Menuju konten

Pertemuan Dengan Wartawan

Wartawan:
Selamat pagi, Pak. Saya Desca dari Antara. Pertama Pak untuk yang kemarin kan ke lokasi ibu kota baru, itu kan perjalanannya condong konturnya berbukit-bukit dan sepertinya apakah akhirnya pemerintah optimis dengan kondisi jalan licin, tanah dan lain-lain selama 4 tahun ke depan bisa akan menjadi ibu kota baru yang sebelumnya Bapak bilang smart city, green city dan compact city?

Itu pertanyaan yang pertama, pertanyaan yang kedua sekarang sudah tanggal 18 Desember, tanggal 20 Desember nanti akan ada pelantikan pimpinan KPK dan juga Dewas (Dewan Pengawas) KPK, apakah sudah ada nama-nama final dari Dewas KPK tersebut dan latar belakangnya seperti apa?

Terima kasih, Pak.

Presiden RI:
Ya, ini langsung saja lah. Setelah melihat kemarin justru itu kalau kita bawa urban planner atau membawa arsitek ke tempat lokasi, saya berikan jaminan mereka pasti akan sangat senang sekali dengan kondisi yang naik-turun berbukit seperti itu, karena akan lebih cantik dan lebih indah dibanding kalau hanya datar saja. Saya pastikan itu mereka akan lebih senang, kalau arsitek.

Yang kedua, juga kedekatan antara Sepaku dengan Balikpapan ini dekat sekali, kemarin muter sampai 2,5 jam itu karena memang muter, tapi kalau nanti tolnya dilangsungkan paling 30 menit sampai.

Yang ketiga, itu menghadap teluk, itu dekat dengan teluk lo. Ke teluk mungkin berapa menit, 20 menit paling, dekat sekali. Lha itu semakin menambah…, 20 menit Pak Gub ya? Malah enggak (sampai 20 menit)… Dekat banget. Artinya itu akan lebih mempercantik kawasan itu. Dengan catatan memang itu adalah kawasan hutan industri yang akan di…, nanti dilebihhijaukan karena saya sudah perintahkan ke Menteri Kehutanan untuk dibuatkan kebun bibit, dibuatkan nursery kurang lebih 100 hektar, mungkin akan memuat jutaan bibit di situ. Sehingga akan…, kawasan akan itu akan menjadi sebuah kawasan yang sangat hijau dan penuh dengan oksigen. Tidak ada polusi, Enggak ada limbah. Yang banyak orang berjalan kaki, yang banyak orang naik sepeda, yang banyak orang naik transportasi umum, yang bebas emisi. Yang banyak adalah…, bukan yang banyak, yang ada nanti mobil-mobil listrik yang sudah zero emission. Saya kira bayangannya itu, sudah.

Yang kedua mengenai dewan pengawas (KPK), ya nama-nama sudah masuk tapi belum kita finalkan karena kan hanya hanya diambil 5. Ada dari hakim, ada dari jaksa, ada dari mantan KPK, ada dari ekonom, ada dari akademisi, ada dari ahli pidana. Saya kira sudah itu. Namanya ya, namanya nanti ditunggu sehari saja kok. Sudah. Yang jelas nama-namanya adalah nama-nama yang baik lah, nama yang baik. Saya memastikan nama yang baik.

Wartawan:
Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Yudi. Saya dari Bisnis Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan. Yang pertama terkait ibukota baru, Pak. Setelah peninjauan kemarin ke lokasi, Pak, bisa disampaikan soal timeline tidak Pak, kalau dari pemerintah untuk pembangunan ibu kota baru itu seperti apa? Misal pembentukan badan otoritas selesainya kapan, undang-undangnya dan kemudian mulai konstruksi pertama kali kapan dan progres pertamanya bisa dilihat di tahun berapa, Pak?

Itu yang pertama, kemudian yang kedua diluar pertanyaan soal ibu kota, Pak. Sekarang itu di Jakarta lagi ada kasus asuransi Jiwasraya ya pak, itu asuransinya diperkirakan gagal bayar lebih dari Rp10 triliun dan sebagian nasabahnya itu merupakan orang Korea, Pak. Dan banyak juga pemegang polis tersebar di seluruh Indonesia. Nah dalam waktu dekat langkah strategis apa yang akan diambil pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini, Pak?

