Menuju konten

Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia Dengan Kementerian Luar Negeri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati Pak Menko Polhukam, Pak Menko Perekonomian, Ibu Menteri Luar Negeri, Pak Mensesneg.

Bapak/Ibu sekalian seluruh Duta Besar dan peserta Perwakilan Luar Negeri Indonesia,
Tadi sudah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri secara umum dan kita tahu bahwa situasi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian, ekonominya tidak pasti, politiknya semakin tidak pasti. Konflik yang terjadi di negara-negara juga sama, tidak semakin berkurang, tapi juga semakin bertambah.

Kita tahu juga pertumbuhan ekonomi sulit diharapkan untuk tumbuh naik. Terakhir saya bertemu dengan Bank Dunia, dengan IMF, sama saja. Presidennya, Managing director-nya mengatakan supaya hati-hati dalam mengelola ekonomi kita. Tetapi kita harus yakin di tengah situasi yang penuh dengan tantangan tersebut negara kita Indonesia mampu berlayar, tetap berdiri tegak dalam rangka terus memperjuangkan kepentingan nasional kita.

Kita tahu semuanya bahwa Bapak/Ibu semuanya adalah Duta Besar, sebagai duta perdamaian. Ini amanat konstitusi. Saya kira Bapak/Ibu tahu semuanya mengenai ini. Tetapi saya ingin kita semuanya fokus kepada diplomasi ekonomi, saya pengin 70 – 80 persen apa yang kita miliki itu fokusnya di situ, di diplomasi ekonomi karena itu lah yang sekarang ini yang sedang diperlukan negara kita. Oleh sebab itu penting sekali para Duta Besar ini sebagai duta investasi. Yang pertama sebagai duta investasi, tetapi juga harus tahu investasi di bidang apa yang kita perlukan atau menjadi prioritas.

Yang pertama, di bidang-bidang yang berkaitan dengan barang-barang, produk-produk substitusi impor. Kita tahu kalau yang namanya petrochemical itu masih impor, 85 persen itu masih impor. Sehingga kalau kita ingin mendatangkan investasi, cari produk-produk yang  berkaitan dengan barang-barang substitusi impor kita.

Petrokimia, yang berkaitan dengan metanol, misalnya. Atau juga, yang kedua, yang berkaitan dengan energi, karena kita ini masih impor banyak minyak dan gas. Hubungannya ke mana, ya bagaimana agar yang namanya impor energi ini kita bisa turun. Jangan senang kita impor gas terus, atau impor minyak terus. Terus investornya siapa? Ya investornya bisa siapa saja. Investor, misalnya, yang berkaitan dengan batubara. Datangkan investor yang memiliki teknologi yang berkaitan dengan batu bara, karena batu bara itu bisa dirubah menjadi DME (Dimethyl Ether), LPG (Liquid Petroluem Gas). Kita ini impor, LPG kita ini impor semuanya. Sehingga investasi yang berkaitan dengan…, investasi yang berkaitan dengan DME atau LPG ini penting sekali, supaya kita tidak impor gas LPG lagi karena material kita, batu bara ini banyak sekali. Negara-negara yang jago-jago, yang berkaitan dengan ini siapa? Ini yang kita cari.

Investasi yang berkaitan dengan…, ini nanti yang berkaitan dengan minyak lagi, misalnya, dengan merubah minyak kelapa, kopra kita menjadi avtur. Cari investornya. Raw material-nya ada, materialnya ada dan barang ini memang bisa dirubah menjadi avtur, karena avtur kita ini juga impor, banyak sekali. Yang berkaitan dengan B20, B30, B50 atau sampai nanti B100, dari CPO (crude palm oil) dari kelapa sawit. Meskipun para ahli kita, ini yang menemukan, ini mereka, tapi siapa yang berproduksi? Cari investasi di bidang ini, jadi ekspor kita tidak bahan raw material lagi. Sudah enggak jamannya lagi kita ekspor yang namanya batu bara, ekspor yang namanya bahan mentah kopra, ekspor yang namanya CPO, crude palm oil.

Kita pengin ekspor kita dalam bentuk barang-barang minimal setengah jadi atau kalau bisa barang jadi. Sehingga Bapak/Ibu sekalian menjadi duta investasi itu yang diincar mana, yang ditembak mana, itu mengerti.

Kalau kita bisa memproduksi yang namanya B50, posisi tawar kita terhadap semua negara ini akan bisa naik. Uni Eropa mau ban sawit kita, ya kita tenang-tenang saja, kita pakai sendiri saja. Ngapain sih harus diekspor ke sana? Ya strategi ini yang sedang kita bangun, strategi bisnis negara, strategi besar bisnis negara ini sedang kita proses rancang implementasinya agar betul-betul kita tidak ada ketergantungan dengan negara-negara lain.

