Menuju konten

Rapat Terbatas Mengenai Kebijakan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista)

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh,

Yang saya hormati para Menko, para Menteri, Panglima TNI beserta seluruh Kepala Staf.

Siang hari ini akan dibahas mengenai pengadaan alat utama sistem senjata kita dan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17 ribu pulau, terletak di antara 2 samudera dan 2 benua, negara harus mampu menjadi kekuatan regional yang baik, yang disegani di kawasan Asia timur. Karena itu kita perlu melakukan penguatan pertahanan kita dengan alutsista yang modern, yang bersandar pada kemampuan industri alat pertahanan di dalam negeri.

Karena itu, ada beberapa hal yang ingin saya tekankan pada industri pertahanan kita. Pertama, roadmapnya harus jelas dalam pengembangan industri alat pertahanan di dalam negeri mulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan baik BUMN maupun swasta sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor alutsista dari luar negeri.

Kemudian yang kedua, kita harus memastikan adanya alih teknologi dari setiap pengadaan alutsista maupun program kerjasama dengan negara-negara lain. Kita harus memastikan bahwa SDM industri pertahanan kita betul-betul diperkuat dan jangan lagi orientasinya adalah penyerapan anggaran, mampu membelanjakan anggaran sebanyak-banyaknya, apalagi orientasinya sekadar proyek. Sudah, setop yang seperti itu.

Tapi orientasinya adalah betul-betul strategic partnership untuk peningkatan kemandirian dan daya saing bangsa sehingga kita memiliki kemampuan untuk memproduksi alutsista yang tadi dikerjasamakan.

Terakhir, saya minta kebijakan pengadaan alat utama sistem senjata betul-betul memperhitungkan, mengalkulasi, mengantisipasi teknologi persenjataan yang berubah begitu sangat cepatnya, yang kini akan mempengaruhi corak peperangan di masa yang akan datang. Jangan sampai pengadaan alutsista kita lakukan dengan teknologi yang sudah usang, yang sudah ketinggalan, dan tidak sesuai dengan corak peperangan di masa yang akan datang.

Saya rasa itu sebagai pengantar yang bisa saya sampaikan, dan langsung waktu saya berikan kepada Bapak Menteri Pertahanan. Saya persilakan.

(Rapat Terbatas dilanjutkan secara tertutup)