Menuju konten

Pertemuan Dengan Ilmuwan Dan Peneliti Indonesia

Umar Hadi, Duta Besar RI untuk Korea Selatan:
Yang terhormat Bapak Presiden, Bapak Menko Perekonomian, Bapak Menko Maritim dan Investasi , Mensesneg, Ibu Menlu, Bapak Menteri PUPR dan adik-adik, anak-anak peneliti, ilmuwan Indonesia di Korea Selatan.

Syukur alhamdulillah pada pagi hari ini kita bisa berkumpul di ruangan ini bersama Yang Mulia Bapak Presiden. Tentunya ini suatu peristiwa yang luar biasa. Bagi kami, Pak, sebagai Duta Besar Indonesia di Korea Selatan ini, salah satu hal paling penting yang perlu bisa kita ambil dan bawa pulang adalah kultur penelitian dan inovasi Korea Selatan.

Negara ini luar biasa sekali, Pak. Samsung itu jumlah penelitinya 25 ribu orang. LG Group itu jumlah penelitinya 17 ribu orang. Itu menjelaskan daya saing kompetisi dari produk-produk mereka. Karena itu, kami di Kedutaan Besar cukup aktif merangkul anak-anak kita baik mahasiswa maupun yang sudah selesai, karena saya selalu pesan “Kalau sudah selesai Doktornya, jangan langsung buru-buru pulang. Usahakan kerja dulu di sini, di perusahaan-perusahaan di sini supaya ada network, supaya ada tambahan pengalaman dan nanti di Indonesia bisa lebih efektif lagi.”

Syukur alhamdulillah pada pagi hari ini berkumpul 22 anak-anak kita, Pak, 22 orang. Ibu Menlu tadi pagi langsung tanya “Perempuannya berapa?” Alhamdulillah cukup banyak. Sebetulnya jumlahnya lebih, tetapi ini yang kita pilih risetnya. Beberapa minggu yang lalu, kita kumpul, Pak, di wisma dengan anak-anak ini, terus saya bilang “Ini kan Pak Presiden mau datang. Kalau kalian ada ide bagaimana membantu prioritas-prioritas Bapak Presiden, silakan.” Jadi mereka langsung berdiskusi online selama beberapa minggu, dan insyaallah hari ini hasilnya akan disampaikan kepada Bapak Presiden.

Dan tentunya mereka juga mengharapkan motivasi, inspirasi dan arahan dari Bapak Presiden. Jadi untuk cepatnya saya akan mempersilakan koordinator di antara teman-teman ini yang mereka pilih secara demokratis, namanya Mas Gregorius Rio, panggilannya Mas Rio. Ini ahli chemical engineering. Tahun lalu baru wisuda, saya hadir wisudanya Pak. Dua tahun yang lalu, dan dulu waktu dia mahasiswa dia Ketua PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia)-nya di sini, jadi memang aktivis dari dulu.

Jadi, silakan Mas Rio mewakili teman-teman yang lain untuk sedikit memperkenalkan dulu, lalu perkenalkan pikiran yang ingin disampaikan kepada Bapak Presiden.

Silakan.

Gregorius Rionugroho Harvianto:
Assalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Sebelumnya, terima kasih Bapak Presiden, Bapak Dubes, Bapak/Ibu Menteri yang saya hormati. Terima kasih atas segala kesempatannya. Bagi saya sungguh berharga sekali gitu ya, mewakili-teman-teman hebat yang luar biasa jago-jago dalam penelitian, dalam riset dan inovasi.

Sebelumnya perkenalkan, nama Gregorius Rionugroho, saya akrab dipanggil Rio. Asal dari Solo, cuma saya lahir di Jakarta tahun 1991. Saya sekarang bekerja di Busan, di sebuah konsultan chemical engineering untuk refinery, petrokimia dan industri-industri kimia. Jadi kita desain alatnya, desain prosesnya untuk refinery di Korea. Kebanyakan klien kami di Korea dan juga ada beberapa di Indonesia, di Cilegon, minggu depan juga saya akan ke Cilegon untuk bertemu dengan beberapa perusahaan di sana seperti Chandra Asri dan lain-lainnya. Ya itu kira-kira background saya.