Terima kasih banyak.

Presiden RI:
Yang pertama, nanti pembentukan badan otorita ibu kota itu paling lambat Januari insyaallah sudah selesai. Setelah itu juga akan diajukan untuk revisi Undang-undang yang terkait dengan ibu kota, itu ada berapa ya kemarin ya? Seingat saya 14 Undang-undang yang ada di omnibus(law) juga bareng-bareng. Kira-kira 3 bulan setelah Januari kita harapkan selesai, sehingga bulan 6 nanti sudah mulai masuk ke…, bulan 6 itu masuk ke DED(detail engineering design), itu sudah rampung. Karena nanti ini, akhir bulan ini gagasan besar untuk desain sudah, kemudian masuk ke yang lebih detail selama 6 bulan untuk desain yang lebih detail. Kita harapkan nanti bulan Juni sudah rampung, kemudian langsung dilakukan yang namanya land clearing dan pembangunan infrastruktur dasar.

Sehingga kita harapkan nanti mulai tahun depan sudah dimulai pembangunan gedung-gedungnya, terutama akan diselesaikan untuk gedung-gedung pemerintahan terlebih dahulu. Sehingga klaster pemerintahan yang kita harapkan nanti di 2023 sudah bisa diselesaikan, paralel nanti dengan pembangunan transportasi umumnya, pembangunan untuk air baku dan untuk listriknya, saya kira semua paralel. Sehingga kita harapkan klaster untuk pemerintahan ini bisa diselesaikan dalam waktu 4 tahun.

Untuk klaster yang lain saya kira ini karena kita mau mengajak PPP(public private partnership), KPBU(Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha), mengajak swasta baik yang klaster pendidikan, baik yang klaster kesehatan, baik yang untuk riset dan inovasi termasuk nanti BUMN dan kawasan bisnis dan semi bisnisnya sehingga ini juga akan dikerjakan secara paralel. Kira-kira itu gambaran besarnya.

Yang kedua mengenai Jiwasraya. Ini adalah persoalan yang sudah lama sekali, mungkin 10 tahun yang lalu, problem ini sudah lama. Yang dalam 3 tahun ini sebetulnya kita sudah tahu dan ingin menyelesaikan masalah ini. Tapi ini bukan juga masalah yang ringan, tapi saya sampaikan ke Pak Menteri BUMN, kemarin kita juga sudah rapat, Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Yang jelas gambaran solusinya sudah ada, kita tengah mencari solusi itu, sudah ada, masih dalam proses semuanya. Tetapi yang berkaitan dengan hukum ranahnya memang sudah masuk, kalau itu ranah kriminal ya sudah masuk wilayah hukum. Dan alternatif penyelesaian itu memang masih dalam proses. Kita harapkan nanti segera selesai lah. Saya yakin ini. Pak Erick, berapa bulan Pak?

Menteri BUMN:
Ya ini prosesnya nanti diawali dengan restrukturisasi Pak. Mungkin saya menambahkan Pak. Sesuai yang diarahkan oleh Bapak Presiden memang bahwa banyak hal-hal yang di BUMN itu harus di restrukturisasi. Tidak hanya hanya Krakatau Steel tapi juga salah satunya Jiwasraya.

Nah khususnya untuk Jiwasraya kan sebenarnya hal sudah terjadi mulai tahun 2006. Tapi 2011 terus meningkat. Nah karena itu memang proses restrukturisasi yang 8-10 tahun ini pasti memerlukan waktu. Insyaallah dalam 6 bulan ini kita persiapkan solusi-solusi yang salah satunya diawali nanti dengan pembentukan holdingisasi pada perusahaan asuransi supaya nanti ada cash flow juga membantu nasabah-nasabah yang hari ini belum mendapat kepastian. Tapi ini yang mesti saya tekankan restrukturisasi ya, jadi prosesnya pasti berjalan. Mungkin itu saja, Pak.

Presiden RI:
Baik. Sudah gamblang tapi masih dalam proses, ya.

Tadi saya lupa, jadi klaster-klaster yang ada di ibu kota tadi, ini tidak ada klaster industrinya ya. Jangan bayangkan ada klaster industrinya. Tidak ada pabrik, itu perlu anda tekankan. Silakan? Cukup?

