Menuju konten

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2019

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, Gubernur Bank Indonesia, Bapak Perry Warjiyo beserta seluruh Deputi dan keluarga besar Bank Indonesia;
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-11, Bapak Prof. Dr. Boediono;
Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Kerja, para Gubernur, Bupati, dan Wali Kota;
Yang saya hormati, Pimpinan DPR dan seluruh anggota DPR yang hadir;
Yang saya hormati, Ketua OJK beserta seluruh Komisioner OJK;

Bapak/Ibu sekalian, undangan yang berbahagia,
Tadi ke sini macet. Setengah jam berhenti, betul. Setengah jam berhenti. Ya itulah kenapa ibu kota dipindah. Dan karena alasan-alasan yang banyak yang lainnya.

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,
Tadi sudah disampaikan secara jelas dan gamblang oleh Bapak Gubernur BI, kita melihat kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini dan saya teringat akan apa yang pernah disampaikan oleh Pak Perry Warjiyo. Pak Perry pernah mengatakan setidaknya ada tiga nilai yang dapat dijadikan acuan oleh pelaku usaha Indonesia untuk tetap eksis di tengah ketidakpastian global. Tadi juga diingatkan oleh Pak Perry bahwa satu tahun yang lalu di dalam Annual Meeting Bank Dunia di Bali, saya menyampaikan mengenai bahwa akan datang musim dingin, winter is coming. Dan sekarang betul, coming-nya betul-betul benar ada.

Dan kembali lagi ke tiga nilai tadi. Ini saya melihat tiga nilai tadi kalau kita adaptasi dari film Cast Away, ini aktornya masih saudara saya, Tom Hanks. Ini bercerita sebetulnya di dalam film ini, ada pesawat kargo jatuh ke dalam sebuah pulau dan hanya ada satu orang yang bisa bertahan hidup. Kenapa dia bisa bertahan hidup dan akhirnya selamat? Ini kalau dihubung-hubungkan dengan tadi, ketidakpastian tadi.

Yang pertama, harus mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya. Ini Chuck Noland mengalami ini. Chuck Noland itu yang diperankan oleh Tom Hanks tadi. Jadi mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya, yang pertama.

Yang kedua, mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan. Artinya, kita harus mampu mencari sumber baru, yang nanti akan kita hubungkan dengan ekonomi, nanti. Mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan, yang kedua.

Yang ketiga, tetap optimis dalam menghadapi berbagai tekanan. Jangan kalau ada tekanan eksternal kita semuanya langsung berbicaranya pesimis, ngomongnya selalu menunggu, wait and see. Ya enggak akan memecahkan masalah. Tiga hal ini penting untuk kita ingat. Akan saya ulangi lagi biar kita ingat semua.

Yang pertama, mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya. Yang kedua, mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan. Yang ketiga, tetap optimis dalam menghadapi berbagai tekanan. Enggak ada teman, sampai membuat orang-orangan, membuat topeng untuk diajak bicara, di dalam Cast Away tadi.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini bahwa kita harus bersyukur negara kita masih diberi pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, ini yang patut kita syukuri. Bahkan kalau dibandingkan dengan negara-negara G20, kita ini masih di ranking yang ketiga. Nah kalau tidak, kita tidak bersyukur, artinya kita ini kufur nikmat. Kufur nikmat, tidak mensyukuri pertumbuhan di atas 5 persen tadi.

Coba, kita ini hanya di bawah Tiongkok dan di bawah India, ini G20. Tiongkok, India, Indonesia, kemudian keempat Amerika. Kita di atas Amerika pertumbuhan ekonominya. Nah kalau kita enggak bersyukur, sekali lagi, kufur nikmat. Tetapi ya kita juga harus berbicara apa adanya. Tekanan eksternal ini tidak mudah. Tidak gampang. Tapi saya bersyukur komunikasi antara pemerintah, Menteri Keuangan dengan Bank Indonesia, dengan Gubernur BI, dengan OJK-Ketua OJK, Pak Wimboh, sangat-sangat baik sekali. Ini penting karena kalau komunikasi ini tidak nge-click, atau sendiri-sendiri policy-nya, bisa akan ke mana-mana situasi seperti sekarang ini.