Selanjutnya saya akan memperkenalkan Mas Zico, mungkin bisa berdiri, Mas Zico. Ini di UNIST (Ulsan National Institute of Science and Technology) sekarang menempuh postdoc (pascadoktoral). Beliau bekerja di UNIST, jurusannya teknik kimia. Background penelitiannya thermoelectric, konversi panas ke listrik, ya. Terima kasih Mas Zico.

Selanjutnya ada Mas Victor, Mas Victor bisa berdiri. Ya, Mas Victor ini di Ajou University, beliau fokus pada mitigasi bencana alam. Risetnya tentang mitigasi bencana alam, sedang menempuh S-3.

Selanjutnya ada Mas Zeno Rizqy. Mas Zeno Rizqy ini dari Pukyong National University untuk OLED, jadi semiconductor atau semua yang berhubungan dengan device-device electronik, sekarang sedang menempuh S-3 juga, Pak.

Selanjutnya ada Mas Bayu Adi. Mas Bayu Adi postdoc di POSTECH, jadi sudah menyelesaikan S-3nya di Korea. Sudah postdoc dua kali juga, jadi cukup lama di Korea, dan beliau berfokus pada artificial intelligence atau A.I. POSTECH itu di Pohang. Jadi kalau tadi Pohang, ini Busan, Mas Zico Seoul, Victor Seoul, saya Ulsan. Jadi beda-beda ini semuanya. Ya, punyanya Hyundai sama S-Oil. Terima kasih Mas Bayu.

Selanjutnya Mbak Vina dari KAIST, konon katanya ITBnya Korea. KAIST, jadi di Daejeon bidangnya di smart factory. Jadi, industrial engineering di manufaktur fokusnya. Industri 4.0 juga, A.I. juga. Terima kasih Kak Vina.

Selanjutnya Mbak Tere, Ajou University, bidangnya software engineering. Baru saja lulus S-3 kemarin, minggu lalu habis selesai sidang. Selamat Kak Tere. Terima kasih Kak Tere.

Selanjutnya Mbak Ayu, bidang arsitektur dari Yeongnam University. Istri saya, kebetulan istri saya. Jadi penelitiannya tentang tall buildings.  Jadi meneliti tentang tall buildings termasuk di Jakarta, Korea juga, yang menjadi building-bulding tinggi. Terima kasih Kak Ayu.

Mas Havid, lulusan Kookmin University. Sekarang sedang postdoc di UNIST, satu kota sama saya di Ulsan National Institute of Science and Technology. Beliau meneliti tentang energi terbarukan, solar cell. Quantum doc, pokoknya impact factornya tinggi banget, Pak, ini. Jago banget, untuk menulis paper jago banget.

Selanjutnya Mbak Cindy, Cindy Pricilia. S-1, S-2, S-3 di KAIST Daejeon. Luar biasa. Sekarang meneliti teknik kimia juga, meneliti microorganism metabolism. Untuk rekayasa produksi obat-obatan. Terima kasih Mbak Cindy.

Selanjutnya Mas Ade, dosen Universitas Brawijaya, sekarang ada di Geoje. Di kawasan yang dekat dengan Daewoo ya, Daewoo Geoje, DSME (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering). Nah, beliau di UST untuk produksi material baru, urusan nanotechnology dan obat-obatan juga Mas ya. Ya, terima kasih Mas Ade.

Selanjutnya Mas Romel. Beliau dari Sejong University, atomic layer deposition ini mengenai penelitiannya. Ini berat banget karena beliau juga sedang mengerjakan project confidential dengan salah satu perusahaan di Korea untuk pengembangan di semiconductor. Produk-produk elektroniknya itu termasuk salah satunya, masih confidential katanya. Terima kasih Mas Romel.

Selanjutnya Mas Teguh, peneliti BPPT yang sekarang sedang menempuh S-3 di Pukyong University, berhubungan dengan pertahanan dan keamanan laut, kemaritiman. Terima kasih Mas Teguh.

Selanjutnya Mas Gabriel. Mas Gabriel ini bekerja di Seafood Research Center. Setelah menyelesaikan S-3nya beliau lanjut bekerja di Seafood Research Center, di bidang perikanan, budidaya perikanan, termasuk untuk produksi pangan, kosmetik dan farmasi. Terima kasih Mas Gabriel.