Sekretaris Kabinet:
Dua lagi ya. Tiga lagi.

Wartawan:
Pak, saya Diana dari Radio KBR. Pertama pak, kemarin waktu ratas Bapak menyampaikan tidak akan ada sweeping natal dan sebagainya, tetapi dua kabupaten di Sumatera Barat melarang warganya mengadakan perayaan natal. Ini bagaimana dari Pemerintah Pusat menyikapinya?

Dan yang kedua, dari temuan PPATK, Pak, soal dugaan pencucian uang oleh kepala daerah lewat kasino, ini dari pemerintah pusat bagamana menyikapinya?

Terima kasih.

Presiden RI:
Apa? Kasino? Kasino atau kasino?

Saya belum mendapatkan laporan ya, belum mendapatkan laporan secara baik tertulis maupun lisan dari PPATK mengenai itu. Jadi saya belum bisa berkomentar banyak, tetapi yang jelas sangat tidak…, sangat tidak terpuji kalau ada kepala daerah (yang) enggak benar. Ada kepala daerah, apa…, nyimpen uang itu di kasino gitu. Saya belum dapat laporan jadi enggak bisa membayangkan, kok nyimpen uang kok di kasino. Jadi belum bisa komentar.

Di negara ini konstitusi kita menjamin, sudah jelas kok, tegas itu di konstitusi kita. Jadi enggak perlu saya jawab kalau konstitusi kita sudah menjamin kita untuk memeluk agama dan menjalankan menurut kepercayaan masing-masing. Sudah dijamin di konstitusi kita. Enggak perlu ada yang diragukan mengenai itu.

Wartawan:
Terima kasih atas kesempatannya, perkenalkan nama saya Edi Suratman, saya dari Balikpapan Televisi.

Presiden RI:
Balikpapan Televisi? Televisi Balikpapan.

Wartawan:
Mungkin ada dua pertanyaan. Yang pertama terkait dengan provinsi baru di IKN (ibu kota negara) itu pak ya, progresnya seperti apa? Apakah sudah ada progresnya untuk benar-benar bakal ada provinsi baru?

Presiden RI:
Oh, belum, belum.

Wartawan:
Kemudian terkait dengan kemarin ada pertemuan dengan tokoh adat itu Pak, apakah mendapatkan izin dan mungkin bisa memberikan sedikit informasi, apakah ada permintaan sesuatu hal dari mereka? Karena kan yang sekarang terjadi masyarakat adat semakin tersingkirkan, apakah bakal ada area khusus untuk masyarakat adat?

Terima kasih Pak.

Presiden RI:
Yang pertama, yang berkaitan dengan provinsi, belum. Apakah nanti dalam bentuk kota atau provinsi, belum. Belum diputuskan, nanti tentu saja kita akan harus berbicara dengan DPR terlebih dahulu.

Kemudian pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat di Kaltim kemarin, saya kira ini sebuah tata krama kita untuk ketuk pintu, untuk permisi, untuk kulo nuwun dan pada saat itu juga banyak disampaikan mengenai keinginan untuk mempercepat, segera memulai pembangunan ibu kota ini. Tetapi juga, beliau menyampaikan jangan melupakan kami masyarakat asli yang ada di Kaltim. Itu saja pesannya yang disampaikan baik nanti dalam rekrutmen, misalnya rekrutmen pegawai, kemudian juga melibatkan untuk urusan klaster pendidikan, melibatkan universitas, institut atau perguruan tinggi lokal untuk juga ikut bersama-sama nanti ada di situ karena kita ingin membangun klaster pendidikan dengan perguruan-perguruan tinggi kelas dunia di dalamnya. Tetapi menurut saya akan lebih baik kalau itu dipartnerkan dengan universitas-universitas yang ada di Kalimantan Timur. Dua hal itu yang disampaikan oleh beliau-beliau kepada saya.

Wartawan:
Selamat pagi Pak Jokowi.

Presiden RI:
Ya pagi.

Wartawan:
Pak saya Sucipto dari wartawan Kompas yang ditempatkan di Balikpapan.

Presiden RI:
Nasional itu…

Wartawan:
Lokal Pak.

Presiden RI:
Oh, lokal. Ya, lokal.

