Menuju konten

Silaturahim Presiden Republik Indonesia dengan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dan Gita Bahana Nusantara dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia

Assalamualaikum warahmatulah wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih pada RAN, terima kasih semuanya yang telah menghibur pemuda-pemudi kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Pada kesempatan yang baik ini saya ingin titip pada saudara-saudara. Saudara benar berasal dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, betul? Saya lihat tadi ada yang dari Manokwari, ada yang dari Jayapura, ada yang dari Aceh, ada yang dari Kaltara, ada yang dari Maluku Utara, ada yang dari NTT, ada yang dari NTB, ada yang dari Jawa, ada yang dari Sumatera. Semuanya ada, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, NTT, NTB, Papua, semuanya ada.

Apa yang ingin saya sampaikan? Kita ini dianugerahi oleh Tuhan dan sudah menjadi hukum Allah, sudahmenjadi hukum Tuhan, kita hidup dalam perbedaan. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda etnis, berbeda apa lagi? Berbeda bahasa daerah, berbeda budaya, berbeda adat, berbeda tradisi. Inilah yang namanya Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jangan sampai karena perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan bahasa daerah, perbedaan tradisi, menyebabkan kita menjadi kelihatan tidak satu, tidak bersatu. Saya titip, saudara-saudara adalah masa depannya Indonesia. Saya minta yang Aceh mengenal bagaimana yang ada di Papua, yang di Papua mengenal bagaimana yang ada di Kalimantan, yang di Sulawesi mengenal bagaimana yang ada di Jawa, yang di Jawa mengenal yang ada di Bali, di NTT, NTB, di Maluku. Kita harus saling mengenal.

Sekali lagi, ini sudah menjadi hukumnya Tuhan, hukumnya Allah, bahwa kita memang berbeda-beda.Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan tergantung pada saudara-saudara semuanya. Kalau saling mengenal, saling tahu, bisa saling menghormati bisa saling menghargai, ya inilah Indonesia.

Jangan sampai, saya titip kepada anak-anak semuanya, karena urusan Pilpres, karena urusan pilihan gubernur, karena pilihan wali kota, karena pilihan bupati menjadi tidak rukun. Ada temannya yang enggak saling sapa gara-gara pilpres. Ada enggak? Moga-moga yang di sini enggak ada. Tapi seperti itu ada, saya harus ngomong apa adanya.

Antarkampung enggak saling ngomong gara-gara pilihan gubernur, ada. Antar-RT enggak saling bicara gara-gara pilihan bupati, wali kota, ada. Jangan bilang enggak ada. Ada.

Inilah yang harus kita sadari bersama. Negara ini dijadikan contoh oleh negara-negara lain karena sikap toleransinya, sikap ramah dan santunnya, sikap agamisnya, itu dilihat oleh bangsa lain, kita ini dijadikan contoh. Kalau di dalam sendiri kita masih seperti itu, saling membenci, ada? Enggak ada? Lihat di medsos. Ujaran kebencian ada? Kita harus ngomong apa adanya, ada. Hal seperti itulah yang harus diluruskan. Oke, titipan saya itu saja.

Di sini  ada yang nomor sepatunya 43?

Ada yang nomor sepatunya 43? Itu semangat, ke sini.

Namanya?

Abel:
Nama saya Abel.

Presiden RI:
Nama Abel, dari?

Abel:
Sulawesi Selatan.

Presiden RI:
Abel, benar nomor sepatumu itu?
Sekarang, Pancasila!

Abel:
Pancasila,
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan Perwakilan.
Lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI:
Ya. Ini adalah sepatu saya. Sudah saya pakai. Ini produksi dalam negeri dari Bandung. Ini yang akan saya berikan pada Abel. Jadi sepatunya itu agak kotor sedikit karena memang pernah dipakai. Ya, silakan.

Ada yang hafal nama ikan?

Coba sekarang gantian yang putri. Sebutkan sepuluh nama ikan yang depannya… enggak jadi.

Sebentar. Saya undang ini saja lah, tadi pagi saya lihat yang mengerek bendera, saya lihat, oh tadi sore, saya melihat yang mengerek bendera. Kalau enggak sore, pagi ya? Pagi. Yang mengerek bendera ada yang namanya Rangga? Benar ada ya, yang namanya Rangga, benar?

Dikenalkan dulu namanya, Rangga saya tahu.

Rangga:
Semuanya nama saya Rangga Wirabrata Mahardika asal Provinsi Jawa Barat,

Presiden RI:
Kotanya?

Rangga:
Dari Kabupaten Bekasi.

Presiden RI:
Kabupaten Bekasi.

Enggak, tadi saya lihat di TV itu kamu kok kelihatan gugup, sambil …(menarik napas). Benar? Merasa enggak?

Rangga:
Merasa.

Presiden RI:
Merasa, merasa gugup? Iya, benar?

Presiden RI:
Sedikit Pak.

Presiden RI:
Kalau saya lihat enggak sedikit, saya lihat di TV tadi agak banyak gugupnya, kenapa sih? Ya, meskipun enggak salah, tapi kelihatan agak grogi sedikit sehingga ambil nafasnya kelihatan… (menarik nafas). Saya lihat di TV, benar?

Rangga:
Siap. Agak gugup saat langkah ke tiang bendera, pas sudah di depan bendera baru deg-deg.

Presiden RI:
Kenapa deg-degan? Alasannya?

Rangga:
Siap. Bawaan saja mungkin Pak, grogi.

Presiden RI:
Ya sudah, terima kasih. Mungkin ada beban apa begitu? Ingat pacar di rumah sehingga gugup? Ya sudah. Terima kasih.

Ya, Rangga saya beri sepeda. Ya, diambil saja. Diambil.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, masa depan, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah segalanya. Jangan sampai negara kita yang beragam ini seperti negara lain yang konflik, kemudian perang yang puluhan tahun tidak selesai gara-gara merasa mereka tidak saling saudara. Kita semuanya adalah saudara sebangsa dan setanah air. Sadarlah itu, sampaikan kepada teman-temanmu, sampaikan kepada tetangga-tetanggamu bahwa kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan. Saya tutup.

Wassalamualaikum warahmatulah wabarakatuh.

Silakan, RAN.