Kemudian yang kedua, saya juga mendapatkan peringatan waktu bertemu dengan Managing Director IMF yang baru, Ms. Kristalina, dia menyampaikan “Presiden Jokowi, tahun depan 2020 hati-hati. Kemungkinan yang namanya pertumbuhan ekonomi global itu akan masih turun lagi”. Jadi harus memiliki strategi-strategi yang sangat khusus dan spesifik agar bisa keluar dari terpaan turunnya pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini hampir semua negara mengalami. Dari yang tujuh menjadi minus, ada. Dari empat turun menjadi dua, ada. Ada yang empat, turun menjadi hampir 0 ada, di dekat-dekat kita. Hal-hal seperti ini memang harus kita lihat sebagai sebuah kenyataan yang harus kita hadapi dan dicarikan solusinya.

Dan saya melihat, masih banyak peluang-peluang yang bisa kita kerjakan. Kita memiliki sebuah framework, kerangka yang akan kita kejar, karena saya sampaikan kepada Bu Menteri Keuangan, “Bu Menteri sudah, konsentrasi saja di fiskal yang prudent, yang hati-hati. Karena pengaruh APBN itu hanya 14 sampai 16 persen terhadap ekonomi kita”. Betul Bu Menteri? Betul. Benar? Kok enggak yakin? Saya ingat terus lo, apa yang disampaikan, hanya pengaruhnya 14 sampai 16 persen. artinya sisanya itu berada di peran sektor swasta.

Oleh sebab itu, sering saya sampaikan dan berkali-kali saya sampaikan, “Swasta itu berikan terlebih dahulu kalau ada peluang, ada opportunity, ada kesempatan”. Hati-hati, jangan sedikit-sedikit diambil BUMN. Ini yang hadir BUMN juga banyak. Swasta dulu, kalau swasta tidak mampu mengerjakan, artinya internal rate of return-nya rendah, silakan BUMN yang mengerjakan. Tentu saja biasanya ada suntikan dari yang namanya PMN, dia bisa karena disuntik oleh PMN. Kalau swasta tidak mau, BUMN tidak mau, baru pemerintah lah yang mengerjakan karena mungkin memang berada pada posisi yang tidak untung benar. Selalu saya sampaikan itu.

Yang ketiga, saya ingin menyampaikan apa yang harus kita kerjakan di luar fiskal dan moneter. Saya sudah jaga, sudah. Moneter dan keuangan, BI-OJK. Fiskalnya silakan prudent, hati-hati, Menteri Keuangan. Saya mengerjakan di luar itu.

Yang pertama, kita sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa 5 tahun ke depan pembangunan sumber daya manusia menjadi fokus dan prioritas pemerintah.

Yang kedua, kelanjutan pembangunan insfrastruktur akan diteruskan dengan menyambungkan jalan-jalan tol yang ada, ke dalam kawasan pertanian, kawasan industri, kawasan wisata, kawasan sentra-sentra nelayan, sentra-sentra petani.

Yang ketiga, penyederhanaan regulasi yang segera ini nanti bulan Desember kita akan mengajukan omnibus law kepada DPR dan bulan Januari lagi kita juga akan mengajukan omnibus law yang ke-2 kepada DPR. Sehingga terjadi sebuah kecepatan dalam dunia usaha, apabila ingin menanamkan modalnya. Inilah yang kita namakan undang-undang (UU) cipta lapangan pekerjaan, UU cipta lapangan kerja karena muaranya dari setiap investasi dalam negeri maupun dari luar adalah cipta lapangan kerja. Karena masih 7 juta masyarakat kita yang berada pada posisi pengangguran.

Yang keempat, penyederhanaan birokrasi. Mohon maaf kalau di sini ada eselon IV, eselon III. Kita akan pangkas itu mulai tahun depan. Untuk apa? Agar terjadi kecepatan dalam setiap memutuskan kalau ada perubahan-perubahan dunia yang berubah begitu sangat cepatnya. Tapi pelan-pelan, dan yang paling penting tidak mengganggu income, gaji dari yang tadi dipotong. Tidak akan menurunkan pendapatan.

Saya sudah berbicara dengan banyak jago-jago I.T. kalau bisa itu diganti A.I. (artificial intelligence) sehingga muncul sebuah kecepatan, muncul sebuah perubahan, muncul sebuah budaya kerja yang lain, kultur yang baru.