Wartawan:
Pak kemarin bertepatan dengan ketika Pak Jokowi hadir disini, beberapa NGO mengadakan konferensi pers juga, mereka menilai bahwa pemindahan ibu kota ini salah satu bagi-bagi proyek karena salah satu pendanaannya adalah dari swasta. Bagaimana pemerintah pusat menanggapi itu? Untuk transparansi terhadap pendanaan dari swasta itu seperti apa nantinya?

Yang kedua terkait ibu kota juga pak, dekat teluk Balikpapan, Sepaku itu, kemudian di sana itu banyak potensi-potensi lingkungan atau daya dukung lingkungan seperti perkebunan mangrove, kemudian satwa-satwa endemik, seperti bekantan. Nah kemarin waktu (Kementerian) PUPR presentasi itu, di sana akan dibentuk, dibangun beberapa pelabuhan, seperti itu Pak. Bagaimana supaya daya dukung lingkungan hidup itu tetap ada disamping pembangunan IKN itu pak?

Terima kasih.

Presiden RI:
Ya ini adalah sebuah pembangunan besar dan menyangkut anggaran yang besar. Sudah saya sampaikan jangan sampai mengganggu yang namanya APBN. Kita ini ingin mencari sumber-sumber pendanaan yang semua negara melakukan sekarang ini. Tidak memberikan beban kepada negara, tetapi barangnya jadi. Bisa lewat PPP, bisa lewat KPBU, bisa lewat investasi swasta, kan banyak. Dan justru itu yang kita harapkan.

Misalnya, untuk transportasi. Ada yang ingin menawarkan, “Pak transprotasi kami bukan dengan energi fosil, tapi non fosil.” Ya bagus. Tanya, “Berapa biayanya?” “Paling segitu,” Oh, kalau hitungannya masih ya silakan, kontestasi saja.  Ada yang pengin mendirikan universitas, ya silakan. Ngapain kita keluar uang, kalau ada dari non-APBN bisa.

Ini yang sedang kita kembangkan itu, artinya yang kita bangun ini adalah trust, kepercayaan, bahwa ibu kota ini memang sebuah gagasan besar yang patut didukung oleh mereka. Kalau pikirannya negatif tok ya repot. Bagi-bagi proyek, ya mesti dibagi, masa kita kerjakan sendiri APBN habis malah. Artinya keterlibatan di luar pemerintah itu sangat diperlukan.

Kemudian mengenai daya dukung lingkungan, kemarin kan sudah saya sampaikan ini adalah HTI (Hutan Tanaman Industri), kawasan yang kita pakai ini HTI. Ada Pak Gubernur kemarin sampaikan total yang ingin kita cadangkan untuk kawasan ibu kota ini 410 ribu hektar, betul Pak Gub? 410 ribu hektar, baru kemarin saya dapat informasi.  Lima puluh enam ribu nanti yang kita pakai untuk kawasan inti.

Dari kawasan itu yang dipakai untuk kawasan pemerintahan hanya 5.600(hektare). Kan sangat kecil sekali, artinya yang lain apa nanti, berupa apa? Ya berupa hutan yang akan kita perbaiki sehingga yang dibangun pertama, ini Bu Siti (Menteri LHK) juga sudah mempersiapkan lokasinya, yang dibangun nursery dulu, dibangun kebun bibit dulu seluas 100 hektare. Ini baru mencari tempat yang datar sehingga disitu nanti akan disiapkan bibit-bibit baik yang fast growing species, yaitu mungkin kayak eukaliptus, albasia, akasia mangium yang fast growing species. Tapi juga ada yang pohon-pohon asli di sini, kamper, kapur, ulin, bangkirai. Itu yang mau disiapkan termasuk mangrovenya, bibit-bibit mangrove juga disiapkan.

Kita ini memperbaiki karena memang sudah banyak yang rusak. Itu akan menjadi sebuah daya tarik juga bagi ibu kota ini. Seperti tadi, nanti ada kawasan di bawah yang untuk konservasi bekantan, misalnya. Kalau kawasan yang untuk konservasi orang utan agak jauh memang, tetapi juga menjadi perhatian juga. Itu menjadi sebuah daya tarik kalau menurut saya, sekali lagi ini bukan hutan lo ya, ini hutan tanaman industri (HTI).

Sudah ya, cukup?

