Menuju konten

Peresmian Pembukaan Konsultasi Nasional XIII Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Tahun 2019

Assalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,

Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Bapak Menteri Hukum dan HAM, Bapak Kepala Staf Kepresidenan, Bapak Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah yang hadir.

Yang saya hormati Ketua Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Bapak Olly Dondokambey,

Yang saya hormati Sekretaris Umum PGI Pendeta Omar Gultom,

Yang saya hormati Ketua Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Pendeta Paulus Kariso Rumambi, Para tokoh masyarakat, tokoh agama yang saya hormati,

Bapak/Ibu para Kaum Bapak PGI, undangan, hadirin yang berbahagia,
Negara kita ini adalah negara besar, sering kita melupakan ini. Sekarang penduduk kita sudah 269 juta, data terakhir. 269 juta yang hidup di 17.000 pulau yang kita miliki, tetapi 150 juta penduduk kita ada di Pulau Jawa. Kira-kira hampir 56 persen penduduk kita ada di Jawa. Ini lingkup negara kita Indonesia.

Kemudian, kalau kita lihat sekarang ini yang lebih besar yaitu global dunia, apa yang kita lihat sekarang ini? Ada perubahan-perubahan cepat yang juga tidak kita sadari. Perubahannya sangat cepat sekali sekarang ini, karena apa? Interaksi sosial antara kita yang tidak perlu ketemu muka dengan muka. Bisa lewat WA, malam kangen wajah bisa video call, kalau kangen benaran ya ketemu. Artinya apa? Ada pola interaksi yang sudah berubah, yang sering kita tidak sadari. Peristiwa di sebuah kota tidak di Indonesia, di negara lain begitu cepatnya bisa kita terima. Bisa itu positif, bisa itu negatif kalau kita tidak memiliki saringan yang baik.

Kita sekarang jadi tahu ada apa di Hongkong, demo yang sudah berbulan-bulan enggak rampung-rampung, tiap hari kita bisa lihat. Di TV mungkin bisa lihat, enggak sempat lihat di TV di Youtube bisa dilihat. Peristiwa besar, demo misalnya di Perancis, ramai di Inggris mengenai Brexit, semuanya mengerti semuanya. Ada mata uang peso yang baru jatuh, kita juga tahu. Venezuela keadaannya seperti apa, persis kita bisa tahu. Dan informasi itu sangat-sangat mudah didapat.

Oleh sebab itu, kalau ini sadari kita akan berhati-hati dalam bertutur kata, dalam menginformasikan sesuatu yang masih kita ragukan, menjaga etika, menjaga tata krama. Inilah saya kira pola interaksi yang harus kita bangun sebaik-baiknya sejak mulai dari keluarga.

Saya melihat sekarang ini kok banyak sekali kekerasan hampir di semua negara yang dulu-dulunya enggak pernah. Ya karena tadi, pola interaksi yang sudah berubah, yang tidak kita pahami, yang kita tidak sadari.

Oleh sebab itu, membangun kasih sayang, membangun kehidupan yang penuh kasih, yang dimulai dari sebuah keluarga itu sangat penting sekali dilakukan. Dan peran seorang bapak, seorang kepala keluarga, sangat-sangat menentukan sekali, baik dalam melindungi, baik dalam membimbing keluarga kita masing-masing. Karena di situlah forum terkecil dari forum besar negara dimulainya sebuah kebaikan-kebaikan. Teladan dalam keimanan juga sama, dimulai dari keluarga dalam dunia yang berubah begitu sangat cepatnya sekarang ini.

Tanpa itu kita berikan kesadaran-kesadaran dan pemahaman-pemahaman kita bisa larut dalam arus global yang sekarang ini menurut saya pengendaliannya sudah sangat sulit sekali. Negara mengendalikan sudah sangat sulit sekali. Dulu koran bisa saja dikendalikan, dikendalikan enggak mau, diberedel. Banyak negara yang melakukan itu. Sekarang yang mau memberedel Youtube siapa? Yang mau memberedel Netflix siapa? Yang mau memberedel Whatsapp siapa?

Inilah interaksi yang sekarang ini sangat terbuka yang bisa sangat berbahaya tetapi juga bisa sangat bermanfaat apabila kita bisa menangkap dan merespons perubahan. Lanskap komunikasi sekarang seperti itu.

Sehingga saya selalu menyampaikan pentingnya kita menjaga etika, menjaga tata krama dalam kita berkomunikasi sehari-hari, baik lewat tatap muka maupun lewat media sosial. Dan saya mengajak, mari kita membangun keluarga yang penuh dengan kasih, penuh dengan kasih sayang. Karena itu bagian dari menjaga dan merawat negara kita, NKRI kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita miliki.

