Menuju konten

Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Dan Silaturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro (BWM) Tahun 2019

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, para Menteri yang hadir pada pagi hari ini, Pak Menko Perekonomian, Bu Menteri Keuangan, Bapak Mensesneg;
Yang saya hormati, Gubernur Bank Indonesia beserta seluruh jajaran Bank Indonesia;
Yang saya hormati, Ketua OJK beserta seluruh jajaran Komisioner OJK;
Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota DPR RI yang hadir;
Yang saya hormati, para Gubernur, para Bupati, para Wali Kota/Wakil Wali Kota yang hadir;
Yang saya hormati, Yang Mulia para Kiai, para Pimpinan Bank Wakaf Mikro, Pimpinan pondok pesantren;

Bapak/Ibu sekalian yang berbahagia,
Tadi sudah banyak yang disampaikan oleh Bapak Ketua OJK, Pak Menko Perekonomian, intinya adalah kita ingin mengajak seluruh daerah agar bisa mendorong rakyat kita untuk bisa akses ke keuangan. Harus kita percepat, baik yang pertama urusan menabung, yang kedua urusan mengakses kredit.

Yang pertama, urusan menabung. Ini urusan memang banyak di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendorong anak-anak kita sedini mungkin untuk bisa mengakses ke perbankan kita agar mereka berbondong-bondong belajar menabung. Bisa dari SD, bisa dari SMP, dan juga SMA/SMK. Karena kalau kita lihat, tadi angka literasi keuangan kita masih 35 persen, kurang lebih, angka inklusi keuangan kita juga masih pada angka 75 persen, jadi masih memiliki ruang yang besar, mendorong masyarakat agar bisa mengakses ke keuangan yang kita miliki. 

Pertama menabung, yang kedua urusan kredit. Kita ini sudah memiliki program Bank Wakaf Mikro di pesantren-pesantren, meskipun baru sekarang ini 55 pondok pesantren, tapi insyaallah akan segera kita teruskan agar tambah, tambah, tambah, tambah, tambah, tambah terus. Di depan tadi saya sudah melihat sudah terbentuk kelompok-kelompok usaha yang nanti akan menjadi klaster yang tadi juga saya sampaikan ke Menko Perekonomian agar klaster ini nantinya dipayungi lagi oleh sebuah, kayak di-holding-kan begitu, sehingga nanti kita memiliki korporasi usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro yang bisa gampang mengakses ke marketplace, ke pemasaran, ke marketing baik marketplacenational marketplace maupun di global marketplace.

Di usaha yang mikro dan kecil, kita juga memiliki PNM Mekaar yang sekarang ini jumlahnya sudah 5,9 juta nasabah. Kalau Bank Wakaf Mikro tadi bisa mengambil pinjaman Rp1 juta, Rp2 juta, Rp3 juta. Kalau di PNM Mekaar bisa mengambil kredit pertama Rp2 juta, bisa naik sampai ke Rp10 juta, sudah 5,9 juta nasabah. Ini juga sama, ini ekosistemnya sudah terbentuk, tinggal kita ini membawa bagaimana mereka untuk bisa naik kelas tapi memang itu memerlukan waktu. Hampir tiap minggu, saya selalu lihat perkembangannya seperti apa, apakah tambah atau kurang, apakah ada persoalan di lapangan. Yang saya dapatkan angka-angka adalah sangat alhamdulillah, menggembirakan. 

Kredit macet, yang namanya di Bank Wakaf Mikro, yang namanya di PNM Mekaar, yang namanya di KUR (kredit usaha rakyat) sangat kecil sekali, di bawah 1 persen. Artinya, yang kecil-kecil ini justru memiliki kedisiplinan, memilki kejujuran dan memiliki iktikad, memiliki iktikad yang baik untuk mengembalikan. Nah, ini kalau tidak kita berikan sebuah ruang yang besar untuk bisa kita tambah plafonnya, ya kebangetan kita. Misalnya KUR, KUR itu nanti di tahun 2020 ini target kita Rp190 triliun harus keluar dari perbankan kita untuk usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro. Target yang saya berikan di tahun 2024, Rp325 triliun harus keluar untuk usaha-usaha mikro dan usaha-usaha kecil. Yang di PNM Mekaar juga sama, memang baru Rp32 triliun dari hampir 5,9 juta nasabah, Rp32 triliun tapi juga uang yang sudah gede sekali.

