Menuju konten

Pertemuan Dengan Wartawan Kepresidenan

Presiden RI :
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kemarin telah dilakukan pelantikan. Saya minta kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pelantikan kemarin dan yang berkaitan dengan menteri-menteri yang dilantik, itu saja. Sore hari ini saya mengundang teman-teman, silakan.

Wartawan:
Pak Presiden…

Menteri Sekretaris Negara:
Wah, banyak. Saya pikir enggak ada yang nanya.

Presiden RI:
Silakan.

Wartawan:
Assalamualaikum, Pak.
Mungkin yang pertama, pascapelantikan kemarin, Pak. Kiranya ada 2 menteri, Mendikbud dan Menteri Agama. Pak Nadiem Makarim dan Pak Fachrul Razi. Mungkin kami bisa tahu, alasan pemilihan Nadiem sebagai Mendikbud dan Pak Fachrul Razi sebagai Menteri Agama yang memiliki latar belakang TNI?

Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Ya. Yang pertama, Mendikbud. Kita ini memiliki 17 ribu pulau, 514 kabupaten/kota yang tersebar. Jadi sekolah-sekolah yang ada, baik dari TK, SD, SMP, SMA, universitas itu tersebar di pulau-pulau dan di kabupaten/kota yang ada. Ada kurang lebih 300-an ribu sekolah dengan kurang lebih 50-an juta pelajar-pelajar kita.

Bayangkan mengelola sekolah, mengelola pelajar, memanajemeni guru yang sebanyak itu dan dituntut oleh sebuah standar yang sama. Nah, kita diberi peluang, telah ada yang namanya teknologi, yang namanya aplikasi sistem, yang bisa mempermudah dan bisa membuat lompatan, membuat loncatan, sehingga hal-hal yang dulu dirasa tidak mungkin, sekarang menjadi mungkin. Oleh sebab itu, kenapa dipilih Mas Nadiem Makarim.

Beliau sudah bercerita melalui saya, yang akan dikerjakan itu apa. Sehingga kita harapkan lompatan kualitas sumber daya manusia kita, kualitas SDM kita, nanti betul-betul akan bisa terjadi. Ada peluang besar, ada terobosan besar untuk melakukan itu. Itu kira-kira apa, kurang lebihnya.

Wamen (wakil menteri) kalau diperlukan ya akan diberi, kalau diperlukan. Kalau itu memberikan dukungan agar kerja besar, sekali lagi ini kita mengelola sebuah negara yang besar. Jadi kalau ada wamennya dan itu memang memberikan dukungan, ya enggak apa-apa kita beri wamen.

Yang kedua ya, pertanyaan mengenai Menteri Agama. Sejarah juga telah ada Menteri Agama dari TNI. Dan kedua, kita ingin yang berkaitan dengan radikalisme, yang berkaitan dengan intoleransi, itu betul-betul secara konkret bisa dilakukan oleh Kementerian Agama. Tapi termasuk di dalamnya adalah nanti perbaikan kualitas layanan haji. Itu akan tetap dikerjakan oleh Pak Menteri Agama.

Jadi, ke depan kita harapkan nanti Pak Menteri Agama bisa berbicara banyak mengenai yang berkaitan dengan perdamaian, yang berkaitan dengan toleransi. Beliau memiliki pengalaman di lapangan yang panjang, dan saya kira pendekatannya adalah pendekatan lunak yang baik, ya.

Mengenai juga di Kementerian Agama apakah dibutuhkan wamen atau tidak, ya kalau itu memperlancar tugas-tugas menteri akan kita beri. Kalau enggak, ya enggak.

Wartawan:
Pak, terkait wamen apakah sudah didiskusikan dengan menteri-menteri yang terkait tadi? Atau sudah ada keputusan pelantikan wamen kapan, Pak?

Apakah Bapak juga akan seperti kemarin, memanggil satu per satu wamen-wamen atau sudah ada nama-namanya?

Kemudian apakah wamen ini ada masukan dari partai politik atau nantinya dipilih dari profesional? Karena sempat dari Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa dia meminta 3 wakil menteri ini jadi masukan atau pertimbangan? Dan kriteria wamen ini apa saja sebenarnya, Pak?

Selanjutnya Pak, saya juga ingin tahu Pak, kalau memang nanti ada pelantikan wamen, konsepnya akan diambil seperti kemarin kah dengan duduk di tangga atau ada sesuatu hal lain, Pak? Jadi cukup menarik saya melihat di publik pun, saya pribadi ketika melihat berbeda dengan 2014 sama yang 2019 begitu. Kalau saya pribadi melihatnya, apakah di tangga ini karena menuju untuk ke atas bersama seperti Kabinet Indonesia Maju begitu? Ada artinya tidak sih Pak, kalau kemarin Pak, yang di tangga itu?

Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Tadi mengenai wamen, jadi sebetulnya juga sudah selesai wamen juga. Ada yang dari partai, ada juga yang dari profesional. Kemudian kita harapkan sekali lagi bahwa wamen ini betul-betul membantu menterinya. Saya berikan contoh, misalnya di BUMN. Kalau memang menterinya membutuhkan wakil menteri sampai tiga dan itu diperlukan, kita tahu BUMN kita ada berapa? 140-an BUMN, 140-an perusahaan. Jadi kalau mengelola perusahaan sebanyak itu, perlu pengawasan, perlu dikontrol, perlu dicek. Kalau memang diperlukan itu, yang paling penting betul-betul wamen itu berfungsi betul, membantu para menteri.

Kita harapkan sore hari ini sudah final semuanya dan segera dilantik. Secepatnya akan kita lantik.

Wartawan:
Jumlahnya berapa, Pak?

Presiden RI:
Jumlahnya, waduh belum ngehitung. Finalisasinya kira-kira malam ini.

Yang paling penting sekali lagi, setiap wamen harus memiliki kompetensi yang mendukung kerja para menteri. Karena dari proses revaluasi yang terakhir kita tahu, misalnya BUMN itu sudah memiliki aset kurang lebih Rp8.400-an triliun. Saya sudah pesan kepada Menteri BUMN agar ini dikelola dengan manajemen korporasi tetapi orientasinya adalah tetap untuk kepentingan rakyat, bukan hanya melulu keuntungan tapi untuk rakyat, untuk negara.

Menteri Sekretaris Negara:
Di tangga lagi apa enggak? Ada usulan?

Wartawan:
Kenapa waktu pelantikan di tangga?

Presiden RI:
Oh, ya karena tidak berdiri.

Menteri Sekretaris Negara:
Masa di tangga pakai kursi.

Presiden RI:
Enggaklah, saya kira memang duduk itu memfilosofikan rendah hati, merakyat, tapi tetap harus bekerja keras dalam keadaan, kondisi panas yang luar biasa. Bisa saja dikenalkan di dalam ruangan AC, sejuk, tetapi memang kita ingin keterbukaan.

Wartawan:
Saya Friski dari Tempo. Sebenarnya apa alasan Bapak memilih Pak Terawan sebagai Menkes? Padahal kan beliau masih ada masalah kode etik di masa lalu yang belum selesai. Terus rekam jejak apa sih yang membuat Pak Jokowi mau memilih Pak Terawan?

Lalu yang kedua, Jaksa Agung Pak ST Burhanuddin ini memiliki kedekatan dengan Pak TB Hasanuddin, politikus PDIP. Apakah ini karena kedekatan itu lalu apa alasan Bapak memilih Pak Burhanuddin sebagai Jaksa Agung?

Presiden RI:
Yang pertama mengenai Menteri Kesehatan. Menteri ini titik beratnya lebih kepada pengelolaan, lebih pada manajemen. Baik itu manajemen anggaran, baik itu manajemen personalianya yang ada di Kementerian Kesehatan, baik manajemen mendistribusikan anggaran agar betul-betul bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sehingga menterinya harus memiliki pengalaman manajemen yang baik.

Saya melihat dr. Terawan dalam mengelola RSPAD memiliki kemampuan. Yang kedua, beliau juga ketua dokter militer dunia, ICMM (International Committee on Military Medicine). Artinya apa? Pengalaman beliau, track record beliau tidak diragukan. Juga termasuk pengalaman di lapangan dalam menghadapi bencana dan ancaman-ancaman endemik karena kita ini selalu berada pada posisi bencana dan ancaman endemik itu di Indonesia masih ada.

Dan yang saya lihat waktu beberapa kali saya undang, orientasinya adalah preventif. Itu yang akan lebih dititikberatkan. Artinya, yang berkaitan dengan pola hidup sehat, pola makan yang sehat, olahraga yang sehat, bukan titik beratnya pada mengurusi yang telah sakit. Membuat rakyat kita sehat. Saya kira itu, ya.

Yang Jaksa Agung. Jaksa Agung kita melihat juga pertama, memang dibutuhkan orang yang dari internal, biar bisa memahami hal-hal yang ada di internal Kejaksaan Agung. Kemudian Pak Jaksa Agung juga saat bertemu dengan saya menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan proses-proses perbaikan di internal dan juga yang berkaitan dengan pencegahan-pencegahan korupsi. Saya kira itu yang saya sangat tertarik. Bahwa seseorang itu saudaranya dari partai, saya kira kita tidak boleh melihat itu. Saya menjamin Pak Jaksa Agung akan profesional dalam menjalankan tugasnya dalam penegakan hukum. Beliau adalah mantan Jaksa Agung muda, berpengalaman, saya lihat penampilan juga oke, tegas tapi lembut.

Sudah, kan? Sudah, saya kira sudah lah, masak semua ditanya.

Wartawan:
Ican dari kompas.com, Pak. Izin mau tanya terkait pemilihan Mendagri itu kan, dipilihnya Pak Tito dari Kapolri. Itu pertimbangannya apa Pak, ya? Mendagri dari Kepolisian. Sementara kan ada kasus Novel Baswedan yang belum tuntas, itu kenapa Pak Tito yang dipilih?

Yang kedua, terkait pemilihan Pak Yasonna sebagai Menkumham lagi itu juga alasannya kenapa, Pak? Padahal kemarin kan ada sejumlah RUU kontroversial yang diprotes oleh masyarakat luas, terima kasih.

Presiden RI:
Ya, kita tahu Pak Mendagri ini memiliki pengalaman di daerah, memiliki pengalaman yang baik, di lapangan, hubungan pada saat-saat beliau menjadi Kapolri dengan kepala daerah juga baik. Oleh sebab itu, saya tugaskan memang untuk mengawal yang berkaitan dengan cipta lapangan kerja agar investasi-investasi yang ada di daerah itu bisa berjalan dengan baik.

Kemudian juga saya sampaikan yang berkaitan dengan pelayanan, utamanya di bidang yang berkaitan dengan pelayanan publik di daerah-daerah agar bisa dikoordinasi dengan baik dengan seluruh kepala daerah yang ada sehingga tata kelola dalam pelayanan kepada dunia usaha, tata kelola pelayanan dalam bidang bisnis, dalam investasi, itu betul-betul bisa ramah, cepat, dan kita harapkan, sekali lagi, penciptaan lapangan kerja itu bisa dilakukan.

Dalam lima tahun kemarin memang pengalaman kita ada di situ itu. Banyak dunia usaha yang ingin berinvestasi baik dari lokal, dari nasional, maupun dari global, tapi sering terhambat di situ. Saya kira tugas yang paling berat yang saya berikan di situ. Tetapi juga yang berkaitan dengan keamanan dan tertib sosial juga menjadi tanggung jawab Mendagri. Saya kira Pak Tito memiliki pengalaman yang baik mengenai itu.

Mengenai kasus yang ditanyakan tadi, saya kira nanti akan saya kejar kepada Kapolri yang baru agar bisa segera diselesaikan. Dan saya sudah melihat laporan yang kemarin sebelum diangkat jadi Mendagri, kepada Pak Tito, saya kira ada perkembangan yang sangat baik yang nanti akan segera diteruskan oleh Kapolri yang baru dan akan segera diumumkan kalau memang sudah betul-betul selesai. Ini bukan sebuah kasus yang mudah.