Selanjutnya Mas Vega Perdana Rachim, sekarang postdoc di POSTECH juga, di Pohang juga. Beliau fokus pada helpcare system untuk device-device portabel yang bisa dipakai di pelosok, di daerah, bisa dibawa ke mana-mana. Helpcare system, basicnya elektro.

Selanjutnya, teman saya yang sama-sama kerja di perusahaan Korea. Mas Aldias. Mas Aldias kerja di Daewoo, di DSME. Beliau fokus di desain-desain kapal dengan menggunakan simulasi, dengan menggunakan pendekatan simulasi 3D gitu ya, kurang lebih.

Umar Hadi, Duta Besar RI untuk Korea Selatan:
DSME itu yang bikin kapal selam kita, yang bekerja sama dengan PT PAL kemarin.

Gregorius Rionugroho Harvianto:
Yang saya ingat juga, Bapak, 5 tahun yang lalu sempat ke sana. Mas Aldias terima kasih.

Selanjutnya Mbak Yuli dari Kwangwoon University. Beliau meneliti S-3 di Kwangwoon University, fokusnya ke device-device juga menggunakan deep learning machine, ya basicnya deep learning algorithm. Algoritma-algoritma, seperti itu. Terima kasih Mbak yuli.

Selanjutnya Mbak Deviana dari UST (University of Science and Technology). Beliau fokus pada pengembangan katalis. Iron catalyst di UST untuk produk-produk seperti bensin, diesel, dan jet fuel. Begitu, yang kurang lebihnya. Terima kasih.

Selanjutanya Mas Kodir dari UST, Mas Kodir dari UST berfokus pada kendaraan bertenaga listrik, Bapak. Di Korea kita tahu sudah banyak sekali, sekarang sudah gencar kendaraan-kendaraan berbasis tenaga listrik. Beliau juga fokus di sana termasuk di busnya, device-device di busnya melalui membrane fuel cell.

Selanjutnya Mas Thomhert, beliau ahlinya I.T. di Korea kalau kita bisa bilang. Beliau juga punya startup, sedang merintis startup juga. Beliau sedang meneliti di UST, fokusnya pada deep learning machine juga untuk atribut-atribut device yang melekat pada smart city design over 5G network. Yaitu smart city menggunakan jaringan 5G. Terima kasih Mas Thomhert.

Selanjutnya Mas Rohib, dosen dari Institut Teknologi Kalimantan, ITK. Beliau sekarang di UST untuk menempuh S-3 untuk mobil fuel cell juga. Jadi berat-berat kayaknya penelitiannya.

Dan Mbak Astrid, yang terakhir. Mbak Astrid dari UST juga. ETRI (Electronic Telecommunication Research Institute) untuk artifial intelligence juga, A.I. juga di video CCTV, robot, drone, kamera dan lain-lainnya.

Umar Hadi, Duta Besar RI untuk Korea Selatan:
Tahun lalu Astrid ikut menari di depan Presiden.

Gregorius Rionugroho Harvianto:
Iya, penari juga. Penari KBRI, KPPI.

Itu kurang lebih perkenalan dari kami, saya sendiri juga sangat amazed, bingung, menghafal satu-satu penelitiannya luar bisa bagus-bagus terutama. Ya untuk kesempatan kali ini juga kami sangat berterima kasih kepada Pak Dubes bisa diberikan kesempatan dan bisa diberikan waktu untuk menyampaikan gagasan-gagasan kami.

Jadi gagasan kami ini, yang telah kami susun, kami coba beri judul “Korea Selatan Sebagai Inspirasi Percepatan Kemajuan Riset Dan Inovasi Di Indonesia”. Kami tahu program visi-misi dari Bapak Presiden juga salah satunya tentang riset dan inovasi yang unggul di Indonesia untuk Indonesia Maju.

Maka dari itu kami merekomendasikan beberapa gagasan, di mana gagasan-gagasan ini bersumber dari pengalaman kami menjalani riset di sini. Jadi pengalaman-pengalaman nyata kami, pengalaman kami meneliti, susah-senangnya kami, kami share di sini.

