Menuju konten

Peresmian Pembukaan Konstruksi Indonesia 2019, Indonesia Infrastructure Week Dan Indonesia Infrastructure Development Financing 2019

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju,
Yang saya hormati Yang Mulia  Deputi Menteri Transportasi dan Infrastruktur Republik Turki,
Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat,
Yang saya hormati Ketua BKPM, Ketua Kadin, dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional dan Provinsi,
Yang saya hormati para peserta sayembara desain ibu kota negara,

Hadirin undangan yang berbahagia,
Lima tahun yang lalu kita tahu semuanya, kita konsentrasi dan fokus pada pembangunan infrastruktur. Kenapa ini kita kerjakan? Kita tahu semuanya stok infrastruktur negara kita Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga kita.

Sering saya ilustrasikan, sejak pembangunan jalan tol Jakarta – Bogor – Ciawi tahun  1978 sampai 2014, Indonesia hanya membangun 780 kilometer jalan tol. Tiongkok/China sampai saat ini telah membangun 280.000 kilometer. Jangan ada yang tepuk tangan! Kita 780 kilometer selama empat puluh tahun, di Tiongkok/di China 280.000 kilometer. Inilah yang sering ekstrem saya berikan contoh, kita terlalu tertinggal jauh.

Kenapa lima tahun yang lalu saya perintahkan ini kerjanya bukan siang, harus pagi, siang, malam, tiga shift baru selesai target-target yang telah kita tentukan. Dan alhamdulillah,  kita harapkan akhir tahun ini kita akan memiliki kurang lebih, berapa Pak Menteri? 1.500 kilometer jalan tol. Ini hanya lima tahun, hanya lima tahun. Dan kita harapkan nanti lima tahun ke depan itu berada pada angka kurang lebih 4.500 sampai 5.000 kilometer jalan tol kita.

Dan alhamdulillah peringkat Indonesia dalam pembangunan infrastruktur dunia sekarang sudah di posisi 52. Di tahun 2018 posisi kita langsung naik ke peringkat 52, naik 30 peringkat dibanding tahun 2010. Ini pencapaian yang sangat baik dan kita harapkan daya saing global kita juga akan meningkat mengikuti pembangunan infrastruktur yang ada.

Meskipun demikian, kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, sekali lagi, lima tahun ke depan pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas meskipun kita geser yang utama adalah pembangunan sumber daya manusia. Karena infrastruktur yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi, infrastruktur yang memperbaiki daya saing dan logistik, indeks logistik kita. Infrastruktur juga memperbaiki pemerataan pembangunan.

Karena negara ini negara besar, bukan hanya Jawa saja yang dibangun. Kita memiliki 17.000 pulau. Ini selalu saya ingatkan terus, 17.000 pulau bukan hanya Jawa saja.  Kita mungkin di Pulau Jawa menikmati mulusnya jalan, bagusnya jalan tapi lihat provinsi yang lain. Misalnya di Papua, mana jalan di Papua? Nah, ini jalan di Papua, ini di Merauke sampai Boven Digoel seperti itu. Tapi ini lima tahun yang lalu, sekarang sudah baik. Ini jalan Sudirman – Thamrinnya sana. Jangan ada yang tepuk tangan, jalannya kayak gitu.

Lebih spesifik lagi pembangunan infrastruktur harus menciptakan lapangan kerja, menyerap produk-produk dalam negeri. Ini saya ingatkan, jangan sampai pembangunan infrastruktur terlalu banyak menggunakan barang-barang impor. Dan meningkatkan kelas UKM kita, ajak mereka untuk bekerja dalam pembangunan ini. Juga meningkatkan kualitas penggunanya dan kita harapkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat kita.

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,
Saya ingin memberikan contoh mengenai rencana pembangunan ibu kota negara di Kalimantan Timur, di Provinsi Kalimantan Timur. Yang ingin saya tegaskan di sini bahwa pemerintah tidak sekadar memindahkan istana atau memindahkan kantor pemerintahan. Tidak, enggak seperti itu. Tetapi pemerintah akan membangun kota yang hebat, smart metropolis.

