Menuju konten

Peresmian Pembukaan Kongres Notaris Dunia Ke-29 Tahun 2019

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya homati, President of the International Union of Notaries (UINL), Mr. José Marqueño de Llano;
Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat;
Yang saya hormati, Ketua Ikatan Notaris Indonesia dan seluruh pengurus pusat maupun daerah yang hadir;
Para notaris, hadirin, undangan yang berbahagia.

Saat ini, dunia semakin berubah. Cepatnya perkembangan teknologi digital mulai dari internet of things hingga artificial intelligence telah merombak secara mendasar proses produksi di era industri 4.0. Semua negara terkena dampak dari era disrupsi termasuk 89 negara yang menjadi anggota International Union of Notaries. Era disrupsi ini menghadirkan tantangan-tantangan baru dan juga memberikan tantangan-tantangan besar di mana pemerintah, pelaku bisnis, dan juga kalangan notaris harus mengubah proses pemerintahan maupun proses bisnis dan budaya kerja perusahaan di semua sektor.

Di era disrupsi, pemerintah harus bergerak lebih lincah dan lebih cepat karena dalam era persaingan antarnegara yang semakin sengit, yang cepat akan mengalahkan yang lambat, yang cepat beradaptasi dengan teknologi akan mengalahkan yang gagap teknologi. Karena itu, birokrasi pemerintahan juga harus mengubah cara kerjanya dari yang manual menjadi digital, dari pelayanan birokrasi yang ruwet dan berlama-lama menjadi pelayanan yang sederhana dan yang cepat. Cara cepat, cara shortcut, untuk mengubah cara kerja birokrasi pemerintahan yang terjebak dalam kerja yang rutinitas, kerja yang monoton adalah dengan penggunaaan inovasi teknologi. Disrupsi teknologi bisa kita manfaatkan untuk mengubah proses bisnis dan budaya kerja yang sudah bertahan bertahun-tahun, inovasi teknologi bisa membuat yang dulunya lambat, yang dulunya ruwet, berbelit-belit, menjadi lebih sederhana dan lebih cepat.

Salah satu contohnya, saya dalam 4 tahun terakhir terus mengupayakan agar kemudahan berusaha di Indonesia semakin membaik, salah satunya melalui sistem online single submission di mana sistem perizinan dilakukan terintegrasi secara elektronik guna mempermudah pengurusan izin bagi investor. Sehingga yang namanya mengurus izin, tidak perlu lagi berbulan-bulan tapi harus bisa dalam hitungan jam. Contoh lain adalah inovasi teknologi dalam layanan administrasi hukum, AHU (Administrasi Hukum Umum) online di Kementerian Hukum dan HAM. Layanan online yang berhasil memangkas waktu pelayanan, mengurangi tumpukan dokumen yang bisa diakses dari mana saja. Legalisasi yang dulu dilayani 3 hari sekarang jadi 3 jam, bahkan laporan yang saya terima, keseluruhan proses yang diperlukan dalam pengesahan perseroan terbatas (PT) hanya memakan waktu 7 menit. Ini mau saya cek, benar ndak, 7 menit.

Selain untuk percepatan legalisasi elektronik, saya juga melihat inovasi teknologi bisa mengakomodir hampir seluruh kegiatan kenotarisan/notaris. Ada 18 layanan kenotarisan yang dilayani secara online, seperti pembayaran penerimaan negara bukan pajak (PNBP) secara auto debit untuk notaris, ujian pengangkatan notaris, registrasi pengangkatan notaris, hingga panduan bagi notaris yang belum memiliki username dan password. Itu artinya, inovasi teknologi akan mampu membuat lompatan. Yang namanya lompatan itu akan berdampak pada kerja-kerja profesi notaris sehingga notaris bisa bekerja semakin cepat yang akhirnya bermuara pada peningkatan kecepatan, kemudahan berusaha di negara kita, Indonesia.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Bukan hanya pemerintah yang harus berubah, kalangan bisnis, pelaku usaha juga harus berubah. Saat ini, proses bisnis juga masuk ke dunia digital, semuanya bisa dilakukan serba online. Pelaku usaha terutama UMKM bisa meningkatkan nilai tambah dengan masuk dalam rantai pasok global melalui dunia digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital sejak 2015, kita telah melakukan investasi infrastruktur konektivitas digital yang cukup besar dengan membangun backbone network, serat optik sepanjang 12.128 kilometer yang dikenal dengan nama Palapa Ring. Alhamdulillah pada bulan Oktober yang lalu, sudah tersambung semuanya, membentang dari Indonesia bagian barat sampai Indonesia bagian timur sehingga dengan “jalan tol internet” ini, seluruh kabupaten dan kota di Indonesia terhubung dengan internet. Tahap selanjutnya adalah menyambung infrastruktur digital ini dengan kegiatan-kegiatan produktif.

Perkembangan ekonomi digital ini juga harus didukung oleh ekosistem yang baik. Regulasi kita juga terkadang ketinggalan dengan perubahan teknologi yang cepat. Misalnya, kehadiran fisik saat pembuatan akta otentik seharusnya dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi. Sekarang kita bisa bertatap muka dengan video conference, video call, kita juga bisa tanda tangan dengan elektronik tanpa kehilangan bukti autentiknya.

Demikian pula layanan kenotariatan, harusnya yang lebih adaptif dengan perkembangan teknologi. Kalau dulu, tas notaris isinya pulpen, cap notaris, materai, sekarang harusnya… harus ada laptop, tablet yang terkoneksi internet sehingga kalau klien butuh apa-apa, bisa langsung cepat diurus secara online, ini harus segera dimulai.

Saya paham mungkin perubahan teknologi begitu cepat, kadang susah diikuti penggunaannya, saya tahu. Namun saya sampaikan, kalau para notaris tidak berubah, maka notaris akan tertinggal dan ditinggalkan oleh klien-klien kita.

Terakhir, saya harapkan melalui kongres ini, dapat dilakukan pertukaran ide, pertukaran gagasan, pertukaran pengalaman sehingga dari kongres ini dapat dihasilkan terobosan-terobosan baru, inovasi-inovasi baru yang semakin meningkatkan kualitas dan mengukuhkan posisi notaris di era disrupsi ini.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Maka dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya resmi membuka Kongres ke-29 International Union of Notaries.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh.