Menuju konten

Peresmian Pembukaan Kongres V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Bismillahirahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatulah wabarakatuh,
Om Swastiastu,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,

Yang saya hormati Presiden Kelima Republik Indonesia dan sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibunda kita tercinta Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri,

Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak M. Jusuf Kalla,

Yang saya hormati Wakil Presiden terpilih 2019-2024, Bapak Prof. K.H. Ma’ruf Amin,

Yang saya hormati para ketua umum partai politik yang hadir, saya tidak bisa sebut satu persatu.

Hadir di sini Bapak Surya Paloh, Bapak Airlangga Hartarto, Pak Suharso Monoarfa, Pak Diaz, dari PPP, dari PKPI, dari PAN, dari PSI, PBB, Hanura, PKB, dan tidak lupa sahabat saya Ketua Umum Gerindra Bapak Prabowo Subianto,

Jangan didesak-desak terus untuk menyebut Pak Prabowo Subianto, pasti saya ingat.

Yang saya hormati para senior PDI Perjuangan, para pengurus DPP, DPD, DPC yang hadir, dari seluruh tanah air, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Segenap keluarga besar PDI Perjuangan, hadirin dan undangan yang berbahagia,

Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Tadi ada yang menanyakan pada saya, “Bapak kok pakai baju adat Bali?” Banyak yang menyampaikan pada saya. Kalau tadi Bu Mega menyampaikan, “Saya kan cantik,” Saya pun juga bisa bilang, “Saya sekarang ganteng”.

Kembali pertanyaan kenapa saya pakai baju adat Bali? Karena Provinsi Bali kemarin 91,6 persen. Mohon maaf Pak Prabowo, di Bali memang 91,6 persen, saya menyampaikan apa adanya.

Pertama, sekali lagi, alhamdulillah kerja keras Ibu Ketua Umum, Ibu Megawati Soekarnoputri beserta seluruh keluarga besar PDI Perjuangan membawa hasil yang memuaskan dan kita lihat PDI Perjuangan menjadi partai pemenang di Pemilu 2019.

Dan kita juga tahu PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri telah membuktikan kiprah sukses dua kali berturut-turut sebagai pemenang di Pemilu, yaitu di 2014 dan 2019, bahkan tiga kali dihitung sejak era reformasi kita.

Hal ini membuktikan bahwa PDI Perjuangan adalah partai pelopor yang matang secara ideologi. Tidak perlu meragukan mengenai ini. Yang kuat dan besar mengakar sampai ke akar rumput, yang kadernya loyal dan militan. Tadi juga sudah disampaikan oleh Ibu Mega, cerita mengenai Jawa Tengah itu benar. Kalau didiemin merumput terus. Coba kemarin didiemin merumput terus, enggak tahu hasilnya berapa. Untung ada pindahan posko.

Saya juga berterima kasih atas dukungan dalam kerja lima tahun belakangan dan kita harapkan juga kerja sama dalam lima tahun ke depan. Kita telah berjuang bersama, bergerak bersama, dan kita akan berjuang bersama dan bergerak bersama untuk mewujudkan nilai-nilai kerakyatan, untuk mewujudkan nilai-nilai nasionalisme demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada periode yang kedua ini, pekerjaan kita, kita harus menyadari semuanya, akan tambah berat. Tantangan yang kita hadapi juga akan lebih berat. Isu intoleransi, radikalisme menjadi kekhawatiran dunia dan menjadi ancaman dan tantangan Negara Kesatuan Republik Indonesia kita.

Ekonomi global juga sedang mengalami perlambatan, termasuk perang dagang antara Amerika dan Tiongkok dan juga hati-hati, revolusi industri 4.0, revolusi industri jilid keempat yang membawa perubahan-perubahan yang sangat radikal. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat dinamis. Dunia berubah begitu sangat cepatnya ke arah yang sering tidak kita duga, sering tidak kita duga. Persaingan antarnegara juga semakin ketat. Semua negara ingin menjadi pemenangnya. Tidak ada pilihan lain, kita harus bekerja ekstra cepat, bekerja ekstra inovatif, bekerja ekstra efisien.

Kita harus melakukan lompatan-lompatan kemajuan, membuat terobosan-terobosan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Kita harus siap terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak populer sekalipun tetapi itu penting untuk rakyat. Yang jelas ujungnya yaitu keberpihakan kita untuk kebaikan rakyat.

Saya berikan contoh di 2014, saat kita memangkas subsidi BBM, saya tahu itu kebijakan yang sangat tidak populer. Tetapi saya paham bahwa 70 persen subsidi BBM itu justru dinikmati oleh kelompok menengah dan kelompok atas. Oleh karena itu, alokasi subsidi saat itu kita pangkas lalu kita alokasikan hampir 40 persen untuk masyarakat yang belum sejahtera lewat program-program baik itu PKH, baik itu Rastra, baik itu Dana Desa, dan lain-lainnya.

Contoh lain, ke depan kita juga butuh mempercepat investasi untuk membuka peluang lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya. Tetapi kita juga terkendala banyak hal misalnya aturan regulasi ketenagakerjaan kita yang tidak ramah terhadap investasi. Hal ini berakibat pada peluang lapangan pekerjaan yang tidak tumbuh dengan cepat. Ada problem di situ. Padahal pembukaan lapangan kerja sangat kita butuhkan.

Oleh karena itu, kita harus berani memperbaiki diri secara total, memperbaiki iklim investasi, memperkuat daya saing kita, dan menggairahkan ekonomi kita agar kita mampu membuka lapangan kerja, peluang kerja yang sebanyak-banyaknya.

Ibu Ketua Umum, hadirin yang berbahagia,
Saya memiliki pengalaman menarik saat berkunjung ke Uni Emirat Arab. Ini sudah saya ceritakan di mana-mana. Saya penasaran bagaimana mereka bisa melakukan lompatan kemajuan yang hanya kurang dari 40 tahun melompat menjadi sebuah negara maju dan kaya.

Empat tahun yang lalu saya ke sana, ke Abu Dhabi. Turun pesawat dijemput langsung oleh MBZ, Syekh Mohammed bin Zayed. Saya diajak naik mobil beliau, “Pak Presiden naik mobil saya, saya yang nyetiri. Tapi izin dulu ke protokol, ngomong sama Paspampres.” Saya enggak ngomong protokol dan Paspampres, pasti tidak diperbolehkan karena prosedurnya memang tidak diperbolehkan. Sudah, saya langsung naik saja ke sampingnya beliau, naik di mobilnya, blek.

Paspampres sama protokol gayanya tengak-tengok juga. Sudah, jalan. Yang nyetiri MBZ, Mohammed bin Zayed. Nah, mumpung berdua, saat itu saya bertanya kepada beliau. “Syekh Mohammed, saya ingin bertanya, bagaimana negara ini bisa melompat sangat maju seperti ini?”

Beliau bercerita. “Tahun ’60 kami dari Dubai ke Abu Dhabi masih naik unta.” Kita tahun ’60 itu, sudah naik Holden dan Impala. Benar? Tahun ’70, dia cerita lagi, “Tahun ’70 kami dari Dubai ke Abu Dhabi itu naik truk dan naik mobil pick up.” Kita tahun ’70 sudah naik yang namanya Kijang, Kijang kotak. Tetapi begitu menginjak tahun ’80-’85 ke atas, mereka sudah naik mobil-mobil yang luks, yang juga tadi saya naiki, tadi saya belum cerita.

Tadi saya begitu naik, wuzz dari airport menuju ke Kota Abu Dhabi. Saya lihat kok jalannya pelan, saya tengok ke speedometernya 190 kilometer per jam. Padahal kelihatannya pelan. Saya cari-cari ini merek mobilnya apa, enggak ada mereknya. Saya enggak tahu mereknya apa sampai sekarang, enggak ngerti saya. Saya juga malu bertanya.

Kalau saya tanya, “Syekh ini mobilnya merek apa?” Dia pasti berpikir, “Ini Presiden Jokowi ndeso banget.” Sehingga saya tidak bertanya.

Kembali lagi, terus kuncinya ada di mana negara ini bisa melesat? Kuncinya ada di pembangunan sumber daya manusia yang konsisten. Sistem manajemen yang dibangun sejak awal. Ceritanya seperti apa?

Jadi, saat itu hampir perusahaan-perusahaan besar, perusahaan-perusahaan BUMN kayak kita, sistem manajemen di kantor-kantor pemerintahan, semuanya mereka meng-hire dari luar. CEO Dubai Port, Dubai Aluminium, semuanya bule-bule. Terus orang lokalnya jadi pendamping, wakil-wakil, sambil yang lain disekolahkan ke luar. Tapi begitu 10 tahun dan 15 tahun, itu ditarik sudah bisa mengganti yang tadi menjadi direktur utama, menjadi CEO.

Ya, itulah. Sekali lagi, pentingnya sumber daya manusia bagi sebuah pembangunan.

Oleh sebab itu, bagi kita, setelah lima tahun yang lalu kita fokus kepada infrastruktur, lima tahun ke depan kita akan fokus kepada pembangunan sumber daya manusia.

Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai. Kejayaan komoditi-komoditi sumber daya alam (SDA) juga sudah hampir selesai. Fondasi kita ke depan, percayalah, sumber daya manusia (SDM) kita yang berkualitas, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kualitas SDM itu harus dibangun, mulai dibangun sejak di dalam kandungan. Oleh sebab itu, tidak boleh ada lagi yang namanya stunting, kekerdilan. Kesehatan ibu dan anak menjadi sebuah kunci, terutama sampai umur 7-8 tahun. Ini adalah umur emas.

Kita harus meningkatkan kualitas pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Bukan hanya membuat generasi muda kita menjadi pintar dan mampu berkarya, tetapi juga jangan lupa, mencetak generasi yang pancasilais, yang toleran, yang kokoh bergotong royong.

Di tengah dunia yang berubah cepat, kita juga perlu menerjemahkan nilai-nilai dasar bangsa kita, nilai-nilai dasar ideologi kita dalam konteks kekinian, dalam konteks dunia yang sudah banyak berubah. Bagaimana kita menerjemahkan semangat nasionalisme dalam konteks kekinian. Bagaimana kita menerjemahkan semangat kerakyatan dalam konteks kekinian. Perlu lebih jeli. Perlu disesuaikan dengan semangat perubahan zaman ini. Harus sesuai dengan fakta dan data, sehingga kita tidak keliru dalam merumuskan kebijakan.

Semangat yang dulu diwariskan dan dicontohkan para founding fathers kita, yang diwariskan dan dicontohkan oleh Bung Karno harus dipertahankan dan diterjemahkan ke zaman baru yang kekinian, dalam konteks kekinian, dalam konteks perubahan zaman sekarang ini.

Saya sungguh berharap kiranya di Kongres PDI Perjuangan yang kelima ini dapat dihasilkan keputusan yang terbaik bagi partai, bagi bangsa, dan bagi negara. Semakin mengukuhkan PDI Perjuangan sebagai partai yang mendukung penuh pemerintah, dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang prorakyat.

Terakhir, saya ingin menjawab apa yang disampaikan oleh Bu Mega tadi, mengenai menteri.

Tadi Bu Mega kan menyampaikan, “Ya jangan empat dong.” Tapi kalau yang lain dua, dan PDI empat, kan juga sudah dua kali. Jadi kalau nanti yang lain tiga, mesti PDI… (enam), belum tentu juga. Tapi yang jelas, PDI Perjuangan pasti yang terbanyak. Itu jaminannya saya.

Terakhir, saya yakin kongres kali ini juga akan meneguhkan tekad untuk memenangkan calon-calon PDI Perjuangan pada Pilkada yang akan datang, dan memenangkan PDI Perjuangan pada Pemilu 2024, menang tiga kali berturut-turut.

Demikian yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatulah wabarakatuh,
Om Shanti Shanti Shanti Om,

Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!