Menuju konten

Penyerahan Sertipikat Tanah untuk Rakyat

Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati,
Senior saya, Bapak Surya Paloh yang hadir pada siang hari ini.

Yang saya hormati,
Menteri BPN/ATR dan Bapak Kepala Staf Kepresidenan serta Staf Khusus Presiden Bapak Gories Mere yang juga hadir.

Yang saya hormati,
Bapak Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur beserta Ibu serta Bapak Bupati Kabupaten Kupang beserta Ibu.

Bapak, Ibu sekalian seluruh penerima sertifikat yang siang hari ini hadir. Semuanya sudah terima semuanya, ya sertifikat? Bisa diangkat? Semuanya diangkat. Bentar, jangan diturunkan, mau saya hitung. Jangan diturunkan, mau saya hitung.
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30…2.706, betul! Nanti kalau enggak diangkat, enggak dihitung, ya kan jangan-jangan dikasih yang di depan tadi saja. Jadi perlu dihitung, benar tadi hitungannya, 2.706 sertifikat. Sudah diangkat semua. Nah, sekarang sudah pegang sertifikat ya? Ya, saya titip tolong diberi plastik. Sudah ada plastik semua? Ya, jadi kalau sudah diberi plastik, tolong nanti kalau sudah sampai di rumah difotokopi, yang satu taruh di lemari satu, yang fotokopi taruh di lemari dua. Kalau yang ini hilang, masih ada fotokopinya. Fotokopinya hilang, aslinya masih, gitu. Difotokopi, ya. Jadi kalau yang asli hilang, ngurus ke Kantor BPN mudah.

Karena kalau enggak diberi plastik ini juga, kadang-kadang kalau gentengnya bocor, kena air, sertifikat rusak. Ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki, namanya sertifikat. Sekali lagi, ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Jadi Bapak Ibu semuanya harus tahu, di “isi” ini. Berapa isinya, tanahnya berapa itu ada semua di sini. Nama, ada di sini, nama. Alamat di desa mana, ada di sini. Luasnya berapa, ada di sini. Ada semuanya. Jadi tidak ada lagi yang namanya sengketa kalau sudah pegang kayak gini.

Karena setiap saya datang ke provinsi, di seluruh Tanah Air ini, masuk ke desa, masuk ke kampung, yang sering saya dengar adalah tangisan apa? Konflik tanah, konflik lahan, sengketa tanah, sengketa lahan. Ada tetangga dengan tetangga, ada masyarakat dengan perusahaan, masyarakat dengan pemerintah. Karena apa? Karena masyarakat tidak pegang yang namanya tanda bukti hak hukum atas tanah. Kalau sudah pegang seperti ini, enak. Ada orang datang ngaku-ngaku, ini tanah saya. Bukan, ini tanah saya, ini sertifikatnya ada. Namanya di sini ada, luasnya ada, di sini ada. Desanya di sini ada, sudah, enggak ada masalah kalau sudah pegang ini.

Jadi Bapak Ibu senang semuanya dapat sertifikat? Senang semuanya, benar? Ya, kalau sudah pegang sertifikat itu sudah enak. Tinggal sekarang dipakai untuk apa? Nah, biasanya kalau di tempat lain kalau sudah pegang sertifikat ini biasanya mau disekolahkan. Di sini gitu juga, ya? Pengin disekolahkan, dipakai untuk agunan, dipakai untuk jaminan ke bank. Enggak apa-apa. Ada yang pengin disekolahkan sertifikatnya ini, coba tunjuk jari? Enggak usah malu, itu juga baik kok. Oh ada, ada, ada. Berarti yang lain disimpan saja, benar? Ya, enggak apa-apa kalau memang enggak dipakai untuk agunan atau jaminan ke bank, disimpan baik-baik. Yang mau dipakai untuk jaminan ke bank saya titip, saya titip. Tolong kalau mau pinjam ke bank itu dihitung dulu, dikalkulasi dulu. Bisa ngangsurnya, ndak? Bisa ngangsur, ndak tiap bulannya? Bisa nyicilnya, ndak? Kalau ndak, jangan pinjam uang ke bank. Dan kalau sudah pinjam, harus produktif dipakai untuk usaha. Entah untuk pertanian, entah buka toko, entah tambah usaha, gunakan untuk yang produktif.