Kalau itu nanti bisa sampai kita ke B50 dan kita bisa produksi dengan baik, harga sawit ini sekarang sudah naik, lumayan lompatannya, meloncatnya sangat besar sekali. Tapi kalau bisa masuk ke B50 betul-betul kita bisa, kita yang mengendalikan, bukan pasar yang mengendalikan, Sebagai produsen kelapa sawit, produsen CPO yang terbesar di dunia, Indonesia ini. Produksi kita sekarang 46 juta ton per tahun dari lahan 13 juta (hektare). Sudah kita moratorium, sudah. Tiga tahun yang lalu sudah moratorium, setop. Sudah enggak ada lagi pembukaan lahan untuk sawit. Tapi produksi kita sudah 46 juta ton dan target kita 100 juta ton. Artinya apa, per hektarenya kalau sekarang masih 4 ton per hektare, target kita  bisa 7 sampai 8 lebih, ton per hektare. Sehingga bisa naik melompat menjadi 100 juta ton per tahun.

Bargaining kita akan semakin kuat kalau kita bisa menggunakan itu juga di dalam negeri dalam jumlah yang besar, sekaligus ekspor minyak kita menjadi anjlok turun. Goal-nya ke mana? Goal-nya adalah current account deficit kita menjadi plus, tidak negatif. Neraca perdagangan kita menjadi plus, tidak negatif. Goal-nya ke sana. Ya kalau kita, neraca transaksi berjalan kita sudah positif baik, saat itu lah kita betul-betul baru merdeka dengan siapa pun kita berani, karena tidak ada ketergantungan mengenai sisi keuangan, sisi ekonomi. Itu lah target kita dalam 3 – 4 tahun ke depan, arahnya ke sana. Sehingga bantuan dari para Duta Besar mengenai ini, mengenai urusan investasi, sebagai duta investasi sangat penting sekali.

Yang kedua, saudara-saudara. Yang berkaitan dengan duta ekspor. Ini problem kita bertahun-tahun yang tidak bisa merubah defisit neraca perdagangan kita, karena ekspor kita yang berpuluh-puluh tahun kita selalu fokus pada pasar-pasar lama, pasar-pasar tradisional kita dan yang gede-gede. Yang kita urus dari dulu selalu Amerika, selalu Uni Eropa, selalu Tiongkok. Padahal, sekarang yang justru negara-negara yang sedang berkembang, yang pertumbuhan ekonominya, growth-nya di atas 5 persen itu banyak sekali. Memang tidak besar, kecil-kecil, tapi kalau dikumpulkan akan menjadi sebuah jumlah yang sangat besar.

Tadi disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, urusan yang berkaitan dengan negara-negara di Afrika. Banyak yang tumbuh di atas 5 persen. Ini tolong betul-betul dilihat dan diinformasikan. Ada peluang apa, ada opportunity apa di situ. Sehingga di sini mengerti, di sini bisa mengolah. Kementerian luar negeri mendapatkan informasi, diolah di dalam rapat terbatas kemudian kita putuskan siapa yang harus menyelesaikan itu. Barangnya yang dibutuhkan apa.

Intelligent marketing seperti ini yang diperlukan sekarang ini. Sehingga kita bisa masuk ke pasar-pasar Afrika, produk-produk apa yang diperlukan di sana, bisa masuk. Yang saya senang, sebetulnya kalau kita bisa masuk ke pasar-pasar di Afrika itu yang banyak itu produknya usaha kecil – usaha menengah itu bisa masuk ke sana, karena apa, untuk urusan kualitas masih belum memiliki standard yang sangat ketat.

Pasar-pasar di Asia Tengah, Asia Selatan, di Eropa Timur tolong itu betul-betul dilihat, betul. Perintahkan staf-staf yang berkaitan dengan ini untuk melihat, untuk mencari tahu, untuk mencari data. Siapa yang memerlukan, jumlahnya berapa, namanya siapa, semuanya harus teridentifikasi dan kita tahu betul.

Barang-barang kita ini sekarang dibanding dengan barang-barang dari Tiongkok ini banyak yang sudah lebih kompetitif. Banyak sekali yang sudah lebih kompetitif, berani kita berkompetisi dengan mereka, sudah banyak sekali.

Ini jangan sampai kita tidak tahu goal tujuan dari negara ini ke mana. Sehingga tadi saya sampaikan bahwa diplomasi ekonomi kita ini menempati 78 persen, apa yang harus kita pikirkan dan kita curahkan. Sisanya silakan isi dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya, yang berkaitan dengan mungkin pariwisata, dengan diplomasi perdamaian, dengan diplomasi yang berkaitan dengan kedaulatan. Karena yang ke depan, yang ingin kita bangun itu bukan apa-apa, yang ingin kita bangun adalah kepercayaan, yang ingin kita bangun adalah trust. Itu yang ingin kita bangun, yang mahal itu di situ. Dan itu harus terus disuarakan.

Seluruh Duta Besar harus menyuarakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita dalam 15 tahun ke belakang ini diatas 5 (persen) terus, yang negara-negara lain enggak punya, naik-turun naik-turun. Kita ini stabil diatas 5 (persen). Ini modal besar kita.

Inflasi kita sejak 5 tahun kebelakang ini anjlok dari 9 persen, dari 8 persen, sekarang sudah di posisi kurang dan lebih 3 (persen). Ini turun anjlok sekali. Ini juga harus ditata, ini modal kita di situ, dua ini menjadi modal besar kita. Kenapa investasi negara lain menengok kita karena dua hal ini.

Dan mungkin angka-angka yang lainnya, angka kemiskinan, gini ratio. Saya kira bisa juga disampaikan, tetapi dua hal itu jangan kita enggak bisa bercerita mengenai turunnya inflasi, stabilitas growth yang kita miliki.

Sering kita tidak tahu modal dalam membangun, modal besar yang kita pakai untuk membangun dalam trust negara kita. Semua yang datang ke kita itu melihat itu, bukan melihat yang lain-lainnya. Tentu saja stabilitas politik dan ekonomi ini yang menjadi modal besar kita dalam menarik investasi untuk datang ke Indonesia, karena semua negara sekarang ini rebutan hanya satu ini saja, yang berkaitan dengan investasi.

Dan yang terakhir. Saya titip, ini berkaitan dengan inovasi. Inovasi. Jadi lihat negara dimana Bapak/Ibu semuanya bertugas. Ada apa di sana, tolong diinformasikan. Amati, pelajari, karena ini mau kita kembangkan dan kita terapkan. Jadi kita tidak mau memulai sebuah inovasi dari nol, negara lain sudah sampai ke angka 70 kita masih mulai dari nol, kapan kita akan bisa mengejar mereka? Ya kita mulainya dari 70. Informasi 70 itu dari mana? Dari Bapak/Ibu sekalian. Negara lain sudah sampai 70, 70 itu apa sih? Ya caranya mengejar seperti itu, kalau kita mau mulai dari basic-nya ya enggak akan ketemu-ketemu sampai kapan pun. Karena kita ingin amati, pelajari, kembangkan dan langsung terapkan.

Inilah yang kita perlukan. Jadi kalau ada inovasi di sebuah negara ini, misalnya mengenai Amerika ada sesuatu yang baru, apa? Mengenai A.I. (artificial intelligence). A.I. kita belajar belum rampung, sudah keluar yang baru lagi, misalnya, barang ini apa? Informasikan.

Mengenai penemuan-penemuan, misalnya, mengenai cell gas, cell oil. Itu apa, sehingga kita di sini juga bisa mengembangkan dari yang sudah ada karena perkembangannya sangat cepat sekali.

Mengenai virtual reality sudah sampai mana, dan kita harus memulainya dari sebelah mana? Karena perubahan-perubahan seperti ini kalau enggak kita kejar, ya kita betul-betul ditinggal.

Oleh sebab itu, para Duta Besar harus terus mencari peluang-peluang, opportunities, cari terus. Buka jejaring seluas mungkin, networking-nya buka seluas mungkin. Kemudian kenali karakter-karakter pasar. Petakan peluang-peluang itu, informasikan ke kementerian.

Dan saya minta yang terakhir kepada Bu Menteri Luar Negeri ada sebuah KPI (key performance indicators) yang jelas, yang terukur. Prestasi ini dihitung dari mana sih? Harus ada angka-angka, ekspornya naik berapa, misalnya untuk Tiongkok. Ekspornya naik berapa untuk Amerika. Ekspornya naik berapa untuk negara-negara di Afrika, per Duta Besar. Biar jelas yang berprestasi sama yang tidak, yang harus diganti sama yang tidak, itu harus jelas. Nanti kalau ndak, ya kita business as usual saja, enggak akan negara ini maju kalau kita seperti itu.

Ada evaluasinya, mana yang kita koreksi, mana yang harus kita perbaiki baik di sisi dalam negeri, di sisi kita kementerian-kementerian, maupun Duta Besarnya Saya kira kalau kita bekerja dengan cara-cara KPI yang jelas, itu semuanya akan termotivasi, terdorong untuk bekerja secara sungguh-sungguh.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Selamat ber-Raker (rapat kerja), Saya tutup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.