Apa yang kita inginkan? Daerah ikut mendorong membantu masyarakat agar bisa mengakses itu. Buatlah kelompk-kelompok usaha carikan channel ke perbankan, carikan KUR tapi dalam sebuah kelompok-kelompok yang jumlahnya semain besar, semakin baik. Ini tugas daerah. Karena banyak masyarakat kita ini enggak tahu bagaimana cara mengakses ke bank. KUR pun yang sampai Rp50 juta, itu kalau dalam bentuk kelompok, itu tidak memakai agunan. Kalau satu-satu, pasti diminta agunan oleh bank tapi kalau dalam bentuk kelompok, tidak. PNM Mekaar itu juga sama, tidak memakai agunan tapi dalam bentuk kelompok. Bank Wakaf Mikro juga sama, tidak ada agunan karena dalam bentuk kelompok. Inilah tugas kepala daerah, tugas kepala dinas, untuk membangun kelompok-kelompok itu sehingga segera di-channel-kan dengan perbankan agar bisa mengakses kepada yang namanya pembiayaan keuangan.

Karena kita tahu, urusan pembinaan usaha kecil dan mikro, Indonesia itu di masih di ranking keempat di ASEAN tapi sudah lumayan dari 10 negara, kita ranking keempat, masih di bawah Singapura, masih di bawah Malaysia, masih di bawah Thailand. Kita nomor yang keempat. Tapi kalau ini digerakkan dan saya sangat menghargai OJK, Bapak Ketua OJK yang telah membentuk tim percepatan akses keuangan daerah ini, nantinya betul-betul bisa menghasilkan sebuah hal yang konkret sehingga literasi keuangan kita, inklusi keuangan kita bisa persentasenya naik lebih cepat dan lebih tinggi lagi. Saya meyakini, ini nanti mirip-mirip seperti TPID (tim pengendalian inflasi daerah) yang juga dulu inflasi kita 9-8 (persen) kemudian bisa turun menjadi 3,1-3,2 persen, sangat drastis sekali turunnya karena memang efektivitas dari tim yang dibentuk oleh Bank Indonesia ini kelihatan tapi kan, sudah ini waktunya sudah agak lama tapi tim percepatan akses keuangan daerah ini juga kalau kita bisa kelola, kita manage dengan sebuah manajemen yang baik, saya meyakini juga bahwa inklusi keuangan kita, literasi keuangan kita akan bisa meloncat naik sehingga masyarakat mudah untuk mengakses keuangan, baik itu menabung maupun baik itu mencari kredit di lembaga keuangan maupun di perbankan kita.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Kita juga patut bersyukur bahwa ekonomi kita, meskipun tekanan eksternal, tekanan global itu sangat berat sekali, kita masih bisa tumbuh 5 persen lebih sedikit, alhamdulillah ini patut kita syukuri karena banyak negara lain yang dulunya di angka 7 (persen) sekarang sudah masuk ke resesi di angka minus, sudah di bawah nol. Yang dulunya 4 (persen) sudah hampir 0 persen-0,5 persen, ada. Ada yang negara dulu 10 persen sudah turun menjadi 6 persen, saya kira apa yang kita usahakan di negara kita, Indonesia ini masih bisa tumbuh di atas 5 persen lebih sedikit adalah sebuah kerja keras dan hal yang patut kita syukuri bersama.

Terima kasih dan Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah Tahun 2019, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, resmi saya buka.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.