Ada beberapa ide yang kami rasa bisa membantu pemerintah Republik Indonesia saat ini untuk dalam menurunkan program-program teknisnya, karena kita melihat sendiri kalau di Korea, Bapak, R&D(research and development)-nya itu mengeluarkan dananya sangat besar, 4,46 persen dari GDPnya Korea. Peringkat dua setahu saya, di dunia. Sedangkan Indonesia masih 0,26 persen, data 2016 terakhir yang kita tahu. Namun saya juga tertarik dengan komentar Pak Presiden, saat itu pernah berkata “Dana riset kita sudah besar, tapi hasilnya mana?” Saya pernah baca berita di sana seperti itu, kurang lebih. Ini menarik juga, memang dana kita kalau ukuran secara dibandingkan GDP mungkin masih kecil tetapi secara kuantitas sebenarnya sudah besar.

Maka dari itu kami menyampaikan gagasan kami, bagaimana menggunakan anggaran ini lebih efektif dan lebih efisien untuk strategi riset inovasi kita, yang kita kasih judul “Strategi Riset Dan Inovasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Jadi kami melihat ini sebuah visi yang  jangka panjang bukan hanya jangka 5 tahun ke depan.

Yang pertama, banyak dari kami yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan S-2, S-3 di UST, University of Science and Technology. Nah, UST ini merekrut lulusan-lulusan S-1 baik itu dari Korea maupun dari luar negeri, termasuk dari kita-kita yang di Indonesia ini untuk menempuh studi S-2 dan S-3. Mereka ditempatkan bukan di universitas lo, tetapi mereka lebih ditempatkan di lembaga-lembaga penelitian.

Jadi, misalkan mereka hanya punya satu gedung, gedung administrasi, tapi peneliti-penelitinya ini ditempatkan di berbagai institusi riset. Contoh, kalau kita gambarkan di Indonesia, misalkan kita bangun yang namanya Universitas Riset Indonesia, URI. Jadi, kalau kita bangun satu gedung di Jakarta, misalkan, kita buat sebagai gedung administrasi. Nanti mereka-mereka peneliti ini kita tempatkan di LIPI, peneliti-peneliti ini kita tempatkan di BPPT, BMKG, BATAN, di lembaga-lembaga riset lainnya yang ada di Indonesia. Mereka menjalani studi S-2 dan S-3 di sana. Jadi BATAN ini kita jadikan sekolah nuklir, departemen nuklir, misalkan, nuclear engineering misalkan. Atau BATAN kita jadikan departemen aerospace, misalnya. Atau BMKG kita jadikan departemen earth science.

Jadi kalau di Korea, sistem itu berjalan dengan baik, menghasilkan lulusan secara cepat. Ini menjadi poin kita kenapa kita cukup sepakat kemarin, satu kata, Indonesia harus punya yang seperti ini, Universitas Riset Indonesia. Karena kita menambah jumlah peneliti Indonesia dalam waktu yang singkat, dalam waktu yang relatif singkat. Kita ke depan akan menghadapi bonus demografi yang baik, menghadapi globalisasi. Jadi kita merasa kita butuh sejumlah peneliti dalam waktu singkat. UST ini, atau URI ini jadi salah satu jalan yang baik untuk kita tempuh, seperti itu. Karena lulusan UST sendiri, juga kita ketahui, mereka bisa menghasilkan impact factor 3,86. Dua patent dan dua paper setiap lulusannya, setelah saat lulus. Jadi ini sebuah angka yang bukan kecil gitu buat kita. Setiap lulusan dua patent, dua paper.

Mengenai teknisnya, kita melihat dana LPDP yang ada sekarang itu kan dananya cukup besar. Kita melihat justru dana LPDP ini sebaiknya diputar (dananya) di dalam negeri. Ketika mereka ini, mahasiswa S-2, S-3 diberikan beasiswa di URI tadi, mereka akan berstudi dan menjalani riset di dalam negeri. Jadi dana LPDP kita justru banyak di dalam negerinya dibandingkan ke luar negeri yang kita putar dananya ke sana.