Kita sering lupa, sering lupa ini, bahwa sudah menjadi hukum Tuhan, kalau dalam Islam sunatullah, sudah menjadi hukum Allah, sudah menjadi hukum Tuhan kita ini memang hidup berbeda-beda, beragam di Indonesia ini. Enggak ada negara sebesar Indonesia dengan pulau yang terpencar-pencar 17.000 pulau, agama yang berbeda-beda, suku yang berbeda-beda kalau kita tidak menyadari apa yang tadi saya sampaikan.

Tadi saya di Sukoharjo juga mengingatkan itu, betapa kita ini memang beda-beda betul. Saya alami sendiri karena saya betul-betul sudah menjelajah dari yang namanya Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Sudah semuanya, provinsi sudah semuanya, kabupaten-kabupaten sudah 380 kabupaten/kota. Tinggal 130 akan saya selesaikan. Jadi saya bisa merasakan coba.

Saya pernah naik pesawat dari Aceh langsung ke paling ujung tapi tidak di Jayapura tapi di Wamena, berapa jam ditempuh? 9 jam 15 menit, 9 jam 15 menit. Itu kalau dari London itu bisa menembus 6 sampai 7, sampai Istanbul di Turki. Artinya negara ini negara gede sekali, besar sekali. Bayangkan Aceh ke Wamena, 9 jam 15 menit. Itu naik pesawat. Kalau jalan kaki silakan coba.

Inilah negara kita yang harus betul-betul harus kita sadari bersama, ini negara besar sekali. Jadi kalau ada konflik-konflik kecil, saya selalu sampaikan kepada gubernur, kepada bupati, kalau itu segera selesaikan, jangan menunggu besok-besok. Apalagi dengan interaksi sosial lewat media sosial yang crek, satu menit saja langsung sampai tersebar ke mana-mana. Jangan sampai ada problem berlarut-larut kayak Hongkong, ada problem berlarut-larut kayak di Perancis, problem berlarut-larut kayak di Venezuela, Argentina, ndak. Kita semuanya memiliki tanggung jawab yang sama.

Dan keluarga yang dipenuhi dengan kasih dan sayang menjadi kunci. Kita ini mungkin memang di dunia ini sekarang yang namanya kasih dan sayang itu banyak yang sudah kehilangan. Mungkin, karena belum pernah ada survei yang kehilangan berapa persen kasih dan sayang. Yang banyak saling menghina, yang banyak saling memaki, yang banyak saling menjelekkan. Dan itu bukan budaya Indonesia. Kita tahu semuanya bukan budaya Indonesia seperti itu. Setuju? Budaya Indonesia adalah budaya yang penuh kebersamaan, budaya yang penuh toleransi, budaya yang penuh dengan kegotongroyongan.

Sehingga kembali lagi, keluarga yang penuh kasih sayang menjadi sebuah kunci. Terbiasa dengan toleransi, terbiasa dengan membantu saudara-saudaranya, tetangga-tetangganya, terbiasa dengan saling memaafkan bukan saling mengejek dan menghina. Katanya mengkritisi, alasannya mengkritisi, kritik, enggak bisa membedakan kritik dan menjelekkan, enggak bisa membedakan kritik dan menghina. Kita ini sudah banyak yang lupa mengenai itu. Inilah yang akan membuat apabila keluarga ini dipenuhi dengan rasa kasih, rasa sayang akan membuat bangsa ini damai dan bahagia. Kita meyakini itu, kita harus meyakini itu.

Saya sedih kadang-kadang kalau baca. Saya kan sehari itu dari Bogor ke Jakarta itu satu jam, tengah malam dari Jakarta ke Bogor satu jam. Jadi semua hal ini saya buka semuanya. Kalau di dalam mobil sambil dengerin musik rock saya buka-buka media sosial, media online. Kok isinya seperti ini, sedih saya kadang-kadang.

Dan itu memang hampir semua negara sekarang mengalami sebuah goncangan karena keterbukaan-keterbukaan yang tidak bisa dihambat. Peraturan regulasi belum ada, teknologinya sudah masuk. Inilah fenomena saat ini yang sekali lagi harus kita respons dengan baik. Kita sadarkan pada lingkungan-lingkungan kita sehingga kita sadar semuanya, kembali lagi, betapa pentingnya sebuah kasih dan sayang.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Maka dengan ini resmi saya buka Konsultasi Nasional Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia XIII Tahun 2019.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh.
Om shanti shanti shanti om.
Namo Buddhaya.

Semoga Tuhan memberkati.

Shalom.