Wartawan:
Satu lagi Pak, soal banjir ibu kota. Nanti saja Pak.

Presiden RI:
Silakan, apa?

Kelihatan.

Wartawan:
Selamat pagi Bapak Presiden dan Bapak-bapak serta rekan-rekan yang lain. Pak Presiden pada tahun ini banyak sekali kejutan yang terjadi di negara ini di sepanjang tahun 2019, selain Pilpres, Pemilu…

Presiden RI:
Pilpres? Kejutannya apa sih Pilpres?

Wartawan:
Kan Itu Pak, pada Pilpres kan banyak intoleransi itu berkobar, terus juga ada omnibus law, dan tadi sudah disebutkan oleh rekan kita mengenai Jiwasraya dan yang terpenting mengenai ibu kota.

Menurut Bapak Presiden dari rentetan peristiwa-peristiwa yang boleh dikatakan baik untuk negeri kita ini, apa yang menurut Bapak yang paling berkesan dan harus kita tindak lanjuti bersama, selain banjir ibu kota (Jakarta) Pak?

Terima kasih.

Presiden RI:
Ya kita kan dalam lima tahun ini kan merasakan betapa sulitnya kadang memutuskan, sulitnya dalam bertindak di lapangan. Karena kita dibatasi oleh terlalu banyaknya regulasi, Undang-undang, Perpres, Permen, Perda, Perda pun ada Pergub, ada Perbupati, Perwali, PP.

Ya kalau kita minta revisi satu per satu ya sampai kapan pun enggak akan selesai, enggak akan rampung, percaya, enggak akan rampung. Sehingga muncul pemikiran gimana menyelesaikannya? Nah ketemu, baru akhir jabatan ketemu yang namanya omnibus law.

Kemudian sehingga kita menyiapkan proses itu karena memang proses omnibus law  ini proses yang pertama di Indonesia. Sehingga nanti dalam waktu dekat ini akan kita ajukan kurang lebih 82 Undang-undang yang akan kita revisi. Bayangkan kalau satu per satu, setahun dapat dua saja berarti butuh 41 tahun, ini barengan langsung dimintakan ke DPR.

Lha ini kalau proses ini bisa diselesiakan dengan cepat, 3 bulan, 6 bulan, nah fleksibilitas kita dalam memutuskan, kecepatan kita dalam memutuskan akan jauh lebih baik lagi dalam rangka apa? Cipta lapangan kerja. Arahnya ke situ. Jadi, ya ketemu omnibus ini ya kita betul-betul sangat berterima kasih atas masukan itu. Dan saya kira juga itu buat kita ya itu barang baru, banyak yang baru dengar juga kan? Kemudian apa tadi? Sudah?

Wartawan:
Soal Banjir Ibu Kota (Jakarta), Pak?

Presiden RI:
Banjir? Banjir di Jakarta.

Persoalan besar yang ada di Jakarta itu hanya dua yang memang harus diselesaikan, yaitu banjir, yang kedua macet. Banjir ini kita memang masih dalam proses kan membangun bendungan yang namanya Sukamahi dan…, ada dua di atas. Di Bogor, Ciawi dan Sukamahi. Di Bogor. Selesai kira-kira akhir tahun depan, insyallah akhir tahun depan akan selesai. Nah kalau itu nanti jadi ya kan bisa lebih dikendalikan.

Tetapi juga sangat tergantung sekali yang namanya banjir di Jakarta itu adalah pembersihan got, kemudian juga pelebaran dari sungai Ciliwung yang sampai di Jakarta sudah menyempit.

Yang ketiga manajemen pengelolaan pintu-pintu air yang ada, termasuk didalamnya adalah pengerukan waduk-waduk yang ada di Jakarta. Waduk Pluit dan yang lain-lainnya. Untuk urusan macet, ya kita kan juga sudah membangun MRT tahap 1 selesai, juga membangun LRT yang nanti akhir di 2021 insyallah juga sudah selesai, nah itu akan sangat mengurangi macet.