Jadi kita melihat ini salah satu strategi supaya bagaimana dana LPDP kita lebih maksimal. Karena sering juga banyak pertanyaan, kita mengeluarkan beasiswa LPDP banyak ke Amerika, ke Eropa tapi hasil outputnya mana? Itu sering menjadi isu hot di antara mahasiswa. LPDP ini kalau kita berikan ke dalam negeri, itu menjadi sangat baik. Itu yang kita pikirkan bersama.

Kemudian yang kedua, kami melihat perlunya percepatan riset dan inovasi di industri, bukan hanya di lingkungan kampus. Karena kalau kampus sudah pasti penelitian itu menjadi salah satu tridharma perguruan tinggi, pasti mereka riset. Di lembaga riset, pasti meriset.

Kita melihat di korea ini industrinya, seperti Pak Dubes bilang, Samsung punya sekian, LG punya sekian besarnya. Ini kita melihat, ini juga salah satunya didorong oleh KOITA (Korea Industrial Tecnology Association). Jadi, buat kita-kita yang bekerja di industri, kita sangat merasakan dampak dukungan dari KOITA ini untuk percepatan R&Dnya, Bapak. Seperti misalkan, buat kita, kalau perusahaan mempekerjakan lulusan S-3, pemerintah itu ngasih insentif. Pemerintah itu ngasih support dana untuk salarynya, untuk gajinya karena mempekerjakan S-3.

Nah, jadi KOITA ini didirikan tahun 1979. Korea sudah melihat bahwa teknologi ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional sejak tahun 1979. Mereka memastikan R&D-R&D perusahaan ini, ada 40 ribu perusahaan yang tergabung dalam KOITA ini, R&Dnya harus bergerak, harus menghasilkan patent, harus menghasilkan inovasi, didukung dan dijaga sistemnya. Dikasih sertifikasinya berbagai level, setahu saya ada 5 level. Level 1 itu masih awal, level 2 nambah lagi stepnya, sampai level yang paling advance, bahwa itu mereka sudah punya patent banyak, mereka sudah punya teknologi banyak. Jumlah peneliti S-2, S-3 banyak di dalam. Juga, mereka ngasih award, Bapak. Technology Award, R&D Engineer Award untuk para peneliti-peneliti di industrinya. Jadi selain insentif berupa uang, juga berupa penghargaan kepada R&D-R&Dnya.

Ini yang kita lihat bahwa akhirnya menumbuhkan iklim riset dan inovasi di industri tadi. Ini kenapa kita merasa bahwa pemerintah harus mewajibkan R&D-R&D ini, karena kita bakal punya universitas tadi, bakal punya lulusan S-2, S-3 yang banyak, nah lulusan ini ke mana? Ya ke industri tadi, industri-industri manufaktur ini bisa bergerak menghasilkan produk-produk yang berkualitas. Kita tahu produk Korea sekarang sudah sangat banyak di dunia, termasuk di Indonesia, begitu Bapak.

Jadi, nomor 2 kita lebih ke sana. Karena kita melihat ini bisa menjadi turunan dari PP Nomor 45 Tahun 2019, Peraturan Pemerintah Indonesia Tentang Pemberian Insentif Pajak Terkait Riset Dan Inovasi. Kemarin kita juga sempat belajar itu, salah satunya ini juga menurut kami bisa menjadi turunan-turunan programnya di sana.

Itu yang kedua. Oh ya, jadi, kalau kita melihat, Bapak, daripada kita menambah nomenklatur karena kan kita lihat pemerintahan kita ingin sederhana, ingin simpel. Kita melihat ini bagus sekali kalau ini menjadi salah satu program dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang dipimpin oleh Bapak Prof. Bambang Brodjonegoro. Jadi kita melihat optimalisasi BRIN saja, tanpa kita membentuk nomenklatur asosiasi baru seperti KOITA tadi. Kita melihat ini sebagai salah satu program di BRIN sepertinya sudah cukup baik.

