulu. Bu Anna, silakan. Dari Nias tadi ya?

Elpasti:
Iya Pak, dari Nias.

Presiden RI:
Dari Nias.

Elpasti:
Nama saya Elpasti, saya dari Nias Barat.

Presiden RI:
Nias Barat?

Elpasti:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Siapa tadi?

Elpasti:
Elpasti Pak, dari Nias Barat. Elpasti Nias Barat.

Presiden RI:
Saya pernah ke Nias juga.
Apa, NTT tadi?

Fiorentina:
Iya, Pak.

Presiden RI:
NTT, kenalkan.

Fiorentina:
Nama saya Fiorentina Lavenia, dari NTT.

Presiden RI:
Kok cepet banget. Tadi namanya siapa? Namanya? Nama pendek saja.

Fiorentina:
Fiorentina.

Presiden RI:
Violen?

Fiorentina:
Fioren…

Presiden RI:
Violet?

Fiorentina:
Fiorentina. Eh maaf Pak, maaf.

Presiden RI:
Waduh, ini Presiden dibentak. Enggak tahu tadi mbentak atau mic-nya yang…

Fiorentina:
Mic-nya, mic-nya, mic-nya, Pak.

Presiden RI:
Mic-nya?

Fiorentina:
Iya.

Presiden RI:
Oh mic-nya. Siapa tadi namanya?

Fiorentina:
Fiorentina. Fiorentina. Fiorentina.

Presiden RI:
Fiorentina. Fiorentina. Oke. Ini spontan, jadi saya juga bingung mau nanya apa gitu. Karena pas… Oke. Dari NTT dulu ditanya. Ditanya sekarang yang agak sulit apa ya?

Fiorentina:
Ya, jangan sulit-sulit lah, Pak.

Presiden RI:
Sudah, sekarang kita memiliki Kabinet Indonesia Maju.

Fiorentina:
Aduh.

Presiden RI:
Sebutkan tiga nama menteri dan jabatannya.

Fiorentina:
Yang NTT bantu jawab dong!

Presiden RI:
Satu, Pak siapa, menteri apa? Bu siapa, menteri apa?

Fiorentina:
Siapa, Pak?

Presiden RI:
Ini di sini Menteri banyak sekali ini.

Fiorentina:
Pak, namanya siapa Pak?

Presiden RI:
Tanya dulu aja lah Menteri, boleh tanya.

Menteri Sosial (Juliari P. Batubara):
Juliari, Menteri Sosial. Juliari, Menteri Sosial.

Fiorentina:
Juliari, Menteri Sosial.

Presiden RI:
Siapa?

Fiorentina:
Pak, Bapak Juliari.

Presiden RI:
Pak Juliari.

Fiorentina:
(Menteri) Sosial.

Presiden RI:
Menteri Sosial, betul. Pak Juliari itu, Pak Juliari Batubara.


Menteri Agama (Fachrul Razi):
Fachrul Razi, Menteri Agama.

Presiden RI:
Siapa itu? Hati-hati yang ditanya…

Fiorentina:
Pak Jenderal, Menteri Agama.

Presiden RI:
Jenderal siapa? Pak Menteri Agama lo, hati-hati, Pak Menteri Agama. Pak Menteri siapa?

Menteri Agama (Fachrul Razi):
Fachrul Razi. Fachrul Razi.

Fiorentina:
Oh, Jenderal Fachrul Razi, Menteri Agama.

Presiden RI:
Ya, Pak Fachrul Razi, betul Menteri Agama.

Menteri Sekretaris Negara (Pratikno):
Pratikno, Menteri Sekretaris Negara.

Fiorentina:
Ih, siapa? Pratikno. Menteri? Bapak Pratikno. Menteri apa Pak?

Menteri Sekretaris Negara (Pratikno):
Sekretaris Negara.

Fiorentina:
Sekretaris Negara.

Presiden RI:
Menteri Sekretaris Negara. Sudah, sini. Ya, ya saya beri sepeda dua.

Fiorentina:
Tiga, buat teman saya satu.

Presiden RI:
Langsung sudah sepedanya dua, gitu aja lah, sudah.

Fiorentina:
Terima kasih Bapak Menteri, eh salah Bapak Presiden.

Presiden RI:
Ya benar, terima kasih Pak Menteri karena yang memberitahu Pak Menteri tadi.

Fiorentina:
Kan Bapak yang kasih hadiah.