Jangan sampai pinjam ke bank, ini punya sertifikat, masuk ke bank. Nah, dapat pinjaman 30 juta, wah pulang senang bawa uang 30 juta. Besoknya, malamnya sudah mikir, waduh 30 juta banyak, besoknya langsung beli sepeda motor. Nah, ini mulai ini, mulai masalah, mulai masalah. Duit pinjaman dipakai untuk kenikmatan beli sepeda motor. Ya gagah, muter-muter kampung, muter-muter desa, wah gagah sepeda motor baru. Dilihat, waduh gagah, enam bulan. Gagahnya itu hanya enam bulan. Mulai enam bulan, enggak bisa ngangsur ke bank, ya kan? Enggak bisa ngangsur ke dealer, ya kan? Sudah, motornya ditarik, sertifikatnya hilang, hati-hati. Jadi, saya titip kalau ada yang mau pinjam ke bank, datang ke bank, dapat 30 juta, gunakan 30 juta itu seluruhnya untuk usaha. Gunakan semuanya, jangan sampai dipakai untuk tadi beli sepeda motor atau beli yang lain, TV, nanti dulu. Kalau usahanya itu…untung sebulan, untung 1 juta, tabung. Bulan berikutnya untung 2 juta, tabung. Bulan berikutnya, untung 1,5 juta, tabung. Dari tabungan keuntungan itu silakan kalau mau beli sepeda motor, mau beli TV, mau beli mobil, silakan. Tapi dari keuntungan, bukan dari pokok pinjaman, hilang sertifikat malah nanti, hati-hati ya.

Saya ulang lagi, siapa yang tadi ingin sertifikatnya dipakai untuk agunan ke bank? Tunjuk jari. Kok dikit sekali ya? Malu? Ha? Enggak usah malu. Kenapa malu? Mana, mana, coba tunjuk jari. Hmm, ya, ya, oh ya banyak sekarang. Sebentar, sebentar, tunjuk jari lagi. coba. Ya, coba Ibu maju, yang kacamata, yang tadi, ya, ya, maju. Sertifikat dibawa. Ada yang sertifikatnya tidak dipakai untuk ke bank? Tunjuk jari. Yang tidak dipakai untuk jaminan ke bank? Lho, berarti harusnya lebih banyak, kok enggak ada? Takut disuruh maju ini, ya? Coba, yang tidak dipakai untuk agunan ke bank, tunjuk jari. Yang tidak dipakai untuk agunan ke bank, tunjuk jari. Ndak, ndak dipakai ya? Oh, ini ndak dipakai? Ndak dipakai? Ya, sebentar saya tunjuk sebentar, nanti lah. Yang tidak dipakai untuk agunan ke bank, tunjuk jari. Nah, sudah, sudah, ya boleh, Bapak. Maju Pak, yang pakai ini kuning, silakan, maju ya. Silakan maju, sini, Pak, sini. Sini, ya boleh, sini. Oh ini Pak Bupati, sini saja. Ya, dikenalkan dulu, nama.

Meriana Mbatu:
Nama saya Meriana Mbatu.

Presiden RI:
Siapa, Bu?

Meriana Mbatu:
Meriana Mbatu.

Presiden RI:
Meriana?

Meriana Mbatu:
Ya.

Presiden RI:
Meriana Mato?

Meriana Mbatu:
Mbatu.

Presiden RI:
Pato?

Meriana Mbatu:
Mbatu. ”Mb”, Mbatu. Mba…tu.

Presiden RI:
Patu?

Meriana Mbatu:
Iya.

Presiden RI:
Diulangi lagi, Meriana Patu?

Meriana Mbatu:
Mbatu

Presiden RI:
Ha?

Meriana Mbatu:
Mbatu.

Presiden RI:
Mbatu? Oh….

Meriana Mbatu:
Iya.

Presiden RI:
Meriana Mbatu. Mbatu. Oh, salah begitu saja kok ramai. Ya kan, lidahnya sulit, kan. Kadang-kadang lidah di sini ngomong di Jawa sulit, ngomong di Sumatera beda lagi. Ya memang, memang negara kita ini sangat beragam sukunya. Ada 714 suku yang berbeda-beda. Bahasa daerah lebih lagi, ada 1.100 bahasa daerah yang berbeda-beda. Saya itu sering kalau ngomong, Pak, keliru Pak, ya ngerti keliru, ya memang keliru, gimana. Tapi Bu, Meriana Mbatu…apa?

Meriana Mbatu:
Mbatu.

Presiden RI:
Embatu? Gimana sih, ngomongnya?

Meriana Mbatu:
Mba…tu….

Presiden RI:
Mba…tu…, Mbatu. Bu Meriana Mbatu, oke udah. Aduh, ya udah, Bu…panggilannya Bu?

Meriana Mbatu:
Ya?

Presiden RI:
Bu Mbatu atau Bu Meriana?

Meriana Mbatu:
Bu Meriana saja.

Presiden RI:
Bu Meriana ya, yang mudah. Bu Meriana. Sertifikatnya berapa meter persegi?

Meriana Mbatu:
100 x 20.

Presiden RI:
100 x 20, gimana sih, 100 x 20? Coba semua dilihat, ya. Berapa tadi?

Meriana Mbatu:
100 x 20.

Presiden RI:
100 x 20 berarti 1.200 lho. Di sini tercantum 1.984 meter persegi.

Meriana Mbatu:
Belum lihat saya.

Presiden RI:
Naaah, punya tanah segini gedenya, belum lihat coba. Ini serti…ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Enggak punya sertifikat pun harus ngerti tanah kita berapa. 1.984 langsung gitu. Nanti misalnya tadi kan, baru 1.200, sisanya saya ambil lho nanti, ya udah. Seribu, berapa Bu? Seribu delapan ratus…seribu sembilan ratus delapan puluh empat, ya udah, benar?

Meriana Mbatu:
Ya.

Presiden RI:
Benar, ya? Mau diagunkan, benar? Mau dipakai untuk jaminan ke bank?

Meriana Mbatu:
Ya, tapi belum sekarang, Pak.

Presiden RI:
Ya belum sekarang, ya enggak apa-apa. Memang baru, sertifikatnya baru kok ya memang belum, mau. Mau, mau itu akan dipake untuk jaminan ke bank, benar?

Meriana Mbatu:
Ya.

Presiden RI:
Mau pinjam berapa?

Meriana Mbatu:
Belum tahu.

Presiden RI:
Belum tahu? Ini ya, saya beritahu. Kalau mau pinjam ke bank, itu harus tahu. Berapa yang akan saya pinjam, banknya ke mana. Harus dilihat, bank mana yang bunganya paling rendah. Dilihat, dipilih. Bank A oh bunganya 11%, Bank B 7 %, pilih Bank B. Harus milih gitu. Kemudian juga dihitung, berapa yang mau kita pinjam. 10 juta, 15 juta, atau 20 juta. Untuk apa saja? Dihitung semua. Oh mau pinjam 20 juta, dipakai untuk apa. Ini Ibu mau dipakai apa sih, Bu Meriana mau dipakai apa?

Meriana Mbatu:
Untuk sekolah anak.

Presiden RI:
Ha?

Meriana Mbatu:
Untuk sekolah anak.

Presiden RI:
Mau dipakai untuk sekolah anak, terus ngembalikannya pakai apa? Pinjam lho ini, pinjam ke bank lho ini.

Meriana Mbatu:
Nanti kita usaha. Sebagian usaha, sebagian untuk sekolah anak.

Presiden RI:
Sebagian usaha, sebagian untuk sekolah anak. Untuk usaha, usahanya, usaha apa?

Meriana Mbatu:
Buat garam.

Presiden RI:
Buat garam, oh buat garam, oke buat garam. Buat garam itu sebulan bisa dapat berapa?

Meriana Mbatu:
Baru saya rencana saja, Pak.

Presiden RI:
Oh, waduh ini rencana semua. Akan dan rencana. Oke, enggak apa-apa tapi tolong ya, kalau mau pinjam ke bank saya titip saja, tolong dikalkulasi, tolong dihitung. Hati-hati, jangan sampai kepleset. Kalau salah hitungan, sertifikat bisa hilang, hati-hati. Saya tiitp, hati-hati. Ya oke, sudah langsung saja Bu, Pancasila.

Meriana Mbatu:
Pancasila.
Satu, Ketuhanan yang Maha Esa

Presiden RI:
Dua.

Meriana Mbatu:
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Presiden RI:
Tiga.

Meriana Mbatu:
Tiga, Persatuan Indonesia.

Presiden RI:
Empat.

Meriana Mbatu:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan.

Presiden RI:
Perwakilan. Diulang yang keempat, ke…yang keempat. Kerakyatan….

Presiden RI dan Meriana Mbatu:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Presiden RI:
Lima.

Meriana Mbatu:
Keadilan Sosial bagi Seluruh Bangsa Indonesia.

Presiden RI:
Naaah, diulang yang kelima. Lima, Keadilan Sosial bagi…Seluruh Rakyat Indonesia. Diulang, Lima.

Meriana Mbatu:
Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati, kalau pas duduk, Pancasila itu mudah. Begitu naik ke panggung, hilang semuanya itu. Enggak percaya? Saya suruh maju nanti kalau enggak percaya. Ya, bagus sudah. Bukan enggak bisa, hilang yang ada. Sudah di dekat saya itu, hilang semuanya. Ya, sekarang kenalkan Pak, kenalkan, nama.

Agustinus Bana:
Kenalkan, nama saya Agustinus Bana.

Presiden RI:
Di sini dulu, Bu, sebentar. Pak Agustinus? Pak Agustinus Bana? Dari mana?

Agustinus Bana:
Dari Benlutu.

Presiden RI:
Dari?

Agustinus Bana:
Benlutu. Benlutu. TTS (Timor Tengah Selatan).

Meriana Mbatu:
Benlutu.

Agustinus Bana:
Benlutu, TTS.

Presiden RI:
Dari…dari TTS tapi apa tadi? Dari?

Agustinus Bana:
Benlutu.

Presiden RI:
Belugu?

Agustinus Bana:
Benlutu, Ben…lutu.

Presiden RI:
Ben?

Agustinus Bana:
Benlutu.

Presiden RI:
Bendudu? Ya udah, udah, udah, tahu, gitu aja udah. Itu dari sini berapa kilo itu, di Benduduh tadi?

Agustinus Bana:
110 kilo.

Presiden RI:
110 kilo? Wah, jauh sekali. Berapa jam itu, Pak sekarang Pak, dari sini ke sana? Berapa jam perjalanan?

Agustinus Bana:
Tergantung, Pak.

Presiden RI:
Pinter ini, pinter. Tergantung bener, memang, tergantung jalan kaki ya, kan? Atau naik sepeda motor atau naik mobil, bener. Berapa jam? Tadi ke sini berapa jam, gitu aja.

Agustinus Bana:
2.

Presiden RI:
2 jam? Naik apa itu?

Agustinus Bana:
Bis.

Presiden RI:
Oh naik bis 2 jam, oh ya cepet juga, cepet. Bapak sertifikatnya berapa meter persegi?

Agustinus Bana:
1.402 meter persegi.

Presiden RI:
Seribu….

Agustinus Bana:
Empat ratus dua meter persegi.

Presiden RI:
Empat ratus dua meter persegi. Pak Agustinus Bana, betul? Desanya Benlutu.

Agustinus Bana:
Iya.

Presiden RI:
Oh, Benlutu. Aduh, Ben-lu-tu, oke. Luasnya 1.402 meter persegi, oke baik. Sudah, bener berarti. Pak Agustinus ini enggak anu, ya, enggak diagunkan ke bank? Enggak? Disimpan saja? Disimpan?

Agustinus Bana:
Iya.

Presiden RI:
Disimpan? Iya, disimpan? Iya, iya. Oh iya, disimpan saja. Disimpan iya. Sekarang, Pancasila. Sini, ya. Pancasila.

Agustinus Bana:
Pancasila.

Presiden RI
Satu.

Agustinus Bana:
Satu, Ketuhanan yang Maha Esa.

Presiden RI:
Dua, Kemanusiaan….

Agustinus Bana:
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Presiden RI:
Tiga, Persatuan….

Agustinus Bana:
Tiga, Persatuan Indonesia.

Presiden RI:
Empat, Kerakyatan….

Agustinus Bana:
Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Lima….

Presiden RI:
Lima, Keadilan….

Agustinus Bana:
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Sudah…berarti Pak Agustinus Bana ini lebih tenang karena lancar semuanya, nggih. Silakan kembali. Oh, sebentar, sebentar, sebentar Bu, sebentar, sebentar, sebentar, sebentar, sebentar. Ini saya beri foto, tadi. Ini yang namanya kerja cepat. Baru duduk, eh…berdiri di sini lima menit dengan saya, fotonya sudah jadi, nih. Ini sekarang sertifikat juga cepet, jadi semua. Nih, Bu, ya sudah, nggih. Plus, plus saya beri bonus sepeda. Diambil dulu sepedanya. Mau, ndak? Kok mau ke sana terus sih, Pak Bana tadi. Ya, ambil sepedanya. Sudah dapat foto, dapat sepeda.
Masih ada satu sepeda, ada yang mau maju? Sebentar, ini yang dapat sertifikat yang merasa paling tua coba tunjuk jari? Yang paling tua, umurnya. Ada? Sebentar, sebentar, Bapak umurnya berapa? Umurnya 87. Ada yang lebih dari 87? Mana? Ada? Udahlah, ini 87 udah tua banget, ini ya udah, cari yang lebih…yang, sini, sini Pak. Udah, sini aja. Dikenalkan namanya. Nama? Dikenalkan nama, dari…nama, namanya Pak siapa, dari mana.