Yang ketiga, kita kasih sebutan “Revolusi Konsep Triple Helix Untuk SDM Indonesia Unggul”. Jadi kalau triple helix, antara pemerintah, peneliti akademisi dan industri. Nah, revolusi konsep triple helix ini menjadi turunan-turunan dari Perpres Nomor 38 Tahun 2018 Tentang Rencana Induk Riset Nasional, juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Kita melihat ini menjadi program-program turunannya, seperti: Satu, pemerintah mewajibkan industri untuk memiliki R&D, karena Korea sendiri tercatat di peringkat pertama untuk jumlah peneliti di industri, 1:155 penduduk. Dibandingkan Indonesia yang di peringkat 19, dengan jumlah 1 orang per 11.000 orang (penduduk). Masih jauh sekali kalau kita dibandingkan dengan Korea.

Kedua, sesuai dengan Undang-Undang juga, kita perlu membentuk lembaga pengelola dana riset dan inovasi. Kita tahu, Bapak/Ibu, bahwa ada LPDP yang sekarang juga ada program RISPRO (Riset Inovatif Produktif), namun kita rasa ini masih kurang cukup untuk mendukung riset inovasi karena lembaga pengelola dana pendidikan memang lebih baik untuk fokus di pendidikan. Tapi ada lembaga pengelola sendiri, dana riset dan inovasi, yang memang ini untuk support di industri-industri, R&D-R&D di universitas maupun di industri tadi. Sehingga dananya, birokrasi yang berbelit-belit itu bisa kita putuskan. Jadi dananya bisa kita dapat dari lembaga pengelola dana riset dan inovasi ini. Karena, seperti LPDP, juga dananya tidak susah gitu kan kalau kita lihat, teman-teman.

Selanjutnya universitas melakukan rekrutmen dosen yang memiliki pengalaman profesional atau industri, minimal 10 tahun. Dosen-dosen karier ini bekerja untuk fokus mendekatkan kampus dengan industri. Fokusnya lebih banyak ke arah industri dibandingkan ke arah akademis. Jadi ada 1 dosen khusus, dosen karier khusus.

Ada lagi yang lain, dapat dibentuk badan internal baru di kampus dan penambahan fungsi LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) untuk pengelolaan mitra industri lokal. Jadi kampus-kampus yang ada di daerah, mereka mempunyai mitra industri lokal. Jadi, industri-industri lokal juga digiatkan.

Selanjutnya yang terakhir. Pemerintah mewajibkan dosen untuk mengusulkan minimal satu penelitian yang berkolaborasi dengan industri, Bapak. Kita lihat, di Korea, banyak sekali mereka melakukan kolaborasi dan didukung oleh pemerintahnya, dikasih support, dikasih pendanaan untuk bisa presentasi, conference. Tapi mereka wajib berkolaborasi antara industri sama akademisinya tadi. Juga, dikasih insentif pajak juga industri yang nulis paper. Karena buat industri, nulis paper itu mereka enggak tertarik, tetapi di dunia akademisi sangat penting. Jadi bagaimana mereka bisa berkolaborasi.

Maka kalau rekomendasi ini benar-benar bisa dilaksanakan ya, Bapak, kira-kira, kita melihat bahwa sistem rekrut ilmuwan indonesia dari dini bisa segera terjadi. Mereka tadi dari S-2, S-3 sudah awal langsung ada. Penyelarasan ilmu terapan dan inovasi hilir, ilmu terapan dan inovasi hilir yang kita lihat sudah bagus di Korea. Kemudian inkubasi bisnis baru bagi industri-industri kecil dan menengah. Dan produk-produk yang kompetitif dari industri-industri besar yang sudah di Indonesia sekarang, kita tahu banyak perusahaan besar.

Maka dari itu kami sekarang mendeklarasikan Asosiasi Peneliti Indonesia di Korea, Bapak/Ibu, jadi kita butuh wadah, kita butuh jaringan untuk berkomunikasi langsung karena kita melihat kita perlu iklim riset yang kuat di Indonesia supaya produk inovasi kita juga bisa bermanfaat untuk masyarakat.

 Itu kurang lebihnya dari saya, terima kasih banyak atas perhatiannya.

Terima kasih sekali lagi.

Umar Hadi, Duta Besar RI untuk Korea Selatan:
Terima kasih Mas Rio.
Bapak Presiden, silakan langsung saja.

Presiden RI:
Bismillahirahmanirrahim.

Assalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menko, Menteri, Pak Dubes, serta saudraa-saudara sekalian seluruh peneliti yang sekarang masih berada di Korea Selatan, saya tadi mendengarkan bidang-bidang yang digeluti bermacam-macam. Ada A.I., ada helpcare system, ada biodiesel, energy, biofuel, green fuel, kemaritiman, ada perikanan tadi. Apalagi? Dan yang lain-lain yang tidak bisa saya ulang lagi.

Yang pertama, saya sangat senang sekali tadi mendapatkan masukan dari Mas Rio. Ini adalah masukan-masukan segar yang saya terima, yang saya kira bisa menginspirasi pemerintah dalam rangka membangun sebuah rumah besar riset indonesia yang sekarang sudah kita bentuk yang namanya Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Ini baru awal karena memang mimpi kita semua yang namanya balai penelitian, lembaga-lembaga penelitian kita, semuanya masuk ke dalam rumah besar itu. Karena apa? Sekarang ini kan berdiri sendiri-sendiri itu, meskipun memang anggarannya belum banyak tapi menurut saya sudah banyak. Saya lihat setiap kementerian ada Rp800 miliar, ada Rp700 miliar, setelah saya gabungkan semuanya jadi angkanya itu Rp26 triliun. Kalau menurut saya itu sudah gede banget, meskipun belum segede yang tadi disampaikan, disini 4,2 persen dari GDP kita. Memang belum. Tetapi kalau yang Rp26 triliun ini sudah benar, jalannya sudah benar, kemudian hasilnya juga ada, yang saya tagih itu hasilnya dong. “Mana Rp26 triliun hasilnya?” Saya gitukan.

Kalau benar sudah berhasil, sudah bagus dan betul-betul bermanfaat untuk rakyat, untuk industri, untuk desa, untuk petani/nelayan ya baru… Kita memang belum masuk ke sana. Konsentrasi kita, misalnya, lima tahun yang kemarin memang kita baru fokus kepada infrastruktur. Kemudian lima tahun ke depan kita masih konsentrasi lagi ke sumber daya manusia. Tetapi lima tahun depannya lagi mestinya kita sudah masuk ke yang namanya riset dan inovasi itu menjadi sebuah prioritas besar bangsa kita.

Masuknya memang tahapan-tahapan besar seperti itu, kita tidak ingin semuanya, pikiran kita, semuanya kita kerjain dan enggak ada hasilnya semuanya. Jadi pemerintah sekarang ini ingin bekerjanya yang fokus, fokus, gampang dikontrol, gampang dicek, gampang diawasi sehingga tidak semuanya. Memang ini baru menata untuk riset dan inovasi.

Saya juga kemarin sudah saya sampaikan ke perancang ibu kota baru Indonesia. Kita ingin juga ingin disitu nanti ada klaster besar, karena ini ada klaster pemerintahan, ada klaster pendidikan yang di situ ada universitas-universitas yang kita ingin kelas-kelas dunia, ada disitu. Tapi juga ada klaster besar yang berkaitan dengan riset dan inovasi. Gede banget, Saya enggak tahu nanti perisetnya nanti ada berapa puluh ribu, tapi saya ingin gede banget. Saya sudah bayangin, karena memang sudah kita siapkan lahan di ibu kota yang baru.

Dan kita ingin kalau sudah masuk ke sana, artinya memang harus dibelokkan. Yang dulu anggarannya banyak di infrastruktur, mulai digeser masuk ke riset dan inovasi. Inilah saya kira mimpi besar kita dalam hal terkait riset dan inovasi. Kita tahu juga sudah masuk misalnya masuk ke B20, sebentar lagi masuk B30. Ini betul-betul sangat mengurangi impor minyak kita dan ketergantungan kita pada pasar ekspor.

Di dalam negeri saja, kalau kita bisa gunakan dengan baik. Saya kira ke depan kalau kita mau berbelok dari… ada transformasi ekonomi, ada transformasi teknologi, saya kira bahan-bahan mentah kita enggak perlu kita ekspor. Batubara bisa gasifikasi ke LPG, bisa masuk ke bahan-bahan pembuat kain, kemudian batubara untuk petrochemical.