Yang kelima, yang berkaitan dengan transformasi ekonomi. Ini yang penting, yang ingin saya sampaikan. Kita tahu sudah berapa tahun defisit perdagangan kita, current account deficit kita, defisit transaksi berjalan kita selalu mengganggu volatilitas dari rupiah, sehingga ini perlu kita selesaikan. Karena apa? Selalu current account deficit kita terganggu karena ketergantungan pada komoditas. Ketergantungan pada harga komoditas. Yang kedua juga, impor yang besar atas energi terutama minyak dan gas, ini mengganggu. Kemudian yang ketiga juga adanya impor bahan baku maupun barang modal. Sebetulnya enggak masalah kalau ini dipakai lagi untuk ekspor ke luar tetapi inilah yang sangat mengganggu volatilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi kita, current account deficit kita sehingga saya ingin fokus ke sini, menyelesaikan persoalan-persoalan ini tanpa mengganggu apa yang sudah dikerjakan di Kementerian Keuangan.

Apa yang ingin kita kerjakan?

Yang pertama, meningkatkan ekspor dan produk substitusi impor. Kita tahu, sekarang ini yang banyak kita ekspor adalah bahan-bahan mentah (raw material), baik itu timah, nikel, bauksit, batu bara padahal ini kalau diolah dalam turunan menjadi barang setengah jadi atau jadi, ini akan meningkatkan nilai tambah yang luar biasa. Sebagai contoh, batu bara kalau diolah menjadi DME (dimethyl ether), menjadi polypropylene (PP) bisa mengganti impor kita atas LPG (liquefied petroleum gas), bisa mengganti bahan-bahan baku impor untuk pakaian. Kenapa lama tidak kita lakukan? Ya karena kita senang impor. Siapa yang impor? Ya oang-orang yang senang impor. Bapak/Ibu saya kira tahu semuanya, ada yang senang impor dan tidak mau diganggu impornya, baik itu minyak, baik itu LPG. Ya ini mau saya ganggu.

CPO, kenapa kita selalu mengekspornya dalam bentuk crude palm oil? Kenapa tidak kita gunakan sendiri, di dalam negeri juga bisa kita ngerjain kok. Sehingga enggak perlu kita takut di-banned di Eropa. Kenapa takut kalau konsumsi di dalam negeri kita juga bisa kita lakukan, bisa menyerap. Kalau ini dikerjakan, artinya B20 berjalan dan sudah berjalan, sebentar lagi Januari B30 berjalan, nanti masuk ke B50 itu bisa berjalan, artinya apa? Impor minyak kita akan turun secara drastis sehingga tadi urusan-urusan neraca perdagangan, transaksi berjalan kita menjadi lebih baik. Kenapa ini tidak dikerjakan dari dulu? Karena ada yang senang impor minyak. Saya tahu yang impor siapa sekarang yang saya sudah sampaikan, kalau mengganggu acara B20, mengganggu acara B30, mengganggu tadi yang urusan DME, urusan polypropylene, hati-hati pasti akan saya gigit orang itu. Enggak akan selesai-selesai kalau masalah ini tidak kita selesaikan.

Kita juga merancang sekarang ini yang namanya strategi besar bisnis negara. Yang namanya nikel itu, turunannya bisa dibuat litium baterai karena kita punya nikel, punya mangan, punya kobalt. Ya ini strategi besar bisnis negara itu harus diatur sehingga kita nanti akan menjadi pemain besar, penghasil, produksi litium baterai dunia karena ke depan, yang namanya mobil listrik itu pasti akan besar-besaran diproduksi karena orang sudah tidak senang lagi menggunakan energi fosil. Nah kita harus, strategi itu harus didesain dari sekarang, kita punya kekuatan itu kok, kenapa tidak dikerjakan? Senang masih ekspor raw materialndak, saya sekarang, ndakndakndakndak. Setop, kita gunakan sendiri di sini, kita desain yang benar sehingga nantinya benar-benar yng namanya hub besar untuk produksi mobil listrik itu ada di sini, baterainya ada di sini karena komponen baterai itu, cost-nya sampai hampir 50 persen dari cost produksi sebuah mobil listrik. Ini, strategi seperti ini yang harus kita desain termasuk nanti untuk barang-barang yang lainnya.

Yang kedua, kita memiliki sebuah kekuatan besar yaitu di hydropower yang tidak pernah kita gunakan. Apa itu? Sungai besar yang kita miliki. Pak Gubernur ada di sini, Kalimantan Utara. Kalau yang namanya Sungai Kayan dibendung, ada 10 titik di situ dan dipakai untuk hydropower, pembangkit listrik tenaga air, muncul biayanya hanya 2 sen. Kalau kita pakai batu bara, bisa 6 sampai 7 sen. Siapa yang bisa melawan angka 2 sen ini? Semuanya akan berbondong-bondong ke sini, saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur, ini akan kita mulai. Karena dari sinilah, kita nanti memiliki competitiveness, memiliki daya saing. Kita masih memiliki sungai besar lagi yang ada di Papua, Mamberamo, sama. Di sini kira-kira bisa 11.000MW, di Mamberamo 23.000MW, sebuah kekuatan besar dengan hanya cost produksinya 2 sen. Siapa yang bisa melawan ini? Kekuatan seperti inilah yang harus terus kita cari sehingga competitiveness kita, daya saing kita betul-betul kita miliki.

Yang kedua yang berkaitan dengan tambahan devisa. Saya kira kita sudah sering bercerita bahwa kita akan membangun 10 Bali baru dan kita sekarang ini dalam 3 tahun sampai nanti 2020 memang fokus hanya di 5 tempat. Di Labuan Bajo, di Mandalika, d Danau Toba, di Borobudur, dan di Manado. Infrastruktur insyaallah nanti di akhir 2020, selesai semuanya. Airport terminal dibesarkan, runway diperpanjang semuanya, jalan menuju ke tempat-tempat wisata dikerjain semuanya, saya cek terus, saya cek terus. 5 selesai 2020, sisanya setelah itu, 3 tahun setelah itu, rampungkan lagi. Artinya kita akan mendapatkan devisa dari sektor ini. Kalau produknya selesai, barang-barang itu diperbaiki, produknya selesai, ada calendar of event, ada annual event yang besar, creative industry, creative economy di situ, semuanya fokus dikerjakan, promosi besar-besaran silakan. Kementerian Pariwisata silakan. Kalau negara lain, misalnya dana promosinya 10, Menteri Pariwisata minta 20 saya beri tapi harus tepat sasaran karena saya sampaikan, produk-produk ini tolong ada segmentasinya, ada yang super premium, ada yang premium, ada yang menengah ke bawah, jangan dicampur-campur. Yang super premium juga ada kuotanya. Misalnya, Labuan Bajo enggak semua orang boleh ke sana, bayarnya mahal, misalnya. Ini belum, baru didesain. Tahun depan akan selesai.

Kemudian kembali lagi yang terakhir, menarik FDI (foreign direct investment) dengan perbaikan iklim investasi yang betul-betul riil. Oleh sebab itu, kalau kita hanya satu-satu mengajukan revisi UU, satu, satu, satu, itu 50 tahun enggak akan selesai, iya benar, 50 tahun enggak akan selesai. Sehingga 74 UU akan kita gabungkan dan kita mintakan omnibus law kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Nah, ini beliau-beliau ada, mohon didukung, jangan dilama-lamain, jangan disulit-sulitin karena ini sekali lagi untuk cipta lapangan kerja. Ada 74 UU yang akan, sudah kita teliti satu per satu, kita gabungkan, dan kita mintakan nanti itu untuk direvisi secara berbarengan, bersama-sama. Kalau ini rampung semuanya, tadi yang saya sampaikan 3 nilai pada saat sulit seperti ini, ya memang inilah waktunya. Kita tunjukkan bahwa kita mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa kita meskipun kita tidak sulit, lha masih 5 persen kok.

Yang kedua, mencari sumber baru yang tadi, nikel, CPO, batu bara, itu mencari sumber baru, tempat destinasi wisata baru, itu dan tetap optimis. Jadi kalau di sini hadir para pengusaha, jangan sampai ada yang menyampaikan wait and see, ndak. Kalau mau investasi, ya investasi lah. Karena kita akan memperbaiki iklim investasi itu.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.