Dan tentu saja mengintegrasikan dari moda transportasi yang ada, LRT gabungin nanti dengan MRT, dengan Transjakarta, dengan komuter kita, dengan kereta bandara, nanti mungkin dengan kereta cepat. Berarti ada enam diintegrasikan semuanya itu juga akan sangat-sangat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Tetapi juga, sekali lagi, kalau tidak pindah ibu kota ya memang tetap akan sulit. Karena semua orang ingin meniti karier di Jakarta, ingin bisnis di Jakarta, ingin semuanya mikirnya di seluruh Tanah Air kan ke Jakarta semuanya, atau ke Jawa. Sehingga yang terjadi adalah kepadatan penduduk yang semakin tambah semakin hari.

Sudah bolak-balik saya sampaikan 56 persen penduduk kita itu ada di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya. PDB ekonomi kita juga sama, 58 persen ada di Jakarta, ada di Jawa khususnya juga di Jakarta, sehingga perlu pemerataan ekonomi. Ya, kira-kira itu.

Sudah, sudah?

Wartawan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Pak.

Saya Krisna, Pak dari Onix Radio di Balikpapan. Radio anak muda di Balikpapan, “Inspiring Your Life” tagline kami, Pak.

Baik, Pak, tadi banyak membahas masalah progres ke depan mengenai IKN di daerah Kalimantan Timur, Penajam, Sepaku dan sekitarnya. Saya hanya ingin bertanya masalah SDM Lokal yang ada di Balikpapan, Pak. Bagaimana apakah ada strategi pemerintah untuk meningkatkan SDM? Karena kita melihat tadi Bapak juga menyinggung masalah perusahaan-perusahaan yang bakal masuk di Balikpapan, istilahnya tadi ada katanya senggolannya bagi-bagi proyek yang sebenarnya enggak, membutuhkan SDM-SDM juga. Tapi di Kalimantan Timur ini kita bisa lihat, Pak, SDM kita mungkin belum sesiap SDM-SDM yang di luar Kaltim. Jadi apakah ada startegis khusus untuk pengembangan SDM untuk lokal di Balikpapan dan Kaltim, Pak?

Kemudian masalah investasi juga apakah ada regulasi khusus, Pak? Misalnya boleh masuk sini ber-join, kayak tadi pendidikan.  Apakah dia diharuskan untuk join dengan pengusaha lokal di dunia pendidikan atau bisnis, kafe dan radio dan segala macamnya, seperti itu. Apakah ada strategi khusus seperti itu atau diloskan saja.

Kemudian juga masalah pemukiman kita lihat sendiri, pemukiman di Kaltim ini, Pak, mungkin belum sepadat di Jakarta. Tapi kalau dibiarkan terus akan sepadat Jakarta dan mungkin Pak Gubernur akan punya PR ke depannya untuk menggusur mereka kembali ke tempat yang sesuai, karena ini adalah penataan kota baru mungkin ada strategi-strategi yang  memang dibuat oleh pemerintah kota? Seperti itu Pak.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Ya itu tugasnya pemerintah daerah, tugasnya provinsi, tugasnya kota untuk melakukan pengendalian, pengendalian tata kota, pengendalian tata ruang kota, pengendalian penduduknya. Saya kira kalau enggak dikendalikan nanti berkembangnya juga…, kota itu kan punya kemampuan beban daya dukung. Ya, kalau dibiarkan ya bisa aja nanti kembali kita akan memiliki kota yang sangat padat karena pemerintah daerah tidak mengendalikan sesuai dengan kemampuan daya dukung yang ada.

Kalau itu terjadi, kejadiannya akan sama saja. Akan muncul daerah kumuh, kesulitan air, polusi, limbah di mana-mana. Itu pentingnya manajerial yang baik ya di situ.

Kemudian untuk sumber daya manusia, kalau nanti di ibu kota baru ada perguruan tinggi yang kelas dunia, kemudian ada klaster inovasi, ya di situ siapa sih yang akan menikmati? Ya anak-anak muda kita, di situlah secara tidak sadar nanti Samarinda, Balikpapan akan menikmati dari fasilitas-fasilitas yang ada di ibu kota. Ya dimanfaatkan saja sebaik-baiknya.

Saya kira nanti akan muncul, akan berbondong-bondong talenta-talenta kita, talenta-talenta di Balikpapan, Samarinda. Akan berkumpul, bergabung dengan talenta-talenta global. Di situ lah secara tidak sadar kita akan berkompetisi dan akan berbenah memperbaiki diri.

Sudah, saya kira sudah siang,

Saya tutup.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.