Banyak sekali larinya, atau misalnya nikel, kobalt kita dibuat untuk lithium battery yang nanti bisa untuk membangun mobil-mobil listrik. Saya kira negara kita ini memang terlalu banyak sekali barang-barang yang bisa dirubah, dari yang dulunya diekspor bahan mentah menjadi barang-barang jadi atau setengah jadi. Itu strategi bisnis. Negara menjadi ada added valuenya, ada nilai tambah yang bermanfaat bagi rakyat. Dan kita harus optimis, bahwa itu bisa kita kerjakan dengan baik.

Saya kalau ketemu peneliti-peneliti muda yang sudah Doktor ini memberikan dorongan semangat yang sangat besar bagi kita untuk membayangkan kalau apa yang dikalkulkasi oleh Bank Dunia, oleh IMF, oleh McKinsey, oleh Bappenas, oleh kita sendiri sudah kita hitung bahwa Indonesia Emas 2045 betul-betul kita masuk ke empat besar negara ekonomi terkuat di dunia.

Saya meyakini itu akan, insyaallah, akan sampai pada titik itu. Dengan GDP nominal, GDP PPP kita nomor 4. Perkiraan nanti income per capita kita sudah mencapai USD23 ribu sampai USD29 ribu per tahun. Kalau sekarang UMK kita baru Rp2-3 juta, nantinya sudah ada pada angka Rp27 juta per bulan, kira-kira. Ini lompatan yang sangat besar sekali dan itu akan terjadi kalau step-step besar, pekerjaan-pekerjaan besar di negara kita ini kita lalui dengan tahapan-tahapan yang benar tanpa terganggu oleh misalnya turbulensi politik. Sehingga kalau stabilitas politik, stabilitas keamanan itu ada seperti ini terus, insyaallah hitung-hitungan itu tidak akan meleset, karena yang menghitung bukan saya pribadi.

Tentu saja tantangan–tantangan juga sangat besar sekali dan sekarang ini kita perlu tahapan membangun sebuah trust dari negara-negara lain yang ingin kita tunjukkan meskipun ekonomi dunia babak belur semuanya, kita masih bisa bertahan di angka pertumbuhan ekonomi, growth kita, masih di atas lima persen. Ini patut kita syukuri, alhamdulillah. Dan kalau angka itu terus bisa kita pertahankan, kepercayaan negara lain bisa benar-benar melihat kita, mengalkulasi kita, dan timbul trust. Itulah yang kita tunggu-tunggu sebetulnya, hingga arus modal mengalir, arus FDI/foreign direct investment juga mengalir.

Ya itulah nanti yang kita harapkan bisa mempercepat, bukan 2045, tapi bisa maju lebih depan lagi, kita masuk ke empat besar ekonomi terkuat di dunia. Saya meyakini dengan apa yang ada di hadapan saya sekarang ini, saudara-saudara semuanya ini akan menjadi sebuah kepemimpinan, pemimpin-pemimpin bukan hanya di bidang riset, mungkin nanti akan muncul industri-industri yang sekarang kita enggak bisa tebak apa tetapi akan muncul, dan munculnya itu dari periset-periset yang sekarang ini… ya enggak apa-apa, sekarang ini di sini dulu enggak apa-apa. Melihat, mengamati kemudian pada titik tertentu memang nantinya semuanya harus pulang kembali membangun negara kita.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Umar Hadi, Duta Besar RI untuk Korea Selatan:
Terima kasih Bapak Presiden.
Saya kira sudah pada siap untuk mengisi yang di Kalimantan Timur nanti Pak.

Silakan Mas Rio kalau mau sampaikan rekomendasinya secara fisik kepada Bapak Presiden.

Terima kasih Bapak Presiden, dan adik-adik, teman-teman. Kita akhiri acara pagi hari ini, karena Bapak Presiden hari ini berangkaian acaranya yang berturut-turut, cukup padat sampai malam. Tapi syukur alhamdulillah, niat kita sudah tersampaikan.

Dengan demikian Bapak Presiden, mohon ijin, kami tutup acara pagi ini. Selanjutnya kita foto-foto bersama.

Wassalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh.