Menuju konten

Rapat Terbatas Mengenai Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah Tahun 2020

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati, Bapak Wakil Presiden, Bapak/Ibu Menteri yang saya hormati, Bapak Gubernur BI, Bapak Ketua OJK.

Rapat terbatas sore hari ini akan dilanjutkan mengenai langkah-langkah terobosan dalam rangka pemberdayaan usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah. Tadi baru saja kita berbicara masalah KUR, yang perlu saya ulang lagi bahwa tahun 2014, KUR yang disalurkan itu Rp37 triliun kemudian melompat ke 2019 itu mencapai kurang lebih nanti targetnya Rp140 triliun. Tahun 2020, tahun depan, target kita Rp190 triliun untuk KUR-nya dan nanti di 2024, target kita Rp325 triliun, ini untuk urusan KUR. 

Dan kita tahu, saat ini untuk pemberdayaan UMKM, kita belum fokus, masih belum terarah. Karena apa? Kita lihat, pemberdayaan UMKM kita masih tersebar di 18 kementerian dan lembaga, 18 kementerian dan lembaga. Begitu juga pembiayaan juga masih tersebar, anggaran masih tersebar, pembiayaan masih tersebar, selain KUR tadi, kementerian juga menyalurkan skema pembiayaan yang nilainya sekitar Rp30 triliun. Ini juga bukan uang sedikit.

Karena itu, saya ingin menegaskan lagi pentingnya one gate policy. Jangan sampai berjalan sendiri-sendiri sehingga pembiayaan UMKM betul-betul terintegrasi, terpadu baik dalam menentukan sektor prioritas, langkah-langkah strategis, maupun desain pembiayaan. 

Saya juga melihat bahwa titik masalahnya bukan lagi soal pembiayaan karena tadi di depan saya sampaikan, sudah ada skema goal tapi juga model pembiayaan yang lain, seperti co-invest atau modal ventura baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang angkanya sangat besar yang ingin dan sudah masuk ke negara kita. Tapi justru saya mendengar banyak keluhan dari mereka karena sulit penyalurannya padahal di sisi lain kita punya jutaan UMKM yang membutuhkan modal usaha untuk naik kelas. Jadi masalahnya ada di mana? Inilah yang harus kita cari. 

Di sini saya melihat pentingnya pendampingan, penyediaan mentoring bagi UMKM kita baik dari urusan cara mengakses sumber-sumber pembiayaan, melatih dalam kemampuan manajemen keuangan dan akuntansi yang sederhana, melatih urusan kemasan atau packaging, urusan branding, urusan yang berkaitan dengan marketing. Ini penting, kita harus pikirkan bersama-sama, termasuk melatih bagaimana menyambung dari offline ke online dan mengintegrasikan UMKM kita dengan supply chain baik nasional maupun global. 

Terakhir, saya minta agar setiap kementerian merancang skema-skema pelibatan UMKM yang betul-betul konkret, misalnya dalam pengadaan barang dan jasa oleh kementerian, lembaga, dan BUMN diprioritaskan untuk membeli barang dan jasa dari produk UMKM. Juga LKPP yang ada e-purchasingnya di situ, juga harus aktif memasukkan produk UMKM yang memenuhi syarat untuk bisa dimasukkan dalam e-catalog, ini juga penting. Jangan sampai yang masuk justru yang gede-gede, yang kecil ditinggal.

Ini saya ingat lagi urusan cangkul. Cangkul lupa dimasukkan ke e-catalog, harganya separuh lebih murah dari yang impor. Ini kalau enggak mengambil dari sini ya kebangetan. UMKM juga harus banyak dilibatkan dalam mengisi rantai masuk produksi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) di sektor konstruksi, di sektor otomotif, di sektor telekomunikasi, libatkan mereka yang kecil-kecil ini. 

Produk-produk UMKM juga berikan ruang untuk masuk dan disiapkan ke 5 destinasi wisata baru, disiapkan terlebih dahulu, mulai dari sekarang sehingga saat barang itu jadi, mereka sudah bisa masuk juga. UMKM, ini sudah saya ulang-ulang ke Menteri PUPR, ke Menteri Perhubungan, untuk mengisi sentra-sentra ekonomi di kawasan infrastruktur yang baru yang telah dibangun. Misalnya, rest area jalan tol, rest area di jalan tol isi dengan produk-produk brand lokal. Karena yang lalu-lalu kita lihat kalau rest area itu pasti isinya kalau kopi, ya kopi ‘itu’. Kalau ayam, ya ayam ‘itu’. Enggak usah saya sebutkan. Saya kira Bapak/Ibu tahu semuanya. Ini mulai harus digeser dengan, sekali lagi, produk-produk lokal. Ayam lokal banyak sekarang, kopi lokal yang bagus juga banyak sekarang ini. Kopi lokal apa, Pak Teten? Kopi lokal? Apa?

Menteri Koperasi dan UKM:
Brand-nya?

Presiden RI:
Iya, sebut saja.

Menteri Koperasi dan UKM:
Ada ‘Tuku’, ada ‘Anomali’, ada ‘Monolog’, ada…banyak, Pak.

Presiden RI:
Banyak, yang rasanya tidak kalah.

Menteri Koperasi dan UKM:
Lebih enak, Pak.

Presiden RI:
Lebih enak dan lebih murah. Sepertiga lebih murah. Lha itu yang dipasang kok yang itu-itu saja. Ayam juga sama, ayam kan banyak sekali. Masak yang dipasang di depan rest area pasti ayam itu-itu saja. Inilah komitmen, harus menjadi komitmen kita bersama. Kalau membangun rest area, itu nanti jalan tol dari Lampung sampai ke Aceh itu berapa ada rest area? Pasang dong brand-brand lokal kita, baik yang belum jadi… di tol di Jawa juga sama, rest area tolong diisi oleh UMKM kita.

Saya rasa itu sebagai pengantar yang bisa saya sampaikan. Pak Menteri UMKM, silakan.

(Rapat Terbatas dilanjutkan secara tertutup)