Otniel Nomseo:
Nama saya Otniel Nomseo dari Desa Bipolo.

Presiden RI:
Siapa?

Otniel Nomseo:
Nama saya Otniel Nomseo dari Desa Bipolo, Pak.

Presiden RI:
Di mana itu? Kabupaten?

Otniel Nomseo:
Kabupaten Kupang.

Presiden RI:
Kabupaten Kupang. Pak siapa tadi?

Otniel Nomseo:
Ya, Pak?

Presiden RI:
Namanya, Bapak?

Otniel Nomseo:
Nama Otniel Nomseo….

Presiden RI:
Waduh, sulit eee….

Otniel Nomseo:
…Desa Bipolo, Kabupaten Kupang.

Presiden RI:
Nam…siapa tadi?

Otniel Nomseo:
Nomseo, Pak.

Presiden RI:
Bersenan Nomisio? Apa tadi?

Otniel Nomseo:
Nom…Nomseo, Pak. Nom…Nomseo.

Presiden RI:
Nom-seo. Pak Nomseo, bener? Pak Nomseo, dari? Kabupaten Kupang?

Otniel Nomseo:
Ya, Kabupaten Kupang.

Presiden RI:
Bapak umur berapa?

Otniel Nomseo:
87, Pak.

Presiden RI:
87. Mau Pancasila? Hafal Pancasila?

Otniel Nomseo:
Ya, bisa tapi sedikit saja, Pak.

Presiden RI:
Sedikit saja…boleh, enggak apa-apa. Pancasila sedikit saja. Nanti kalau kurang-kurang saya beritahu. Pancasila.

Otniel Nomseo:
Pancasila.

Presiden RI:
Satu.

Otniel Nomseo:
Kehutanan Yang Maha Esa.

Presiden RI:
Sebentar, sebentar, sebentar. Sebentar, diulang Pak. Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Otniel Nomseo:
Ke….

Presiden RI:
Satu.

Otniel Nomseo:
Satu, Kehutanan Yang Maha Esa.

Presiden RI:
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Otniel Nomseo:
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Presiden RI:
Betul.
Dua….

Otniel Nomseo:
Dua, Keme…Ke…Ke…Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Presiden RI:
Betul.
Tiga, Persatuan Indonesia.

Otniel Nomseo:
Kebangsaan Indonesia.

Presiden Indonesia:
Persatuan Indonesia.

Otniel Nomseo:
Persatuan Indonesia.

Presiden Indonesia:
Ya, tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan yang Dipimpin….

Otniel Nomseo:
Ketiga, ketiga…kebangsaan Indonesia…kerakyatan Indonesia….
Empat….

Presiden Indonesia:
Kerakyatan yang Dipimpin….

Otniel Nomseo:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat….

Presiden RI:
Kebijaksanaan….

Otniel Nomseo:
Kebijaksanaan….

Presiden RI:
…dalam Permusyawaratan….

Otniel Nomseo:
…dalam Permusyawaratan….

Presiden RI:
Perwakilan. Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Otniel Nomseo:
Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Presiden RI:
Lima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Lima.

Otniel Nomseo:
Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Udah, terima kasih, Pak, terima kasih. Sepedanya, sepedanya, sepedanya diambil ke sini. Ya, silakan sepedanya bisa diambil, Pak. Karena tadi saya pegang tangannya, gini. Awas, nggih. Biar, biar dibawa enggak apa-apa, sini. Bawa sini aja enggak apa-apa. Jangan, jangan dinaiki. Ya, sini aja, sini, enggak apa-apa ditaruh di depan sini enggak apa-apa. Ya, ya, udah, udah, biar enggak tahu ke mana itu. Ditaruh di depan aja sepedanya, ditaruh di depan sini, Bapak kembali ke tempat. Ya, ya, ini lupa fotonya, Pak. Awas, ini fotonya, mohon maaf, fotonya, fotonya, fotonya Bapak. Baik.

Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati,
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, simpan baik-baik sertifikat yang sudah kita serahkan. Gunakan untuk memperbaiki kesejahteraan kita, kalau memang itu diperlukan untuk jaminan ke bank, silakan. Tetapi tolong sekali lagi, saya ingin garis bawahi, tolong dihitung, tolong dikalkulasi sebelum pinjam ke bank. Titipan saya itu saja. Kalau enggak dipakai untuk jaminan, simpan baik-baik sertifikat ini.

Terima kasih. Saya tutup.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.