Kemudian mengenai Menteri Hukum dan HAM. Saya rasa saya sudah tahu Pak Menteri ini lama secara pribadi, saya sampaikan dan saya tugasi untuk memperbaiki, untuk mengoreksi apa-apa yang perlu diperbaiki. Tetapi tugas besar Menteri Hukum dan HAM ke depan yang saya berikan kepada Pak Menteri, kepada Pak Yasonna adalah mengenai omnibus law. Itu pekerjaan besar. Bagaimana kurang lebih 74 Undang-Undang itu bisa direvisi sekaligus sehingga bisa memperbaiki pelayanan-pelayanan publik yang ada, pelayanan-pelayanan terhadap dunia usaha yang ada sehingga betul-betul cipta lapangan kerja itu konkret dan bisa kita lakukan. Saya kira tugas menteri ada di situ. Termasuk juga yang berkaitan dengan perbaikan tata kelola yang ada di lapas (lembaga pemasyarakatan) itu menjadi catatan yang saya berikan dalam KPI (Key Performance Indicator).

Tiap menteri yang ada, saya beri. Saya enggak banyak memberikan tugas-tugas berat, 1-2-3 tapi KPI tiap menteri itu sudah ini, ini, ini, ini, ini.

Wartawan:
Terkait komposisi kabinet Pak, kan ada milenial seperti Pak Nadiem, Pak. Sebenarnya apa sih Pak, yang diharapkan oleh Bapak sebagai peracik kabinet begitu, Pak? Apakah memang dibutuhkan kayak ide-ide atau terobosan baru begitu Pak, khususnya di kebijakan?

Wartawan:
Sekalian Pak, saya Chandra CNBC Indonesia Pak, melanjutkan dari Hendra tadi. Agak penasaran dengan komposisi menteri di periode kedua Pak Jokowi terutama untuk di bidang ekonomi. Ini hampir beberapa nama itu banyak yang enggak dikenal oleh pasar Pak, asosiasi market juga mereka kayaknya kurang tahu begitu, seperti Pak Agus Suparmanto itu salah satunya. Sebenarnya atas dasar apa, pertimbangannya apa sampai menteri ekonomi banyak yang tidak dikenal oleh para asosiasi itu?

Yang kedua, mengenai banyak wajah baru di kementerian Pak Jokowi periode dua ini. Tapi kita tahu sendiri kondisi sekarang, ekonomi kita sedang dalam kondisi waspada, ekonomi global melambat, potensinya ke kita juga sangat besar sekali. Pak Jokowi beberapa kali seringkali menyinggung masalah ini berkali-kali, masalah investasi, ekspor, CAD (current account deficit). Ini sebenarnya kalau Pak Jokowi sendiri melihat susunan kabinet sekarang apakah ada kekhawatiran tersendiri, Pak? Karena beberapa nama yang dari partai politik ditempatkan di sektor-sektor ekonomi, seperti Bappenas kita tahu dipegang oleh Pak Suharso dan beberapa menteri teknis, seperti Mendag dan Menperin, yang dipegang oleh Bu Ida juga salah satunya, itu kira-kira bagaimana ya, Pak?

Presiden RI:
Ya kita ini sekarang berada pada era disrupsi, era yang sulit dihitung, era yang sulit dikalkulasi, era yang penuh risiko-risiko. Oleh sebab itu perlu menyongsong masa depan perlu sebuah penguasaan data. Yang memiliki pengalaman bagaimana mengelola sebuah data sehingga bisa memprediksi masa depan akan seperti apa. Big data ini penting sekali. Kenapa tadi dipilih Mas Nadiem Makarim. Perlu bagaimana memprediksi selera konsumen, perlu bagaimana memprediksi selera politik. Perlu memprediksi bagaimana perilaku-perilaku anak muda sekarang, misalnya. Sehingga yang namanya pengelolaan dengan menggunakan internet of things, menggunakan artificial intelligence, menggunakan big data, dan lain-lainnya ini, memerlukan sebuah sosok yang memang mengerti betul, tahu betul. Dan kita memerlukan sebuah, bukan tahu, tetapi mengerti bagaimana mengimplementasikan inovasi-inovasi yang ada. Berani keluar dari kotak, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton, sehingga akan memunculkan sebuah lompatan-lompatan besar yang itu, saya melihat pengalaman dari yang muda-muda bisa mendukung ke arah itu.

Kemudian yang kedua yang berkaitan dengan tim ekonomi. Saya melihat duet antara Pak Airlangga sebagai Menko dengan Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan ini ya, duet ini dulu sudah saling mengerti, sudah saling tahu apa yang harus dikerjakan menghadapi tekanan eksternal ekonomi global yang tidak menentu, sulit diprediksi sehingga saling pengertian ini penting sekali dalam kabinet kita. Saya tekankan kerja tim ini yang lebih penting, bukan kerja individu menteri, menteri, menteri, ndak. Kerja ini adalah kerja tim, termasuk nanti dengan menteri-menteri yang berkaitan dengan ekonomi yang lain. Juga bukan masalah fiskal tapi masalah moneter dengan Gubernur BI, dengan Ketua OJK, dan seluruh jajarannya. Ini karena sudah mereka saling tahu dan saling mengerti. Tetapi yang paling penting juga lapangannya terkuasai dengan situasi yang tidak menentu, kemudian kita harus mengonsolidasikan, kalau yang baru ini akan lebih sulit.

Dan saya melihat selama bekerja dengan tim ekonomi yang ada itu menteri-menteri saya melihat kompak kemudian juga saya melihat cepat mengeksekusi kalau ada keadaan-keadaan tertentu yang mendesak tetapi juga saya melihat kemampuan detail lapangan yang baik. Saya ingin yang konkret-konkret saja.

Iya, dan sesuai yang saya sampaikan di dalam pidato pelantikan, bukan hanya sent saja tetapi delivered. Penting sekali, sehingga betul-betul setiap anggaran, setiap kebijakan yang ada betul-betul bisa menetas.

Wartawan:
Soal masuknya Gerindra, Pak? Kenapa akhirnya Pak Prabowo dipilih, Pak? Pak, terkait (Partai) Demokrat dan PAN tidak masuk, Pak? Sementara kan kita ketahui bahwa sebelumnya kan Pak Jokowi, izin, sudah bertemu dengan beberapa ketua umum partai politik bahkan di sini, sampai akhirnya Pak Prabowo yang masuk ke dalam kabinet sebagai Menteri Pertahanan? Mungkin ada alasan khusus di balik itu, Pak?

Presiden RI:
Ya kita ini ingin pengin membangun sebuah demokrasi gotong royong. Jadi perlu saya sampaikan bahwa di Indonesia ini tidak ada yang namanya oposisi seperti di negara lain. Demokrasi kita adalah demokrasi gotong royong. Kalau itu baik untuk negara, baik untuk bangsa, ya kenapa tidak? Dan memang sistem presidensial yang kita miliki ini memang tidak seperti di luar yang biasanya hanya ada dua partai besar. Nah, ini ndak meskipun dua yang berkompetisi tetapi partainya banyak.

Ini kita memang masih menuju kepada sebuah proses-proses demokrasi dalam bernegara ke depan. Saya kira proses-proses kematangan, proses-proses demokrasi ini memang semuanya masih dalam proses tapi saya melihat ini menuju ke koridor yang semakin baik ke depan.

Wartawan:
Kenapa Menhan Pak, posisinya? Kenapa posisinya Menteri Pertahanan, Pak?

Presiden RI:
Ya memang pengalaman besar beliau ada di situ.

Wartawan:
Izin Pak, untuk partai lainnya? Untuk Bu Susi, Pak?

Presiden RI:
Ini sudah kebanyakan, sudah.