Saya hanya membayangkan di sana nanti ada klaster pemerintahan, ada juga klaster teknologi dan inovasi seperti Silicon Valley, ada juga klaster pendidikan yang kelas dunia di mana universitas-universitas terbaik itu ada di situ, juga ada klaster untuk layanan kesehatan yang kelasnya juga dunia, dan juga penting ini ada klaster wisatanya. Inilah yang ada di bayangan kita.

Sehingga kita ingin ibu kota yang baru ini akan menjawab keinginan kehidupan kota yang belum ada di Indonesia. Kota yang memberikan kualitas hidup tertinggi bagi para penghuninya. Kota yang bebas emisi, yang ke mana-mana bisa jalan kaki. Bisa, kalau enggak bisa jalan kaki, bisa bersepeda. Kalau enggak bisa bersepeda juga menggunakan transportasi publik yang bebas emisi. Kota yang dinamis, harga terjangkau, dan betul-betul kota yang menggembirakan. Kota yang masyarakatnya majemuk, yang terbuka, yang toleran, yang penuh dengan gotong-royong. Inilah bayangan yang ada di benak saya.

Tetapi ibu kota baru ini juga bukan hanya kota pemerintahan. Sekali lagi, bukan hanya kota pemerintahan. Kota baru ini juga kota bisnis tetapi bisnis yang bebas emisi, atau industri yang bebas emisi, yang mempekerjakan orang-orang bertalenta kelas dunia. Global-global talent nanti akan mau hadir di situ. Yang menarik diaspora kita untuk pulang kembali ke Indonesia, yang menarik juga bagi orang-orang hebat dunia untuk tinggal di kota ini. Hal ini hanya bisa terjadi jika: Yang pertama, kota ini menyediakan lapangan kerja yang berkelas.

Yang kedua, ibu kota baru ini juga menyediakan suasana dan pelayanan yang berkualitas kelas dunia, minimal pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkelas dunia.

Dan pada kesempatan ini saya minta bantuan Bapak/Ibu dan saudara-saudara semuanya, rancangan kota yang ideal itu seperti apa. Misal, kota yang sangat sehat dan ramah lingkungan. Kota yang hidup, yang menyenangkan, yang ramah bagi anak-anak dan lanjut usia, juga tempat hiburan yang sehat. Kota yang compact dan humanis, pelayanan publik yang lengkap dan berkualitas dengan ekonomi dan sumber daya yang berkelanjutan. Ini semua harus kita pikirkan dan kita rancang secara baik sejak awal.

Kita ingin membuat kota yang memberi contoh dan bisa menjawab permasalahan-permasalahan dunia. Saya ingin mengatakan bahwa ibu kota ini adalah hadiahnya Indonesia untuk dunia. Kita memang harus, mimpinya memang harus tinggi seperti itu.

Jika Dubai memiliki jargon ‘the happiest city on the earth’, kita juga ingin kota baru kita ini menjadi kota the best on earth, yang the most liveable city, yang the cleanest city, yang the most innovative city, dan the most-the most yang lainnya.

Artinya apa? Kita memang harus menginstall sistem baru di kota ini. Jangan hanya pindah lokasi, pindah tempat dari sini kemudian ke sana. Bukan itu. Bukan itu, artinya pindah tempat tapi juga pindah sistem, pindah budaya, pindah budaya kerja tapi juga pindah pola pikir, pindah mindset semua. Ini yang kita harapkan. Sekali lagi, jangan hanya pindah tempatnya tapi juga pindah sistem, artinya ganti sistem, juga pindah budaya kerja, berubah budaya kerjanya, dan yang paling penting pindah pola pikir, pindah mindset kita.

Dan pembangunan ibu kota baru hanyalah sebagian kecil dari kebutuhan pembangunan infrastruktur nasional kita. Kita tahu tahun depan anggaran infrastruktur kita naik lagi. Kalau tahun ini seingat saya Rp420-an triliun, tahun depan Rp430 triliun, gede banget. Ini duit semuanya, Rp430 triliun. Sehingga masih banyak lagi infrastruktur yang harus kita bangun dalam lima tahun ini, harus dipercepat lagi.

Dan kuncinya ada di pembenahan manajemen rantai pasok konstruksi yang berkualitas. Kesiapan SDM, kesiapan sumber daya manusia, di bidang konstruksi harus serius kita perhatikan. Pasokan tenaga ahli, jasa konstruksi harus terus kita tingkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Harus dipercepat sertifikasi sesuai dengan standar-standar internasional yang ada. Sehingga mampu mendongkrak produktivitas dan kualitas pembangunan infrastruktur kita.

Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan vokasional harus juga kita perbaiki. Link and match antara lembaga pendidikan dengan kebutuhan dunia konstruksi Indonesia harus terus diperkuat, sehingga menghasilkan tenaga kerja yang punya keahlian lapangan yang handal.

Perihal kesiapan peralatan dan material yang dibutuhkan dalam konstruksi, saya titip pastikan ketersediaan dalam kuantitas dan juga kualitas. Saya minta agar produksi dalam negeri betul-betul menjadi perhatian yang serius, agar pembangunan infrastruktur besar-besaran ini mendongkrak industrialisasi dalam negeri. Jadi ngefeknya ke pembangunan industrialisasi di dalam negeri kita.  Kita sediakan alat berat produk dalam negeri, kita sediakan kebutuhan baja produk dalam negeri, dan berbagai kebutuhan material dan bahan baku lainnya dari dalam negeri sehingga sektor konstruksi bisa berkontribusi dalam menurunkan defisit neraca transaksi berjalan kita dan defisit neraca perdagangan kita.

Memasuki era revolusi industri jilid ke-4 pasti banyak teknologi baru di bidang konstruksi. Kita juga tidak boleh ketinggalan, kita harus mengikuti perkembangan teknologi seperti 3D printing, building information modelling, sistem trenchless, dan yang lain-lainnya. Tetapi pesan saya, belanja yang besar di sektor infrastruktur ini harus meningkatkan pengembangan dan penguasaan teknologi oleh swasta kita, BUMN kita, dan lembaga pendidikan tinggi kita.

Terakhir, pada akhirnya pasti terkait dengan kesiapan pendanaan. Tidak mungkin semua infrastruktur kita mau bangun ini bergantung pada APBN, enggak mungkin tergantung pada APBN. Karena itu, harus dikembangkan creative financing seperti KPBU, PPP (Public Private Partnership), Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha, lalu ada PINA (Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah), dan yang lain-lainnya.

Untuk daerah-daerah yang internal rate of return-nya, IRR-nya rendah, biar pemerintah yang menangani. Karena ini biasanya swasta tidak mau menyentuhnya. Selalu saya sampaikan, “Tolong tawarkan, berikan prioritas pada swasta dulu. Kalau swasta enggak mau, silakan BUMN mengerjakan, terutama yang internal rate of return-nya rendah, karena ada suntikan payment. Kalau BUMN enggak mau, dikerjakan oleh pemerintah.”

Saya ingatkan juga agar BUMN jangan ambil, sekali lagi BUMN jangan ambil semuanya. Berikan ruang bagi swasta, termasuk para pengusaha lokal, untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur ini. Ini selalu banyak sekali kontraktor lokal provinsi, kabupaten, kota berkeluh kesah kepada saya, “Pak, kok semuanya diambil BUMN?” Saya sudah perintahkan ini, tidak sekali-dua kali, dan saya harapkan lima tahun ke depan peran swasta, peran kontraktor lokal betul-betul bisa diberikan ruang yang sebesar-besarnya. Saya yakin dengan semangat kolaboratif, kita akan mampu mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur ini.

Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya resmi membuka acara Konstruksi Indonesia 2019, Indonesia Infrastructure Week 2019 dan Indonesia Infrastructure Development Financing 2019.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.