Presiden RI:
Sepedanya dua, satu untuk Fiorentina, nanti satu untuk Pak Menteri.

Fiorentina:
Bapak kan ya udah gede.

Presiden RI:
Ya, sudah.

Bu, ini dari Ambon. Ambon itu terkenal sekali dengan kekayaan yang namanya ikan, sudah. Sebutkan lima saja nama ikan.

Anna Sitaniapessy:
Dalam sebutan Ambon atau Indonesia Pak?

Presiden RI:
Ya terserah, pokoknya ikan.

Anna Sitaniapessy:
Satu, ikan tongkol.

Presiden RI:
Iya, benar, benar.

Anna Sitaniapessy:
Satu, ikan tongkol.

Presiden RI:
Ikan tongkol.

Anna Sitaniapessy:
Dua, ikan tatihu.

Presiden RI:
Ikan apa?

Anna Sitaniapessy:
Tatihu, Pak.

Presiden RI:
Apa?

Anna Sitaniapessy:
Tatihu.

Presiden RI:
Tatihu itu ikan apa itu? Ini yang dari Ambon ada? Benar ikan tatihu ada? Ada? Oke. Ya, sudah.

Anna Sitaniapessy:
Tiga, ikan cakalang.

Presiden RI:
Ikan?

Anna Sitaniapessy:
Cakalang.

Presiden RI:
Cakalang. Ya, oke. Semua tahu ikan cakalang. Empat?

Anna Sitaniapessy:
Empat, tuna.

Presiden RI:
Ikan?

Anna Sitaniapessy:
Tuna, Pak.

Presiden RI:
Ikan tuna. Semuanya juga tahu ikan tuna, betul. Satu lagi?

Anna Sitaniapessy:
Ikan momar.

Presiden RI:
Ikan?

Anna Sitaniapessy:
Ikan momar, Pak.

Presiden RI:
Apa?

Anna Sitaniapessy:
Ikan momar, Pak.

Presiden RI:
Bomer?

Anna Sitaniapessy:
Momar.

Presiden RI:
Momar? Ada ikan momar?

Anna Sitaniapessy:
Ada.

Presiden RI:
Ada. Itu lo, kalau saya tanya nama ikan pasti nama daerah, ini saya enggak ngerti kan? Ya, terima kasih Bu.
Terakhir, Nias pengin ditanya apa?

Elpasti:
Saya S-1, Pak.

Presiden RI:
Hah?
Elpasti:
S-1, S-1, Pak. S-1.

Presiden RI:
S-1?

Elpasti:
Ya.

Presiden RI:
Lha iya, pengin ditanya apa?

Elpasti:
Maaf, Pak.

Presiden RI:
Ngomong S-1, saya beri pertanyaan sulit lo, awas lo.

Elpasti:
Saya kurang dengar tadi, Pak.

Presiden RI:
S-1 pertanyaannya sulit saja ini. Nias, Nias, Nias itu pulau kecil di sebelah selatan di Sumatra Utara. Di dekat Pulau Nias itu ada sebuah air terjun air tawar yang langsung masuk ke laut, yang dulu dipakai untuk film Kingkong. Benar? Benar? Benar?

Elpasti:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Benar? Benar? Tahu ndak orang Nias?

Elpasti:
Saya belum pernah lihat Pak.

Presiden RI:
Belum pernah?

Elpasti:
Iya.

Presiden RI:
Oh, padahal kalau mau nyebrang dari Nias ke daratan Pulau Sumatra, di situ lah, tempatnya sangat indah sekali. Oke, terus tanyanya apa lagi ini. Sudah, enggak usah ditanya, sepeda sudah langsung. Daripada saya pusing cari-cari pertanyaan juga bingung juga. Dipikir gampang cari pertanyaan. Silakan Bu. Terima kasih semuanya. Terima kasih semuanya. Terima kasih.

Elpasti:
Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Ya.

Bapak/Ibu sekalian seluruh umat Kristiani yang saya kasihi,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kita semuanya, umat Kristiani untuk menggunakan momen Perayaan Natal tahun ini untuk bersama-sama kita bersikap dan berperilaku dalam memaknai persahabatan. Dari hal-hal yang kecil, perilaku keseharian: menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menunjukkan watak asli kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya, bangsa yang berbudi luhur. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya mengucapkan Selamat Hari Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Semoga Tuhan memberkati.

Shalom,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.